Ageless Secunder – Chapter 2

Chapter 2 – Hadiah Ulang Tahun Untuk Chen Lan

Diterjemahkan Indo : Chintralala

Li PanEn jarang pergi ke Bar ‘Queen’.

Pertama, Chen Lan tidak suka dia pergi ke sana. Kedua, tempatnya terlalu jauh. Dia harus pergi ke sekolah dua kali sehari. Li PanEn tidak tahu bahwa alamat apartemen yang dipilih oleh Chen Lan nyaman baginya untuk pergi ke sekolah, tetapi tidak nyaman bagi yang lain untuk pergi bekerja. Jaraknya tampak sama dengan sekolahnya di peta, tetapi, sebenarnya, itu tidaklah sama. Lokasi kereta bawah tanah yang tidak dekat, dan bus yang memiliki terlalu banyak pemberhentian di antaranya. Jika seseorang ingin pergi ke sana dengan kecepatan tercepat, mereka harus berjalan melalui lokasi konstruksi selama setengah jam dan pergi ke terowongan untuk naik kereta bawah tanah.

Wilayah konstruksi adalah bangunan keropos dan angker. Rumornya ada orang telah meninggal di gedung itu dan ada pelacur di terowongan. Setiap kali ada perampokan besar di kota, disana selalu menjadi tempat pertama yang akan diperiksa polisi. Li PanEn tidak tahu bagaimana perjalanan Chen Lan untuk bekerja selama beberapa tahun terakhir. Dia telah berjalan untuk bekerja selama lebih dari lima tahun tanpa terjadi apa-apa padanya.

Tetapi bahkan jika Chen Lan tidak senang, Li PanEn bertekad untuk pergi ke sana. Hari ini adalah hari ulang tahun Chen Lan. Aneh untuk dikatakan, dia dan Chen Lan telah bersama begitu lama tetapi dia belum pernah bertemu keluarga Chen Lan, dan dia tidak tahu bulan apa dia dilahirkan. Chen Lan tampaknya tidak terlalu peduli dan ketika ditanya dia hanya akan menghindar sepanjang hari, mengatakan kalau dia tidak dapat mengingatnya, tetapi Li PanEn tidak peduli. Tahun ini, pria tua itu sudah berusia 36 tahun.

Sebelum dia melangkah, dia mendengar Chen Lan sedang tertawa.

“Chen Lan, kamu benar-benar pembuat rusuh. Xiao Pian-mu tidak akan memarahimu ketika kamu pulang ke rumah berbau seperti asap?”

“Siapa pun yang merokok di sini bukan terserah padanya.”

Xiao Pian’er muncul segera setelah dia berkata begitu.

Mata Meng Chuan menajam, dan dia segera tertawa, wajahnya terlihat lucu. Chen Lan ada di pintu depan, tetapi dia tidak melihat Li PanEn, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya menjadi lebih buruk.

“Dia adalah anak kecil yang tidak bisa mengatur-ku. Kamu memandang rendah-ku.”

Li PanEn berjalan perlahan, menyipitkan matanya dan bertanya, “Siapa yang tidak bisa aku atur?”

Chen Lan tampak seperti melihat hantu. Kacamata di tangannya berdenting sebelum jatuh, tapi Li PanEn menangkapnya dengan cepat.

“Mengapa kamu di sini? Ah tidak, siapa yang menyuruhmu untuk datang ke sini?” Chen Lan terkejut dan mengatakan ini dengan agak kasar, tetapi matanya bersinar dalam kebahagiaan.

“Aku di sini untuk menjemputmu,” Li PanEn meletakkan kacamatanya dan mengangguk pada Meng Chuan.

Meng Chuan, saat dia menata kukunya, berkata, “Pergilah. Seseorang sedang bergegas untuk merayakan ulang tahunmu, Chen Lan yang berumur 12 tahun.”

Chen Lan tampak tercengang, “Ulang tahun?”

Li PanEn tahu dia tidak akan ingat. Dia hanya menghela nafas dan menyeret Chen Lan ke ruang ganti untuk berganti pakaian.

