Ignorant Prince – Bab 4

Author : Keyikarus

[Chapter 4 – Festival Prada]

Istana kerajaan Prada dan ibukota kerajaan prada tidak terletak di satu tempat. Itu hanya berdekatan. Sementara istana terletak dipuncak bukit, ibukota terletak di kaki bukit tepat didepan istana.

Ketinggian bukit hanya berkisar dua ratus meter dengan kemiringan sekitar enam puluh lima derajat. Kondisi ini membuat istana sebagai satu-satunya bangunan diatas bukit.

Untuk mencapai ibu kota, mereka harus melewati jalan yang melingkari bukit. Itu dibuat agar menurunkan tingkat kecuraman dan lebih aman.

Sebenarnya ada lift khusus yang berada didalam gua dan bisa langsung mengangkut sampai ke halaman depan istana. Lift itu ada dua, satu pengangkut barang dan satu pengangkut manusia. Ini hanya untuk keadaan dan orang-orang tertentu.

Lalu ada tembok setinggi lima meter yang mengelilingi keseluruhan kaki bukit. Itu hanya memiliki satu pintu utama di bagian depan dan satu pintu kecil dibagian belakang bukit.

Meski begitu, penjagaan dikedua pintu sama ketatnya.

Gerbang depan memiliki pos pemeriksaan bagi siapapun yang masuk atau keluar. Tentu saja mereka akan mengenali orang-orang penting kerajaan Prada hingga tidak akan menyulitkan.

Setelah keluar dari gerbang depan, maka akan ada dataran seluas hampir lima puluh hektar. Dengan sedikit pohon dan sepenuhnya berisi rumput, ilalang, dan bebungaan.

Jeha dengan lesu menunggangi kuda manisnya yang berwarna cokelat terang dengan bintik-bintik putih. Dia menamainya Joan. Karna ini, ibunya sering mengejek jika nama kudanya lebih bagus dari namanya. Sangat jahat.

Bicara tentang lesu, itu karena kemarin dia mendapatkan ceramah dari dewi lukisan, permaisuri. Dengan lugas wanita terhormat itu menyebut lukisannya sebagai monster. Membuat hati Jeha terhempas ke bumi.

Dia sangat menyarankan Jeha untuk mengalihkan fokus pada hal lain yang lebih mudah dilakukan dan lebih cepat membuat kemajuan. Sangat diutamakan hal-hal yang disukai Jeha.

Jeha sendiri tidak mengerti kenapa dia disarankan seperti itu, dia yakin dia menyukai seni lukis. Jadi bukankah itu berarti sebaiknya dia terus melakukannya? Ah, Jeha juga menyukai menulis kaligrafi, membaca, berkuda, berlatih pedang, memanah dan banyak hal lainnya.

Hahhh. Pada akhirnya dia menyukai semuanya.

“Pangeran, tolong lebih fokus.” Tegur salah satu ksatrianya yang berkuda dengan waspada disisinya.

Jeha melambai-lambaikan tangannya. Ksatrianya yang satu ini sangat cerewet. Lebih cerewet dari dua lainnya. Sebentar-sebentar bilang tolong fokus, hati-hati, perlahan saja, dan semacamnya. Terkadang itu membuat Jeha bingung, dia ini ksatria atau pengasuh?

Setelah memasuki ibu kota, Jeha turun dari kudanya. Meletakkan kudanya ditempat penitipan. Festival membuat kota akan penuh sesak, berjalan-jalan menggunakan kuda sangat tidak praktis.

“Joan, berprilaku baik dan tunggu aku kembali, oke. Kau tidak diijinkan menjadi nakal.”

Jeha menepuk-nepuk lembut kepala kudanya, lalu menyisiri rambut kuda itu dengan jemarinya sebelum pergi bergabung dengan kerumunan.

Saat ini Jeha mengenakan pakaian yang lebih sederhana. Dia terlihat seperti anak bangsawan pada umumnya. Tiga ksatrianya benar-benar waspada dan berjaga di kedua sisi dan belakangnya.

Selain menjaga serangan menyelinap, mereka juga menjaga agar Jeha tidak terlalu terdesak dan terhimpit.

Tidak menyadari kerja keras ksatrianya, Jeha dengan antusias menatap lampion yang digantung dengan tatanan cantik, pita-pita yang berkibar, tenda-tenda penjual makanan dan segala jenis barang.

“Seharusnya aku menyeret kakak ke sini. Apa asiknya menikmati festival dari istana yang tinggi itu? Huh, kakak benar-benar sama seperti ayah. Tidak punya rasa keindahan.” Gerutu Jeha.

