LRP Chapter 3 – Tidak Lihatkah Kamu Keindahanku?

Translator Indo : Chintralala

Pohon teardrop menggebuk tepi kubah dengan cabang-cabangnya yang lebih panjang. Inersia (gaya semu) memudahkan kaca untuk bergerak tanpa beban di dalam aula. Tetapi meskipun memiliki begitu banyak bola mata, bola mata itu tidak dapat melihat sekeliling seperti Hai’an. Cabang-cabang yang berbeda mengetuk tepi kubah di beberapa tempat, sehingga pohon teardrop hanya bisa bergerak mengelilingi Hai’an dalam lingkaran.

Hai’an : ……

Pohon teardrop memiliki cabang sementara dia hanya memiliki dua daun. Panjang daunnya bahkan tidak bisa mencapai tepi pot bunga, apalagi kubah kaca.

Membuang gagasan untuk bergerak, Hai’an dengan tenang mengamati bagaimana para tamu menangkap barang-barang. Ini adalah pertama kalinya dia melihat metode perdagangan yang luar biasa; sebagai barang dagangan.

Aula itu sangat tinggi dan beberapa barang melayang ke titik tertinggi, diikuti dengan pandangan Hai’an juga. Tanpa atap aula, langit luar bisa terlihat jelas. Tampaknya itu malam hari, tapi sama sekali tidak seperti malam hari. Matahari telah menghilang di cakrawala dan langit biru pucat telah berubah menjadi biru tua. Begitulah cara Hai’an membayangkan laut seandainya dia bisa meninggalkan Hutan Elune. Dia hanya membaca tentang deskripsi laut dalam sebuah buku, tetapi, dalam imajinasinya, laut seharusnya sama misteriusnya dengan langit berbintang yang dia lihat saat ini.

Pada siang hari, planet-planet itu masih terlihat tetapi cincin-cincin di sekitar mereka tidak mudah dilihat. Pada malam hari, dapat dilihat bahwa cincin itu terdiri dari banyak bintang kecil yang mengorbit planet ini. Lebih banyak bintang menggantung lebih jauh. Itu tidak seperti bintang-bintang yang terlihat di malam hari di Hutan Elune, karena langit tidak pernah bisa dilihat melalui tabir pohon. Di sini, laut berbintang ini begitu jelas, seolah-olah kamu bisa menyentuhnya dengan tanganmu. Ada yang besar dan ada yang kecil, mereka dekat dan jauh tergantung pada malamnya hari. Banyak bintang berkilau yang membuat langit malam menyala.

Itu seperti alam ilahi yang dicatat dalam buku-buku sejarah dari benua Node tempat dia awalnya tinggal. Dewa tinggal di ujung laut bintang yang jauh di mana mereka dapat mencapai gelombang laut bintang.

Hai’an benar-benar tertarik pada langit malam. Pada saat ini, sosok besar melintas, dia terbang melewati tempat itu, meraih setiap barang saat dia lewat. Hai’an melihat seekor binatang kecil berjuang dan menabrak kubah kristalnya.

Bayangan itu mendarat di tanah. Itu adalah pria dengan rambut merah gelap sepanjang pinggang. Dia mengikat kubah padanya dengan satu tangan yang menyebabkan binatang kecil itu berjuang lebih keras. Bahkan ada beberapa darah yang ditinggalkan oleh binatang kecil itu mengenai kristal, tetapi kubah itu tetap tidak bergerak, yang menunjukkan seberapa kuat pria itu.

Dia bergeser sedikit ke samping dan melihat Hai’an, yang sangat menarik perhatian seorang diri. “Oh, ada orang bodoh di sini.”

Setelah itu, dia berjalan menuju ke arah Hai’an. Ketika Hai’an mengira dia akan ditangkap olehnya, seseorang tiba-tiba muncul dari belakangnya dan memegang kubah Hai’an dengan erat.

“Haha, ini milikku!” Seorang bocah laki-laki melompat dan memegang Hai’an di tangannya.

Pria berambut merah mendekati anak itu, berjongkok dan menatap matanya sembari berkata, “Ini yang Paman tangkap.”

Bocah laki-laki itu semakin memeluk Hai’an ketika dia mendengarnya. “Tapi kamu tidak memilikinya ketika aku melihatnya.”

Kota antarbintang ini bernama Freeport, itu adalah pelabuhan perdagangan terbesar di Kekaisaran dan memiliki aliran orang yang sangat banyak. Ketika Carl tiba di sini tahun lalu, dia melewatkan lelang yang diadakan oleh Free Auction House. Dia mendengar bahwa rumah lelang ini sangat tidak normal. Tidak hanya dia harus menangkap barang sendiri, tetapi dia juga harus menemukan juru lelang yang tepat untuk membelinya karena target lelang adalah para juru lelang.