Ketika mereka akan pergi, Chen Lan bertanya, “Tidak ada lembur malam ini?”

“Minggu lalu, Xiao Pian’er sudah meminta cuti awal untukmu, bayi palsu Chen Lan.” Meng Chuan dapat langsung melihat cinta diantara mereka. Setiap kali Chen Lan melihat Li PanEn, dia terlihat malu-malu, polos dan manis. Itu membuatnya ingin menjadi kepala geng FFF [1] dan membawa seember bensin.

[1] Geng FFF adalah sekelompok orang dengan pakaian seperti shinigami yang muncul di anime Baka to Test to Shoukanjuu. Mereka keluar setiap kali mereka melihat pasangan-hetero yang sedang mesra-mesraan di sekolah. Mereka biasanya membakar / menghukum para pria.

“Terima kasih, Meng-Ge.” Kata Li PanEn sopan.

Li PanEn menjadi berbeda dalam dua tahun terakhir dibandingkan dengan masa remajanya. Sifat  kekanak-kanakan-nya hilang dan menjadi lebih tenang. Dia tidak membutuhkan Chen Lan untuk melindunginya sepanjang waktu.

Chen Lan tidak hanya muda dalam penampilan, tetapi juga tidak bertindak seperti orang yang memiliki mentalitas 30tahunan. Dia memiliki sedikit pemikiran-seusianya. Pada awalnya, Li PanEn, yang baru berusia 18 tahun, tidak mau bermain dengannya, apalagi melakukan hubungan mendalam dengannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, perasaan ketidaktaatannya akhirnya berubah 180 derajat. Tentu saja, semua ini didasarkan hanya pada melihat wajahnya.

Chen Lan jarang meratapi waktu yang sudah berlalu dan omong kosong lain seperti rekan-rekannya. Kecuali untuk satu situasi, di mana Li PanEn tidak akan datang ke tempat tidur dan ini memengaruhi seluruh rutinitasnya. Li PanEn biasanya tidak terlalu sering berhubungan seks dengannya. Jadi dia memberi tahu Chen Lan bahwa mereka akan melakukannya hanya ketika dia mampu.

Pada usia 36, bahkan jika penampilannya bisa menipu orang lain, Li PanEn masih takut kalau dia akan menyakiti Chen Lan dengan melakukannya terlalu kasar. Jadi dia sering menahan diri untuk tidak melakukannya sambil berpikir bahwa Chen Lan tidak dalam kondisi yang baik untuk melanjutkan.

Pada saat ini, Li PanEn memarahi Ageless Secunder di dalam hatinya

“Apa yang kamu katakan?” Chen Lan melihat ke belakang.

Li PanEn kembali tersadar. Apakah aku baru saja mengatakan sesuatu?

“Tidak ada.”

Keduanya keluar dari pintu. Ada Harley yang diparkir di luar dan mata Chen Lan mulai berbinar. “Apakah itu milikmu?”

Li PanEn tahu kalau dia akan menyukai itu. Dia sangat puas dan mengangguk.

“Bagaimana kamu mendapatkannya?” Chen Lan berlari, menyentuhnya ke atas dan ke bawah, menggosok motornya.

Li PanEn melemparkan kunci padanya. “Hadiah uang dari kompetisi.”

“Xiao Pian’er kami sangat pandai dalam bisnis. Kamu bahkan membeli hadiah untuk Paman ini.” Chen Lan sangat senang. Senyum terbentuk di wajahnya saat dia berbalik dan mengangkangi motor itu. Dia dengan mudah meletakkan helm di kepalanya dengan satu tangan dan berkata cepat, “Ayo! Biarkan Paman yang memboncengmu!”

Awalnya Li PanEn berencana untuk membonceng Chen Lan naik motor itu. Dia telah belajar selama beberapa hari untuk melakukannya, tetapi dia tidak tahan untuk mengganggu kebahagiaan Chen Lan ketika dia terlihat sangat bersemangat. Dia dengan patuh duduk di belakang Chen Lan dan memeluknya.

