Oh! Juena – Chapter 15

Author : Keyikarus

Note : Oh! Juena Chapter 14 mode PRIVAT, hanya khusus yang ikut Event, jadi jangan tanya kenapa Chapter 14 kaga update disini yaa wkwkwk πŸ˜€


[Chapter 15]

 

Ingatan yang dilihat Yanzi membuatnya berkeringat, panas bahkan tegang. Siapa yang menyangka jika hantu akan juga memiliki hasrat meniduri manusia. Bahkan sampai yang orientasi minoritas.

Selanjutnya gambarannya nyaris sama. Mas Kun merawat Alan dengan baik, memberinya makan, alat lukis dan segala yang Alan minta termasuk mendatangkan peri yang dilihatnya tadi untuk dilukis Alan.

Hanya ada dua hal yang tidak diberikannya kepada Alan. Keluar kamar dan pakaian. Kapanpun Alan kedinginan, dia hanya bisa menyusup ke dalam selimut tebal yang ada.

Yanzi harus membungkuk mengetahui seberapa besar tingkat kekotoran otak mas Kun. Kapanpun dia datang menemui Alan, dia akan duduk diam mendengarkan Alan berceloteh meminta ini itu lalu mengabulkannya saat kedatangan berikutnya. Setelah puas mendengar Alan berceloteh, maka dia akan dengan pasti menekan Alan dibawahnya lalu menggoyangkan pinggulnya dengan kasar.

Bagi Yanzi, yang paling mengerikan adalah Alan sama sekali tidak terlihat mengalami kerusakan mental. Meski terkadang dia marah karna mas Kun menindihnya saat dia belum selesai melukis, namun hampir pasti pria itu beradaptasi dengan baik. Terlalu baik hingga tampak mengerikan.

Setelah gambaran dikepalanya mengabur, Yanzi akhirnya bisa melihat sekitarnya dengan jelas lagi. Β Fenomena melihat ingatan seseorang ini benar-benar praktis. Seperti halnya menonton film.

Semakin Yanzi mengenal Juena, semakin dia dikejutkan oleh hal-hal baru yang nyata meski tidak masuk akal.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Juena ringan. Pria mungil itu menatap Yanzi seolah menunggu reaksinya.

“Ya.” Sahut Yanzi sedikit tak berdaya.

Jika bahkan Alan sendiri baik-baik saja, bagaimana mungkin dia keberatan. Hanya saja dia mulai khawatir dengan mulutnya yang tanpa rem. Saat kembali nanti, mungkin pria itu akan langsung keceplosan didepan kakeknya. Dan membuat pria tua itu terkena serangan jantung lalu menjadi hantu.

Mengetahui fakta ini membuat Yanzi berpikir, bagaimana seandainya jika dan hanya jika yang diinginkan mas Kun adalah dirinya atau Rory?

Yanzi tidak bisa tidak bergidik. Dia melemparkan pemikiran itu jauh-jauh ke bagian belakang kepalanya saat mendengar suara jernih Juena.

“Sebenarnya aku tidak tahu apa yang dibutuhkan mas Kun dari semua orang yang ditahannya selama tiga bulan. Tapi kau jangan khawatir, aku sudah berpesan agar orang-orang yang ditahannya tidak sampai kehilangan rohnya.” Juena berkata dengan ringan. Seolah yang dibicarakan bukan tentang kematian atau penjajahan hidup seseorang.

Yanzi mengikutinya disisi bocah itu dan bertanya: “Orang-orang? Bukan hanya Alan saja yang pernah ditahan oleh Kuntilanak itu?”

Juena menggeleng. Seharusnya Yanzi sudah menduga ini. Karna Juena sangat terlihat terbiasa dengan hal ini. Dia tidak akan bertanya berapa banyak orang yang sudah ditahan mas Kun dan bagaimana keadaan mental mereka. Sisihkan Alan, dia makhluk langka.

“Apa maksudmu tidak tahu yang dilakukan Kuntilanak itu pada setiap orang yang ditahannya? Bukankah kau tuannya?”

Juena melirik Yanzi, saat ini mereka sudah hampir sampai di gubuk. Kerlap-kerlip kunang-kunang memasuki pemandangannya.

“Mmn. Aku tidak tertarik untuk tahu. Tapi ku pikir jika hanya memakan energinya, itu bisa ku bantu hingga batas yang bisa diambil. Seharusnya mas Kun tidak usah repot-repot menahannya. Dan membuat aku menerima banyak pertanyaan dari teman orang yang ditahannya.” Juena cemberut. Wajah mungilnya jadi terlihat semakin menggemaskan. Terutama bibir merah yang mengerucut lucu, Yanzi ingin memakannya.

Dia tidak menyangka jika Juena tidak tahu bagaimana kotornya otak mas Kun dalam memperlakukan orang yang ditahannya. Beruntung Juena adalah tuannya yang membuatnya tidak bisa dengan begitu brutal menindihnya. Atau sebenarnya mas Kun hanya melampiaskan hal yang tidak kesampaian dilakukannya pada Juena?

Benar, jika dia saja tergoda menindih Alan, mengapa dia tidak tertarik menindih Juena yang begitu imut dan dilihatnya setiap hari?

