Peran Pengganti – Chapter 29

Author : Keyikarus

[Chapter 29]

 

Zino meninju Leihan yang ingin menciumnya dengan sekuat tenaga. Dia benar-benar jijik saat berpikir pria itu akan melakukan pelecehan padanya.

Karna dia sedang sangat kesal. Jadi Zino sama sekali tidak berhenti hanya memukul saja. Dia juga menendangi Leihan tanpa henti.

Postur Leihan boleh lebih besar darinya, tapi Zino lebih bar-bar dari yang terlihat. Pukulannya bukan seperti orang latihan beladiri di dojo, tapi lebih seperti ‘kalau kau tidak mati maka aku yang mati’.

Zino mengerti bagian fatal yang menjadi sasaran pukulan. Jadi mempertimbangkan kemungkinan dia kalah tenaga jika Leihan menahannya, Zino sama sekali tak memberinya kesempatan bahkan untuk menarik nafas.

Zino sedang kesetanan.

Setelah puas dan melihat Leihan tak berdaya, Zino yang gaptek memilih alternatif primitif untuk keluar dari mobil. Menendang kaca jendela hingga pecah.

Untung saja ini sudah malam, jadi tidak banyak yang mendengar keributan di mobil Leihan. Tapi saat Zino merangkak keluar dari mobil, petugas yang berdiri di pintu hotel sana menatapnya curiga.

Memanfaatkan kegelapan, Zino segera saja berlari pergi. Masa bodoh dengan yang lainnya.

Belajar dari yang sudah-sudah, berjalan sebagai seorang gadis memang sama sekali tidak aman.

Jadi Zino menelepon nomor yang sudah cukup lama terbengkalai di ponselnya.

“Kemana aja lu?” Jawaban terdengar pada dering pertama.

“Don, jemput aku.” Zino menyebutkan alamat tempatnya berjongkok seperti anak hilang sekarang.

“Eh? Sapa lu pake minta jemput segala? Mana si Zino?”

Mendengar itu Zino mendengus malas, dia menyobek kulit palsu yang menutupi alat pengubah suaranya.

“Ini aku. Jadi jemput aku sekarang.”

“Gila ya lu. Berbulan-bulan nggak kasih kabar, tahu-tahu minta jemput aja. Lu pikir alamat yang lu sebutin gak jauh apa? Butuh tiga jam cong, tiga jam!” Omel Doni.

“Eh kamu panggil aku cong sekali lagi, aku akan melaporkanmu ke polisi.”

Zino emosi. Bagaimana bisa Doni masih memanggil dia dengan nama memalukan seperti itu.

“Napa gak terima? Kenyataan muka Lu bencong. Kalo lu pake rok, semua orang gak akan tahu kalo lu cowok.”

Zino menggeretakkan giginya. Doni ini masih sangat pintar membuatnya ingin menjadi monster dan mengunyahnya sampai halus.

“Terserah! Pokoknya jemput sekarang! Bawa baju sama celana!” Zino memutuskan sambungan lalu meringkuk dibawah pohon.

Saat ini Zino sedang berada di taman kota. Daripada duduk di kursi taman, dia memilih duduk dibawah pohon. Menghindari terlihat oleh orang. Masalahnya kalau malam seperti ini kebanyakan yang lewat adalah anak teler karna oplosan. Kalau tidak ya yang ah uh ah uh disemak-semak sepuluh meter dari tempat Zino. Besok pagi pasti orang akan melihat rumpun bunga yang rusak.

Zino sangat mengenal Doni. Meski sedikit liar, Doni itu orang baik yang tidak tega melihat teman susah.

Dia terkantuk-kantuk saat melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan angka satu malam. Seharusnya Doni sudah sampai.

Sebelum Zino menggerutu, ponselnya berbunyi. Itu Doni. Zino dengan riang melangkah pergi ke pinggir jalan sambil menjawab panggilan di ponselnya.

“Dimana lu?”

Zino celingak-celinguk lalu melihat sosok yang duduk dimotor sambil menelepon. Dia memutuskan sambungannya dan berlari ke arah sosok itu.

“Don!” Panggilnya.

Doni menoleh dan kebingungan melihat seorang gadis berlari-lari menghampirinya. Tapi suaranya sangat familiar. Setelah dekat, Doni tidak bisa tidak terkejut melihat tampang cantik yang selalu dipanggilnya bencong.

Mimpi apa dia semalam bisa kejadian melihat Zino memakai pakaian perempuan. Dulu, biar dipukuli sampai matipun Zino tidak akan mau dipaksa memakai gaun!

“Apa-apaan cara melihatmu itu?” Ucap Zino dengan galak.

“Alah cantek, galak amat. Sejak kapan lu ngomong pake bahasa formal?” Doni mencolek dagu Zino menggoda.

“Jangan bertingkah! Mana bajunya?” Zino dengan kasar mengusap dagunya.

“Gak usah gantilah, gini aja udah cantek kok.”

“Kau! Berikan bajunya!” Zino dengan bringasan menendang-nendang kaki Doni.

“Oke. Stop. Lu makin sadis cong.”

Dengan menyesal Doni menyerahkan pakaian yang dibawanya pada Zino. Padahal dia belum memamerkan penampilan Zino pada teman-temannya. Itu pasti akan membuat heboh.

“Jangan panggil aku cong!”

“Terima kenyataan aja napa.”

