Lord And Dragon – Chapter 18

Terjemahan indo oleh @IstrinyaJinLing 

Chapter 18  –  Reuni

 

Sinopsis: Secara keseluruhan, dia tampak seperti pedang es terhunus.

.. ·: * ¨¨ *. ·: * ¨ ♡ ¨ *: ·. 63. ·: * ¨ ♡ ¨ *: ·. * ¨¨ *: · …

Seperti inilah aku dengan paksa dibawa ke wilayah naga emas. Segel yang mencegah gerakan dan perkataan  ditempatkan padaku, dan aku  pada dasarnya menjadi boneka yang dapat mereka perintahkan sebagai hasilnya.

Namun, segel itu tidak sepenuhnya efektif meskipun spesialisasi naga emas ‘dalam segel – aku tidak bisa berbicara’, tapi aku masih bisa bergerak sedikit. Ini, kuduga, mungkin adalah efek dari mutiara naga yang ditinggalkan Fruys padaku. Aku pura-pura sepenuhnya di bawah kendali mereka sambil menunggu kesempatan untuk melarikan diri.

Afeyr dan aku dipisahkan dan masing-masing ditempatkan di kamar masing-masing, di selatan dan utara. Karena dia dianggap sebagai pengantin cadangan jika aku melarikan diri di tengah-tengah keributan, dia hanya akan dapat kembali bersama dengan orang-orang dari istana kekaisaran jika seluruh upacara selesai tanpa masalah.

Pernikahan itu ditetapkan untuk hari ketiga di awal bulan. Selama dua hari terakhir, aku sering mendengar suara naga besar yang mengepakkan sayap mereka sementara bayangan besar melintas di luar jendelaku. Orang-orang yang menjagaku mengatakan kepadaku bahwa mereka adalah klan naga lain yang datang untuk menghadiri upacara.

Pada sore hari di hari ketiga, aku akhirnya melihat “pengantin pria”. Rupanya, dia adalah salah satu putra dari pemimpin klan naga emas.

Dia muncul dalam wujud manusia, dan dia tidak menarik sama sekali. Aku berpikir dalam-dalam pada diriku sejenak: jika bentuk manusia Fruu sangat menyeramkan seperti itu, apakah aku masih bisa tetap bersama dengannya?

Tapi kemudian aku dengan kuat memutuskan – jika itu Fruu, bahkan jika bentuk manusianya sepuluh kali lebih buruk, aku tetap tidak akan meninggalkannya. Aku hanya akan membiarkan dia tinggal dalam wujud naga dalam skenario terburuk; lagipula, bentuk itu indah dan mengagumkan, dan aku bisa bahagia hanya dengan melihatnya.

Pengantin pria menatapku seolah aku semacam objek tak bernyawa, dan sama sekali tidak ada perasaan di dalam matanya yang berwarna keemasan.

Bertindak seperti boneka yang tepat, aku mengikuti perintah mereka dan pergi bersama mereka ke tempat upacara, tetapi kemudian diam-diam mengutuk diriku sendiri – setidaknya ada dua ratus naga yang hadir, di samping para penjaga naga emas yang mengelilingiku di setiap sisi. Aku  bahkan tidak bisa melawan seekor naga; melarikan diri dari sini jelas tidak lebih mudah daripada mendaki ke langit.

Sepanjang waktu, aku berjalan di belakang naga emas laki-laki. Aku mengikutinya naik ke panggung upacara. Pemandangan dari sini sangat bagus, memungkinkanku melihat dengan jelas segala sesuatu di sekitarku.

Naga-naga di bawahku semuanya berubah menjadi bentuk manusia mereka dan mulai mengobrol di antara mereka sendiri. Ada meja yang sangat panjang yang dipenuhi dengan semua jenis buah-buahan, sayuran, dan daging yang lezat serta anggur-anggur yang tak terhitung jumlahnya. Peralatan yang mereka gunakan untuk mengambil makanan sedikit lebih besar dari versi manusia, tetapi selain itu, itu tidak jauh berbeda dari perjamuan manusia.

Langit semakin suram ketika semakin dekat upacara dimulai, dengan seluruh cakrawala barat dipenuhi warna merah-ungu dari matahari terbenam. Sementara itu, kerumunan yang sebelumnya riuh pelan-pelan mulai tenang, seolah-olah mereka sedang menunggu seseorang untuk muncul. Kepala naga emas secara berkala memeriksa jam saku emas yang menggantung dari dadanya dengan cemas.

Kemudian, suara dari beberapa sayap yang berdetak kencang datang dari langit jauh, semakin kencang dan semakin keras saat mereka semakin dekat. Aku melirik melalui penglihatan periferalku dan melihat sekelompok naga raksasa berwarna biru es yang sedang mengayunkan sayap mereka, diikuti oleh dua baris delapan naga yang tampaknya menjadi penjaga.

Sebelum aku memiliki kesempatan untuk melihat dengan baik apa yang tampak seperti setiap naga, mereka berubah menjadi bentuk manusia satu per satu ketika mereka turun dari udara.

Dengan postur tegak-lurus, sepatu bot hitam, dan pedang tergantung di masing-masing pinggang – setiap orang mengenakan pakaian militer bermotif perak dan berpola biru tua, terlihat berpengalaman dan tenang.

Aku bertanya-tanya sejenak di mana mereka menyembunyikan pakaian, sepatu, dan pedang ketika mereka berada dalam bentuk naga mereka, tetapi kemudian mataku tertuju pada orang yang berada di kepala kelompok.

Dia mengenakan seragam militer yang warnanya sama dengan yang lain, terlepas dari jubah biru gelap dengan lapisan perak. Terbungkus di atas mantel itu adalah rambutnya yang panjang, rambut yang bertebaran karena angin, warna perak mewah, dan wajahnya yang tampan tapi dingin. Dia tampak seperti pedang es yang terhunus.

Matanya tertutup sepanjang waktu, tetapi langkah kakinya tegas dan mantap saat dia berjalan menuju kepala suku. Semua naga lain yang hadir di tempat kejadian berdiri berurutan untuk memberi hormat kepadanya, dan aku mendengar beberapa suara dengan khidmat memanggilnya, “Yang Mulia Kaisar Es”.

Aku bisa merasakan jantungku berhenti selama dua ketukan.

Kemudian, aku mendengar suara yang tidak kudengar lagi selama dua tahun, dingin namun kaya, seperti ingatanku tentang anggur iceberry pertama musim semi.

Dia berkata kepada semua orang : “At ease.”

Pada saat itu, aku lupa bernapas.

Mungkin karena pandanganku terlalu terpusat dan kuat, aku melihat dia membuka matanya dan menyapu mereka di panggung upacara – melewati wajahku- sebelum dia menundukkan kepalanya seolah-olah tidak ada yang terjadi dan duduk di kursi kehormatan dengan ekspresi bosan.

Aku melihat mata biru es itu, dingin namun indah, yang tidak lagi mengandung sedikit kehidupan.

Hatiku terasa seperti ditikam oleh sejuta jarum kecil – aku telah membayangkan ratusan kemungkinan yang berbeda, tetapi tidak pernah menduga bahwa itu akan menjadi seperti ini.

Fruuku… Dia tidak bisa melihat.


<< LD 17

LD 19 >>

Iklan

4 respons untuk ‘Lord And Dragon – Chapter 18

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s