Tiga pangeran disekitarnya hanya bisa meluruskan mulut demi menjaga agar tidak secara spontan menjawab. Pangeran Aris jelas lebih sibuk dan memiliki banyak tanggung jawab. Dan lagi, sisi mana dari pangeran Aris yang tidak memiliki rasa keindahan dibanding pangeran Jeha?

Jeha merasakan kepadatan orang semakin menjadi-jadi. Festival di Prada memang selalu memiliki daya tarik kuat untuk orang-orang dari luar. Ibu kota akan memiliki panggung utama dimana tarian dari wanita-wanita berbakat akan diadakan sepanjang malam. Pertunjukan musik, keterampilan seni lukis, bela diri dengan gerakan indah, bahkan drama akan ditampilkan satu persatu.

Pada puncaknya, akan ada kembang api dan lelang hasil panen tahun ini. Meski dikatakan lelang hasil panen, kenyataannya yang dilakukan hanya memilih yang terbaik lalu mengemasnya dalam beberapa bagian dan melelangnya. Ini adalah simbol rasa syukur, karna hasil lelang akan digunakan untuk rumah yatim piatu yang tersebar di kota.

Daya tarik lelang sebenarnya terletak pada para wanita cantik yang memegang kemasan, mereka akan secara otomatis menemani pemenang lelang barang ditangan masing-masing dimalam berikutnya. Memberikan tarian indah dan permainan musik yang menakjubkan sebagai tawaran.

Kali ini, Jeha tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Tahun-tahun yang lama, pengawalan ketat dan umur membuatnya tidak bisa mengikuti lelang. Kali ini dia yang sudah besar dan tanpa pengawalan ketat tentu saja akan ikut, dia sudah membongkar tabungannya untuk ini. Benar-benar tidak boleh ketinggalan.

Setelah berjalan ke sana sini tanpa henti, akhirnya Jeha kelelahan. Satu ksatrianya membawa banyak kantong berisi souvenir khas festival Prada, satu ksatria lainnya membawa kotak-kotak makanan dan satu ksatria yang tersisa membawa Jeha yang dengan lesu menyangkutkan diri padanya. Kakinya terasa membengkak dan seperti akan patah.

Tiga ksatrianya hanya bisa menghela nafas dan mencari tempat yang sedikit lapang untuk membiarkan pangeran mereka beristirahat.

Dua orang pria yang berdiri didepan kios minuman menatap empat orang yang menjauh itu. Satu dari mereka tersenyum sembari menjauhkan gelas dari bibirnya.

“Dia terlihat manis.” Komentar Yan Tian Ye.

Meski Jeha sudah memakai pakaian untuk anak-anak bangsawan biasa, kecantikannya dan daya tariknya sama sekali tidak pudar. Itu masih terlalu mencolok dibandingkan nona muda dan tuan muda dengan berbagai perhiasan dan pakaian mewah.

Tian Ye sudah memperhatikannya diam-diam sejak pertama kali melihat Jeha yang membeli pernak-pernik dengan semangat. Seperti tuan muda yang biasanya terkurung dan akhirnya miliki kebebasan. Benar-benar mengambil semua yang dilihat.

“Hm. Tapi lain kali, kau harus meminta yang mulia kaisar agar membuat Prada memberlakukan perawatan yang tepat untuk orang-orang khusus.”

Prada membuka akses seluas-luasnya untuk wisatawan luar saat festival yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Namun mereka tidak memberikan pelayanan khusus, membiarkan siapapun melepaskan tandu mewah dan kereta mewah mereka di pintu masuk dan membaur sebagai pejalan kaki. Tidak peduli apapun statusnya.

Karna pada dasarnya Prada tidak pernah memberikan undangan resmi pada siapapun.

Seandainya ada yang menginginkan undangan itu, Prada akan lebih merasa nyaman mengundang beberapa penari dan pedagang terbaik ke istana sebagai gantinya. Itu akan menjamin keselamatan bagi tamunya.

Karnanya, jika para wisatawan menginginkan perawatan khusus raja, mereka akan berakhir merayakan festival di istana yang membosankan.

Hanya beberapa kali orang-orang pernah melihat perawatan khusus Prada saat festival. Itu untuk kedua pangerannya yang saat itu masih dibawah umur. Tentu saja mereka tidak bisa melihat secara jelas dua pangeran itu karna pembersihan. Sangat disayangkan.

Namun beberapa tahu belakangan ini, tidak pernah lagi pangeran atau keluarga kerajaan turun dan membuat pemandangan canggung seperti itu.