Dia berpikir bahwa Harley terlalu cepat. Jika sesuatu terjadi, dia akan melindungi Chen Lan dan tidak pernah membiarkannya terluka. Eh, lupakan saja, Li PanEn terpana dengan gerakan terampil Chen Lan dan membiarkan semua pikiran ini tertiup angin.

Chen Lan jago mengendarai. Ketika dia mencondongkan tubuh ke depan dan menginjak pedal gas, semua peraturan lalu lintas itu menjadi sampah kertas di benaknya. Dia bertindak seolah-olah dia adalah seorang pengemudi senior.

Chen Lan sangat senang. Dia pergi ke tempat-tempat yang menarik minatnya dan berteriak melawan angin, “Ah! Aku 36 tahun! Seorang pria tua! Orang tua Xiao Pian! Ha ha ha!”

“……….”

Chen Lan, seperti burung liar yang dilepaskan di hutan, menumbuhkan sayap dan dengan mudahnya menghindari arus lalu lintas. Dia mengangkat wajahnya ke arah angin dan teriakannya dipadam.

Pada saat itu, Li PanEn memeluknya dan memiliki ilusi bahwa Chen Lan bukan berasal dari dunia ini. Dia lebih seperti peri malam yang datang ke dunia dalam kisah sihir dan menjelma sebagai manusia karena lonceng tengah malam. Chen Lan yang seperti itu membuatnya terpesona.

Pemandangan malam Kota B terkenal karena keindahannya. Jalan-jalan diterangi lampu neon, pohon-pohon menyala dan bunga-bunga keperakan. Belum lama ini adalah Festival Lentera, jadi pohon-pohon jalanan masih ditutupi dengan lentera ungu. Mereka seperti bunga wisteria yang mengalir di jalanan seperti dalam sebuah drama.

Chen Lan melaju melewati dua jalan seperti Flash.

Tangan Li PanEn menegang untuk mencegahnya dari angin dingin. Dia merasakan jantung Chen Lan berdetak kencang dalam kegembiraan dan hatinya sendiri hampir berubah menjadi air. Dia ingin memberinya yang lebih baik, yang terbaik di dunia, memberikan segalanya padanya, sehingga tidak ada yang bisa menandinginya, dan Chen Lan hanya akan bahagia bersamanya. Pada saat ini, Li PanEn membuat keputusan dalam hatinya. Sepanjang gelak tawa Chen Lan, dia mencium bagian belakang leher Chen Lan di bawah helmnya.

Disegel, berhasil.

Di dunia ini, mungkin tidak ada orang lain yang bisa membuatnya merasa seperti ini.

“Xiao Pian’er, apa yang kamu pikirkan?” Chen Lan bertanya kepadanya dari depan.

“Aku merindukanmu.”

“Ha, aku juga!”

…..

Seperti Flash, mereka melintasi dua jalan tetapi dihentikan oleh polisi lalu lintas di persimpangan ketiga.

Li PanEn bahkan belum membuka mulutnya ketika Chen Lan mengangkat kaca depan helmnya dan berkata, “Paman, aku minta maaf. Kami adalah mahasiswa Universitas B dan kami baru saja datang ke Kota B untuk waktu yang singkat. Kami masih tidak mengerti aturan di sini, tolong biarkan kami pergi.”

… Paman? Apa-apaan?

Chen Lan memang memiliki wajah yang sangat menipu. Pada saat ini, helm berat itu ditekan di kepalanya, membuat bahunya terlihat sempit dan muda. Awalnya, suaranya dalam, tapi Chen Lan sedikit pilek berat selama dua hari terakhir. Selain itu, dia sengaja menjual nada imutnya. Apalagi polisi lalu lintas tidak mengenalnya, bahkan jika Li PanEn sendiri bertemu dengannya di jalan dia akan bingung.

Benar saja, polisi yang telah mengambil surat-peringatan menariknya kembali. Dia tersipu dan berkata, “Yah, baiklah, aku tidak akan menyelidiki apakah ini pelanggaran pertama-mu, tetapi kamu tidak boleh berkendara lagi. Segeralah pulang. Berbahaya jika anak muda tidak tahu cara menghargai hidup mereka.”

