When Love Was Blind – Bab 3

Author : Keyikarus
Publish at Kenzterjemahan.

Chapter 3 – Rahasia Umum

Hanya sedikit penduduk ibu kota yang sempat mengungsi, sebelum banyak yang menjadi tahanan massal oleh kekaisaran Lu. Setiap sudut kota memiliki prajurit dengan pedang terhunus. Seolah siap menebas siapa saja yang berani bergerak tidak sesuai instruksi kekaisaran Lu.

Sekarang matahari mulai meninggi, seharusnya perang itu sudah usai. Peralatan hebat mereka bisa meratakan istana dengan tanah dalam beberapa kali serang saja. Kekalahan dalam jumlah prajurit juga terlalu besar hingga seharusnya tak butuh lebih lama dari ini untuk menaklukkan kekaisaran Wu.

“Seharusnya sekarang mereka akan mengumpulkan semua penduduk ibu kota untuk mengumumkan kemenangan. Kita harus masuk ke salah satu rumah dan keluar sebagai penduduk biasa.” Gumam Pengawal Luo yang diangguki pengawal Xi.

Diantara mereka Bai Ji Chen hanya bisa mencengkeram erat dadanya yang terasa menyakitkan. Matanya mulai panas dan berkaca-kaca. Tapi dia tahu, ini bukan waktunya bersikap melankolis. Jika dia tidak menguatkan hati, dia hanya akan terjebak ditempat ini tanpa tahu apapun. Dia ingin tahu bagaimana kabar kaisarnya.

“Permaisuri…”

“Kita lakukan itu.” Potong Bai Ji Chen dengan suara tersedak.

Dua pengawal itu saling mengangguk dan mencari jalur aman hingga mereka berhasil masuk ke salah satu rumah penduduk.

“Aaa….” pengawal Xi langsung membekap seorang wanita paruh baya yang nyaris berteriak ketakutan melihat dirinya masuk.

“Tenanglah. Kau bisa menarik prajurit Lu jika berteriak. Itu membahayakan keselamatan permaisuri.” Bisik pengawal Xi.

Mata wanita itu membeliak. Dia jelas bimbang antara mempercayai atau tidak. Tapi begitu melihat Bai Ji Chen bersusah payah memanjat jendela dengan bantuan pengawal Luo, wanita itu akhirnya mengangguk.

Di ibukota, tak ada satupun yang tidak mengenali permaisuri kekaisaran mereka. Pria baik hati yang mematahkan semua opini rakyat dan pejabat tentang permaisuri pria yang begitu egois. Bagaimana tidak? Kaisar selalu menyayanginya hingga sama sekali tidak mengambil selir. Menyeimbangkan kekuatan kekaisaran hanya berdasarkan kekuatannya. Lalu bagaimana kaisar akan mendapatkan keturunan?

Ini adalah rahasia umum dalam ibukota, dimana permaisuri Bai Ji Chen bersedia menggunakan cara-cara paling tidak nyaman demi mendapatkan rahim dengan bantuan tabib legendaris yang berjuluk penyihir pengobatan.

Butuh lima tahun penuh percobaan hingga penyihir pengobatan itu mampu menumbuhkan rahim dalam perut Bai Ji Chen. Lalu ketika permaisuri dikabarkan hamil, penyihir yang seolah sudah menyelesaikan tugas akhirnya diusia seratus tujuh puluh dua tahun itu meninggal. Istana berduka untuknya.

Itu cerita dua bulan yang lalu.

Selain rahasia umum itu, Bai Ji Chen terkenal sebagai pribadi yang lembut dan hangat. Setiap bulannya dia akan pergi ke ibu kota. Berbicara dengan penduduk, bercanda dengan anak-anak dan bahkan membantu membuat kue untuk para pria yang bekerja di ladang.

