Lord And Dragon – Chapter 13

Terjemahan Indo oleh @IstrinyaJinLing 

Chapter 13 – The Sorrows of a Poetry-loving Lord

Sinopsis: Hutang dari menggoda selama bertahun-tahun, pasti akan kembali menggigitmu suatu hari nanti. 

.. ·: * ¨¨ *. ·: * ¨ ♡ ¨ *: ·. 48. ·: * ¨ ♡ ¨ *: ·. * ¨¨ *: · …

Setelah perang dengan Ansai berakhir, posisi kita sebagai penguasa tertinggi di benua Finanse didirikan dan diamankan dengan kuat. Kisah kami menjadi legenda, dan kami tercatat sebagai tokoh terkemuka dalam buku-buku sejarah.

Tidak ada lagi kekuatan yang mampu mengancamku di seluruh benua.

Namun, firasat bahwa sesuatu akan terjadi membuatku merasa sedikit gelisah di lubuk hatiku.

Itu adalah malam yang biasa, dan aku duduk di samping tempat tidurku ketika aku menunggu Fruys untuk datang membantuku mengganti piayama.

Kemudian sebuah pelukan dan ciuman intim, seperti biasa, dia menyelipkanku di bawah selimut, menyandarkan dahinya ke dahiku, lalu dengan lembut berbisik, “Adam, aku harus pergi. Ada beberapa urusan yang harus akutangani di rumah, dan ketika semuanya sudah beres, aku akan kembali padamu.”

Aku selalu tahu dengan kejelasan sempurna bahwa Fruys memiliki masa lalu dan sejarahnya sendiri. Bahwa dia memilih waktu ini untuk pergi karena tidak ada yang mampu menyakitiku dengan mudah lagi. Dia sudah akan pergi keluar dan telah membantuku sampai  titik ini.

Dicekam oleh kecemasan yang mengerikan, aku mengulurkan tangan dan dengan erat menangkapnya seperti anak kecil yang tidak tahu hal lain di dunia.

“Fruys, jangan pergi. Aku tidak ingin kamu pergi,” aku memohon ketika aku membenamkan wajahku di dadanya, suaraku bergetar dan hampir menangis. Aku tidaklah cengeng, tidak sama sekali; hanya saja sudah terlalu lama sejak Fruys terakhir kali membacakan puisi Haider kepadaku.

“Jadilah baik.” Suaranya masih pelan dan lembut, dan dia menggunakan bibirnya untuk mencium dan menghiburku dengan sangat lembut. Kemudian dia berkata pelan, “Aku akan kembali, tunggu aku.”

 

.. ·: * ¨¨ *. ·: * ¨ ♡ ¨ *: ·. 49. ·: * ¨ ♡ ¨ *: ·. * ¨¨ *: · …

 

Aku menemani Fruys ke pantai tempat aku pertama kali menemukannya.

Di situlah segalanya dimulai, dan di mana semuanya akan berakhir.

Aku dengan keras kepala menolak orang lain untuk ikut, kecuali kudaku Anthony – sahabat  lamaku ini dapat diandalkan untuk membawa tuan buta seperti diriku kembali ke benteng.

Ketika kami sampai, aku turun dari kudaku, Anthony, dan bergantung pada indera perabaku untuk berhadapan muka dengan Fruys. Dia tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menundukkan kepalanya untuk menciumku.

Agak sedikit memalukan karena hal semacam ini hanya terjadi di kamar kami atau di langit sebelumnya, tetapi kesedihanku atas kepergian Fruys dengan cepat melonjak dan mengubur semua hambatan. Pada titik ketika akusedang berduka yang paling menyakitkan –

Fruys menggunakan lidahnya untuk mendorong sesuatu yang keras ke mulutku lalu memaksaku menelannya.

“Fruu …” Sebelum aku bisa membuka mulut untuk menanyakan apa itu, Fruys memelukku sekali lagi dan menundukkan kepalanya untuk menggigit tengkukku dengan taring tajamnya. Pada saat yang sama, kata-kata samar keluar dari tenggorokannya, “Bisakah …  kita mencobanya dalam bentuk aslinya?”

Aku benar-benar ingin memukulnya saat itu. Sudah jelas bahwa dia tanpa malu mengambil keuntungan dari momen itu – seolah-olah dia adalah salah satu dari orang-orang yang tidak keberatan dengan permintaan mereka di tempat tidur kematian mereka.

Tapi aku tidak memukulnya. Suaraku masih tercekat dengan emosi ketika aku bertanya dengan pelan, “Bentuk asli yang tidak kecil itu?”

“Mm.” Fruys bergumam sambil memelukku.

Aku berpikir tentang bagaimana dia pergi, dan akhirnya setuju meski merasa dirugikan dan disakiti.

  • : * ¨¨ *. ·: * ¨♡¨ *: ·. 50. ·: * ¨ ♡ ¨ *: ·. * ¨¨ *: · …

 

Aku pikir kesedihanku pasti memberiku kekuatan, karena kali ini tidak buruk sama sekali. Aku tidak mengalami luka atau sakit fisik, dan yang paling penting, aku bisa tetap sadar sepanjang waktu. Bahkan rasanya masih ada sisa energi setelah selesai.

Tentu saja, itu mungkin karena Fruys menahannya.

Dia kembali ke wujud manusianya dan membantuku menunggangi kudaku. “Aku akan pergi setelah aku melihatmu pergi,” katanya.

Aku setuju dan mendesak Anthony untuk membawaku kembali.

Ketika aku berpikir bahwa kami sudah cukup jauh dari pandangan Fruys, aku menarik kendali dan Anthony berhenti.

Aku duduk di sana, menunggu, sampai aku bisa mendengar suara sayap yang familiar yang bergema di langit. Raungan naga yang jauh bergema di samudra, dan akhirnya, aku tidak bisa lagi menahan air mata yang kusimpan di dalam sepanjang waktu.

Pada saat itu, aku sedikit senang bahwa pendengaranku telah meningkat pesat setelah menjadi buta.

Aku berpikir bahwa aku seperti ini karena aku belum membaca puisi Haider setelah sekian lama.

Tapi kemudian aku menyadari bahwa mulai saat ini, tidak ada lagi lelaki atau naga yang akan membacakannya untuk orang buta seperti diriku.


<< LD Bab 12

LD Bab 14 >>

Iklan

4 respons untuk ‘Lord And Dragon – Chapter 13

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s