Peran Pengganti – Chapter 28

Author : Keyikarus

[Chapter 28]

 

“Cantek… ayo maen sama abang….”

Ini bukan hal asing baginya, justru dulu saat dia masih bersama Doni dan yang lain, dia ikut tertawa menggodai seorang gadis yang lewat.

Hanya saja situasinya saat ini pasti akan lebih dari sekedar digoda. Aura dua pria didepannya terasa menjijikkan, seolah Zino bisa membaca pikiran mereka. Terlebih sepertinya dua pria itu baru selesai menenggak minuman oplosan. Khas anak muda miskin yang ingin terlihat keren.

Dulu Doni juga pernah mengajaknya minum minuman oplosan. Tapi hanya sekali mencicipi membuat Zino ingin muntah. Lebih enak cendol di simpang dekat rumah Mei.

“Minggir!” Zino mengusap wajahnya dan mendorong dua orang itu ke samping lalu lewat dengan acuh tak acuh.

Dua orang itu oleng, namun tetap berusaha berdiri dengan benar.

“Alah cantek… sombong amat….”

Zino risih mendengar dua orang yang mengikutinya sambil tertawa-tawa. Cara jalan mereka sangat tidak stabil, jadi tidak begitu mudah mengikuti langkah cepat Zino.

Saat mendengar ocehan dua orang mabuk itu semakin parah, Zino berbalik dengan wajah galak dan mengacungkan jari tengahnya.

Tapi namanya juga orang mabuk, mereka hanya tertawa senang dan terus mengikuti Zino.

Sebagai pria, Zino sama sekali tidak khawatir. Yang mengikutinya hanya dua orang mabuk yang sempoyongan, jika keadaan memburuk, kakinya masih sanggup berlari cepat.

Setelah cukup lama dia berjalan di trotoar, Zino menoleh ke belakang dan tak mendapati dua pria mabuk tadi mengikutinya. Sepertinya mereka tertidur entah dimana.

Ketika Zino berniat meneruskan langkahnya, silau lampu mobil menyorotinya. Zino mengangkat tangannya menghalangi cahaya yang terlalu menyakiti matanya.

Pemuda itu menatap curiga mobil yang melambat dan berhenti saat tepat berada disisinya.

Sebelum Zino melangkah pergi untuk menghindari masalah, pintu mobil dengan cepat terbuka. Sosok tegap keluar menghampiri Zino. Itu Leihan.

“Apa yang kamu lakukan disini?”

Zino menatap Leihan dan kembali cemberut.

“Tolong jangan bertanya.”

Leihan menatap Zino beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Masuk ke mobil, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi jika kau berjalan sendirian malam-malam.” Leihan menggiring Zino yang dengan patuh mengikutinya.

Setelah memasangkan seatbelt, Leihan berputar masuk ke kursi pengemudi. Dan menjalankan mobilnya.

“Kau mau kemana sebenarnya?” Tanya Leihan sembari melirik gadis manis yang masih cemberut itu.

Beruntung saking marahnya saat Zino pergi dia tak sempat mempreteli aksesorisnya sebagai Vivian. Jika tidak, Leihan akan mengetahui penyamarannya.

Meski Zino sekarang sangat marah pada Jean, bukan berarti dia senang jika posisi Jean menjadi sulit karna penyamarannya terbongkar.

Jika tak ada pilihan selain terbongkar, Zino ingin sama sekali tidak terlibat secara langsung dalam prosesnya.

“Pergi.”

Leihan menoleh menatap Zino. Hanya beberapa saat sebelum kembali fokus menyetir. Semakin dilihat gadis ini semakin manis. Sangat sulit untuk mendapatkan kesempatan berduaan seperti ini karna Jean dan Zinan selalu mengganggu. Jadi Leihan sama sekali tak mau menyia-nyiakannya.

“Kenapa tidak bersama Jean?”

Zino semakin cemberut mendengar nama pria itu.

Melihat reaksinya, Leihan menebak jika abang dan adik ini sedang bertengkar. Bukankah kesempatan bagus selalu datang disaat yang tepat untuknya?

“Baiklah aku tidak akan bertanya. Jadi kemana kau akan pergi sekarang?”

Zino berpikir beberapa saat sebelum mengatakan jika Leihan bisa mengantarnya ke halte bus saja.

Sesungguhnya dia meninggalkan uang dan buku tabungan juga kartu ATM nya di rumah Zigan. Hanya saja Zino pikir, dia bisa menjual murah ponsel yang dibelikan Zinan untuk ongkos.

“Tidak. Ini sudah larut. Kemanapun kau akan pergi, tunda itu untuk besok. Malam ini aku akan mencarikanmu hotel. Atau kau ingin ke rumahku?”

“Apa ayah dan ibumu ada?” Zino pikir akan panjang urusannya jika Ellie bertanya macam-macam dan sampai pada Loraine.