“Ya benar. Kami akan segera pulang. Asrama harusnya masih terbuka. Terima kasih, Paman.” Chen Lan hendak menginjak pedal gas, dan tiba-tiba ditarik oleh polisi lalu lintas.

“Kamu tidak boleh berkendara.”

Chen Lan berkata dengan cemas, “Jika tidak boleh, bagaimana kami bisa mengambil kembali motor itu?” Matanya penuh dengan ketidakberdayaan dalam kepanikan dan keluhan. Dia memiliki emosi yang jelas. Keterampilan akting ini mengejutkan Li PanEn dengan getaran kecil. Negara itu wajib memberikan Penghargaan Oscar untuk Chen Lan.

Polisi lalu lintas juga begitu malu. Dia menyentuh hidungnya dan berkata, “Boleh aku memanggilkan untukmu truk derek? Atau kamu bisa mendorongnya pulang?”

Begitu Chen Lan mendengar ini, dia segera berkata, “Truk derek membutuhkan uang, dan kami adalah siswa miskin yang tidak dapat menghabiskan uang sebanyak itu. Ayo dorong kembali.” Setelah itu, Li PanEn diseret turun, dan kedua pria itu pergi, sembari memegang motor mereka saat mereka menyelinap pergi.

Tidak terlihat oleh polisi lalu lintas, Chen Lan menarik Li PanEn. “Ayo cepat, biarkan Paman merasakannya lagi.”

Chen Lan tidak menganggap serius polisi lalu lintas itu, tetapi Li PanEn bertekad untuk tidak membiarkannya mengemudi. Tidak peduli seberapa bagus keterampilan mengemudinya, dia tidak dapat mengatur kecepatannya. Jika terjadi sesuatu pada Chen Lan, dia tidak bisa mengabaikan perasaan cemas-nya. Kali ini Li PanEn tidak melakukan apa yang diinginkan Chen Lan. Dia mengambil-alih jok depan dan menunjuk ke jok belakang. Maknanya jelas.

Chen Lan tersenyum dan duduk di belakang Li PanEn dengan murah hati, “Oke. Bawa Paman untuk jalan-jalan.”

Li PanEn takut kalau Chen Lan akan marah. Tampaknya dia ingin berbuat lebih banyak. Hati Li PanEn tiba-tiba jatuh berantakan.

Kecepatannya tidak cepat dan hampir seperti mengendarai seekor keledai. Itu mengejutkan dan sesekali mereka berbelok. Pada saat ini jalanan tampak sepi. Bulan mengintip dari balik puncak pohon. Ada bayangan cahaya bulan di jalan aspal, seperti sepotong es perak. Jantung Li PanEn mulai berdebar dan dia berbalik untuk menciumnya, tetapi keduanya mengenakan helm. Hambatan itu terlalu besar, jadi dia dengan perlahan menekan helm Chen Lan dengan helm-miliknya.

Chen Lan tidak mengerti apa yang dia maksud. Dia pikir Li PanEn memanggilnya. Dia mengangkat kaca depan helm-nya. Dia tersenyum dan berkata, “Ada apa? Apa kau lapar?”

Dia mengenakan helm besar, dan poninya menempel di alisnya. Li PanEn menatap matanya, yang cerah karena kegembiraan. Di suatu tempat di dalam lubuk hatinya, seperti ada kobaran api, yang tiba-tiba menyala dengan perasaan yang kuat. “Lapar.”

“Lalu kita mau makan apa?” Chen Lan menyandarkan kepalanya di bahu Li PanEn, mengayunkan kakinya saat dia berpikir serius.

***

Sudah hampir tiba di rumah, tidak jauh dari taman, Li PanEn tiba-tiba menghentikan motor, dan melepas helmnya. Chen Lan menoleh dan terlihat bingung. Li PanEn tidak berbicara ketika dia melepas helm yang lain. Selama waktu itu, dia dengan hati-hati menggosok telinga Chen Lan.

