GDC – Chapter 116 (Extra 3 – Perjamuan 3)

Translator Inggris :
https://exiledrebelsscanlations.com/gdc-chapter-116/

Translator Indo : Chin

**

Semakin Lan WangJi serius, semakin Wei WuXian tidak bisa menekan gejolak kenakalan di dalam hatinya.

Dia mengetuk mangkok porselen hitam dengan jarinya dan mengeluarkan suara-suara ‘krezz krezz’ (bunyi renyah) yang hanya bisa mereka berdua dengar.

Mendengar suara tersebut, mata Lan WangJi bergeser beberapa inci ke arahnya.

Wei WuXian tahu bahwa tidak peduli seberapa jauh mata Lan WangJi bergeser, dia tidak akan kehilangan satu gerakan pun dari sudut matanya. Jadi dia mengangkat mangkuk dan berpura-pura menyesapnya. Membalikkan itu di tangannya, dia berhenti di mana Lan WangJi minum, dan menutupi ujung mangkuk dengan bibirnya.

Seperti yang diduga, meskipun tangan Lan WangJi awalnya ditempatkan dengan benar di atas pangkuannya, saat ini posisinya masih belum berubah, tetapi jari-jari itu diam-diam tersembunyi di bawah lengan putih yang sedikit melengkung ke atas.

Melihat ini, Wei WuXian merasakan jantungnya mengambang. Bersantai sejenak, dia baru saja ingin bersandar pada Lan WangJi yang ‘tak terkendali’ ketika mendadak batuk keras terdengar dari Lan QiRen. Wei WuXian segera meluruskan tubuhnya yang setengah miring dan kembali ke posisi duduk yang tepat.

Hanya beberapa saat setelah sup selesai, hidangan utama akhirnya dibawakan. Di setiap meja ada tiga hidangan yang ditempatkan di piring kecil, baik hijau atau putih. Mereka tidak berbeda dengan makanan yang disajikan ketika Wei WuXian belajar di sini. Setelah bertahun-tahun, terlepas dari kepahitan yang meningkat, tidak ada perubahan sama sekali. Sebagian karena geografi dan sebagian karena kepribadian, Wei WuXian menyukai rasa yang kuat, terutama rempah-rempah, dan menganggap daging sebagai kebutuhan. Saat dihadapkan dengan hidangan sederhana seperti itu, dia benar-benar tidak memiliki nafsu makan, mengunyahnya tanpa tahu apa yang dia makan. Sementara itu, sesekali mata Lan QiRen akan melirik dan memelototinya persis seperti saat dia mengajarinya, seolah bersiap untuk memilihnya dan membuatnya pergi setiap saat. Itu karena Wei WuXian berperilaku tidak normal sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa dan harus menyerah.

Setelah santapan hambar, para pelayan membawa pergi piring dan meja. Seperti biasa, Lan XiChen mulai merangkum rencana baru-baru ini untuk sekte tersebut. Tetapi setelah mendengarkan hanya beberapa kalimat, Wei WuXian mulai merasa kalau dia agak linglung. Dia bahkan ingat dua lokasi perburuan malam yang salah dan tidak menyadari setelah dia berbicara, hal itu menyebabkan Lan QiRen melemparkan beberapa pandangan ke arahnya dan mengibaskan jenggotnya ke udara. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya tidak bisa menahannya. Untung saja perjamuan sekte akhirnya berakhir, meski agak tergesa-gesa.

Awal yang suram, proses yang suram, dan akhir yang suram — Wei WuXian kebosanan selama lebih dari dua jam. Tidak ada makanan yang lezat atau hiburan yang menarik. Itu sangat mencekik sampai-sampai dia merasa memiliki kutu di tubuhnya selama setengah tahun. Dan bahkan setelah itu, Lan QiRen dengan ketat memanggil Lan XiChen dan Lan WangJi pergi, kemungkinan akan memberi mereka ceramah lagi, dan keduanya dari mereka sekaligus pada saat itu. Dia tidak memiliki siapa pun untuk dipusingkan. Setelah dia sedikit berjalan-jalan, dia melihat beberapa junior berjalan bersama. Saat dia hendak menyapa mereka dan menyuruh mereka pergi untuk bersenang-senang, tetapi sesuatu berubah pada Lan SiZhui, Lan JingYi, dan wajah para junior lainnya saat mereka melihatnya. Mereka berbalik dan berjalan pergi.

