When Love Was Blind – Bab 5

AuthorKeyikarus

[Chapter 5 – Peraturan Baru]

Bai Ji Chen membaur dengan penduduk desa. Dengan hati-hati mulai menata perasaannya, menata hatinya agar bisa terus tersenyum pada setiap orang yang ditemuinya. Dia tidak bisa mengecewakan para penduduk yang dengan baik hati melindunginya, menyamarkan keberadaannya dari pencarian para tentara Lu.

Memasuki hari ke tujuh sejak kekaisaran Lu menyatakan menjadi tuan bagi tanah mereka, sebuah peraturan baru dirilis.

Setiap orang diwajibkan melaporkan identitas mereka pada petugas pemerintahan baru. Dari yang bayi sampai yang usia lanjut. Tidak boleh ada yang terlewat, atau mereka akan berhadapan dengan pedang para tentara.

“Kita tidak bisa melapor.”

“Itu benar. Maka kita butuh tempat bersembunyi untuk menghindari pemeriksaan tentara. Kita tidak bisa berbaur dengan para penduduk yang melakukan pelaporan identitas.”

Dua pengawal itu menimbang apa yang harus mereka lakukan. Menghitung resiko setiap pilihan yang mereka miliki.

“Tuan, di gudang pembuatan anggur ada ruangan yang tersembunyi. Bisakah jika kalian tinggal disana bersama yang mulia permaisuri?” Ujar wanita pemilik rumah.

“Biarkan aku melihatnya.”

Pengawal Luo mengikuti langkah wanita tua itu menuju gudang anggur. Dia memeriksa jalan yang dilalui, lalu memeriksa sekitar gudang yang berhenti beroperasi sejak penyerangan terjadi.

Setelah memastikan keadaan luar, pengawal Luo memeriksa bagian dalam, pintu itu berada di lantai hanya beberapa langkah dari pintu masuk. Lokasi dan pola potongan yang sesuai membuat orang yang tak biasa tak akan begitu mudah menebak ada pintu di lantai.

Di kejar waktu, pengawal Luo tak bisa berpikir terlalu lama. Para tentara Lu pasti mulai memastikan semua penduduk berkumpul untuk melapor.

“Itu bisa digunakan.” Ucap pengawal Luo saat bertemu dengan pengawal Xi dan Bai Ji Chen.

Mereka berempat segera pergi ke gudang pembuatan anggur yang berjarak seratus meter dari rumah wanita tua itu.

Pertama-tama pengawal Xi yang turun, lalu dia menangkap tubuh Bai Ji Chen yang turun berikutnya. Tangga turun ke ruangan ini rusak, hingga tidak bisa digunakan. Mereka akan memikirkan untuk memperbaikinya lain kali.

Setelah pengawal Xi dan Bai Ji Chen di dalam, pengawal Luo menatap wanita tua itu.

“Untuk mencegah hal-hal tak terduga, jagalah keberadaan kami untukmu sendiri untuk sementara ini. Sampai kami menemukan sesuatu yang akan kami lakukan.” Pesan pengawal Luo.

“Saya mengerti, tuan. Tolong jangan khawatir.” Ucap wanita itu meyakinkan.

“Segeralah kembali ke rumah. Tentara itu pasti akan segera tiba untuk memeriksa. Nyonya, terima kasih dan berhati-hatilah.” Pengawal Luo segera masuk dan menutup pintu yang berbentuk lubang segi empat dilantai.

Wanita tua bernama Liu Hui itu merasakan jantungnya berdetak cepat mendengar sedikit perhatian dari pengawal Luo. Sejak suaminya meninggal, dia hanya memiliki putranya saja. Sangat malang, putranya tak sengaja meninggal karna terbebas pedang tentara Lu yang lewat dan membabi buta.

Menepiskan kenangan menyakitkan, nyonya Liu Hui segera memastikan tidak ada yang salah dengan penutup lubang dilantai, lalu dia bergegas menutup pintu gudang dan kembali ke rumahnya.

