Peran Pengganti – Chapter 37

Author : Keyikarus

[Chapter 37]

Saat Zino sedang menggerutu putus asa, dua orang yang menyerangnya tadi maju, siap mendesaknya lagi sementara yang satu menjelaskan kondisinya dan meminta bantuan pada dua yang baru datang.

Namun keberuntungan berpihak pada Zino, bodyguard mereka tiba untuk menahan serangan.

Zino menggerutu betapa lama reaksi para bodyguard ini. Dia tidak sadar, yang dia sebut lama itu sebenarnya kurang lebih satu menit.

Para bodyguard itu menjaga jarak nyaman seperti yang diinginkan Zino. Mereka tidak memiliki lingkaran teleportasi yang bisa datang dalam sekejap.

Selain itu Zino menyadari keberuntungannya yang sedikit buruk, bodyguardnya kalah jumlah. Sementara penjahat empat orang, bodyguardnya hanya tiga orang.

Seharusnya ketimpangan jumlah itu bisa ditutupi Zino, tapi kepalanya sudah pusing dan tubuhnya sudah sakit. Terlebih dia sudah kelelahan menyeret Mio ke sana kemari. Memikirkan dia bahkan tidak bisa membantu, Zino hanya ingin kabur.

Jadi dia melakukan itu. Selagi dua kubu bentrok, Zino menggendong Mio dan berlari sekencang yang dia bisa.

Saat dia menoleh, satu yang tidak memiliki lawan mengejarnya. Zino tidak bisa tidak mengumpat.

Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Mio, dengan nekad menyebrang jalan yang padat kendaraan.

“Aku tahu! Aku juga takut mati!” Jerit Zino kesal saat klakson terdengar ramai dari beberapa pengendara yang mengerem mendadak karna dia.

Zino menoleh ke belakang lagi dan mengumpat lagi melihat betapa gigihnya pria itu mengejar.

Meninggalkan bising klakson dibelakangnya, dia berusaha berlari menembus para pejalan kaki tanpa memperdulikan umpatan dan makian yang didapatnya saat dia dengan ceroboh menabrak mereka.

Nafas Zino tersengal-sengal. Dia merasa sudah tidak kuat berlari lagi. Jadi dia menurunkan Mio, menggandeng gadis itu agar berjalan cepat.

Menoleh ke kiri kanan, Zino sepertinya mengenal daerah ini. Pasar tempat Mei berjualan hanya satu kilo dari sini. Tapi Zino tidak bisa tanpa sengaja membawa perusuh itu ke tempat Mei.

Berpikir begitu, dia memilih berputar beberapa kali. Memastikan pria yang mengikutinya sudah tak ada lagi, dia menurunkan Mio lagi.

Berkali-kali dia menaik-turunkan Mio dari gendongannya karna kelelahan.

“Hufft. Apa kali ini kita benar-benar aman?” Gumam Zino mengelap keringatnya yang bercucuran.

Zino menggandeng Mio yang lesu dan memasuki area pasar tradisional.

Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jean. Bagaimanapun saat ini dia adalah Vivian dan sedang bersama Mio, penyerangan atau apapun itu pasti berhubungan dengan masalah keluarga mereka.

“Apa?” Jean menjawab sembari berbicara dengan orang lain. Sepertinya pria itu sibuk karena terdengar suara bising percakapan dibelakangnya.

Tapi Zino tidak akan berpikir tidak mau mengganggu. Jean harus tahu jika adik dan putrinya dalam bahaya. Jika saja saat ini Vivian asli yang mengalaminya, Zino pikir mereka pasti sudah membawa target mereka pergi sedari awal.

“Empat orang berusaha menculikku dan Mio.”

“Apa?! Bagaimana dengan bodyguard yang ku tugaskan mengawasi kalian?”

Suara bising dibelakang Jean mengabur. Mungkin pria itu menjauh dari kerumunan.

“Tunggu.” Ucap Jean yang tidak dimengerti  Zino.

Bagaimana pria ini menyuruhnya menunggu. Apa pekerjaan lebih penting dari putrinya?

Sebelum sempat Zino memprotes, Jean sudah mengatakan sesuatu yang membuatnya menghela nafas lega.

“Mereka sudah menghubungiku dan menahan tiga orang. Di mana kau dan Mio?”

Zino mengerti yang dimaksud Jean adalah para bodyguard itu menahan tiga dari empat penjahat yang menyerangnya. Jika begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kan? Jean pasti tahu apa yang harus dilakukannya.

“Di pasar tempat Mei berjualan. Ah Mei itu…”

“Aku tahu. Tetaplah disana, aku akan mengirim orang untuk menjemput kalian.”

Zino mengiyakan sebelum Jean memutuskan sambungan.

“Bibi, kita akan kemana?” Tanya Mio. Wajahnya terlihat pucat dengan mata masih merah karna banyak menangis.

Zino harus berterima kasih karna Mio begitu patuh padanya hingga tak terlalu rewel tentang apapun yang dilakukannya tadi.

“Ke tempat teman bibi. Kita aman disana.”

Zino menggendong Mio yang mengangguk. Bocah yang kelelahan itu meletakkan kepalanya di bahu Zino.

Dia yang biasanya hanya duduk didepan lapak Mei, kali ini masuk ke belakang lapak. Mei selalu menyediakan kursi malas dan meja pendek penuh camilan disini.

