Breaking Through the Clouds – Chapter 1.2

Translator Indo : Chintralala

Pada saat ini, KTV sudah membuka pintunya untuk bisnis. Lampu-lampu yang didekorasi dalam kotak dan koridor pribadi berubah tidak teratur. Aula itu dipenuhi dengan musik yang keras dan berirama, dan anak-anak muda mengenakan pakaian trendy berjalan dalam kelompok besar. Yang Mei meneruskan permintaan Jiang Ting ke asisten, dan menyuruh asisten untuk melakukannya dengan hati-hati. Kemudian, tanpa sadar dia pergi ke lantai bawah untuk berpatroli.

Dia berbelok setelah berjalan keluar dari lift kristal. Tiba-tiba, pintu ke ruang pribadi di depannya terlempar terbuka dan seorang pria jangkung ditemani oleh ratapan yang sangat suram dari ‘Even in Death I’ll love’ keluar dengan langkah besar, langsung menuju ke bar minuman . Menyebar semangat setinggi pelangi yang melesat di langit, dia melemparkan gelas itu ke bartender.

“Apa yang kalian jual ?!”

Yang Mei tidak bisa menahan diri untuk berhenti. Bartender itu mengawasinya dengan cermat dan menjawab, “My Dear, itu Long Island Ice Tea.

*T/N: Long Island Ice Tea sejenis cocktail. Minuman biasanya bercampur alkohol yang di buat dengan vodka, tequila, rum ringan, triple sec, gin, dan percikan cola, yang memberikan warna kuning seperti teh.

 

“Cobalah sendiri. Apakah es teh ini bahkan mengandung satu ons alkohol?”

My Dear, tidak ada alkohol di dalamnya. Bar kami hanya menjual es teh.”

“Tunggu. Bukankah itu berarti kalian orang-orang yang menipu pelanggan?!”

Bartender itu langsung berubah serius dan dengan berani membalas. “Aku tidak suka apa yang aku dengar sekarang, Tampan. Namanya ‘Long Island Ice Tea’, dan diseduh dengan menggunakan teh hitam dan lemon segar. Ini jelas es teh hitam berkualitas tinggi. Bagaimana bisa kamu mengatakan kami penipu?”

“…………” Wajah pria itu tampak mengerut. Dia berhenti sejenak, sebelum berkata dengan suara aneh, “Lalu bagaimana kalau aku meminta Bloody Mary. Kamu dapat mencoba memotong pergelangan tanganmu dan menumpahkan darah anjing hitam di dalamnya untukku?”

Yang Mei dibuat terdiam.

Pria itu tampaknya berusia tiga puluhan dengan wajah yang bagus. Bahkan lampu neon yang terus berubah dari KTV tidak dapat menenggelamkan penampilannya yang tampan dan mendalam. Rambutnya disisir ke atas, ketinggian tubuhnya lebih dari 1,8 meter; sekitar 1,9 meter. Kaus yang dia kenakan di bawah jaket kulit memperlihatkan tubuh berototnya yang kuat dan fleksibel. Ketika dia menoleh untuk berbicara, bahkan sisi lehernya menunjukkan garis berotot yang jelas.

Bartender itu berkata, “Ya ampun. Kamu pasti bercanda, Tampan. Kamu meminta Bloody Mary? Jangan khawatir! Tunggu aku mengiris tomat terlebih dulu.”

SLAM!

Bartender terkejut, melihat pria tampan itu mengambil pisau swiss dari belakang pinggangnya dan membantingnya ke atas meja. Kemudian, pria itu dengan dingin berkata, “Apakah kamu ingin melakukannya sendiri atau aku harus membantumu?”

Titik antara alis Yang Mei berkedut untuk sepersekian detik. Dia sudah berkecimpung dalam bisnis ini selama beberapa waktu, hanya satu lirikan pada wajahnya yang tampan dan tanpa hambatan sudah cukup baginya untuk mengatakan bahwa pria itu adalah salah satu dari tipe-tipe gangster.

