[Vol 1] S – Chapter 5

Translator Indo : Chintralala

Dia harus mematuhi perintah.

Hal pertama yang dia lakukan adalah membuntuti Munechika. Shiiba sudah menyelidiki kepribadian dasar Munechika, tapi dia masih perlu mencari tahu apa yang dilakukan pria itu setiap hari, minatnya, kesukaannya, uang yang dipinjamnya, dan hubungan pribadinya. Shiiba perlu tahu apa pun yang akan membantunya memahami Munechika sebagai seorang pria. Ketika mencoba mendapatkan S, kamu harus mulai meneliti dari bagian paling bawah. Di luar, Munechika terlihat seperti pengusaha biasa. Di pagi hari dia akan berangkat kerja, di malam hari, dia akan pulang. Dia melakukan banyak hiburan sebagai bagian dari pekerjaan. Hampir setiap hari, dia akan makan atau pergi minum dengan seseorang. Satu hal yang Shiiba tahu: Munechika memiliki asisten muda yang sering bertemu dengan anggota kelompok kejahatan lainnya.

Setelah mengamati Munechika selama lebih dari 10 hari, Shiiba masih belum bisa membedakan perilaku yang tidak biasa. Ini tidak akan meningkatkan tugas Shiiba. Dia tidak ingin membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaannya, tetapi dia tidak menyukai apa yang tidak disukainya. Itu membuatnya tertekan. Mengetahui bahwa dia adalah salah satu dari orang-orang yang menempatkan perasaan pribadinya sebelum pekerjaan membuatnya benar-benar mulai membenci dirinya sendiri.

Dikonsumsi oleh perasaan benci, Shiiba berjaga-jaga malam itu, seperti yang dilakukannya setiap malam untuk mengwasi Munechika. Dia berada di depan klub berkelas di Ginza. Dia akan dikenali, jadi dia tidak masuk.

Ada banyak orang yang minum-minum, tetapi bagian kota ini adalah dunia yang terpisah dari Kabuki-cho. Para pria menghilang ke dalam gedung dengan nyonya rumah [1] yang cantik berada di lengan mereka. Wanita yang menarik sedang berdiri di jalan untuk melambai ke pelanggan. Ada mobil-mobil mahal dan taksi berbaris sejauh mata memandang.

[1] T/N: nyonya rumah- seorang wanita yang menerima atau menghibur tamu.

 

Shiiba berdiri di bawah bayang-bayang bangunan sepi di bawah langit musim dingin. Setelah beberapa saat, Munechika keluar, tetapi dia tidak sendirian.

Malam ini, dia membawa seorang gadis muda bersamanya. Di depan mereka, Benz hitam yang dikendarai Kaname berhenti.

Shiiba melompat ke dalam taksi yang telah dia bayarkan untuk menunggunya dan menyuruh sopir untuk mengikuti Benz itu. Benz yang ada Munechika dan gadis di dalamnya pun melaju. Taksi tempat Shiiba berada mengikuti beberapa mobil di belakang. Benz pergi dari Jalan Showa, ke 405 dan kemudian ke Jalan Roppongi. Sepertinya mereka menuju ke tempat Munechika.

Munechika benar-benar baik secara finansial jika dia bisa membawa nyonya rumah pulang dari klub mewah.

Shiiba menatap Benz di depan, hatinya dipenuhi dengan kebencian. Tetapi, jika gadis itu adalah kekasih Munechika, maka itu bisa menjadi sumber yang bisa dia gunakan. Shiiba harus mencari tahu semua yang dia bisa tentang Munechika. Setelah beberapa saat, Benz berhenti di kediaman Munechika di Roppongi. Melihat Benz memasuki tempat parkir bawah tanah, Shiiba keluar dari taksi. Dia berada di salah satu jalan yang ada di sisi selatan Bukit Roppongi. Dia melihat sekeliling, hanya sedikit maju di depan ada sebuah taman. Bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan taman, dia menyaksikan pintu masuk ke tempat parkir.

Dia berencana untuk menetap di sana sampai gadis itu pulang, tetapi jika dia tidak beruntung, dia mungkin ada di sana sampai pagi hari. Shiiba harus membeli kopi panas. Tapi, setelah mengambil beberapa langkah menuju mesin penjual-kopi otomatis, ponsel di sakunya mulai bergetar. Nomor pada tampilan tidak terlihat familier. Mata Shiiba tertuju pada rumah ketika dia menjawab telepon.

“Kamu tidak mau menyerah? Apakah kamu berencana untuk mengikutiku selamanya?”

