I am a Chef in the Modern Era – Chapter 3

Chapter 3 – Perut Babi Ditumis Kental

Selama beberapa hari berikutnya, Lin ShuYi pergi ke restoran Kakek Yang setiap hari. Kakek Yang juga semakin menyukai anak ini, yang bijaksana dan cerdas meskipun dia tidak banyak bicara. Jika ada sesuatu yang enak, dia akan selalu meninggalkan sedikit untuk Lin ShuYi.

“Kakek.”

Hari ini, Lin ShuYi juga pergi ke Restoran XiQin, tetapi karena masih pagi, Kakek masih membuat saus untuk dituangkan ke mie. Sekarang dia sedang memotong daging sapi dan perut babi.

Kakek Yang tidak punya berbagai macam hidangan di sini. Tetapi semua yang dia lakukan dibuat dengan nikmat, jika tidak, bisnisnya tidak akan begitu mengesankan bahkan setelah beberapa dekade.

“Xiao-Yi di sini. Apakah kamu sudah makan?”

Lin ShuYi menggelengkan kepalanya. Faktanya, dia tidak lagi memiliki nasi di rumahnya. Dia datang karena dia ingin bertanya pada Kakek, bagaimana caranya dia bisa menghasilkan uang; setidaknya dia harus menghasilkan cukup uang untuk makan.

Ketika Kakek Yang mendengar bahwa Lin ShuYi belum makan, dia menghentikan tugasnya dan mengeluarkan semangkuk bubur dari belakang, serta sepotong bing (sejenis pancake datar).

Bubur itu adalah bubur nasi putih yang direbus dari beras ketan yang kecil. Itu sedikit transparan, tebal, dan lengket dengan rasa manis yang melekat.

Bing itu digoreng sambil membuat irisan perut babi. Perut babi diiris dengan sangat halus, dicampurkan dengan daun bawang harum dan potongan jahe, serta beberapa bubuk merica dan kecap asin yang disiram di atasnya. Tepung dicampur dengan air hangat sebelum digulung menjadi potongan-potongan panjang. Daging giling digulung di dalam potongan tepung dan bing itu ditekan rata secara horizontal sampai tipis sebelum digoreng. Setiap lapisan berisi daging giling, bagian luarnya renyah sementara bagian dalamnya empuk, menciptakan aroma yang sedap. Rasanya begitu enak sampai-sampai membuat orang ingin menelan lidah mereka begitu saja.

Kakek adalah orang yang baik. Lin ShuYi lebih jelas tentang ini. “Kakek…”

“Mhm?”

“Apakah kamu tahu di mana aku bisa menghasilkan uang?”

“Uang?” Kakek Yang memandang.

Lin ShuYi menunduk, dan dia berkata dengan sedikit masih malu-malu, “Aku tidak punya beras di rumah-ku, aku juga tidak punya uang. Aku berpikir mungkin aku bisa keluar dan melakukan beberapa kerjaan, jadi aku bisa menghasilkan uang.”

Dia tahu bahwa ada banyak hal yang dapat kamu lakukan di tempat ini untuk menghasilkan uang. Satu-satunya hal adalah dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan.

Kakek Yang jelas tidak tahu kalau kehidupan Lin ShuYi sudah sangat buruk. Ketika dia teringat bahwa Lin ShuYi adalah satu-satunya yang tersisa di rumahnya, itu jauh lebih masuk akal. Apa yang bisa dilakukan anak berusia tujuh belas atau delapan belas tahun? Kakek Yang juga tidak bisa memikirkan apa pun. Cucunya sudah berusia lebih dari dua puluh tahun, dan dia masih belum pergi bekerja. Negara ini juga tidak terlalu besar, jadi dia tidak tahu apa yang Lin ShuYi bisa lakukan, tetapi dia masih ingin membantu anak ini.

Kakek Yang melihat mie di tangannya, dan tiba-tiba sebuah ide muncul di dalam benaknya. “Bagaimana kalau kamu membantuku di tokoku? Aku akan membayar-mu setiap bulan.”

Bisnis tokonya cukup bagus, dan tidak akan menjadi masalah untuk mendukung (memberi-makan) anak muda satu lagi. Terlebih lagi, anak muda ini menawan dan pekerja keras.

Mata Lin ShuYi menyala sebelum meredup lagi. “Aku juga tidak bisa membantumu dengan apa pun.”