“Kamu, kamu, kamu…” Bartender itu tergagap dan dengan cepat mundur, bingung. “Bagaimana kamu bisa mengatakan itu?!…”

“Hei, Tampan, aku benar-benar minta maaf.” Yang Mei dengan cepat berjalan mendekat dan berseru, “Aku pemiliknya di sini. Demi keamanan, bar kecil-ku tidak menjual minuman yang mengandung lebih dari 40% alkohol di dalamnya, yang juga merupakan alasan mengapa kami menjadikan Long Island menjadi es teh yang normal. Jika kamu ingin meminta cocktail mengapa tidak kami mencampur secangkir lagi untukmu? Xiao Liu!”

Label nama yang ditempelkan di dada bartender memiliki nama Inggris dan China. ‘Agatha Don Francisco Tony’ tercetak di situ. Dia dengan cepat memanggil ‘Sis Meimei’ dengan lembut.

“Buatkan si keren ini Sunset Beach.” Kata Yang Mei, tersenyum manis pada pria itu. “Aku yang traktir.”

Pria itu mengukurnya dari atas ke bawah, sebelum perlahan-lahan meletakkan pisau lipat kecil itu, dan dengan mengejek berkata, “Manajemen tampaknya menyadari bagaimana sebuah bisnis dijalankan.”

Yang Mei tertawa beberapa kali sebagai tanggapan. “Kamu merayuku. Pelayan kami juga tidak menjelaskannya dengan benar. Lihat, Long Island Ice Tea ditulis pada menu minuman non-alkohol. Aku sangat menyesal atas kebingungan yang kami sebabkan terhadapmu.”

Akan lebih baik jika dia tidak menjelaskan. Saat dia melakukannya, ekspresi pria itu sekali lagi mulai berputar dalam kemarahan. “-Kebingungan?” Dia menunjuk gelas wine dan berteriak dengan tak percaya. “Kamu menjual Es Teh Master Kang ini saja seharga RMB208 dan kamu berani mengatakan aku salah paham? Apakah menurutmu aku ini buta atau bodoh ?!”

Yang Mei terdiam.

Si keren itu berbalik dan masuk ke ruang pribadi, jelas mencari teman-temannya untuk menimbulkan keributan. Yang Mei ingin mengejarnya tetapi tiba-tiba, seorang koki bergegas keluar, terhuyung-huyung ke arahnya dari dapur belakang. Seolah-olah itu adalah kesempatan terakhirnya untuk bertahan hidup, dia meraihnya dengan satu terjangan. “Yang… Saudari Yang! Sesuatu yang mengerikan terjadi! Dapur, kulkas dapur.”

Yang Mei menundukkan kepalanya, hanya untuk melihat ekspresi pucat sang koki menjadi warna hitam dan biru di bawah lampu. Seluruh tubuhnya gemetar seolah-olah dia terserang kejutan. “Seorang pencuri menyelinap ke dalam kulkas dan sepertinya sudah membeku sampai mati!”

Yang Mei berdiri di depan kulkas besar yang terbuka; tidak ada suara yang bisa didengar.

Suara gemuruh yang indah dari bar terasa seolah jauh, ketika keheningan menyelimuti dapur belakang yang luas. Pintu belakang dapur yang mengarah ke tempat sampah di gang kecil setengah terbuka, memungkinkan angin masuk seperti napas orang mati menyapu telinga orang yang hidup.

Para pembantu, pelayan, dan bartender berkerumun di belakang, hening sampai-sampai suara kaki mereka yang bergetar bisa terdengar. Setelah beberapa saat, bartender yang berada di ambang air mata bertanya dengan suara kecil, “Apa-apa-apa dia-dia su-sudah mati?”

Seorang remaja berusia dua puluhan berbaring tengkurap di tanah dengan kepala menghadap ke langit. Kulitnya berubah ungu, matanya melebar dengan darah mengalir keluar dari mulut dan hidungnya. Tubuh bagian atasnya yang telanjang ditutupi lapisan es, masih mempertahankan postur kedua lengannya yang sedikit terpisah sebelum dia mati.