“Ada apa?” Sebelum Chen Lan bisa bertanya, dia melihat Li PanEn membungkuk dan bibir mereka menyatu.

Tidak ada seorang pun disana, waktunya sempurna tetapi lokasi… Oh well, mungkin sedikit keluar dari batasan, tapi hari ini dia melakukan banyak hal di luar garis yang lebih buruk.

… Anak ini menginginkannya. Chen Lan mengerti dan merasa sedikit senang. Dia meletakkan tangannya di leher kekasihnya dan menyelam ke dalam ciuman panjang.

Li PanEn jauh lebih besar daripada Chen Lan, jadi lengannya cukup untuk membungkus seluruh pinggang tipis Chen Lan, sementara lengannya yang lain meraih di bawah kemeja Chen Lan. Tubuh Chen Lan sangat lembut, dan kulitnya sangat halus sehingga hampir terasa seperti ditutupi oleh lapisan air. Setelah merasakan angin dingin sepanjang malam, tangan Li PanEn menjadi kering dan dingin. Kekasaran jari-jarinya menyentuh kulit Chen Lan yang lembut dan halus, menyebabkan sensasi sentuhan semakin kuat dan keduanya sangat terangsang.

Beberapa serangga musim semi berkicau di semak-semak, tetapi bahkan mereka tidak bisa menutupi gerakan mereka yang memerah di taman yang sunyi. Ditambah lagi, Chen Lan tidak pernah menekan erangannya. Sebaliknya, dia suka mengerang tepat di samping telinga Xiao Pian’er, karena itu akan memberinya umpan balik langsung tentang betapa dia menyukai setiap gesekan.

Yang menakjubkan adalah Xiao Pian’er-nya telah dirangsang olehnya selama enam tahun, tetapi dia masih belum belajar apa-apa. Seberapa besar tanggapannya ketika pertama kali mendengar erangan Chen Lan? Yah, reaksinya hanya diperbesar dan tidak pernah menyusut.

Li PanEn adalah seorang pelaku, dia tidak suka banyak bicara ketika berada di tengah-tengah hubungan seks. Ketika dirangsang, dia akan berubah menjadi pile-driver [2], bekerja lebih keras lagi di setiap gesekan sampai erangan Chen Lan mulai berubah lebih terputus-putus. Namun, itu juga yang disukai Chen Lan darinya.

[2] Pile-driver = Pengendali dalam posisi seks. Seseorang yang menghantam atau mendorong dengan kuat atau penuh-tenaga.

Harley membuat suara derit yang tak terbendung. Ketika mereka berada tepat di pertengahan, sebuah senter datang melintasi mereka dari jarak yang cukup dekat.

“Hei, apa yang kalian lakukan di sana?” Itu pasti penjaga keamanan taman yang sedang berpatroli.

Chen Lan dengan kasar tersentak dari kesenangan mencapai klimaksnya, dan meskipun tenggorokannya sakit, dia terdengar lebih galak daripada penjaga yang berpatroli ketika dia menjawab, “Apa sih yang diributkan? Tidak pernah melihat orang berhubungan seks?”

Penjaga itu jelas tidak menduga akan menemukan dua pria yang sedang berhubungan seks. Dia agak terkejut, lalu segera kabur dengan ekspresi yang menjerit, “What the f*ck?”

“Xiao Pian’er, pamanmu sangat panas di dalam…” Penglihatan Chen Lan buram, dia mengusap pipi Li PanEn dengan dagunya saat dia mengucapkan kata-kata itu. Dia juga sedikit menggoyangkan pinggangnya, yang menunjukkan ekspresi tidak puas di wajahnya seolah ‘mengapa kamu tidak bergerak’.

“! ! ! ”

Tentu saja Xiao Pian’er-nya tidak akan tinggal diam setelah digoda. Tanpa berkata apa-apa, dia menekan Chen Lan di jok Harley. Dia punya satu tujuan: bercinta sampai mati.


<< Chapter 1 – Dari Awal Pertemuan Pertama

Chapter 3 – Keduanya Bertengkar, Perut Chen Lan Berdarah >>

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s