Itu suara Munechika. Shiiba sangat waspada. Tidak mungkin Munechika memperhatikan. Dan Shiiba tidak pernah memberi tahu pria itu nomor ponselnya.

“Kemarilah,” Lanjut Munechika. “Aku akan membuatkanmu kopi.” Pria ini tampaknya memiliki mata di mana-mana. “Sampai jumpa.”

Munechika menutup telepon. Shiiba mengembalikan ponsel ke sakunya dan pergi dengan tekad menuju pintu masuk depan gedung. Dia bertukar salam dengan penjaga dan penjaga pintu menekan interkom. Itu menghubungkannya langsung ke resepsionis di mana mereka menanyakan nama dan nomor kamar orang yang dia kunjungi. Lalu dia diizinkan masuk. Dia berjalan melalui koridor besar yang didekorasi seperti museum seni. Dia menunggu di sana untuk personil gedung melakukan pemeriksaan yang relevan dengan Munechika. Tidak lama, dia masuk ke lift. Lift mewah naik perlahan. Di dalam, Shiiba merasa gugup. Ini akan menjadi pertemuan pertamanya untuk membuat Munechika menjadi S. Dan merupakan kesempatan baginya untuk meningkatkan hubungan mereka.

Dia seharusnya merasa tegang, tetapi justru dia merasa tertekan. Dia tahu alasannya. Shiiba seharusnya lebih unggul dari Munechika, tapi dia tidak melakukannya sejak awal. Jika dia mendapatkan keuntungan sekarang, dia harus mengambil tindakan. Dia mungkin tidak mendapatkan kesempatan di lain hari.

Berdiri di depan kamar Munechika, Shiiba menutup matanya dan memaksa dirinya untuk tenang. Saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah mengenal Munechika lebih baik, dan menemukan cara untuk menggunakannya sebagai S.

Ketika dia menekan tombol interkom, Munechika segera muncul. Dia sekarang tampak jauh lebih muda, mungkin karena dia telah berganti memakai celana jeans dan sweater.

.

.

Memasuki aula, Shiiba dengan cepat melihat sekeliling di lantai, tetapi tidak ada sepasang sepatu wanita yang terlihat.

“Ada seorang wanita yang bersamamu?” Tanyanya.

“Kaname mengantarnya pulang,” Munechika menjelaskan.

Jadi hanya Munechika yang keluar dari Benz di tempat parkir. Namun, Shiiba tidak puas dengan penjelasan itu. Mengapa mereka tidak membawanya pulang lebih dulu? Shiiba mengajukan pertanyaan itu, dan Munechika menyeringai.

“Aku bermaksud bersenang-senang dengannya sepanjang malam, tapi aku berubah pikiran ditengah-jalan. Aku merasa kasihan padamu di luar sana sendirian.”

“Jangan berbohong padaku,” Bentak Shiiba. “Aku yakin kamu bosan dan mencampakkannya.”

Mereka memasuki ruang tamu. Munechika menghilang ke dapur dan muncul kembali membawa sepoci kopi dan dua cangkir.

“Minumlah,” Katanya. “Ini akan menghangatkanmu.”

Munechika menuangkan kopi ke dalam dua cangkir sederhana tanpa hiasan. Dari cairan kuning, bau manis melayang. Ketika Shiiba tidak langsung meraihnya, Munechika berkata dengan tidak puas, “Berpikir ada sesuatu yang salah dengan itu?”

“Kamu tidak memasukan sesuatu, kan?” Tanya Shiiba.

Untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah, Munechika menyesap cangkirnya sendiri. Tidak ada alasan untuk meragukan jamuaan itu, tetapi ada sesuatu yang membuat Munechika memandangnya, yang membuat Shiiba waspada.

“Aku tidak mempercayaimu,” Kata Shiiba.

Munechika menatapnya tajam. “Kalau begitu jangan diminum.”

“Aku akan meminumnya,” Protes Shiiba. “Tapi tidak ada makanan ringan.”

Akhirnya, Shiiba menyesap cangkir itu. Munechika mendengus. “Kamu harus segera meminumnya. Kopi terbaik cepat dingin.”

Itu benar. Kopi yang dibuat Munechika jauh lebih lezat daripada apa pun yang dia miliki di kafe. Pria itu pasti menggunakan biji-kopi yang bagus.

“Kenapa kamu mengikutiku? Apakah kamu jatuh cinta denganku?”

Pertanyaan Munechika benar-benar tidak pantas. Shiiba memelototinya.