“………” Dada Yang Mei dengan cepat naik turun dengan berat. Dia perlahan berjongkok setelah beberapa saat; Dengan gemetar, dia mengulurkan tangan menggigil untuk memeriksa napasnya.

Seseorang tiba-tiba meraih tangannya.

“AHH!” Yang Mei melompat ketakutan. Berbalik, dia menyadari itu Jiang Ting. “Saudara-Jiang!”

Jiang Ting tidak mengucapkan sepatah kata pun dan sebaliknya memberi isyarat baginya untuk mundur. Yang Mei terhuyung ke belakang, dan mengawasinya mengeluarkan sepasang sarung tangan dapur karet sambil berjongkok di tengah. Dia memeriksa leher remaja itu dan mengangkat kelopak matanya, menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri untuk beberapa saat. Lalu dia menggelengkan kepalanya.

Lutut pelayan langsung ambruk ke tanah.

Kaki Yang Mei juga nyaris jatuh, tetapi dia telah melihat hal-hal yang jauh lebih buruk sebelumnya sehingga dia berhasil menjaga keseimbangannya. “I-ini… Apa yang terjadi?! Pencuri bodoh mana yang dikejar dan bersembunyi di dalam freezer?! Atau penjahat mana yang cukup marah untuk memukulnya sampai mati dan melemparkannya ke dalam freezer kita?! Apakah ada yang lupa menutup pintu belakang dapur lagi?! Di mana manajernya?! Panggil Old Zhao-”

Jiang Ting menghentikannya. “Panggil polisi.”

Dalam sekejap, Yang Mei tampak seolah-olah dia tidak bisa bernafas. “Saudara Jiang, ini… ini tidak boleh terjadi, kan?”

Dia telah mencoba menghindari kontak dengan polisi ketika Jiang Ting dalam keadaan koma selama tiga tahun terakhir, ke titik di mana dia bahkan tidak berani melampaui batas kecepatan saat mengemudi. Dia tidak berani meninggalkan catatan kriminal apa pun di sistem keamanan publik.

Jiang Ting terengah-engah saat dia bangkit dengan menyandarkan dirinya ke dinding. Mengindikasikan dengan dagunya ke arah mayat, dia menjelaskan, “Tidak ada tanda-tanda trauma tumpul di sekitar kepala dan dada. Dia tidak berbau alkohol dan juga tidak ada cedera eksternal. Pada tubuh bagian atas, putingnya menyusut, dan ada tanda eritema yang jelas dari pembengkakan berwarna keunguan. Ini adalah radang-dingin sewaktu dia masih hidup, membentuk garis pemisahan yang berbeda dengan garis pinggang. Dia tidak dilemparkan ke sini setelah dia dipukuli sampai mati. Justru dia mati kedinginan di dalam freezer.”

Terkunci dalam pelukan erat, pelayan wanita muda dan bartender bernama Tony bergidik tak terkendali pada kata-katanya. Mata Yang Mei menatap kosong ke depan, pikirannya dalam keadaan kacau.

Jiang Ting menghela nafas, “Panggil polisi.”

Kota besar dengan populasi lebih dari sepuluh juta orang dipenuhi dengan arus lalu lintas tanpa akhir. Deretan demi deretan gedung setinggi langit dan layar iklan besar saling terjalin, menyinari pemandangan kebahagiaan dan kemakmuran di tengah hiruk pikuk kota.

Di ujung jalan di Kota Jianning, sejumlah mobil polisi yang memancarkan lampu merah dan biru bergegas ke jalan utama dari pintu masuk utama Sub-Biro Keamanan Publik di Distrik Fuyang, yang lansung menyatu dengan lalu lintas larut malam.

“Saudara Yan, berhenti memanjakan mereka dengan omong kosong. Cukup hubungi Departemen Perindustrian dan Perdagangan! Ini fucking Es Teh Master Kang!? Paling-paling, ini hanya Lipton! Aku minum, jika tidak seribu, maka delapan ratus dari ini ketika aku tumbuh dewasa! Bagaimana aku tidak bisa mengenalinya….”