Permaisuri Bai Ji Chen tidak canggung bergaul dengan pria, wanita dan anak-anak. Dia mendirikan rumah besar di ibu kota sebagai tempat penampungan anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Membantu orang miskin cara memperhitungkan penghasilan dan pengeluaran. Dan banyak hal lainnya.

Hal-hal lembut itu membuat warga Wu yang memandang homoseksual adalah tabu dan aib akhirnya tidak mempermasalahkan, selama itu Bai Ji Chen maka akan baik-baik saja.

Dan kehamilan Bai Ji Chen adalah kebahagiaan seluruh negri Wu.

Sekarang, wanita itu bergetar hampir menangis melihat penampilan permaisuri kekaisaran mereka. Wajah yang biasanya lembut penuh senyuman, kini terlihat kuyu dan menyedihkan. Namun masih berusaha menampakkan senyum terbaiknya.

“Yang mulia permaisuri.” Dengan suara bergetar, wanita itu buru-buru berlutut didepan Bai Ji Chen begitu pengawal Xi melepaskannya.

“Tidak. Kamu tidak bisa berlutut padaku sekarang. Atau aku akan ditangkap oleh mereka.” Bai Ji Chen membantu wanita itu bangun.

“Yang mulia…. yang mulia permaisuri pasti menderita….” Isaknya.

Bai Ji Chen hanya tersenyum sembari menepuk lembut punggung wanita itu. Benar, jika dia sebagai permaisuri tidak memiliki ketabahan hati, bagaimana dia bisa menghibur warganya.

“Yang mulia… yang mulia… apakah bayi anda baik-baik saja?” Tanya wanita itu penuh kekhawatiran.

Bai Ji Chen mengangguk. Mengusap perutnya dan tersenyum sedih. Dia khawatir bagaimana jika saat bayinya lahir kaisar tak ada disampingnya. Bagaimana cara membesarkan bayinya agar sebaik kaisar?

Bai Ji Chen menghela nafas.

Bunyi langkah yang ramai dan gedoran ditiap pintu rumah mengagetkan mereka.

“Bersikaplah layaknya penduduk biasa permaisuri. Maaf kami hanya akan memanggil anda tuan muda Bai mulai sekarang demi berjaga-jaga.” Ucap pengawal Xi sambil memandang wanita itu yang segera mengangguk mengerti.

Bai Ji Chen menarik nafas dengan gemetaran. Ternyata menunggu tentara mendatanginya begitu menakutkan. Bai Ji Chen yang seorang putra tunggal diantara delapan saudara dan bertubuh lemah, selalu dimanjakan. Benar-benar dimanjakan tanpa ada tuntutan melakukan hal-hal yang membuatnya berkeringat.

Hal-hal seperti ini selalu membuatnya cepat takut. Sejujurnya dia membenci rasa sakit, namun berusaha menahannya hanya untuk kaisar.

Dengan bunyi benturan kuat yang mengejutkannya, pintu depan terbuka lebar. Menampakkan sekumpulan prajurit Lu dengan senjata lengkap.

“Berkumpul! Kekaisaran Lu akan membuat pengumuman!” Teriak pimpinan prajurit itu.

Dua prajurit masuk, mendorong mereka berempat keluar rumah bergabung dengan penduduk lainnya untuk digiring ke lapangan besar.

Bai Ji Chen tersandung karna dorongan prajurit yang terlalu kuat hingga membuatnya limbung. Pengawal Xi yang terdekat dengannya segera mengulurkan tangannya. Membantu Bai Ji Chen menjaga keseimbangan.

“Tuan muda Bai, anda baik-baik saja?” Tanya pengawal Luo.

Bai Ji Chen mengangguk sementara prajurit itu mendengus. Melirik Bai Ji Chen dengan sinis. Tuan muda yang dimanjakan sekarang tidak lebih dari anjing kekaisaran Lu. Sangat menyedihkan.

************


<< WLWB Bab 2

WLWB Bab 4 >>

Iklan

2 respons untuk ‘When Love Was Blind – Bab 3

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s