“Idiot,” Katanya. “Bahkan jika aku seorang wanita, kamu akan menjadi bajingan terakhir yang membuatku jatuh cinta. Simpan kata-kata bodohmu untuk orang lain,” Katanya, benar-benar mencemooh Munechika.

Munechika balas menatapnya dengan dingin. “Kamu cantik, tapi kamu punya mulut yang busuk.” “Terus saja,” Balas Shiiba. “Aku bukan orang cabul yang terangsang dengan menonton pria lain melakukan masturbasi. Kamu tidak impoten, kan? Kamu mungkin bahkan tidak bisa menembak magnum-mu, itu hanya hiasan.”

Saat dia mengatakan ini, bagian terbaik dari dirinya berteriak padanya untuk berhenti. Kamu seharusnya tidak membuat marah S yang potensial. Kamu tidak berguna!

Namun, Munechika, bukannya marah, malahan meledak dengan tawa. Dia menampar pahanya. Shiiba tidak berpikir bahwa apa pun yang baru saja dikatakannya itu lucu.

“Kenapa kamu tidak mencari tahu sendiri apakah magnumku hanya mainan atau benda asli?” Munechika bertanya, masih tertawa. “Aku akan memilikimu sebagai ganti wanita itu.”

“Aku pergi,” Kata Shiiba singkat.

Ketika dia berdiri dari sofa, Munechika meraih lengannya dan memintanya untuk menunggu. “Itu hanya lelucon! Astaga. Pria yang sangat pemarah. Percayalah, jika aku menginginkan pantat-pria, maka aku tidak akan kekurangan mitra. Tapi, aku mungkin lebih menikmatinya kalau itu kamu.”

Shiiba tidak tahu apakah Munechika sedang bercanda atau serius. Dia benar-benar tidak menyukai pria ini. Tapi dia duduk lagi. “Munechika, kamu tahu aku detektif, jadi kenapa kamu memberiku informasi tentang Ma?”

“Apa yang menyebabkan ini terjadi?” Tanya Munechika secara sadar.

“Kamu tidak benar-benar ingin melakukan sesuatu denganku, kan?” Shiiba bertanya balik. “Kesepakatan aneh itu hanya alasan untuk memberiku informasi, kan?”

“Aku tidak tahu,” Kata Munechika mengelak.

“Dengan memberitahuku informasinya, maka Ma pasti akan ditangkap. Grup Matsukura tidak dapat menyentuh anggota mafia Taiwan sehingga kamu melakukannya. Apakah tebakanku benar?” Kata Shiiba.

“Kamu tidak sepenuhnya benar,” Jawab Munechika. “Kami memang ingin membalas dendam pada Ma, tetapi jika hanya itu yang kami inginkan, maka kami bisa saja menelepon secara anonim ke polisi. Alasan dari kesepakatan itu adalah aku tertarik pada tubuh-mu. Pria yang menggunakan Andou untuk mendapatkan informasi, aku bertanya-tanya seperti apa pria itu. Kesepakatan itu sudah cukup. Aku telah berpikir bahwa kamu hanya seorang gadis yang cukup girly, tetapi kamu jauh lebih menakjubkan dari yang aku harapkan. Aku tahu itu dari cara kamu masturbasi.”

Shiiba mulai merasa marah. Segera setelah siksaan itu selesai, dia berusaha menghapusnya dari ingatannya. Dipuji atas apa yang telah dia lakukan membuatnya merasa lebih tidak nyaman.

“Jangan marah,” Kata Munechika. “Hanya itu saja. Aku ingin memiliki kesempatan untuk mengenal dirimu yang sebenarnya.”

Shiiba meledak. “Bagaimana aku yang sebenarnya? Bagaimana kamu bisa tahu siapa aku dengan menontonku melakukan hal itu ?!”

“Tentu saja aku bisa,” Kata Munechika. “Di depan kekasihmu, atau seseorang yang kamu inginkan, kamu bisa bersenang-senang kan? Aku tidak merangsangmu. Tetapi ketika kamu mulai mendengarkan apa yang aku katakan, itu membuatmu mengeras, bukan? Kamu terkejut ketika suasana hati-mu berubah, dan kamu bahkan mulai merasa sedikit terangsang. Dan kemudian kamu berhasil cum ketika kamu memiliki gambaran dua pria di pikiranmu. Aku sebenarnya tidak menduga kalau kamu akan melakukannya.”

“Apakah kamu tidak terlalu banyak membaca?” Shiiba melemparkan kembali ke Munechika. Dia tersinggung bahwa pria itu berpikir dia bisa menilai kepribadian seseorang melalui sesuatu yang aneh seperti itu. “Mungkin aku hanya memiliki gairah seks yang tinggi dan kata-kata kotor akan membuatku bersemangat.”