Wei WuXian mengerti. Dia berkelana ke sebagian hutan yang agak terpencil. Dia menunggu sebentar, dan anak-anak yang barusan akhirnya menyelinap keluar lagi. Lan JingYi, “Senior Wei, kami tidak mengabaikan-mu dengan sengaja, tetapi Tuan mengatakan siapa pun yang berbicara denganmu harus menyalin aturan Sekte Lan dari atas ke bawah…”

‘Tuan’ adalah sebutan-hormat dimana semua murid dan kultivator Sekte GusuLan merujuk ke Lan QiRen. Penyebutan ‘Tuan’ berarti dia dan hanya dia. Wei WuXian dengan sombong, “Tidak apa-apa, aku tahu. Ini bukan pertama kalinya Tuan-mu itu anti-api, anti-pencuri, dan anti Wei-Ying. Kamu sudah melihat tingkat keberhasilannya? Dia mungkin merasa kubis-nya yang dirawat dengan baik digali oleh babi. Wajar saja kalau dia sedikit lebih berapi-api daripada biasanya, hahahaha…”

*T/N: Ini adalah pepatah umum di Tiongkok yang digunakan untuk menggambarkan apa yang orang tua rasakan ketika putri kesayangan mereka jatuh cinta.

Lan JingYi, “…………..”

Lan SiZhui, “… Hahaha.”

Wei WuXian berhenti tertawa dan berkata: “Oh yah, kamu bilang waktu itu kamu dihukum karena kamu pergi berburu malam dengan Wen Ning.” Dia bertanya pada Lan SiZhui, “Bagaimana kabarnya sekarang?”

Lan SiZhui, “Dia mungkin bersembunyi di beberapa sudut gunung, dan menunggu kita untuk menemukannya lagi saat berikutnya kami pergi berburu malam.” Setelah beberapa pemikiran, dia melanjutkan dengan nada khawatir, “Tapi ketika kami berpisah, Pemimpin Sekte Jiang tampaknya masih sangat marah. Aku harap kami tidak mempersulit dia.”

Wei WuXian, “Hah? Jiang Cheng? Bagaimana bisa kamu bertemu dengannya saat berburu malam?”

Lan SiZhui, “Kami mengundang Tuan Muda Jin untuk bergabung dalam perburuan-malam terakhir kali itu, jadi……..”

Wei WuXian segera mengerti.

Seseorang bahkan bisa menebak bahwa Lan SiZhui sementara memimpin kelompok dalam perburuan malam, Wen Ning secara alami juga tidak akan diam. Dia harus mengikuti mereka dalam gelap untuk melindungi mereka, sehingga dia bisa memberikan bantuan ketika mereka menghadapi bahaya selama perburuan malam. Jiang Cheng pasti telah menyelinap di belakang Jin Ling juga, dan takut sesuatu akan terjadi padanya lagi. Jadi keduanya saling bertemu dalam situasi berbahaya. Dia bertanya, dan inilah tepatnya yang terjadi. Wei WuXian tidak tahu apakah dia harus tertawa atau tidak.

Setelah terdiam, dia bertanya lagi, “Bagaimana kabar Pemimpin Sekte Jiang dan Jin Ling?”

Setelah kematian Jin GuangYao, pewaris Sekte LanlingJin yang paling berdarah murni adalah Jin Ling. Tetapi masih ada banyak penatua di cabang samping sekte yang menonton dengan lapar dan bersemangat untuk kesempatan itu. Sekte LanlingJin dicemooh oleh orang lain di luar, dan di dalam mengadakan campuran kepentingan diri yang berbeda. Jin Ling masih muda. Bagaimana dia bisa menjaga semuanya? Pada akhirnya, Jiang Cheng tetap menaiki Menara Koi dengan Zidian di tangan, dan berjalan di sekitar sekali, agar dia akhirnya dapat untuk sementara mengamankan posisinya sebagai pemimpin sekte. Adapun apa yang akan terjadi di masa depan, tidak ada yang tahu.

Lan JingYi cemberut, “Mereka tampaknya baik-baik saja. Pemimpin Sekte Jiang sama seperti sebelumnya, selalu menyerang orang dengan cambuknya. Emosi Nona Muda telah menjadi lebih baik. Di masa lalu dia bisa berbicara kembali tiga kali dengan pamannya setelah dia menegurnya sekali. Sekarang dia bisa melakukannya sepuluh kali.”

