I am a Chef in the Modern Era – Chapter 1

Chapter 1 – Mie Daging Sapi Yang Ditumis Kental / Braised Beef Noodles

Pada Musim Dingin tahun ke-69 Negara Bagian Yan, Menteri Personel diselidiki. Rumor mengatakan kalau dia bersekongkol bersama dengan orang lain untuk tujuan keuntungan pribadi, dan bersalah karena menerima suap. Kemudian sebuah kotak harta karun ditemukan di rumah menteri yang membuktikan bahwa dia memang bersalah karena korupsi. Pria yang pernah menjadi ZhuangYuan [1] di masa lalu, telah masuk ke dalam penjara semalam.

[1] 状元 ZhuangYuan – Ini adalah istilah yang diberikan kepada sarjana / cendikiawan yang menempatkan nomor satu di tingkat tertinggi ujian kekaisaran.

 

Sebelum musim semi tahun berikutnya, dekrit kaisar pun turun.

Dekrit menyatakan bahwa cendekiawan itu adalah seorang pria dengan kompetensi tetapi tidak memiliki kebajikan. Kejahatannya yang berdosa tidak bisa dimaafkan dan dia harus diberi secangkir anggur beracun untuk mengirimnya dalam perjalanan ke alam baka.

Ada hujan salju lebat pada hari berlangsungnya eksekusi.

Pria itu dikeluarkan dari sel penjaranya, dan setelah makan sebuah hidangan mewah, anggur pun disajikan. Dan itu adalah favoritnya: Putri Merah (Daughter Red).

Cendikiawan itu mengangkat cangkir anggur dan menghirup aroma wangi itu sebelum dia menyipitkan matanya, “Guru-ku pernah berkata bahwa karakterku tidak cocok untuk menjadi pejabat pemerintah. Sepertinya kata-kata dia benar. Tapi dengan kaisar bodoh dan pejabat jahat yang berkuasa, sudah saatnya era Negara Besar Yan berakhir.”

Pejabat yang bertanggung jawab baru saja akan marah ketika sarjana itu memiringkan kepalanya dan menenggak seluruh cangkir anggur beracun. Darah kemudian mengalir keluar dari mata, hidung, mulut dan telinganya, lalu dia meninggal di tempat eksekusi.

Tepat sebelum dia meninggal, cendekiawan itu menatap kepingan salju seperti kelopak bunga yang jatuh dari langit dan tersenyum. Dia dengan lembut menggumamkan sesuatu dari mulutnya, tetapi kata-katanya tidak terdengar.

Aku berakhir dengan menjadi sarjana nomor satu, dan aku akan menjadi koki di kehidupanku yang berikutnya. Aku merindukan ayam panggang di Menara Teratai.

Itu adalah ucapan terakhir Lin ShuYi.

Tentu saja kata-kata yang dia ucapkan begitu dia bangun lagi tidak masuk hitungan.

Itu benar, Lin ShuYi terbangun lagi di tempat yang benar-benar asing. Orang-orang di sini menyebut tempat ini Negeri China.

Dia tampaknya masih berada di tubuh aslinya, tetapi penampilannya seolah telah berubah. Rambut panjang se-pinggangnya telah menghilang dan sekarang digantikan oleh rambut pendek dan tipis yang diletakkan di depan dahinya. Tubuhnya juga menyusut, membuatnya terlihat seperti pemuda 17-18 tahun.

Terlepas dari semua ini, dia masih sangat senang tetap hidup.

Tidak ada orang lain di ruangan tempat dia bangun. Hanya dia sendirian dan rumah itu berantakan. Sekilas bisa diketahui kalau rumah itu bukan milik keluarga kaya.

Setelah beberapa hari penjelajahan, dia secara bertahap belajar beberapa hal tentang dunia ini.

Misalnya, objek persegi panjang yang akan menampilkan gambar dengan mengklik tombol disebut televisi. Benda yang bahkan bisa bersinar di malam hari disebut lampu. Sebuah furnitur yang bahkan lebih nyaman untuk diduduki dibandingkan dengan tempat tidur dikenal sebagai sofa dan sebagainya….. Ini semua dipelajari dari buku-buku yang tipis dan tebal. Untungnya, dia masih bisa mengerti buku-buku di sini. Meskipun beberapa karakter terlihat berbeda, sebagian besar dari mereka tidak berubah.

Karena dia sudah datang di sini, dia mungkin bisa tenang. Tidak ada yang lebih mengejutkan bagi orang selain fakta kalau dia masih hidup. Dia jelas sudah mati. Dia tidak pernah ingin mengalami perasaan tidak berdaya sama sekali karena tubuhnya secara bertahap menjadi lebih dingin dan kaku.

Sudah beberapa hari sejak dia tiba di sini. Dia masih belum melihat orang lain selain dirinya sendiri. Ketika dia keluar, dia melihat beberapa benda bergerak ke sana kemari sambil membawa orang-orang. Mereka dikenal sebagai mobil. Mereka melakukan perjalanan dengan kecepatan sangat tinggi yang membuatnya ketakutan ketika dia pertama kali melihat mereka.

