When Love Was Blind – Bab 4

AuthorKeyikarus

[Chapter 4 – Runtuhnya Kekaisaran Wu]

**

Semua penduduk ibukota berkumpul dan dipaksa berlutut dihadapan panggung rendah dimana Jendral besar kekaisaran Lu, Mu Zhi Rong berdiri. Di belakangnya para prajurit berwajah garang dan angkuh berdiri tegak mengelilingi Kaisar Wu yang diikat dan dipaksa berlutut bersama beberapa jendral juga para mentri.

Bai Ji Chen merasa dadanya ditusuk ribuan jarum saat matanya bertemu dengan mata kaisarnya. Wajah tampannya berlumur darah kering, pakaiannya compang-camping, rambutnya yang biasa tergerai indah sekarang terlihat kusut.

“Tuan, bertahanlah.” Bisik pengawal Xi dan pengawal Luo.

Mereka khawatir dengan emosi permaisuri yang bisa meledak dan menarik kekacauan. Mereka tentu tidak akan bisa melindungi permaisuri dengan lusinan prajurit Lu bersenjata lengkap.

Bai Ji Chen seperti akan pingsan melihat kaisar yang tersenyum lembut dan menggerakkan bibirnya, mengatakan ‘aku mencintai kalian, tetaplah hidup’. Nafasnya putus-putus. Dengan cepat dia menunduk, menyembunyikan air mata dan ekspresi kesakitannya.

“Dengar! Kekaisaran Wu sudah runtuh. Mulai sekarang, kalian adalah bagian dari kekaisaran Lu. Patuh atau mati, kalian yang menentukan.” Ucap jendral Mu Zhi Rong dengan nada dalam yang menanamkan ketakutan pekat dihari para penduduk.

Satu persatu mulai menangis. Situasi ini bagus menyembunyikan kesedihan Bai Ji Chen menjadi sebuah kewajaran. Sekali lagi, dia melihat ke arah kaisar Wu, kaisarnya yang malang. Bai Ji Chen menutup mulutnya sementara air mata mulai jatuh satu persatu bak mutiara di wajah cantiknya.

Pengawal Xi dan Lui yang lebih waspada mengamati sekeliling dan melihat tandu indah di tempat yang agak jauh, namun tepat untuk mengamati semua yang terjadi di lapangan.

“Tuan muda Bai, menunduklah.”

Bai Ji Chen tidak mengerti mengapa pengawal Luo memintanya seperti itu. Dia masih ingin menatap wajah kaisarnya. Orang tercintanya. Namun memikirkan situasi saat ini membuatnya dengan patuh menunduk. Memilih menuruti apapun kata kedua pengawalnya. Mereka akan melakukan sesuatu demi keamanannya.

Di dalam tandu indah, seorang pria duduk tenang. Matanya terus berkeliaran mencari. Namun semua terlihat sama. Kenyataannya dia tidak tahu seperti apa wajah orang yang dicarinya. Orang yang membuatnya penasaran karna menjadi rahasia umum terindah yang dimiliki ibukota kekaisaran Wu.

Sayang sekali orang itu berhasil lolos. Tapi, dia yakin orang itu tidak akan pergi begitu saja.

“Menandai keruntuhan kekaisaran Wu, maka kami akan mempersembahkan darah dari kaisar Wu dan pejabatnya bagi keagungan kaisar Lu.”

Ucapan jenderal Mu Zhi Rong menimbulkan dengungan histeris dan tangisan yang tertahan dari seluruh penduduk. Terlebih Bai Ji Chen. Dia memegangi dadanya yang seolah berlubang. Berlinang air mata, dia ingin berlari dan menjerit tak terima. Namun kaisar menggeleng lembut tanpa kentara dan menggerakkan bibirnya, mengatakan ‘tetaplah hidup’.

Tak bisa menahan tekanan batinnya, Bai Ji Chen dengan tubuh gemetaran hanya bisa menunduk. Dikedua sisinya, pengawal Xi dan pengawal Luo menahannya dengan halus agar tidak menarik perhatian. Beruntung tempat ini penuh sesak.