“Entahlah. Kerajaan Prada terlalu dimanjakan oleh yang mulia kaisar.” Gumam Tian Ye. Di dalam hati dia berpikir mungkin sama dimanjakannya dengan tuan muda yang sampai digendong itu.

Tian Ye dan temannya berjalan santai mengikuti Jeha yang duduk di sebuah undakan tangga rumah penduduk. Tangannya memegang minuman hangat dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Malam di musim gugur cukup dingin untuk membuat Jeha bergetar.

“Pangeran, lebih baik kita kembali ke penginapan.” Bujuk salah satu ksatrianya.

“Tidak bisa begitu. Aku harus ikut lelang. Bagaimana bisa aku melewatkannya?” Komentar Jeha sambil cemberut.

Wajah merah karena kedinginan, mata besar yang penuh keluhan, dan bibir merah yang cemberut. Itu tak lepas dari perhatian Tian Ye. Dia tidak tahu jenis keluhan apa yang bocah lelaki itu ucapkan pada orang-orang yang seperti pelayannya. Hanya jelas bahwa mereka sedang berusaha membujuk dan membuat bocah itu semakin kesal.

“Tatapanmu bisa melubangi wajahnya. Meski dia memiliki kecantikan yang menarik, dia terlihat masih bayi. Jadi berhentilah melihatnya seperti penjahat mesum.” Gerutu Qian Tong yang hanya ditanggapi dengan tawa ringan oleh Tian Ye.

Sementara disisi lain, pengawalnya yang menyerah membuat senyum Jeha melebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang mungil, wajahnya terlihat puas dan riang.

“Qian Tong, selidiki dia. Namanya, usianya, keluarganya, semuanya.” Mata Tian Ye menyipit. Menurutnya, jika wajah itu terekspos di kalangan bangsawan kekaisaran, maka akan membuat kegemparan. Bukan tidak mungkin akan ada perselisihan karnanya. Kecantikan benar-benar bisa mengguncang negri.

Jeha yang di amati dengan intens sama sekali tidak memiliki kesadaran. Sementara tiga pengawalnya berkali-kali tegang dan waspada. Tempat ini terlalu ramai. Mereka sulit menentukan darimana ancaman ini berasal. Bujukan agar Jeha kembali ke penginapan sama sekali tak digubris. Sepertinya mereka harus meregangkan otot lebih lagi, agar selalu siap dengan kemungkinan apapun yang bisa terjadi.

Setelah satu pengamat, masih ada pengamat lainnya. Dengan pakaian ketat serba hitam, sabuk kulit berukiran emas dan rambut terikat rapi menyerupai ekor kuda, dia berdiri dibalik jendela dengan pola ukiran. Mengamati Jeha dan Tian Ye dalam diam.

Jika di perhatikan maka akan terlihat Jika dia lebih lama mengamati Jeha dari pada Tian Ye. Berkali-kali pupilnya berkontraksi melihat bocah itu.

“Ayo! Lelang akan segera dimulai. Kita harus mengambil tempat dibagian depan.” Ucap Jeha penuh semangat. Sepertinya dia telah melupakan rasa sakitnya.

Tiga ksatrianya saling lirik dan semakin waspada. Insting mereka benar-benar buruk. Sementara satunya diam-diam mencari diantara kerumunan, yang lainnya berusaha memastikan Jeha tetap dalam jangkauan mereka.

Meski sudah berusaha, pada akhirnya Jeha masih tidak bisa mendesak mendekati panggung dan mendapatkan tempat duduk. Karna terlalu banyak orang, tempat duduk yang tersedia tidak mencukupi dan petugas keamanan mengatur mereka yang berdiri menjadi tiga bagian panjang. Tidak ada barisan, itu hanya tiga kerumunan yang memanjang dari baris akhir tempat duduk.

“Ini tidak adil. Kenapa aku begitu pendek?” Keluh Jeha. Dia berjarak lima orang dari kursi terakhir.

“Anda akan tumbuh tinggi dalam beberapa tahun.” Hibur salah satu ksatrianya.

“Kenapa itu datang dalam beberapa tahun sedangkan aku butuhnya saat ini. Bagaimana kalau aku mengangkat tanganku dan mereka tidak bisa melihat?”

Orang-orang yang mendengar itu tak bisa menahan senyum. Begitu juga Tian Ye yang berada dibelakangnya dengan dua orang asing diantara mereka.

Tiba-tiba gumaman memudar saat seorang pemandu acara menaiki panggung besar yang memiliki lima puluh wanita dengan kemasan besar hasil panen ditangan mereka.


<< Ignorant Prince 3

Iklan

10 respons untuk ‘Ignorant Prince – Bab 4

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s