“Mungkin itu masalahnya,” Renung Munechika. “Kamu beruntung jika beberapa kata bisa menyenangkanmu seperti itu. Lain kali, haruskah aku menelepon rumahmu? Aku akan menjadi teman sex-phone mu. Aku akan merangsangmu dengan suaraku setiap malam. Bagaimana tentang itu?”

Idiot. Pria ini benar-benar yang terendah dari yang terendah. Shiiba berdiri dari kursi. Jika dia tidak keluar dari sini dengan cepat, maka sesuatu yang aneh mungkin terjadi lagi.

“Sudah mau pulang?” Munechika menggerutu.

“Ya,” Bentak Shiiba. “Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja. Terima kasih telah membantu kami menangkap Ma.”

Munechika tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Shiiba dalam diam. Shiiba tidak tahan dengan keheningan canggung ini. Dia mulai melangkah pergi.

“Apakah akan lebih baik jika kamu tahu yang sebenarnya?” Munechika bertanya pelan.

Shiiba berhenti di jalurnya. Itu adalah sedotan yang mematahkan punggung unta [2]. Di hati Shiiba, ombak berdesir.

[2] T/N: menggambarkan tindakan yang tampaknya kecil tetapi menyebabkan reaksi besar dan yang tak terduga.

 

“Apa maksudmu?” Bisiknya.

Menyembunyikan kecemasannya, Shiiba perlahan berbalik. Munechika duduk di lengan kursi, dan menatapnya. Matanya tenang dan Shiiba tidak bisa mengatakan apa yang terjadi di belakang mereka. Situasi hanya meningkatkan kegelisahannya.

“Kamu merasa lega ketika mengetahui kalau Andou tidak mati karena kamu,” Kata Munechika datar.

Shiiba merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk membalas. Munechika melanjutkan. “Aku pikir kamu adalah wanita Andou. Jadi aku pikir kamu akan putus asa untuk mencari tahu siapa yang telah membunuhnya. Tapi Andou tidak lebih dari informanmu. Fakta bahwa dia pergi tidak lebih dari ketidaknyamanan sederhana bagimu. Andou yang malang. Kurasa dia akan menangis jika kamu yang mati.”

“Diam!” Shiiba berteriak untuk membungkam kata-kata yang tidak ingin dia dengar. Hubungannya dengan Andou adalah sesuatu yang tidak ingin dia bicarakan dengan orang lain. “Jangan katakan apa-apa lagi…”

“Apa aku memukul titik-lukamu?” Munechika bertanya tanpa peduli.

Tentu saja, Shiiba merasa lega ketika dia mengetahui bahwa bukan salahnya Andou dibunuh. Itu tidak bisa disangkal. Tapi Munechika tidak punya hak untuk membicarakan Andou seperti itu.

“Apa yang kamu tahu?” Shiiba menggeram. “Bagaimana kamu tahu bagaimana perasaanku? Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami…” Perasaan penyesalan bahwa dia mungkin menjadi alasan Andou dalam bahaya seperti pisau di dalam dada Shiiba. Salah satu yang terus diungkit Munechika. Mustahil Shiiba bisa tetap tenang. “Kamu sialan, apa yang kamu tahu…”

Mungkin karena intensitas emosinya, air mata mulai mengalir di mata Shiiba. Dia tidak ingin Munechika melihatnya. Dia tidak bangga dengan kelemahannya. Dia mencoba melarikan diri, tetapi Munechika menahannya.

“Tunggu,” Kata Munechika. “Aku belum selesai.”

“Kamu tidak punya apapun yang ingin kudengar untuk dikatakan,” Shiiba meludah. Betapapun dia berusaha, dia tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman Munechika. Semakin dia mencoba, semakin sakit. “Lepaskan aku. Aku akan menendangmu keluar jika kamu tidak melakukannya!” Dia berbalik dan menatap Munechika. Mata hitamnya berkilau, yang memperlihatkan gairah emosinya.

Tiba-tiba Munechika meraih pinggulnya dan menarik Shiiba ke dadanya.

“Mata yang sangat indah,” Bisiknya. “Akhirnya, kamu melepas topengmu. Itulah wajah yang sudah lama ingin kulihat. Bukan yang cantik, tapi bagian dalam yang penuh gairah. Itulah wajahnya—” Tiba-tiba dia mendorong Shiiba ke dinding dan menciumnya dengan kasar. Terkejut oleh sentuhan dadakan dari bibir Munechika, Shiiba tidak berdaya untuk menghentikan pria yang mendorong lidahnya ke dalam mulutnya.