Teriakan bergema di ruang pribadi yang remang-remang. Tujuh hingga delapan pria muda dengan tangan mereka terjalin saling berteriak di mikrofon yang sama. Ma Xiang saat ini mengistirahatkan tubuh bagian atasnya pada Yan Xie, menjerit paru-parunya pada telinganya. Tiba-tiba, dia terganggu oleh dering teleponnya.

Yan Xie melirik ID penelepon dan segera menghentikan deringnya. Dia menerima telepon dan menjawab, “Halo, Kepala Biro Wei?”

Tiga kata ‘Kepala Biro Wei’ mirip dengan kutukan di telinganya. Tidak apa-apa jika dia tidak mendengarnya, tapi sekarang seluruh tubuh Ma Xiang menjadi kaku seketika. Dia menyaksikan saat Yan Xie menempelkan telinganya ke telepon dan berkata ya ya dua kali. Seperti yang diduga, ekspresinya segera menjadi serius. “Sub-biro Distrik Fuyang sudah dalam perjalanan? Iya. Baik. OK aku mengerti. Aku akan membawa orang-orangku disekitar.”

“Bahkan dalam kematian aku akan cinta – Tidak akan bahagia kecuali aku memberikan semuanya—” (Ini lagu).

DENTANG! DENTANG-!

Musik bersama dengan lampu warna-warni mendadak berakhir. Sekelompok pria muda yang menari-nari dengan kacau tiba-tiba terdiam dan berbalik untuk menatapnya dengan gelisah.

Yan Xie menyalakan lampu dan dengan santai melemparkan botol bir yang telah dia gunakan untuk mengetuk meja sebelumnya. Semuanya berubah serius, katanya, “Pusat komando memiliki berita bahwa masyarakat telah melaporkan suatu kasus kepada pihak berwenang. Seseorang ditemukan tewas di dekat Jalan Fuyang. Polisi dari kantor kepolisian dan sub-biro di wilayah hukum sudah dalam perjalanan. Kepala Biro Wei memerintahkan kita untuk menyelidiki di tempat.”

Segera, semua orang bereaksi seolah-olah orang tua mereka telah meninggal.

“Wakil Kapten Yan, apakah ini sungguhan?!”

“Bagaimana dengan istirahat setengah hari yang diberikan kepada kami setelah memecahkan kasus ini?”

“Di mana TKP?Oh ya ampun, brengsek. Mobil kita masih diparkir di biro kota….”

“Kita tidak membutuhkan mobil,” Kata Yan Xie dengan tenang. “Ada di dapur belakang KTV ini. Orang yang melaporkan kasusnya adalah bos di sini.”

Semua orang terkejut.

Yan Xie mendorong pintu hingga terbuka, menghela nafas tanpa henti saat dia memerintahkan, “Kalian laksanakan. Ini adalah kedatangan tercepat di TKP dalam sejarah biro kota. Hei pelayan! Kemari. Arah mana untuk sampai ke dapur belakang?”

Pintu masuk ke dapur belakang tertutup rapat. Tidak menyadari situasinya, koki dan pelayan yang terkunci di luar masih saling berbisik. Mereka segera didorong ke samping. Yan Xie benar-benar mengabaikan komentar di sekitarnya saat dia berjalan ke pintu dengan langkah besar, lalu dia menggedornya dengan keras. “BUKA PINTUNYA! INI POLISI!”

Dengan derit, pintu terbuka. Yang Mei mengangkat kepalanya. Dia ketakutan saat tatapannya jatuh ke wajah tampan Yan Xie. Menggigil, dia berkata, “Kamu…!”

“Apanya yang ‘kamu’? Menjual es teh seharga 208 dolar; apakah kamu menabrak hantu karena menjalankan penipuan?” Yan Xie mengambil ID-nya dari saku depan jaketnya dan melewatinya. Dua kata “Keamanan Umum” hampir membutakan mata orang banyak. “Aku Yan Xie dari tim Detasemen Investigasi Kriminal Biro Keamanan Umum Kota. Minggir dan jangan menghalangi TKP. Beri aku sepasang sarung-sepatu. Sekarang di mana mayatnya?”


 

<< BTTC Chapter 1.1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s