Who Dares Slander My Senior Brother – Chapter 9

Chapter 9 – Kakak Senior Kedua, He Ling 

Sederhana dan tenang, tatapan pria berpakaian hitam menyapunya dan segera menjauh, tetapi kemudian mendarat pada kura-kura yang tergeletak di tanah di dekatnya. Dia menurunkan matanya dan berkata: “Kura-kuraku telah menghilang selama empat hari. Aku dengar dia tinggal denganmu.”

Wen Jing perlahan berdiri menyamping. Dia menutupi pribadinya yang sedingin-es, merasa agak tertekan: “Ya, dia sudah tinggal di sini.”

Pakaian di kakinya berlepotan dengan keringat dan lumpur. Mereka tidak layak untuk dikenakan.

Pakaian yang bersih…….

Digantung di belakang Jun YanZhi pada tiang bambu, mereka berkibar tertiup angin.

Jun YanZhi melihat pada kura-kura besar itu: “Apakah dia menyebabkan masalah?”

Karena malu, Wen Jing tertawa hampa: “Dia sangat bijaksana dan tidak melakukan apa pun untuk menimbulkan masalah… Kakak Senior Jun, tiang bambu di belakangmu, ada satu set pakaian bersih. Bisakah kamu………..”

Sebelum dia selesai berbicara, celana dan pakaian yang berwarna abu-abu terang terbang ke arahnya. Wen Jing segera menyeka tubuhnya dengan cepat, memakai celananya, dan mengencangkannya erat-erat, jantungnya akhirnya rileks.

Tatapan Jun YanZhi berdiam di tubuh Wen Jing. Dia tersenyum samar dan bibirnya bergerak seolah dia akan berbicara tetapi akhirnya tidak mengatakan apa-apa. Dia dengan santai berjongkok dan mengambil kura-kura besar itu: “… Terima kasih banyak atas perhatianmu, aku akan membawanya kembali.”

Dia memiliki wajah yang lembut sederhana dan elegan seperti awan. Di belakang sosok rampingnya, kabut melengkung ke udara. Sepertinya dia adalah seorang Immortal level kesembilan….

Wen Jing buru-buru memperbaiki ekspresinya, mengatakan: “Sampai jumpa lagi Kakak Senior Jun.”

Pria berpakaian hitam yang memegang kura-kura besar itu terbang ke langit. Berbalik dia melirik ke belakang dan sedikit mengangkat alis: “Sampai nanti kita bertemu lagi.”

Kura-kura besar itu masih terlihat sedikit terganggu, tetapi dengan singkat memindahkan empat kakinya yang kecil saat dia melihat Wen Jing.

Pemuda itu mengikuti sosok pria itu dengan matanya ke kejauhan. Perlahan-lahan matahari terbenam menghilang di dalam awan dan pada akhirnya langit menjadi gelap.

Sudah setengah bulan kemudian, akhir musim gugur. Secara bertahap tanah menjadi keras. Wen Jing, Mo ShaoYan, dan Gu JinPing, sangat sibuk hampir setiap hari memanen hasil kebun untuk penyimpanan, mengadakan pertemuan kecil.

Liu QianMo juga hadir memegang secangkir teh saat dia mendengarkan diskusi mereka.

Gu JinPing, yang tertua, berdeham untuk berbicara: “Kita telah memanen labu lilin (kundur), kacang merah, daun ubi jalar, kacang panjang, kentang, sawi putih, dan kacang buncis. Tidak banyak jenis buah, hanya ada buah pir, buah hawthorn, dan buah persik. Tiga gudang-penyimpanan sudah penuh. Jika kita berhemat, kita seharusnya akan baik-baik saja selama musim dingin.”

“Rumput roh?”

Gu JinPing berkata: “Satu-satunya jenis yang kita tanam adalah rumput roh yang digunakan untuk memurnikan pil Yellow Dragon dan pil Gold Marrow. Keduanya sudah dipanen, total ada 148 tanaman. Aku khawatir sisanya akan dibiarkan melewatkan musim dingin di kebun.”

Liu QianMo menganggukkan kepalanya: “Rumput roh membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk matang, kamu harus berhati-hati merawatnya.”