“… Ngh… Mm…”

Dia mulai kehilangan akal tentang apa yang terjadi ketika lidah tebal Munechika mendorong dengan sangat keras ke dalam mulutnya sampai-sampai dia nyaris tidak bisa bernapas.

“Berhen…..”

Begitu dia membuka mulutnya untuk mencoba mengeluarkan kata-kata, Munechika mengubah sudut dan mendorong lidahnya lebih dalam lagi.

Munechika mendorong lidahnya sedalam mungkin. Saat lidah menjilat atap mulut Shiiba, perasaan yang belum terbiasa sebelumnya mengguncang otot-ototnya. Dia tidak pernah disentuh di bagian sana oleh orang lain. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya. Yang mengejutkan, dia menemukan bahwa dia sensitif di bagian sana. Ciuman itu terus berlanjut. Rasanya jauh lebih kental daripada apa pun yang pernah dia rasakan sebelumnya. Lidahnya digeluti oleh lidah orang lain yang hangat, dia tidak bisa menahan perasaan. Lidah itu mencarinya ke mana pun dia berlari. Tidak lama, bibirnya terbuka, Munechika berbisik manis di telinganya, “Bagaimana kalau kita tidur bersama?”

Shiiba mencoba mengatur napas ngos-ngosannya dan mulai tersadar. Dia tidak bisa berjalan dengan kecepatan Munechika. Dia harus tenang.

“Kupikir kau tidak tertarik pada pria?” Dia bertanya.

“Aku memang tidak tertarik,” Kata Munechika. “Kamu pengecualian.”

Munechika mengambil tangan Shiiba dan mulai membimbingnya ke arah kamar. Shiiba ragu-ragu. Dia seharusnya tidak merasakan apa yang dia miliki ketika mereka berbagi ciuman itu. Dia bertanya-tanya apakah cara untuk mendapatkan Munechika sebagai S-nya adalah melalui hubungan seks. Dia siap untuk tidur dengannya sekali. Dia tidak ingin mengambil risiko mengatakan tidak dan membiarkan orang itu melarikan diri.

Pekerjaan adalah pekerjaan. Dia harus bertahan. Detektif harus berhubungan intim dengan wanita sebelumnya untuk mendapatkan informasi, jadi tidak masalah jika kali ini seorang pria. Kali ini seorang pria. Hanya itu yang ada di pikirannya.

Masalah sebenarnya bahwa bagi Munechika, dia tidak lebih dari mainan yang langka dan menarik. Untuk mengetahui apakah Shiiba akan beruntung atau tidak beruntung itu sulit.

Munechika mendorongnya ke tempat tidur berukuran King dan Shiiba tenggelam ke dalam selimut.

“Bagaimana rasanya? Apakah aku seorang pencium yang baik?” Mendorong dirinya ke atas Shiiba, Munechika membelai rambut Shiiba.

“Ya, itu baik,” Jawab Shiiba. “Itu sangat baik, kamu menghancurkan pertahananku.”

Munechika mengerutkan kening. “Ada apa denganmu? Kamu sekarang bertingkah aneh.”

Shiiba meletakkan kedua tangannya di leher Munechika dan berbisik, “Aku tidak bisa menahannya. Itu sangat mantap. Itulah pertama kalinya seseorang menciumku seperti itu. Begitu menakjubkan. Aku menginginkan-mu sekarang. Ini adalah pertama kalinya aku bersama seorang pria, tetapi aku ingin itu menjadi kamu…”

Berpikir bahwa memenangkannya dengan seks akan membuat segalanya mudah, Shiiba menarik Munechika ke dalam dirinya. Bagaimana Munechika membuatnya merasakan hal-hal yang tidak bisa dilakukan Andou? Mungkin karena sebenarnya tidak ada apa pun antara dia dan Munechika. Dia hanya perlu sangat lugas tentang seks.

 

Ketika dia mencoba mendorong bibirnya ke bibir Munechika, dia menyadari kalau Munechika sedang tertawa.

“Apa yang lucu?” Dia bertanya dengan ragu.

“Tidak ada,” Kata Munechika, dia berkata sambil tertawa. “Kamu orang yang aneh. Shiiba, kamu tidak bisa menjadikanku milikmu dengan seks. Aku akan memberitahumu itu sekarang.”

“Apa yang kamu katakan?” Bentak Shiiba.

