When Love Was Blind – Bab 1

AuthorKeyikarus

**

[Chapter 1 – Melarikan Diri]

Bai Ji Chen menangis histeris saat pintu tebal dan berat itu akhirnya ditutup. Perlahan menghilangkan sosok yang dicintainya dari pandangannya.

Menepis tangan pengawal Xi, dia berlari, berharap meraih orang yang dicintainya, namun pada akhirnya hanya menabrak pintu tebal yang tertutup sempurna.

“Yang mulia…. jangan begini… yang mulia….” Raung Bai Ji Chen.

Matanya merah terang karna terlalu banyak menangis, wajahnya basah kuyup oleh air mata. Pakaian indahnya kotor oleh debu. Penampilannya sangat menyedihkan.

“Permaisuri, kita harus segera pergi. Ini akan menjadi sia-sia jika kita menunda terlalu lama.” Bujuk pengawal Xi.

“Tidak…. tidak… aku tidak bisa meninggalkan yang mulia… aku… jika tidak ada yang mulia… aku… akan tetap di sini.”

Bai Ji Chen terisak-isak, memukul pintu dengan lemah. Akhirnya dia hanya bisa terduduk dilantai dan menunduk. Tangannya memukuli dadanya yang sesak karena rasa sakit.

Tangisannya menyendat setiap kata, hingga akhirnya dia tidak bisa bicara sama sekali. Hanya isakan pilu yang terdengar diantara tiga orang di lorong gelap itu.

Setelah cukup lama, akhirnya pengawal Luo yang mendekati Bai Ji Chen.

“Permaisuri, kita harus pergi. Anda tidak boleh menyia-nyiakan kasih sayang yang mulia. Anda harus hidup. Hanya dengan hidup, anda akan tahu apa yang bisa anda lakukan untuk yang mulia kaisar.”

Dengan nada lembut, pengawal Luo membujuk Bai Ji Chen.

Isakannya berkurang, Ji Chen menunduk, menyembunyikan matanya yang penuh penderitaan dan dendam.

Setelah semua usaha dan kesulitan yang dia alami bersama Kaisar, pada akhirnya hanya sampai sini, tidak ada kebahagiaan di ujung jalan.

Jika tidak ada kaisar yang dipujanya, bagaimana cara dia hidup? Jika tidak ada kaisar yang dicintainya, kenapa dia hidup? Jika tidak ada kaisar nya, untuk siapa dia hidup?

Pada akhirnya, Ji Chen kembali menangis. Menjerit histeris merasakan dadanya yang terhimpit hingga akan pecah. Betapa menyakitkan. Sangat menyakitkan.

Kedua pengawal disisinya menatap sedih permaisuri kekaisaran mereka. Setelah saling pandang sejenak, pengawal Xi mengangguk. Lalu pengawal Luo tanpa meminta persetujuan Ji Chen membopongnya, membawanya pergi melewati lorong sempit yang panjang.

“Lepaskan! Jangan sentuh aku! Hanya kaisar yang bisa menyentuhku! Lepaskan!” Jerit Ji Chen sembari memukul-mukul pengawal Luo.

“Maafkan saya permaisuri, janji kami pada kaisar adalah memastikan anda dan calon bayi anda selamat. Bagaimanapun caranya.”

Mengingat calon bayinya, pada akhirnya tubuh kaku Ji Chen melemas. Dia meringkuk dipelukan pengawal Luo. Isakan lembutnya masih terdengar menyedihkan. Namun tangannya kini memegang perutnya. Mencengkeramnya dengan penuh tekad untuk bertahan hidup.

Dua pengawal itu akhirnya lega setelah melihat Bai Ji Chen tenang.

Lorong yang mereka lewati hanya memiliki cahaya obor ditangan pengawal Xi sebagai penerang. Ini adalah jalan rahasia dari istana menuju tempat yang aman diluar.

Kekaisaran Wu sedang dalam kekacauan karena penyerangan mendadak oleh kekaisaran Lu. Itu terjadi sejak tiga hari lalu. Tentara yang tidak siap dibantai, karena kalah jumlah, kekaisaran Wu hanya bisa menderita kerugian.

Kaisar Wu Lin memerintahkan dua dari pengawal Khususnya untuk membawa permaisuri dan calon bayinya melarikan diri dari lorong rahasia.

Hanya dua pengawal adalah taruhan besar. Jumlah kecil akan mudah luput dan lolos dari pantauan pasukan kekaisaran Lu. Namun jumlah kecil jelas akan tak berdaya jika tertangkap. Dan tugas pengawal Xi dan Luo adalah jangan sampai tertangkap.

Selagi diistana kaisar menahan pasukan Lu dengan hidupnya untuk membiarkan permaisurinya memiliki waktu melarikan diri sejauh mungkin, pengawal Xi dan Luo sama sekali tidak bisa bersantai.

Tanggung jawab mereka seberat gunung.

Setelah berjalan cepat selama satu jam lebih, mereka akhirnya melihat jalan keluar. Beruntung tubuh Bai Ji Chen ramping dan ringan, hingga sama sekali tidak menjadi beban untuk langkah pengawal Luo.

“Tunggulah disini bersama permaisuri, aku akan memeriksa keadaan di luar.” Ucap pengawal Xi.

Pengawal Luo menurunkan Ji Chen dengan lembut. Dia dengan bingung menatap permaisuri yang masih saja sesenggukan. Setelah ragu beberapa saat, akhirnya dia hanya bisa mendesah dan membiarkannya. Memilih waspada pada lingkungan sekitar.

Disisinya, Ji Chen duduk dengan anggun. Kali ini isakannya benar-benar berhenti. Dia membersihkan wajahnya. Hatinya berharap kaisarnya akan selamat. Tentu sangat tidak bagus jika saat kaisar menjemputnya nanti, penampilannya tidak sedap dipandang.

Melihat ketenangan dan keanggunan permaisuri sudah kembali, diam-diam pengawal Luo mendesah lega. Lebih mudah melarikan diri dengan permaisuri yang koperatif daripada permaisuri yang hatinya goyah.

Tak berapa lama, terdengar bunyi ranting berderak. Pengawal Luo memasang mode siaga dan menempatkan Ji Chen dibelakangnya.

Setelah menunggu, sesosok tubuh terlihat memasuki mulut lorong. Pengawal Luo langsung rileks. Dia mengenali postur temannya, itu pengawal Xi.

“Aman. Tapi kita harus bergegas ke desa terdekat dan menyamar menjadi penduduk. Berbaur lebih baik. Itu akan memudahkan saat mencari informasi.”

Pengawal Luo mengangguk setuju mendengar usulan pengawal Xi. Kini mereka berdua menatap permaisuri, bersiap membujuknya lagi.

Namun, Bai Ji Chen bukan orang bodoh. Dia tahu maksud mereka dengan baik. Tentu saja dia juga ingin segera mengetahui kabar tentang kaisar tercintanya.

Bai Ji Chen beranjak dari duduknya, menatap dua pengawalnya dengan teguh.

“Aku tidak akan mempersulit kalian. Katakan saja apa yang harus aku lakukan tanpa ragu dimasa depan.”

“Terima kasih, permaisuri.” Ucap pengawal Xi dan Lui bersamaan.

“Maka kita harus bergegas.” Ucap pengawal Xi memimpin jalan. Bai Ji Chen mengikutinya tanpa kata dan pengawal Luo menjaga bagian belakang.


<< Daftar Isi WLWB

WLWB Bab 2 >>

Iklan

6 respons untuk ‘When Love Was Blind – Bab 1

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s