Rumah itu kosong kecuali televisi dan sofa.

Lin ShuYi akan menonton televisi setiap kali dia tidak melakukan apa pun sehingga dia bisa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tempat ini. Ketika dia akhirnya mendapatkan pemahaman yang baik tentang dunia di sekitarnya, sebulan telah berlalu.

Negara tempat dia tinggal dikenal sebagai Negara China. Kota ini disebut Kota S. Negara ini memiliki banyak orang, dengan populasi yang jauh lebih besar dari Negara Bagian Yan. Di sinilah dia harus tinggal.

Itu benar, dia harus melanjutkan hidup.

Dalam sebulan terakhir, dia makan sayur-sayuran yang tumbuh di halaman, termasuk sayuran hijau, tomat, kacang-kacangan dan mentimun.

Dalam kehidupan terakhirnya, hal favoritnya adalah memasak, jadi dia mengenali semua sayuran ini. Ada juga nasi di dapur tetapi sepertinya tidak banyak yang tersisa. Dia juga akhirnya belajar cara menggunakan rice-cooker setelah banyak kesulitan. Kompor gas tidak terkecuali juga, dia nyaris membakar rambutnya ketika pertama kali menggunakan.

Tetapi setelah sebulan berlalu, dia akhirnya mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Setidaknya makan bukan lagi menjadi masalah.

Sayuran di halaman masih bisa bertahan untuk beberapa hari, tetapi dia sudah kehabisan beras. Ini adalah masalah besar. Dia masih belum tahu apa-apa tentang dunia ini, jadi meskipun dia tahu di mana harus membeli beras, dia tidak punya uang.

Lin ShuYi masih tidak mengerti mengapa selembar kertas bisa disebut sebagai ‘uang’, sepertinya kertas itu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada perak. Jadi pertanyaan besarnya adalah, bagaimana dia bisa mendapatkan uang kertas?

Lin ShuYi kemudian pergi keluar.

Ini bisa dianggap pertama kalinya dia keluar. Waktu sebelumnya terlalu terburu-buru, dan dia hanya mengambil beberapa langkah di luar sebelum dia dengan cepat masuk ke dalam rumah setelah ditakuti oleh mobil-mobil yang berisik. Jika dia bisa kembali dan menceritakan pengalamannya tentang dunia baru ini ke Song Yan, Song Yan pasti akan berpikir kalau demam telah membunuh semua sel otaknya.

Tapi dia sudah mati, bagaimana dia bisa kembali?

Kesedihan emosinya hampir tidak berlangsung selama dua menit sebelum Lin ShuYi dengan cepat menemukan orang pertama yang dia temui setelah datang ke dunia ini dalam waktu kurang dari dua menit; itu adalah seorang kakek tua.

Kakek tua itu membungkuk dan berjalan dengan susah payah saat dia membawa seember air.

Lin ShuYi berpikir dan memutuskan untuk datang dan membantunya. Bagaimanapun ini adalah orang pertama yang dia temui di tempat ini, jadi pertemuan ini sangat penting baginya. Ditambah lagi, kakek ini tampaknya benar-benar membutuhkan bantuan dia.

“Aku akan membantumu untuk membawanya.” Lin ShuYi mengulurkan tangan dan mengambil ember air dari tangan kakek tua itu. Dia memberi kakek tua senyum lebar yang membuatnya tampak lebih ramah.

“Terima kasih, anak muda. Apakah kamu tinggal di dekat sini? Kenapa aku belum pernah melihatmu sebelumnya?”

Lin ShuYi menunjuk ke rumah yang berada dalam jarak dekat, “Aku tinggal di sana.”

Kakek tua itu menyipitkan matanya seolah-olah dia tidak bisa melihat rumah itu dengan jelas, “Oh, aku selalu berpikir kalau tidak ada orang yang tinggal di rumah itu. Apakah kamu baru saja kembali setelah sekolah jauh dari rumah?”

Lin ShuYi tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya mengangguk.

“Kamu terlihat seperti anak muda yang cukup tampan. Kamu juga memiliki hati yang baik. Karakter yang sangat disukai.” Kakek tua itu bergumam pada dirinya sendiri sebelum dia menepuk pundak Lin ShuYi dan menghentikan langkahnya, “Sampai di sini tidak apa-apa. Aku datang untuk menyirami sayuran di sini. Kamu pasti memiliki sesuatu yang lain untuk dilakukan, yah kan? Jika kamu sibuk maka kamu bisa pergi sekarang.”

Lin ShuYi menggelengkan kepalanya. Dia sebenarnya tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dilakukan. Selain itu, Intinya adalah meskipun dia pergi sekarang, dia tidak tahu harus pergi ke mana. Urusan apa yang mungkin harus dia lakukan?

“Kamu tidak sibuk? Jika kamu bebas maka bantu kakek tua ini untuk menyirami sayuran. Kakek akan mentraktirmu mie setelah kita selesai.”