Munechika meraih dagunya dan menarik Shiiba ke arahnya. Tatapan mereka terkunci. “Apakah kamu pikir kamu bisa menggunakan aku, bukan Andou? Aku berbeda dari Andou. Aku bukan pahlawan yang akan memberimu informasi hanya karena mereka ingin disentuh olehmu. Kamu harus tahu itu sebelum kita tidur bersama.”

Shiiba mengutuk dalam hati. Dia membuat kesalahan. Seks tidak akan menarik pria ini masuk rencananya. Shiiba mendorong Munechika darinya dan duduk dengan paksa.

“Apa? Kita tidak jadi melakukannya sekarang?” Munechika menggerutu.

“Aku tidak akan mendapatkan apa-pun dari itu jadi mengapa aku mau?” Kata Shiiba.

Melihat Shiiba, Munechika berguling dari tempat tidur dan tertawa lagi.

“Kamu berusaha memancingku dengan seks ?! Kamu pikir tubuhmu sangat berharga?”

Wajah Shiiba memerah, mengungkapkan betapa bodohnya dia. “Kamu memang cabul impoten!” Teriaknya. “Kamu hanya perlu melakukan semuanya sendiri selamanya!”

Tindakan Shiiba membuat bahu Munechika terangkat dengan tawa. Mengabaikan segalanya, Shiiba melompat dari tempat tidur. Dia merasa frustrasi. Dia merasa malu. Tapi di atas semua itu, dia marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia kehilangan ketenangan di depan pria ini?

Saat dia mengenakan sepatunya, Munechika memanggilnya, “Hei.” Dia berbalik tepat ketika sesuatu terbang ke arahnya.

Dia menangkapnya. “Ambil ini.”

Ketika dia membuka tangannya, dia melihat kunci. Itu adalah bentuk yang sedikit berbeda dari biasanya. “Itu kunci kamar,” Jelas Munechika. “Jika kamu menggesek pembaca kartu di interkom maka pintu akan terbuka. Sama dengan lift. Masukkan kunci dan kemudian kamu tidak perlu menekan tombol, itu akan membawamu ke lantai ini secara otomatis. Kamu tidak bisa pergi ke lantai lain.”

Di dalam kunci ada chip yang tertanam. Ada banyak kunci dan pemeriksaan keamanan di gedung ini. Keamanan jelas sangat memprihatinkan bagi Munechika.

Tentu saja, aula depan dikunci ganda. Ada kamera CCTV dan tanda pemeriksaan yang dibuat oleh staf depan. Keamanan adalah untuk ketenangan pikiran mereka. Selain itu, dia telah mendengar bahwa apartemen paling mahal di blok ini harganya lebih dari 4.000.000 yen sebulan. Jadi keamanannya tidak mengejutkan.

“Apa maksudmu dengan memberiku kunci?” Tanya Shiiba.

Munechika menyeringai. “Jangan terus mengikutiku. Jika kamu menginginkan sesuatu, datanglah. Aku tidak punya apa pun untuk disembunyikan darimu.”

“Bolehkah aku masuk saat kamu melakukan itu dengan seorang wanita?” Shiiba bertanya dengan sinis.

“Tidak masalah.” Munechika melirik. “Kita bisa threesome.”

Tanpa kekuatan untuk menemukan balasan yang cerdas, Shiiba memasukkan kunci ke sakunya. Dia seharusnya langsung mengembalikan kunci, tetapi dia tidak bisa berpikir jernih saat itu. Kemarahannya masih membara di dalam dirinya, tetapi dia juga merasa kecewa.

Dia membuka pintu dan dengan cepat meninggalkan ruangan. Berjalan cepat di koridor, dia mencium aroma manis yang melekat di tubuhnya. Itu adalah parfum yang digunakan Munechika. Aroma itu mengikutinya, seolah mencoba mengingatkan Shiiba bahwa jika dia pergi, Munechika masih akan ada bersamanya.

.

.

Shiiba memimpikan kakak perempuannya untuk pertama kali dalam waktu yang sudah lama.

Dalam mimpinya Yukari, dia diam-diam sedang merajut. Ketika Shiiba bertanya apa yang dia rajut, Yukari mengangkat rajutan yang hampir selesai untuk ditunjukkan padanya.

“Ini topi bayi. Lucu sekali, kan?”

Yukari terlihat sangat senang. Dia merajut topi untuk anak yang akan lahir di musim dingin. Perutnya belum tumbuh terlalu besar, tetapi dia sudah terlihat seperti seorang ibu.

Dia tahu itu hanya mimpi, tapi hati Shiiba masih dipenuhi rasa sakit dan rindu untuk melihatnya. Ketika Yukari meninggal, dia tengah hamil selama lima bulan. Kehidupannya telah dihancurkan begitu muda.