Gu JinPing berkata: “Untuk hal berikutnya, apakah kamu ingin kita bergiliran untuk mengurus bibit di kebun sayur?”

Liu QianMo hendak menjawab ketika Mo ShaoYan dengan sangat perlahan berkata: “Kakak Senior tertua, jangan dengarkan dia, dia hanya merasa malas.”

Gu JinPing dengan marah berkata: “Bagaimana aku merasa malas? Kita tidak banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kakak Senior Tertua apakah kamu melihat itu? Kamu melihat bagaimana dia berbicara kepadaku?”

Sudut mulut Liu QianMo mengejang: “Apa yang dikatakan JinPing masuk akal. Dalam tiga tahun adalah ujian puncak. Kamu harus memanfaatkan bulan-bulan musim dingin ini untuk berlatih keras. Cobalah untuk meningkatkan kultivasimu setidaknya dua lapisan. Musim semi berikutnya aku akan mengevaluasi kemajuanmu.”

Gu JinPing pergi dengan hampa memikirkan rencananya. Dia menyesali kata-katanya sebelumnya: “…Kita masih perlu merawat bibit.”

Mo ShaoYan berkata perlahan, “Apa yang kamu katakan?”

Gu JinPing marah: “Diam kamu.”

Liu QianMo berkata: “Dalam hal ini, kalian bertiga harus bergantian merawat bibit. Pertama Jin Ping, kedua ShaoYan, ketiga Lu Jing, dan seterusnya bergantian. Sisa waktumu dilarang untuk membuat terbuang, masing-masing akan bercocok tanam di rumah masing-masing.”

Ketiganya mengangguk: “Dimengerti.”

Sejak itu, Wen Jing hanya perlu pergi ke kebun sayur setiap hari ketiga untuk merawat bibit. Dia punya banyak waktu luang. Di bulan lain, kultivasinya menunjukkan tanda-tanda samar untuk terobosan ke tingkat keenam dari penyulingan Qi. Sayang sekali pemahaman bawaannya rata-rata dan kemajuannya dalam melatih tekniknya agak lambat.

Hari ini, Wen Jing baru-baru ini keluar hanya untuk melihat kepingan salju yang melayang dan hamparan putih yang sangat luas.

Musim dingin akhirnya mendekat.

Di ruang terbuka ada lapisan tipis salju. Ada cangkang kura-kura hitam besar yang sedang meringkuk, kepala dan empat anggota badan ditarik ke dalam.

Wen Jing tidak tahu apakah kura-kura itu mampu menahan hawa dingin sehingga dia mengangkatnya dan membawanya ke dalam rumah, menempatkannya di tempat tidur.

Kepala dan kaki kura-kura itu keluar dan mata hitamnya dengan penuh perhatian mengawasi Wen Jing saat dia membungkusnya dengan selimut.

Kura-kura itu tinggal selama sepuluh hari, itu hampir setengah bulan, namun Jun YanZhi tidak ada muncul. Wen Jing memperlakukan kura-kura itu sebagai hewan peliharaannya dan kadang-kadang memeluknya saat tidur.

Sore ini, sekali lagi giliran Wen Jing untuk merawat bibit di kebun.

Dia membungkus kura-kura besar itu dengan selimut dan meninggalkan sepiring biji jagung sebelum dia pergi.

Tepat ketika dia tiba di kebun, dia masuk untuk melihat kekacauan.

Hampir 20% dari rumput roh telah dimakan. Sisa-sisa daun hijau ada di mana-mana. Berdiri di tengah adalah binatang kecil keemasan yang masih melahap sambil membuat suara bahagia.

Wajah Wen Jing berubah pucat, tanpa berpikir panjang, dia bergegas ke dapur untuk mengambil air cuka. Saat ini musim dingin. Air di dalam ember telah membeku. Dia menggunakan upaya besar untuk mencairkan es dan menuangkan sebotol air cuka ke dalamnya.

Binatang kecil keemasan itu mencium air cuka dan mengangkat kepalanya untuk melihat sekeliling tetapi terpikat oleh rumput roh itu, membungkukkan kepalanya lagi saat dia mulai makan. Membawa ember, Wen Jing perlahan mendekat dan dengan kejam menyiramkan isinya.