Faktanya, Kakek Yang tidak peduli sama sekali apa yang bisa dibantu oleh Lin ShuYi untuknya. Bahkan jika dia bisa membantunya untuk membersihkan beberapa piring atau mangkuk, itu juga sudah bagus. “Tidak apa-apa, tidak banyak yang bisa dilakukan di toko kakek ini. Selama kamu tidak keberatan kalau bayaran yang diberikan kakek ini tidak tinggi untukmu.”

Jadi Lin ShuYi terharu. Sebenarnya, dia secara alami juga ingin tinggal di tempat ini. Lagipula, dia akrab dengan itu. Ketika dia melihat pisau diletakkan di samping, mata Lin ShuYi cerah lagi. “Aku bisa memasak. Kakek, bagaimana kalau aku membantumu memasak?”

Kakek Yang ingat seketika bahwa dia tampaknya mengatakan kalau dia juga bisa memasak saat terakhir kali itu. Tetapi dia tidak benar-benar percaya padanya saat itu. Sekarang saat dia sekali lagi melihat anak ini mengatakan kalau dia bisa memasak, sedikit keinginan untuk menggodanya muncul.

“Hidangan apa yang bisa dibuat oleh Xiao-Yi?”

Lin ShuYi berpikir sedikit sebelum mencantumkan mereka dengan serius satu per satu untuk Kakek Yang. “Aku bisa membuat bebek yang direndam anggur, bakso bebek mandarin, ayam potong putih, telur bebek giok…”

Kakek Yang tertegun oleh penampilan tulus Lin ShuYi. Ketika dia pulih, dia mulai tertawa terbahak-bahak. “Kamu tahu sedikit, dari mana kamu mendapatkan begitu banyak resep? Ada banyak yang belum pernah aku dengar sebelumnya.”

Lin ShuYi berpikir, Wajar saja jika kamu belum pernah mendengarnya sebelumnya, karena itu semua hidangan dari Menara Teratai. Dia telah mengganggu Song Yan untuk waktu yang sangat lama sebelum akhirnya Song Yan setuju untuk mengajarkan resep-resep itu kepadanya. Tapi Lin ShuYi tidak mendengar ketidakpercayaan dalam kata-kata Kakek Yang.

Ketika Lin ShuYi kembali pada malam hari, Kakek Yang memberinya sekarung beras dan beberapa daging. Bagaimanapun, Lin ShuYi tidak ada di tokonya sepanjang hari, dan lebih jauh lagi, dia tidak bisa membiarkan Lin ShuYi makan mie setiap hari. Meskipun dia tidak percaya kalau Lin ShuYi dapat membuat hidangan yang enak, tetapi dia juga tahu bahwa menurut pengalaman hidup Lin ShuYi, tidak mungkin dia seperti cucu laki-laki Kakek Yang, yang memiliki pakaian dan makanan sesuai kebutuhannya.

Ketika Lin ShuYi kembali ke rumah, dia menaruh nasi dan daging di dapur, lalu berbaring di tempat tidur untuk berpikir.

Karena dia akan bekerja di restoran Kakek Yang, dia tidak ingin hanya membantunya untuk membereskan piring dan mencuci piring. Singkatnya, jika seperti ini yang terjadi, dia akan sangat malu untuk mengambil uang Kakek Yang, tetapi pada saat yang sama, dia perlu untuk mendapatkan uang. Jika dia ingin menempatkan dirinya di dunia ini, uang adalah kebutuhan mutlak.

Dia tidak tahu mengapa dia datang ke dunia ini. Dia hanya ingin tahu seperti apa dunia ini, dan bagaimana dia bisa bertahan hidup di sini. Dengan cara berpikir seperti itu, Lin ShuYi tertidur lelap.

Ketika dia bangun keesokan harinya, ada ide yang muncul langsung di dalam benak Lin ShuYi. Pertama-tama dia harus membuktikan kepada Kakek Yang kalau masakannya memang sangat enak.

Daging yang diberikan Kakek Yang masih ada di dapur. Itu adalah perut babi yang sangat bagus yang hanya akan dia gunakan saat membuat zhajiangmian, mie daging babi cincang.

Lin ShuYi memutuskan untuk membuat perut babi yang ditumis kental dengan itu. Tapi dia tidak punya anggur beras. Esensi perut babi yang ditumis kental berasal dari anggur beras terbaik. Dia tahu bahwa Kakek Yang harusnya memiliki sebotol anggur beras, tetapi dia tidak tahu apakah itu yang terbaik atau tidak. Dalam kasus apa pun, dia bisa membawanya dan menggunakannya.