“Masaki, Hideyuki khawatir. Apakah kamu akan baik-baik saja dengan ujian?”

“Tidak apa-apa. Aku akan lulus, jangan khawatir!”

Dalam mimpinya, dia menjawab dengan percaya diri. Dia akan bergabung dengan Polisi Metropolitan. Pada saat yang sama, tersembunyi di balik keputusan itu adalah keinginan untuk menjadi seperti kakak-iparnya dan membuat kakak perempuannya merasa bangga padanya.

Ketika Shinozuka dan Yukari menikah, keluarga Shinozuka belum sepenuhnya menyetujui. Bahkan setelah mereka menikah, mereka akan terus mengatakan hal-hal yang menyakitkan tentang asuhannya. Shinozuka selalu berada di sisinya, tetapi Shiiba tidak bisa untuk tidak mengasihani kakak perempuannya yang hanya akan diam-diam menerima penghinaan. Jadi dia ingin berada di karir yang sama dengan Shinozuka, untuk meringankan kritik kakak-perempuannya meski hanya sedikit.

Ketika orang tua mereka meninggal, Yukari merawat Shiiba. Dia adalah kakak perempuan yang bisa dibanggakan oleh siapa pun. Shinozuka selalu sangat sibuk, tapi dia menjaga Yukari dengan baik. Ketika mereka semua pergi bersama sebagai keluarga, itu adalah saat-saat paling membahagiakan dalam kehidupan Shiiba.

“Apakah sudah waktunya? Aku harus pergi.”

“Tidak bisa.” Shiiba terkejut. “Kamu tidak boleh pergi!”

“Mengapa? Ada apa? Kamu anak yang aneh.”

Yukari tertawa dan berdiri. Shiiba mengulurkan tangan untuk mencoba menghentikannya, tetapi Yukari menghilang. Shiiba ditinggalkan di udara tipis (menghilang tiba-tiba).

Dalam perjalanan pulang dari klinik bersalin insiden tragis telah terjadi. Jika dia tidak pergi hari itu, maka itu tidak akan pernah terjadi.

“Tunggu! Jangan pergi!” Teriaknya pada tempat yang pernah ditempati kakaknya. Lalu dia terbangun.

Shiiba menutupi wajahnya dengan tangannya. Napasnya tidak teratur. Seluruh tubuhnya meneteskan keringat. Melihat jam, dia melihat sudah lewat 11 malam. Dia pergi tidur lebih awal sehingga tidak biasa dia tidur begitu lama.

Tepat ketika dia bangkit dari tempat tidur, ponsel berdering. Dalam kegelapan, tampilan ponsel menyala oranye. Untuk sesaat, dia menatap kosong pada layar, tetapi kemudian dia sadar dan mengulurkan tangan untuk mengambilnya.

Itu adalah Shinozuka. Dia ingin tahu tentang ujian tahun depan. Shiiba ingin menolaknya, tetapi sebaliknya, mulutnya memberikan jawaban yang berbeda.

“Maafkan aku. Aku butuh lebih banyak waktu untuk berpikir.”

“Aku mengerti,” Kata Shinozuka. “Ini hidupmu, tentu saja kalau kamu memikirkannya. Masaki, kamu sering pergi ke Shinjuku, kan? Aku akan berada di Jalan Shinjuku. Ada yang harus aku lakukan di Kantor Pemerintah Tokyo.”

“Pertemuan tentang Perencanaan Teroris?” Tanya Shiiba.

“Ya,” Jawab Shinozuka. “Ini akan menjadi pekerjaan terakhirku untuk Kepolisian Metropolitan.”

Pemerintah, kepolisian dan departemen pemadam kebakaran akan bekerja sama pada awal tahun dalam latihan serangan teror kimia. Keamanan Publik telah membentuk penyelidik teror NBC sebagai tanggapan terhadap ancaman serangan kimia biologis oleh para teroris. Mereka akan menjadi pusat kontrol untuk latihan ini.

“Ada rapat besok jadi aku akan berada di Kantor Pemerintah. Jika kamu punya waktu, apakah kamu ingin makan malam di suatu tempat?” Tanya Shinozuka.

“Maafkan aku. Aku sudah punya rencana besok,” Shiiba berbohong. Dia sebenarnya tidak punya rencana, tapi dia tidak ingin melihat Shinozuka saat itu.

“Aku mengerti,” Kata Shinozuka. “Yah, mungkin lain kali. Berhati-hatilah agar kamu tidak masuk angin.”

“Baik.”