Lan SiZhui mencela, “JingYi, bagaimana bisa kamu membicarakan seseorang seperti itu di belakang mereka?”

Lan JingYi memprotes, “Aku jelas membicarakan hal yang sama terhadap wajahnya.”

Mendengar Lan JingYi berkata begitu, Wei WuXian sedikit santai. Sebenarnya dia tahu kalau ini bukan yang ingin dia tanyakan. Tetapi karena kedengarannya seperti Jiang Cheng dan Jin Ling telah melakukan segala sesuatu cukup baik, tidak ada yang tersisa untuk dikatakan. Dia berdiri dan menepuk-nepuk ujung pakaiannya, “Tentu saja. Benar-benar cukup baik. Mereka bisa terus bekerja dengan bagus. Kalian lanjutkan saja bermain. Aku harus mengurus sesuatu.”

Lan JingYi meremehkan, “Kamu selalu bermalas-malasan di Cloud Recesses. Hal-hal apa yang perlu kamu urus “

Wei WuXian bahkan tidak berbalik, “Menggigit kubisku!”

Jarang sekali Wei WuXian bangun pagi-pagi-buta. Setelah dia kembali ke Jingshi, dan pertama kalinya tertidur lama. Hasil dari jadwal tidur yang miring seperti itu adalah ketika dia bangun, hari sudah senja. Dia melewatkan makan malam dan tidak ada lagi yang bisa dia makan. Wei WuXian juga tidak merasa lapar. Dia terus mencari melalui cetakan kaligrafi lama dan esai Lan WangJi sambil menunggu. Tetapi, bahkan sampai malam tiba, kubis besarnya belum kembali.

Akhirnya Wei WuXian merasakan betapa kosong isi perutnya. Bagaimanapun waktu sudah lewat jam malam di Cloud Recesses. Menurut aturan sekte, tidak boleh yang boleh berkeliaran keluar, apalagi memanjat tembok dan menjelajah di luar — jika ini dulu, tidak peduli apa yang ‘tidak bisa’ dia lakukan, tidak peduli apa yang ‘dilarang’, Wei WuXian hanya peduli tentang makan ketika dia lapar, tidur ketika dia lelah, menggoda ketika dia bosan, berlari ketika dia mendapat masalah. Tetapi situasinya sekarang berbeda. Itu sekarang akan dianggap kesalahan Lan WangJi. Tidak peduli seberapa laparnya, betapa bosannya dia, dia hanya bisa menghela nafas panjang dan menahannya.

Pada titik ini, suara pelan terdengar dari luar Jingshi. Pintu didorong membuka celah.

Lan WangJi kembali.

Wei WuXian berbaring di lantai dan pura-pura mati.

Dia mendengar Lan Wangji berjalan dengan lembut menuju meja dan meletakkan sesuatu di atasnya, tidak mengatakan apa-pun. Wei WuXian ingin terus bermain pura-pura mati, tetapi sepertinya Lan WangJi membuka tutup sesuatu ketika aroma rempah-rempah yang kuat memenuhi kayu cendana dingin yang semula mempercantik Jingshi.

Seketika, Wei WuXian bangkit dari lantai dengan berguling, “Er-gege! Aku akan melakukan semua yang kamu katakan selama sisa hidupku!”

Tanpa ekspresi, Lan WangJi mengeluarkan hidangan dari dalam kotak dan meletakkannya di atas meja. Wei WuXian mendekat ke arahnya. Melihat warna merah di atas setengah lusin hidangan putih membuatnya sangat gembira sehingga matanya bersinar merah, “Kau begitu murah-hati, HanGuang-Jun, sangat bijaksana bagimu untuk pergi keluar dari jalanmu dan membawa kembali makanan untukku. Kamu bisa menyuruhku melakukan apa saja mulai sekarang.”

Kemudian Lan WangJi mengeluarkan sepasang sumpit putih gading dan menempatkannya secara horizontal di atas mangkuk, suaranya dingin, “Bicara dilarang saat makan.”

Wei WuXian, “Dan kamu mengatakan bicara dilarang saat tidur. Setiap malam ketika aku banyak bicara dan membuat banyak kebisingan, mengapa kamu tidak pernah menghentikanku?”