Dengan sadis Zino memukul kepala Doni sebelum mengganti pakaiannya. Siapa yang menyangka jika panggilan itu adalah kutukan.

Beberapa tahun lalu dia bisa bersikeras tidak akan memakai pakaian perempuan. Tapi sekarang dia dengan suka rela melakukannya demi uang!

Bukan masalah besar dia berganti di depan Doni, toh mereka sama-sama pria. Lalu membuang pakaian anak gadis itu juga rambut sambungnya. Tapi dia menyimpan yang lain. Setidaknya mereka barang mahal.

Doni nyaris pingsan karna kebanyakan tertawa saat memegang dada palsu Zino. Bahkan dengan nakal anak itu memakainya didadanya sendiri selama perjalanan kembali.

Setelah sedikit keributan itu mereka menuju tempat tinggal Doni. Ini juga kampung halaman Zino.

Saat Doni bertanya tentang apa yang terjadi, Zino menceritakan tentang kembarannya dan abangnya yang mencari dirinya. Menceritakan kesepakatan mereka. Menceritakan apa saja yang dialaminya bersama Alice, Jean, Mio, Kamilla, Rua, Leihan, Zinan dan para orang tua.

Tanpa disadarinya, pemuda itu paling banyak menyebut nama Zinan. Entah itu untuk makian atau pujian tentang betapa banyaknya uangnya.

Terakhir dia menceritakan masalahnya dengan Jean dan apa yang dilakukannya pada Leihan.

Tentu saja dia mengatakan itu semua dari sudut pandang penilaiannya.

Doni hanya menanggapi sesekali dengan pertanyaan tentang hal yang menurutnya belum jelas. Sisanya dia mendengarkan cerita Zino dengan baik.

Dia jadi mengerti kenapa ada orang aneh berpakaian rapi yang menanyakan Zino padanya sebelum dia pergi menjemput temannya ini. Tapi dia sama sekali tidak menceritakan hal itu pada Zino. Takut membuat temannya itu panik.

Zino hanya cemberut saat Doni berkomentar tentang penampilannya yang sangat cantik.

Mereka sampai dirumah Doni saat adzan subuh berkumandang.

Doni tinggal bersama kakak perempuannya yang sudah berkeluarga. Hanya saja karna Doni selalu pulang dan pergi tak tentu waktu, kakaknya yang memiliki anak kecil mengatur agar pintu kamar Doni berada di bagian luar. Sehingga tidak mengganggu istirahat mereka.

Kakak Doni bekerja sebagai karyawan pabrik tempe rumahan, dia berangkat jam delapan dan pulang jam satu siang. Biasanya di jam itu Doni harus dirumah untuk menjaga anaknya. Mungkin inilah yang membuat Zino mudah dekat dengan anak kecil, dulu kebanyakan dia yang menjaga anak kakak Doni yang baru berusia tiga tahun. Sebagai informasi, Zino pergi dari sini belum setengah tahun.

Sedangkan suami kakak Doni bekerja sebagai buruh pabrik roti yang letaknya sedikit lebih jauh dari rumah mereka.

Mereka adalah keluarga sederhana yang baik. Setidaknya jika itu mengabaikan betapa cerewetnya kakak Doni.

“Gue mau tidur, ntar lu yang jagain Bima.” Perintah Doni yang langsung ambruk di kasur.

“Kenapa aku? Aku juga capek tahu!”

“Gue yang nyetir enam jam. Motor gue hampir jebol tuh. Gak mau tahu, pokoknya lu yang jaga Bima.” Tandas Doni mengabaikan protes Zino.

Hal ini tentu saja membuat Zino mencibir, bagaimana bisa dimanapun tempatnya berada dia selalu ditindas?

*****

 

Zinan meletakkan orak-arik telur di meja untuk sarapan. Dia pikir akan lebih baik jika ada Vivian. Tidak apa-apa meskipun gadis itu hanya memasang wajah cemberut.

Memikirkan ini Zinan merasa dirinya konyol.

Dia menyantap sarapannya sambil memainkan ponselnya. Menimbang-nimbang apakah akan menghubungi Vivian atau tidak.

Jangan berpikir Vivian yang memberinya nomor ponselnya dengan suka rela, gadis itu terlalu pelit. Jadi Zinan mencurinya saat dia lengah.

Saat Zinan membelikannya ponsel, Vivian dengan keras kepala menolak dibelikan kartunya sekaligus. Jadi Zinan hanya memiliki opsi mencuri nomornya.

Zinan menghela nafas. Baru tadi malam bertemu dan dia sudah merindukan gadis itu lagi. Perasaan ini sungguh konyol.

Meski begitu dia akhirnya menekan tombol panggil. Beberapa saat menunggu, panggilannya sama sekali tak dijawab.

Dia melakukan itu beberapa kali lagi hingga yakin bahwa Vivian mengabaikannya.

Zinan mendengus. Apa gadis itu berpikir dengan mengabaikannya bisa menghindarinya? Itu justru membuat Zinan bersemangat mengambil cicilannya.

“Baiklah. Gadis nakal ini perlu hukuman yang lebih baik lagi agar tidak menjadi pembangkang.” Gumam Zinan sebelum meletakkan piring kosongnya di mesin cuci piring bersama barang kotor lainnya.

Setelah menghabiskan jusnya, Zinan berangkat ke kantor.

*****


<< PP 28

Iklan

8 respons untuk ‘Peran Pengganti – Chapter 29

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s