Sementara itu, pria di dalam tandu melihat bagaimana kaisar Wu yang menyedihkan itu tersenyum samar dan menggerakkan bibirnya. Dari sudutnya, sama sekali tidak bisa membaca gerakannya. Saat dia mengikuti arah pandangannya, itu terlalu luas. Terlalu banyak orang berpenampilan sama. Ketika perhatiannya kembali pada kaisar Wu, pria itu sudah menunduk.

Dia mendesah, namun tahu jika orang yang dicarinya benar-benar masih disini. Hanya saja, menimbulkan lebih banyak kekacauan akan semakin membuat orang itu bersembunyi. Segala rumor baiknya bukan tidak mungkin akan membuat para penduduk semakin menyembunyikannya.

Pada saat pemenggalan setiap pejabat kekaisaran Wu, Bai Ji Chen tersengal-sengal. Pikirannya kosong. Dia ingin menjerit histeris dan mengutuk semua orang kekaisaran Lu. Tapi pikirannya yang masih memiliki sedikit akal sehat terus menahannya dari melakukan hal-hal yang tidak berguna.

Saat tiba bagian kaisar Wu, Bai Ji Chen menyerah. Dia menunduk dalam-dalam. Tangannya terangkat menutupi telinganya. Dia menggigit bibirnya mencegah dirinya berteriak dan mengecewakan kaisar dengan tertangkap.

Saat eksekusi selesai, Bi Ji Chen tidak mampu menyangga tubuhnya. Diantara kerumunan orang yang dibubarkan, dia limbung. Tubuh dan jiwanya sudah mencapai batasnya.

“Tuan muda Bai!” Dengan cekatan pengawal Xi meraih dan menggendongnya. Sementara pengawal Luo berjalan dibelakangnya dengan waspada.

Mereka berjalan cepat meninggalkan kerumunan, mengandalkan kemampuan luar biasa untuk tidak ketahuan saat memasuki salah satu rumah besar.

Pengawal Luo menutup pintu dan mengintip ke luar, memastikan tidak ada gerakan yang mencurigakan selagi pengawal Xi meletakkan Bai Ji Chen ditempat tidur.

Hanya ada keheningan selama Bai Ji Chen terbaring pingsan.

Itu sudah lewat semalam saat Bai Ji Chen terbangun. Matanya yang sembab membengkak. Dia mengusap wajahnya yang lengket dan tidak nyaman.

“Yang mulia permaisuri.”

Panggilan itu membuat Bai Ji Chen mengangkat wajahnya. Dia melihat seorang gadis muda menunduk memegang sebaskom air.

“Ling Er.”

“Ya yang mulia, ini saya. Saya akan membantu membersihkan wajah anda.” Ucap Ling Er lembut.

Dia adalah salah satu gadis yang tumbuh di rumah yang dibangun Bai Ji Chen untuk para yatim piatu. Bertahun-tahun mengenal Bai Ji Chen, tidak ada satu sisi pun dari Bai Ji Chen yang tidak disukainya. Ling Er adalah satu dari banyaknya anak yang memuja Bai Ji Chen.

“Tidak. Kau tidak perlu memanggilku yang mulia lagi. Kekaisaran kita sudah runtuh. Aku bukan lagi permaisuri Wu. Aku….” Bai Ji Chen menghela nafas. Dia mendongak agar air matanya yang menggenang tidak jatuh. Tangannya memukuli dadanya yang terasa sesak dan menyakitkan.

Pada akhirnya, Bai Ji Chen tidak bisa menahan diri dari tergugu. Tangisannya lirih dan memilukan. Air mata seperti tak bosan-bosannya berjatuhan dari mata cantiknya.

Didepannya, Ling Er hanya bisa menunduk. Mencengkeram erat roknya. Ikut menangis sedih atas kemalangan yang menimpa kekaisaran mereka. Dia tak bisa berhenti membenci kekaisaran Lu yang begitu tamak dan serakah. Mengapa harus menyerang negri kecil mereka yang damai?

*************


<< WLWB Bab 3

WLWB Bab 5 >>

Iklan

3 respons untuk ‘When Love Was Blind – Bab 4

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s