Ketika dia berlari untuk meminjam anggur beras, Kakek Yang masih sibuk. Meskipun dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan, Kakek Yang masih membiarkan Lin ShuYi untuk mengambil sebotol penuh. Bagaimanapun dia tidak benar-benar menggunakannya setelah membelinya, dan dia ingin tahu hidangan apa yang bisa dibuat oleh Lin ShuYi.

Tidak hanya Lin ShuYi meminjam anggur beras, dia juga meminjam panci tanah liat kecil yang digunakan untuk merebus sup.

Perut babi yang ditumis kental membutuhkan sedikit waktu untuk dimasak. Setelah menggedor selama dua jam atau lebih, dagingnya menjadi merah dan lunak, dan seluruh ruangan dipenuhi dengan aroma daging yang kaya. Dia kemudian teringat apa yang dikatakan Song Yan saat membuat hidangan ini: “Kecilkan api dan kurangi airnya, ketika panasnya cukup, itu akan menjadi mantap dengan sendirinya.”

Song Yan sangat pandai memasak, dan dia adalah koki terbaik di semua Great Yan. Lin ShuYi telah mengaguminya saat itu, tapi untungnya sekarang dia juga bisa dengan bebas menjadi koki.

Setelah selesai direbus dan dikukus, dia meletakkannya kembali di dalam panci tanah liat kecil yang dibawanya. Segala sesuatu di rumahnya sangat sederhana dan kasar, dan selain pot yang diperlukan, dia tidak punya apa-apa lagi. Dia memiliki panci penuh daging, dan tutupnya tidak bisa menghalangi wanginya. Saat Lin ShuYi membawanya ke Restoran XiQin, semua orang menoleh untuk memandangnya — bukan, bukan, untuk melihat panci tanah liat kecil di tangannya.

Ketika dia tiba, sudah ada banyak orang di dalamnya. Saat Lin ShuYi mengangkat tutupnya, aroma yang kaya segera memenuhi restoran kecil yang menarik perhatian semua orang.

“Apa ini? Sangat harum?”

“Persis, babi tumis kental merah, kan? Tapi sepertinya agak berbeda.”

Kakek Yang juga tertarik dengan kebisingan luar. Ketika dia melihat panci tanah liat di tangan Lin ShuYi dan daging montok yang menawan di dalam panci, dia menjadi terdiam. Dia tidak menduga bahwa anak ini akan benar-benar tahu cara memasak.

Mata Lin ShuYi meringkuk dengan senyumnya. Dia sangat senang memasak. “Kakek, coba cicipi.”

Kakek Yang mengambil sepasang sumpit. Semua orang juga ingin mencobanya sedikit.

Sebagai hasilnya, mereka hanya memberi setiap orang sepotong daging. Larut saat memasuki mulut, harum tapi tidak berminyak, rasa-tersisa lama dan terus menerus. Ini mungkin adalah daging paling enak yang pernah dimakan oleh Kakek Yang.

“Anak muda, di mana kamu membeli ini? Aku juga ingin.”

Lin ShuYi tertawa ringan. “Aku yang membuatnya.”

Kali ini, tidak ada yang percaya padanya, terutama karena sebagian besar dari orang-orang ini memiliki anak di rumah mereka. Bagi seseorang seusianya, apalagi membuat hidangan seperti ini, dia kemungkinan besar terlalu malas untuk membuat mie untuk dirinya sendiri dan tidak tahu caranya.

Kakek Yang berdiri dan cukup puas. “Xiao-Yi kita yang membuat ini sendiri, bagaimana? Cukup bagus, kan?”

“Anak ini benar-benar yang membuatnya? Dia harus berbakat secara alami. Kakek Yang, bukankah kamu kekurangan penerus untuk restoran kecil-mu? Putramu juga tidak menginginkannya, jadi sebaiknya kamu ajarkan perdaganganmu padanya. Dengan begitu, kamu dapat menghindari keterampilan indah-mu itu mati. Apalagi, anak ini memasak dengan sangat baik, jika kamu menghasilkan terlalu banyak waktu berikutnya, beritahu kami, kami akan membelinya dan memakannya.” Seseorang berbicara seolah-olah sedang bercanda, tetapi semua orang mulai menyela. Para pendengar menganggap hal itu menarik. Kakek Yang melirik Lin ShuYi dan mengingat kata-kata itu dalam hati.

Sambil tersenyum, dia menjawab ke kerumunan, “Oke, jika kamu ingin memakannya lain kali, maka katakan saja. Kita akan melihat apakah Xiao-Yi bersedia membuatkan untuk kalian semua.”


 >> Pancake Bing.

  >> Bubur.

 >> Daging Babi Yang Ditumis Kental.


<< CME Bab 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s