Ember dari air cuka tumpah ke seluruh tubuh binatang kecil keemasan itu.

Binatang kecil itu segera berteriak dan melompat.

Air cuka membuat bagian luarnya merasa gatal yang tak tertahankan, seolah-olah beberapa ribu semut sedang menggigit. Itu sangat menyakitkan. Menerima siksaan semacam ini, binatang itu menangis dalam kesusahan ketika jatuh sebelum menuju ke arah Wen Jing dengan keinginan untuk menggigitnya sampai mati.

Wen Jing tidak berani untuk ceroboh. Dia berlari menjauh dari kebun sayur dengan seluruh kekuatannya.

Dia berlari untuk waktu yang lama sebelum binatang kecil itu dengan lemah terjatuh dengan suara ‘bang’ di tanah yang keras.

Wen Jing menemukan tali dan mengikatnya dengan kuat di tempat.

“Binatang pengumpul roh yang memiliki tubuh emas. Bagian luarnya keras dan memiliki rasa takut yang ekstrim terhadap air cuka. Memercikkannya dengan air cuka yang diencerkan akan menyebabkan rasa gatal yang hebat dan kemudian akan membuatnya kehilangan kesadaran. Sangat disayangkan bahwa hanya sedikit orang yang mengetahui hal ini. Bahkan Wu Ying, pemiliknya, tidak memiliki pengetahuan tentang ini.”

—— kutipan dari 《A Calamity for All Living Things》 bab lima belas.

Tepat ketika dia selesai mengikatnya, dari kejauhan terdengar suara seorang pria: “Eight Winds, kemarilah!”

Wen Jing menyeret binatang pengumpul roh itu, meletakkannya dalam gudang penyimpanan rahasia di kebun sayur, dan memberinya tendangan yang keras.

“Eight Winds? Ayo pergi!” Pria di luar menunggu lama tetapi tidak melihat jejak sedikitpun. Dia dengan tenang memasuki kebun sayur, “Eight Winds! Apakah kamu belum merasa cukup?”

Wu Ying melihat sekeliling tetapi tidak melihat sosok binatang kecil keemasan itu. Dia hanya melihat seorang pemuda yang berdiri di depannya.

Masih muda, mungkin baru tiga belas atau empat belas tahun, kurus dan kokoh, dia memiliki penampilan yang menarik.

Bibir tipisnya mengerucut erat, meskipun dia tampak sedikit tegang, tatapannya dingin dan tegas.

Alis Wu Ying berkumpul: “Kamu ada melihat Eight Winds?”

Wen Jing mengangguk, “Aku melihatnya, aku juga menangkapnya.”

Wu Ying mengejek: “Baru saja kamu apa? Kamu menangkapnya?”

Wen Jing dengan dingin membalas tatapannya dan menyeringai ke belakang: “Kamu boleh percaya atau tidak.”

Wu Ying dengan ragu mengerutkan kening, dan berteriak lagi: “Eight Winds”, tetapi tidak ada jawaban apa pun. Dengan wajah pucat dia bertanya: “Apa yang sudah kamu lakukan dengan binatang pengumpul roh itu?”

“Binatang itu belum mati, tapi aku bisa saja membunuhnya.”

Wu Ying telah memelihara binatang pengumpul roh ini selama beberapa tahun. Dia hanya menggunakannya dalam mengumpulkan energi spiritual untuk membantu membentuk fondasinya tetapi orang ini mengancam untuk membunuhnya? Di hamparan telapak tangannya bola energi spiritual mulai mengeluarkan cahaya putih saat dia berkata dengan ancaman: “Kembalikan Eight Winds padaku!”

Wen Jing lari saat dia berteriak: ” Binatang pengumpul roh-mu telah memakan rumput roh dalam jumlah yang besar! Kembalikan uang kami dulu!”

Wu Ying menembakkan bola energi spiritual ke Wen Jing, memukul ujung kakinya dan menghancurkan batu sampai berkeping-keping.