Para juru lelang memiliki harga yang ditentukan untuk setiap barang. Penawar hanya diizinkan tiga kali menawar. Jika harga lebih rendah dari yang ada di daftar harga, barang itu akan dimiliki oleh juru lelang. Rumah lelang akan membayar harga yang dijamin kepada penjual. Hanya ketika harganya cukup tinggi maka kamu dapat membeli barang tersebut.

Setengah dari juru-lelang dalam setiap pelelangan akan dipilih secara bebas dari penduduk Freeport. Mereka tidak akan orang yang sama. Sementara separuh lainnya adalah karyawan tetap rumah lelang. Mereka akan menjual barang itu lebih tinggi dari yang ada di daftar harga dan lima puluh persen dari uang itu akan pergi ke rumah lelang. Sisanya akan diberikan kepada juru-lelang.

Sebagian besar orang yang menangkap barang favorit mereka sangat kecil. Ini karena mereka tidak bisa menggunakan alat eksternal, mereka hanya bisa mengandalkan kemampuan mereka sendiri untuk mengambil barang. Tiket lelang juga cukup mahal. Untuk membeli barang, biasanya harga yang ditetapkan sangat tinggi, tetapi karena variasi barang, harga sulit untuk ditentukan. Beberapa barang-dagangan yang tampaknya biasa bernilai tinggi, itulah yang diinginkan para juru lelang.

Ini adalah pertama kalinya Carl datang ke pelelangan ini dan dia merasa bahwa hadiah yang dia berikan kepada Auguste di masa lalu tidak lagi cocok untuknya. Bagaimanapun, mereka adalah orang dewasa dan harus diberi sesuatu yang berbeda.

Jadi Carl memutuskan untuk membawa tanaman kembali bersamanya dan mereka harus menjadi tanaman yang layak bagi Auguste. Dia pikir Hai’an adalah pilihan yang sangat bagus.

Hai’an adalah tanaman kecil yang tidak bisa bergerak. Carl telah melihat tanaman Fengxing mencabut diri mereka untuk melarikan diri dengan kaki mereka. Bibit ini tidak bisa berjalan. Selain itu, hadiah harus diberikan dalam siklus bertahap. Tahun ini, yang kecil harus diberikan untuk perawatan-langsung secara santai. Dia tidak takut itu bisa mati, hadiah besar akan diberikan tahun depan untuk menggantikannya!

Tapi sekarang, tanaman kecil dirampok oleh anak anjing kecil, dan sulit baginya untuk mengambilnya, karena dia tahu Auguste akan membunuhnya jika dia tidak memberikan apa-apa.

Carl merasa sudah waktunya untuk menguji kefasihan-bicara-nya.

“Kau tahu,” Carl memutuskan untuk meyakinkan anak itu, “Tanaman ini jelek.”

Carl menunjuk Hai’an tanpa ekspresi, lalu mengambil pohon bola mata masih berguling-guling di dekatnya dan memberikannya kepada bocah laki-laki itu. Pohon bola mata pingsan karena gerakan keras Carl dan juru lelang mengedipkan mata pada bocah laki-laki itu.

Hai’an berpikir, “Ini adalah mimpi buruk bagi anak-anak.”

Tapi bocah laki-laki itu tidak takut. Dia memandang pohon bola mata dengan seksama dan kemudian beralih ke Hai’an di tangannya. Dia berpikir sejenak lalu mendongak dan hendak membuka mulutnya. Jadi, matanya tiba-tiba berkedip dan XiaoFei menunjuk ke tanaman pot di belakang Carl. “Kupikir yang satu itu paling indah. Aku mau itu.”

Hai’an melihat di belakang Carl, itu adalah pot bunga yang paling indah, yang, ketika ditusuk menghilang ke dalam cabang-cabangnya.

“Nak, kamu yang mengambilnya,” Gumam Carl, melambaikan tangannya ketika dia bersiap-siap menangkap tanaman itu.

Hasilnya adalah dia kembali dengan tangan kosong.

Tidak ada yang bisa melihat bagaimana itu bergerak. Kubah kristal melintas melewati tangan Carl dan terbang ke arah bocah laki-laki itu.

“Wow,” Bocah laki-laki itu menatap dengan terkejut, tanpa sadar melepaskan Hai’an dan memutar tangannya untuk memegang bunga yang lain.

Meninggalkan Hai’an yang tenang.

Carl mencoba berargumen dengannya, “Ini yang aku tangkap. Kamu harus berterima kasih padaku.”

Bocah laki-laki itu tidak sempat untuk memperhatikannya. Bunga pot itu menjual dirinya sendiri ke tangan bocah laki-laki itu. Itu terus mekar dan menutup bunga berwarna-warni. Lapisan kelopak bunga secara bertahap terbuka sepenuhnya yang mengungkapkan benang sari bermotif merah pucat. Dan mereka terlihat cantik.


<< LRP Chapter 2

LRP Chapter 4 >>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s