Tanpa permisi dia mendudukkan Mio yang kelelahan di kursi malas. Memberi gadis kecil itu minum dan membiarkannya berbaring. Sementara Zino duduk di karpet mengusap wajah pucat keponakannya.

Setelah selesai dengan pembeli, Mei mendekati Zino. Tatapannya beralih pada gadis kecil yang mulai tertidur.

“Sepertinya aku pernah melihat gadis ini disuatu tempat.” Gumam Mei yang membuat Zino meringis.

“Aku menumpang disini oke. Pinjami aku jaket dan ikat rambutmu.” Pinta Zino mengalihkan topik pembicaraan.

Mei tahu yang dilakukan Zino dan hanya mengabaikannya. Dia mengambil ikat rambut dan sweater tipis dari tasnya.

“Hanya ada ini. Apa yang terjadi? Kau seperti kelelahan. Dari mana kau dapatkan luka ini?” Mei menyentuh darah disudut bibir Zino.

Gerakan itu membuat Zino membeku. Dia merasa seharusnya senang dengan perhatian Mei. Tapi ada perasaan jika ini tidak lagi membuatnya senang. Perasaan yang menderanya ini begitu membingungkan dan membuatnya gelisah.

Dulu, sebanyak apapun dia berkencan dengan gadis, pada akhirnya dia akan membujuk Mei. Perhatiannya yang sesungguhnya hanya pada Mei. Dia selalu senang dengan gerakan dan perhatian kecil Mei.

Jadi, kenapa sekarang dia merasa kali ini…. berbeda.

Perlahan, Zino menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kaku.

“Berusaha kabur dari penculikan. Kau tahu, Vivian dan Mio adalah anak-anak kesayangan keluarga kaya.”

Mei menarik tangannya dan mengangguk. Gadis itu juga tersenyum kaku lalu mengalihkan pandangannya pada Mio yang sudah jatuh tertidur.

“Dia…”

“Keponakan Vivian. Namanya Mio. Dia gadis kecil yang sangat patuh.”

Mei menatap senyum lembut Zino saat menatap Mio. Perlahan binar dimatanya meredup. Senyum tak berdaya terukir dibibirnya. Namun itu hanya sekejap.

“Baiklah. Kau bisa istirahat nona cantik dan kaya.” Mei menepuk bahu Zino yang memar hingga pemuda itu menjerit kesakitan dan melewatkan sebutan baru untuknya.

Mei hanya memandangnya datar lalu pergi melayani pembeli. Ekspresinya sudah kembali seperti biasanya.

******

 

Wajah Jean mengeras saat mendapatkan informasi siapa yang menyewa preman untuk menyerang Zino dan putrinya. Mereka sebenarnya berniat menculiknya.

Itu Kamilla.

Entah apa lagi yang ada di otak wanita serakah itu. Jean bisa membiarkannya melakukan apapun selama ini karna Mio menyukai ibunya itu. Namun sekarang putri kecilnya itu lebih menyukai Zino. Terlebih Kamilla berani berniat menculiknya.

Dia sudah mengirim beberapa orang untuk mengawasi Zino dan Mio. Menurut bodyguard Mio sebelumnya, Zino mengalami cedera. Itu membuat Jean khawatir.

Jadi dia menghubungi orang yang bisa mengurus dua orang itu selagi dia mengurus Kamilla.

“Hm.”

Jean menahan geraman. Zinan ini semakin lama semakin tidak sopan saat menjawab teleponnya. Dia seperti tidak punya etika.

“Vivian dan Mio nyaris diculik…”

“Di culik? Betapa berani.” Nada bicara Zinan berubah sedingin es. Tidak lagi konyol dan sok ramah seperti biasanya.

Jean mendesah. Dia harus menyadari jika pria ini adalah serigala sebelum bersikap konyol pada Zino. “Aku bilang nyaris. Tolong cermati dengan baik kata-kataku. Sudahlah. Yang perlu kau lakukan hanya jemput Vivian dan Mio. Dia cedera.”

Mendengar Vivian cedera, darah Zinan seperti berhenti mengalir. Dia ketakutan setengah mati. Ini sangat mengejutkan karna ternyata kepeduliannya pada Vivian benar-benar melebihi batas atas. Tapi dia tidak sempat terkejut.

“Bagaimana bisa orang-orang yang kau bayar begitu tak berguna?! Dimana Vivian sekarang?!” Geram Zinan.

“Aku akan mengirimkan tempatnya berada sekarang.”

“Kau harus sudah tahu siapa dalangnya. Berikan padaku rinciannya.” Zinan tidak pernah berpikir akan membiarkan siapapun ini lepas dengan mudah.

“Aku yang akan mengurusnya. Karna itulah aku memintamu mengurus Vivian dan Mio. Kau tidak berhak melakukan apapun pada orang ini.”

Ucapan Jean membuat Zinan hampir meledak. Namun dia tidak bisa karna Jean sudah memutuskan sambungan.

Menerima pesan tempat Vivian berada, Zinan segera pergi. Menyerahkan pekerjaannya pada wakilnya yang malang.

Zinan pikir, sepertinya dia perlu menempatkan orang-orangnya sendiri untuk mengawasi Vivian di masa depan. Tapi mungkin Jean akan memukulnya karna tersinggung.

Lebih cepat menikah akan lebih mudah bagi Zinan memastikan keamanan Vivian karna telah memiliki hak mutlak.

*****


<< Peran Pengganti 36

Iklan

Satu respons untuk “Peran Pengganti – Chapter 37

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s