“Bukan rumah orangtuaku, tapi rumahku.”

Zino menggeleng. “Tidak usah. Aku mau ke halte bus saja.”

Dia sama sekali tidak akrab dengan Leihan. Jika tiba-tiba merepotkan Leihan seperti ini, itu akan canggung. Terlebih Zinan sepertinya tidak menyukai Leihan.

Leihan melirik gadis keras kepala yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya itu. Dia menghela nafas dan mengalihkan pembicaraan.

“Kau menyukai hadiahku?”

Zino meringis lalu mengangguk. Apa dia boleh bilang jika benda itu sudah dibuang Zinan entah kemana?

“Baguslah.” Leihan membelokkan mobilnya ke pelataran sebuah hotel.

Zino semakin cemberut. Bagaimana abang dan adik bisa sama-sama pemaksa.

Saat mobil berhenti, Zino segera meraih tuas pintu. Tapi Leihan menghentikannya.

“Kita menginap disini semalam?”

Zino menyipitkan matanya curiga. Apa maksudnya dengan kita?

“Tidak, aku mau ke halte bus saja.”

Zino berusaha membuka pintu namun Leihan menahannya. Pria itu bahkan mengunci pintu mobil. Membuat Zino memelototinya.

“Jangan begitu keras kepala. Aku tidak sesabar itu.”

Leihan mencondongkan tubuhnya ke arah Zino.

“Apa yang kau lakukan?!” Bentak Zino panik. Kenapa abang dan adik ini pikirannya begitu kotor. Dan lagi kenapa harus padanya?

“Mengambil hadiahku. Menerima dan memberi adalah aturan dasar.”

Tolong, Zino ingin tuli agar tak mendengar kalimat ini lagi.

*****

 

Jean masih duduk di sofa. Dia tak mengucapkan satu katapun saat anak buahnya melaporkan jika mereka kehilangan Zino.

Dia hanya melambaikan tangannya mengusir semua orang setelah memberi perintah untuk mendatangi setiap tempat tinggal Zino dulu. Menemui teman-teman Zino untuk bertanya.

Jean tak tahu bagaimana bisa berakhir seperti ini. Awalnya dia hanya emosi karna menemukan bukti kejahatan Zino. Dan itu bukan hanya satu.

Maksud Jean ingin agar Zino berhenti melakukan hal itu. Karna yang sedang diperankannya adalah sosok Vivian. Ya, pada akhirnya dia hanya memikirkan kebaikan Vivian.

Jean mendesah mengingat wajah terluka Zino. Mungkin anak itu benar, dia hanya menyewa jasanya, dia yang membutuhkan Zino sama sekali tak berhak menghakiminya.

Tapi Jean membenci Zino yang melakukan hal buruk demi uang!

Setelah teriakan Zino, Jean seolah baru tersadar jika kesepakatan mereka akan memiliki akhir. Zino sudah berkeliaran disekitarnya berbulan-bulan, membuatnya terbiasa atas kehadiran anak urakan itu.

Jean pikir Zino akan mendengarkannya, bukan melarikan diri seperti ini. Kejadian ini menyadarkannya jika dia dan Zino adalah orang asing. Hubungan mereka hanya didasarkan pada kebutuhan. Hubungan seperti ini bisa berakhir kapan saja.

“Papa…”

Panggilan lirih itu mengembalikan pikirannya ke kenyataan. Jean melihat Mio dengan takut-takut mendekatinya.

“Ada apa sayang? Kenapa bayi kecil ayah belum tidur?”

Jean bermaksud meraih Mio ke pelukannya. Namun putrinya itu mundur selangkah. Membuat perasaan Jean sangat tak nyaman.

Dia tahu Mio sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Putrinya tidak memiliki keakraban seperti anak lain dengan orang tuanya.

Dia hanya fokus pada apa yang disukainya saja.

“Di mana bibi? Bibi tak ada di kamarnya.”

Pertanyaan Mio membuat Jean kebingungan harus menjawab apa. Dia tidak ingin mengecewakan putrinya. Tapi dia juga tidak bisa begitu saja membawa kembali Zino yang marah.

“Bibi pergi sebentar, dia akan segera kembali. Tapi dia berpesan agar Mio tidur lebih dulu.”

Mio menatap Jean lalu menatap pintu. Setelah berkedip beberapa kali, gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya dan melangkah ke kamar Zino.

“Tidur di kamar papa, oke?” Jean meraih tangan putrinya membujuk.

“Aku dan bibi berjanji tidur bersama. Mimi sudah menungguku, dan kami akan menunggu bibi.”

Jean merasa tak berdaya. Putrinya begitu melekat pada Zino. Dan dia sudah membuat Zino pergi.

“Baiklah, papa akan menemanimu.”

Mio mengangguk.

*****


<< Peran Pengganti 27

Iklan

10 respons untuk β€˜Peran Pengganti – Chapter 28’

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s