Lan Wangi meliriknya. Wei WuXian, “Ok, ok, ok, aku akan berhenti bicara. Kita sudah seperti ini, jadi kenapa wajah-mu masih sangat tipis? Kamu merasa sangat malu-malu, tetapi itulah yang aku sukai darimu. Apakah kamu membawa ini dari masakan Hunan di Kota Caiyi?”

Lan WangJi tidak mengatakan apa-apa, jadi Wei WuXian menganggapnya sebagai konfirmasi diam-diam. Lalu dia duduk menghadap meja, “Aku ingin tahu apakah restoran itu masih buka. Di masa lalu, kami selalu makan di sana, atau jika kami hanya makan hidangan sekte-mu, mungkin aku bahkan belum melewati beberapa bulan itu. Oh lihat saja ini. Inilah seharusnya perjamuan sekte.”

Lan WangJi, “‘Kami’?”

Wei WuXian, “Jiang Cheng dan aku. Terkadang Nie HuaiSang dan beberapa lainnya juga ikut.”

Menyapu matanya ke arah Lan WangJi, Wei WuXian menyeringai, “Mengapa kamu menatapku seperti ini? HanGuang-Jun, jangan lupa. Saat itu aku sudah mengundangmu untuk makan bersama sebelumnya. Sungguh penuh semangat aku mencoba! Kaulah yang menolak untuk pergi. Setiap kali aku berbicara denganmu, kamu memelototiku, dan semua yang kamu katakan dimulai dengan ‘tidak’. Aku benar-benar menemui banyak kendala. Aku bahkan belum menyelesaikan masalah denganmu, dan di sini kamu tidak bahagia. Omong-omong…..” Dia melesat ke samping Lan WangJi, “Aku hanya memaksa diriku untuk tidak menyelinap keluar karena aku tidak ingin melanggar aturan sekte, menunggumu di dalam sini dengan patuh. Namun siapa yang akan mengira kamu melanggar aturan sendiri dan pergi mencari makanan untukku, HanGuang-Jun. Melanggar aturan seperti ini — jika pamanmu tahu, hatinya akan terluka lagi.”

Lan WangJi menunduk dan melingkarkan lengannya di pinggang Wei WuXian. Dia tampak diam dan tak bergerak, namun Wei WuXian bisa merasakan jari-jarinya membelai pinggangnya, entah disengaja atau tidak. Jari-jarinya begitu hangat sehingga panas menembus pakaiannya dan langsung masuk ke kulitnya. Sensasinya sangat jelas. Wei WuXian juga memeluknya, berbisik, “HanGuang-Jun… aku minum sup sekte-mu dan sekarang seluruh mulutku terasa pahit. Aku tidak bisa makan apa pun. Apa yang harus aku lakukan?”

Lan WangJi, “Satu tegukan.”

Wei WuXian, “Ya. Aku hanya minum satu tegukan, tetapi sup-mu ini benar-benar memiliki efek yang kuat. Kepahitan meluncur dari ujung lidahku ke tenggorokanku. Katakan padaku — apa yang harus aku lakukan?”

Setelah diam beberapa saat, Lan WangJi menjawab, “Menetralisir-nya.”

Wei WuXian bertanya dengan sederhana, “Bagaimana aku harus menetralisir-nya?”

Lan WangJi mengangkat kepalanya.

Aroma herbal yang ringan masuk dan keluar dari kedua bibir mereka. Mengabaikan rasa pahit membuat ciuman mereka lebih melekat.

Ketika mereka akhirnya berhasil lepas, Wei WuXian bernapas, “HanGuang-Jun, aku baru ingat. Kamu minum dua mangkuk sup itu. Kamu bahkan lebih pahit dariku.”

Lan WangJi, “Mn.”

Wei WuXian, “Tapi kamu masih terasa cukup manis. Aneh sekali.”

“………” Lan WangJi, “Makan dulu.” Setelah jeda, dia menambahkan, “Kita bisa melakukannya setelah kamu selesai.”

Wei WuXian, “Aku akan makan kubis dulu.”

Lan WangJi sedikit mengerutkan kening, tampaknya dia bingung mengapa Wei WuXian tiba-tiba menyebutkan soal kubis. Wei WuXian tertawa ketika dia melingkarkan lengannya di leher Lan WangJi.

Yang disebut perjamuan itu paling baik diadakan di balik pintu tertutup.


<< GDC 116

GDC 117 >>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s