Ruangan bawah tanah itu memiliki luas tiga kali empat meter, entah apa tujuan dibuatnya. Mungkin pemiliknya dulu hanya senang memiliki hak unik.

Ada empat kursi dan satu meja ditengah ruangan. Lalu kursi panjang dengan bantalan selimut berdebu disudut ruangan. Lalu beberapa Kanvas ditumpuk dengan berantakan disudut lainnya.

Pengawal Xi memilih menyingkirkan selimut berdebu ke sudut ruangan. Membersihkan kursi dengan hati-hati agar debu tidak memenuhi ruangan kecil ini, atau mereka semua akan merasa tak nyaman.

“Anda bisa menggunakan kursi panjang ini. Bertahanlah untuk ketidaknyamanan ini, permaisuri.”

Bai Ji Chen menggumamkan terima kasih dan duduk di kursi panjang sementara kedua pengawal itu mengambil kursi masing-masing yang mengitari meja.

Ruangan ini bukan masalah baginya, permasalahan terbesar baginya adalah mimpi buruknya. Setiap malam Bai Ji Chen seperti diteror oleh penampakan kaisar yang dipenggal dengan kejam. Dia akan terbangun dengan keringat dingin dan nafas terengah-engah. Lalu menangis dalam diam. Karna saat pagi hari, dia harus terlihat tenang dan menyunggingkan senyum demi orang-orang disekitarnya.

Bai Ji Chen sadar dirinya tak bisa melakukan banyak hal. Karnanya dia bertekad untuk menopang setiap hati orang disekitarnya dengan senyuman.

Dia tak tau sampai kapan akan terus merasakan penderitaan seperti ini. Rasanya begitu berat dan menyakitkan. Jika tidak memiliki bayi Kaisar diperutnya, mungkin dia sudah menyerah sejak tujuh hari yang lalu.

“Apa yang dilakukan kekaisaran Lu dengan mengumpulkan identitas penduduk?” Gumam Bai Ji Chen yang bisa didengar oleh kedua pengawalnya.

“Saya tidak memiliki dugaan untuk itu. Karna mengumpulkan ulang identitas penduduk adalah hal yang seharusnya tak bisa dilakukan dalam waktu singkat, maka sepertinya mereka memiliki tujuan yang sangat menguntungkan.” Sahut Pengawal Luo.

“Kita akan mendapat sedikit gambaran saat nyonya Liu kembali. Permaisuri, anda jangan terlalu khawatir. Kita akan memikirkan hal yang bisa kita lakukan.”

Bai Ji Chen menatap pengawal Xi, dia berkedip beberapa kali tampak berpikir. Lalu berkata, “Adakah sesuatu yang bisa kita lakukan selain bersembunyi?”

“Tentu saja. Kekaisaran Wu bukan negri seujung kuku yang begitu mudah ditaklukkan. Meski wilayah dan penduduk kita hanya separuh dari kekaisaran Lu, itu tidak menjanjikan bagi kekaisaran Lu untuk memegang kendali sepenuhnya.”

Bai Ji Chen yang mendengarkan penjelasan pengawal Xi memiliki sedikit pengetahuan. Dia pikir dengan jatuhnya ibukota dan istana maka sebuah kerajaan akan berakhir.

Seolah mengetahui pemikiran permaisuri kekaisaran mereka, pengawal Luo melanjutkan, “Jatuhnya istana terkadang tidak benar-benar menghapus pemerintahannya. Terutama karna anda yang sedang mengandung pewaris tahta kekaisaran Wu selamat, maka akan ada harapan dan semangat bagi setiap tentara dan penduduk Wu setia yang tersebar.”

Bai Ji Chen merasakan hatinya bergetar, seolah sebuah tunas harapan telah menyebarkan akarnya dan memunculkan daun pertama. Bisakah… bisakah dia mengambil kembali kebebasan negri kecil mereka?

***************


<< WLWB Bab 4

Iklan

4 respons untuk ‘When Love Was Blind – Bab 5

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s