“Kembalikan Eight Winds padaku!”

“Bayar kembali uangnya! Sebanyak 212 batu roh! Kamu mengembalikan dana kami dan aku akan mengembalikan Eight Winds padamu! “

Wu Ying, marah dan kesal berkata: “Aku tidak mau!”

Wen Jing berpikir pada dirinya sendiri: ‘Bajingan ini seburuk kotoran. Dia mungkin bahkan tidak memiliki 20 batu roh. Bahkan tidak punya uang untuk membeli rumput roh tetapi datang untuk menggertak kami. Aku belum pernah melihat orang yang tidak tahu malu seperti ini.”

Dengan suara ‘bang’ bahunya dipukul dengan rasa sakit. Wen Jing jatuh ke tanah.

Wu Ying dengan marah mendekatinya: “Dimana Eight Winds?”

Wen Jing dengan dingin mencengkeram pundaknya: “Kamu cari saja sendiri.”

Wu Ying dengan cemas berlari di sekitar kebun sayur mencoba untuk menemukannya tetapi dimana pun dia tidak melihat jejak binatang pengumpul roh itu: “Maukah kamu mengatakannya? Jika kamu tidak mau, aku akan segera membakar kebun sayurmu!”

Dengan teriakan, jerami di tanah terbakar.

Wen Jing merasa agak takut: Jika kebun ini dibakar, lalu apa yang akan Puncak Hui Shi makan saat musim dingin ini? Namun jika dia menunjukkan kelemahannya sekarang, Wu Ying ini pasti akan terus mengambil keuntungan dari mereka.

Dia menguatkan hatinya: “Kemudian bakarlah, lebih baik bakar kebun ini dan aku bersamaan. Tidak hanya kamu tidak akan menemukan binatang pengumpul roh milikmu, kamu juga akan membakar seseorang dari puncak Hui Shi. Kejahatan telah membunuh sesama anggota sekte!”

Menatapnya, kulit Wu Ying pucat. Api yang intens menyebar dengan cepat hampir mencapai gudang penyimpanan.

Saat itu, angin bertiup tiba-tiba, terbang ke arah kebun. Tiba-tiba, ada semburan hujan yang jatuh dari langit dan memadamkan api dengan kecepatan kilat. Satu sosok abu-abu gelap berdiri di sisi kedua individu dan dengan dingin berkata: “Siapa yang membuat api ini?”

Pria ini tinggi, terlihat berusia sekitar 25 atau 26 tahun. Penampilannya setajam pisau. Dia dengan dingin memandang dengan marah.

Ketika Wen Jing baru saja bergabung dengan puncak, Liu QianMo telah membawanya berkeliling untuk bertemu dengan semua orang. Dia buru-buru berbicara: “Kakak Senior Kedua, Wu Ying inilah yang telah membuat api untuk membakar kebun sayur kita!”

Karena marah pada tindakan Wu Ying, pria itu mengunakan telapak tangan untuk memukul Wu Ying.

“Ah–“

Wu Ying menjerit dan jatuh ke tanah, kulitnya pucat pasi. Tulang bahunya remuk.

Kakak senior kedua, He Ling, memiliki akar spiritual angin yang berbeda, temperamen yang tidak berperasaan, dan tidak mentolerir untuk mendengarkan omong kosong siapa pun. Jika dia bertemu seseorang yang tidak dia sukai, dia akan segera memukuli mereka. Dia telah menyebabkan banyak gangguan saat bertindak untuk puncak Hui Shi. Belajar dari pengalaman menyakitkan, Liu QianMo membuatnya berkultivasi dalam pengasingan sehingga untuk menghindari dia ikut campur dalam urusan orang lain.

—— kutipan dari 《A Calamity for All Living Things》 bab lima belas.

Wen Jing dengan bingung menatap He Ling hanya untuk melihatnya meremukkan ke bawah dengan serangan telapak tangan lagi. Dia segera menjadi gelisah.

_____________________________


<< Who Dares Slander My SB – Chapter 8

Who Dares Slander My SB – Chapter 10 >>

Iklan

Satu respons untuk “Who Dares Slander My Senior Brother – Chapter 9

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s