Setelah dia menutup panggilan, Shiiba berguling kembali ke tempat tidur dan merasa kelelahan.

Dia tidak memiliki satu ons antusiasme untuk mengambil karirnya di jalan itu jadi mengapa dia tidak mengatakannya begitu saja? Mungkin dia sebenarnya ragu untuk melanjutkan sebagai detektif biasa. Dia tidak dapat menyangkal bahwa dia mulai memiliki pemikiran kedua untuk melanjutkan pekerjaannya saat ini.

Dia merasa haus dan bangun dari tempat tidur, lalu dia pergi ke kulkas dan mengambil botol air mineral. Mendengarkan dengung rendah dari mesin kulkas, dia menyesap botolnya. Air mengalir di tenggorokannya yang kering, perlahan-lahan mencapai perutnya. Tetapi ketika dia telah meminum seluruh botol, dia masih merasa haus. Bukan tubuhnya yang haus, tapi hatinya. Shiiba selalu merasakan kesepian di dalam dirinya, seperti ada gurun pasir di tubuhnya. Dunia terkubur di pasir yang panas dan terbakar di mana tidak ada yang hidup. Gurun akan membentang selamanya. Dari dalam, Shiiba mengering.

Dia kembali ke tempat tidur dan menutup matanya. Betapapun dia berusaha, dia tetap tidak bisa tidur. Karena frustrasi, dia berdoa agar tidur membawanya kembali jauh dari dunia ini. Tiba-tiba, dia melihat ponsel yang ada di bantalnya. Dia mengulurkan tangan dan membuka ponsel flip.

Dia melihat panggilan tidak terjawab. Itu adalah nomor yang tidak ada di kontak teleponnya. Setelah beberapa saat dia menatap nomor itu, Shiiba menekan tombol panggil.

“Iya.”

Yang mengangkat adalah pria. Ketika Shiiba tidak mengatakan apa-apa, pria itu bertanya, “Ini Shiiba, yah?” Shiiba masih tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mendorong ponsel ke telinganya.

“Jangan diam saja, katakan sesuatu,” Pria itu menuntut.

“Apa yang kamu pakai?” Shiiba akhirnya bertanya.

Mendengar “saluran phone-sex terburuk” yang diucapkan dengan suara monoton, Munechika di ujung telepon tertawa.

“Lelucon buruk,” Kata pria itu. “Cobalah mengatakan sesuatu yang lebih baik.”

“Aku tidak mengatakannya untuk membuatmu tertawa,” Kata Shiiba.

“Aku selalu bosan,” Kata Munechika. “Kamu sumber hiburan yang bagus.”

Shiiba berharap Munechika akan berhenti mencoba menjadi germo terhadapnya. Tetapi dia puas bahwa itu adalah Munechika. Pria itu selalu terkendali. Tetapi tidak peduli ekspresi apa yang dia buat, bahagia atau jengkel, matanya selalu tampak gelap, seolah-olah ada penyesalan mendalam yang tersembunyi di sana.

“Kalau begitu, mari kita mulai saja,” Kata Munechika.

“Apa?” Tanya Shiiba, bingung.

“Telepon seks,” Jawab Munechika seperti yang selalu dilakukannya, dan Shiiba tidak bisa menahan senyum kecil dari wajahnya.

“Aku tidak akan melakukan itu,” Jawabnya.

“Jadi, mengapa kamu memanggilku saat itu?” Munechika bertanya.

Shiiba tidak tahu jawabannya. Dia belum memikirkan pekerjaan, ini bukan jenis panggilan bisnis yang akan dia lakukan.

“Oh, aku tahu,” Lanjut Munechika. “Kamu ingin mendengar suaraku. Jika kamu kesepian tidur sendiri, datanglah ke tempatku. Kita bisa melanjutkan sesuatu yang tadi kita tinggalkan. Aku akan memperlakukanmu dengan baik.”

“Berhenti.” Shiiba menggeram. “Sudah kubilang, jika tidak ada untungnya untukku, maka aku tidak akan tidur denganmu.”

“Ada sesuatu di sini untukmu. Ini akan terasa enak,” Kata Munechika. “Ngomong-ngomong, setiap kali kamu merasa kepengen, datang saja ke tempat tidurku.”

“Bahkan dalam seratus tahun, itu tidak akan pernah terjadi. Selamat tinggal.”

Itu adalah percakapan yang menjengkelkan, tapi itu sedikit menghiburnya.

“Hei tunggu!”

Mengabaikan apa yang akan dikatakan pria itu, Shiiba menyeringai dan menutup telepon.


<< S [Vol 1] – Chapter 4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s