Lin ShuYi tersenyum begitu mendengar soal makanan. Dia kemudian tertawa riang dan mengungkapkan deretan gigi putih, “Oke.”

Halaman itu tidak besar, tetapi ada beberapa sayuran yang berbeda. Berbagai jenis sayuran diatur dengan jelas menjadi beberapa bagian kecil. Ladang kecil merah adalah tomat, ladang kecil ungu adalah terong dan ladang kecil kuning adalah paprika manis. Mereka semua tampaknya tumbuh sangat baik.

Kakek tua itu mengambil gayung dan menyirami paprika manis segayung demi segayung. Lin ShuYi mengikuti gerakannya.

Meskipun dia bisa memasak, dia tidak tahu cara untuk menanam tanaman. Ini memang yang pertama baginya.

Satu ember air tidak cukup untuk seluruh halaman. Lin ShuYi harus membantu untuk membawa lebih banyak ember sebelum semua tanaman disiram dengan baik. Dia begitu kepanasan sehingga ada butiran keringat di dahinya.

“Kamu sekarang lelah, yah? Seperti yang diduga, aku tidak melihat lagi anak-anak yang masih bekerja di ladang saat ini. Ayo, kakek akan mentraktirmu mie.”

Mereka meninggalkan ember di dalam halaman dan kakek tua itu mengunci pintu. Dia kemudian membawa Lin ShuYi ke jalan lain sebelum berhenti di depan sebuah restoran kecil.

[Restoran XiQin.]

Kata-kata ini ditulis di bagian atas.

“Ini adalah restoran kakek. Kakek tidak tahu bagaimana membuat yang lain, tapi mie kakek sangat lezat. Kakek tidak membual, lagipula tidak ada orang di lingkungan ini yang belum makan mie buatan-ku.” Kakek tua itu membuka pintu dengan senyum di wajahnya dan menyuruh Lin ShuYi untuk duduk di mana pun yang dia suka. Dia kemudian pergi ke belakang untuk mencuci tangannya sebelum mulai membuat mie.

“Anak muda, apakah kamu bisa makan makanan pedas?”

Lin ShuYi menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu kita akan makan mie daging sapi yang ditumis kental. Itu tidak pedas.”

Lin ShuYi diam-diam menelan ludahnya, sebelum dia tiba-tiba teringat iklan yang terus-menerus ditayangkan di televisi.

“Mie daging sapi yang ditumis kental dengan ekstra daging dan telur tanpa harga tambahan! Rasanya ~ ”

Sebenarnya dia selalu ingin mencobanya. Apakah kakek akan membuat hidangan ini?

Setelah sekitar dua puluh menit, mie pun sudah siap. Mangkuk besar penuh mie masih panas mengepul.

Tapi… mengapa itu terlihat berbeda dibandingkan dengan iklan?

Lin ShuYi menunduk dan menatap isi mangkuk.

“Makanlah, kakek jamin itu enak.”

Kuah kaldunya jernih dan ada beberapa bok-choy segar dan hijau bersama dengan mie putih tipis. Satu sendok besar daging sapi yang direbus lembut diletakkan di dalam mangkuk dan di atasnya ditaburi irisan daun bawang. Hiasannya sangat kontras dengan warna merah gelap daging sapi, yang membuat hidangannya tampak sangat menggiurkan. Lin ShuYi memandangi hidangan itu untuk waktu yang lama sebelum dia menelan ludahnya saat dia akhirnya mengambil sepasang sumpit dan memakan seteguk besar.

Daging sapi segar, empuk, harum, dan mie kenyal. Mata Lin ShuYi berbentuk bulan sabit akibat kenikmatan masakan.

Dia tidak hanya menghabiskan mie, tapi dia juga meminum kuah kaldu tanpa sisa. Meskipun kuahnya terlihat jernih, rasanya lezat seolah-olah sudah direbus sejak lama.

 

“Kamu menyukainya? Jika kamu suka, maka seringlah datang kemari dan kakek akan membuatkannya untukmu.”

Kakek tua itu tersenyum, yang menyebabkan semua kerutan di wajahnya mengerut bersamaan, namun hal ini membuat Lin ShuYi teringat gurunya.

“Kakek, aku bisa memasak. Aku akan memasak untukmu di masa depan.”

Kakek tua itu tertegun sesaat sebelum dia tertawa riang, “Bagus, bagus. Aku akan membuatkan-mu hidangan mie, dan kamu bisa memasak hidangan lain untukku.”

Kakek itu hanya menertawakannya sebagai lelucon karena dia sama sekali tidak mempercayai bocah itu. Bagaimana anak muda berusia 17-18 tahun ini tahu cara memasak? Cucunya sudah berusia 20 tahun dan masih tidak bisa membuat hidangan selain mie instan.

Berbicara tentang cucunya, sudah lama sejak dia datang terakhir kali untuk mengunjunginya…


<< CME Daftar Isi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s