Memikirkan ini membuat wajah Yanzi menjadi jelek. Begini lebih baik. Dia akan memberi Alan perawatan yang baik asal dia bisa terus bersama mas Kun agar hantu berpikiran kotor itu tidak pernah membayangkan melakukannya pada Juena.

Yanzi berpikir sebentar lalu menanyakan hal yang membuatnya tertarik, “Apa semua hantu milikmu melakukan seperti yang dilakukan Kuntilanak itu?”

Juena menghentikan langkahnya tepat sebelum menaiki tangga. Dia menoleh dan menatap Yanzi dengan mata heterokromnya yang seperti menyala dalam gelap.

“Hanya sebagian. Ah, setahun yang lalu mas piggy ikut-ikutan mas Kun melakukannya. Sayangnya, orang yang ditahannya mati pada hari ke sepuluh. Merepotkan.” Juena mengernyit, memperlihatkan bagaimana dia tidak menyukai hal itu.

Yanzi tidak bisa menebak tepatnya bagian apa yang disebut merepotkan oleh Juena. Tapi yang jelas dia merasakan ketakutan samar dihatinya. Juena masih bicara dengan ringan bahkan saat membicarakan kematian seseorang.

Beruntung mental Alan kuat, bagaimana jika dia juga mati? Apa Yanzi masih bisa menatap Juena dengan perasaan seperti ini?

“Bukankah hal seperti ini tidak seharusnya kau ungkapkan pada orang luar?” Ucap Yanzi berbisik.

Dia menyesal. Jika dia tidak mengetahui tentang ini, dia mungkin masih akan memandang Juena penuh pemujaan. Tapi sekarang berbeda. Bocah didepannya bahkan tidak goyah saat membicarakan kematian seseorang yang disebabkan oleh hantu miliknya.

Sudut pandang Yanzi pada Juena mengalami perubahan. Dia tidak tahu itu mengarah ke yang mana. Tapi dia tahu, jika Juena bukanlah sosok sesederhana yang terlihat.

“Tidak ada hal yang perlu disembunyikan. Itu adalah fakta. Jika kau ingin membenciku karna hal-hal yang aku katakan, itu bukan masalah bagiku.” Tidak ada yang berubah dari Juena saat mengatakannya. Tidak nadanya, tidak juga ekspresinya. Dia hanya bicara seperti bagaimana dia bicara biasanya.

Yanzi melihat Juena masuk ke gubuknya. Entah kenapa dia merasa kecewa pada ucapan terakhir Juena. Tapi dia juga mengerti jika dia dan Juena tidak memiliki apapun selain hubungan antara yang menolong dan meminta tolong.

Sejujurnya, dia masih memiliki perasaan ingin terjerat degan bocah itu seperti mas Kun dan Alan. Tapi untuk beberapa hal, hasratnya seolah ingin ditahannya. Lagipula jika Juena menolaknya maka akan ada segudang hantu yang menyerbunya. Itu adalah skenario yang buruk.

Jadi Yanzi hanya bisa berbalik ke arah tendanya.

Melihat seorang pengusaha sukses dengan suka rela tidur diluar ruangan, sungguh sangat langka. Juena harus menerima sujud banyak wanita karna bisa membuat Yanzi melakukan itu.

Yanzi menatap Rory yang tergeletak di atas selimut yang dibentangkannya. Sedangkan Devon menatap Yanzi dengan pandangan gemetar.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Yanzi.

“Y… ya tuan. Saya akan memastikan keselamatan anda.” Suara Devon jelas goyah. Tapi dengan keras kepala dia mempertahankan keberaniannya. Benar-benar orang yang layak untuk disewa.

Bicara tentang itu, Yanzi jadi bertanya-tanya apa yang dilakukan Banaspati pada dua orang ini?

Dia mengangguk kecil sebelum masuk ke tenda kecilnya dan berusaha tidur meski berlatar belakang suara hewan malam dan desisan samar-samar. Membiarkan Devon membiasakan diri dengan tempat ini karna mungkin, hanya mungkin Yanzi akan menyewanya lagi. Yanzi sekarang sedang merasa tidak pasti dengan keinginan dan akal sehatnya.

Suasana disekitar gubuk Juena selalu cantik dipandang mata namun menakutkan bagi perasaan dan pendengaran.

Keesokan harinya, kondisi Rory dan Devon membaik. Mungkin karna siang hari, jadi Devon begitu bersemangat. Menganggap jika hantu tidak akan bisa muncul dan menyerangnya.

Rory hanya bersimpati untuk pemikiran sederhana Devon ini. Dia terlalu mempercayai tv.

Satu-satunya kesamaan Devon dan Rory adalah sama-sama ingin cepat meninggalkan tempat ini.

Semua barang bawaan sudah dibereskan. Yanzi menatap gubuk Juena. Meski dia sedikit terganggu dengan fakta jika Juena ternyata cukup kejam. Nyatanya dia masih memimpikan memakan bocah itu luar dalam.

Jadi Yanzi menaiki tangga dan berniat mengetuk pintu untuk berpamitan, namun Juena lebih dulu membuka pintu. Dia mengenakan kemeja putih yang sangat longgar ditubuhnya. Sebelah kemejanya sedikit merosot memamerkan bahu mulusnya. Karna kemeja itu cukup besar untuk mencapai pertengahan paha, Juena membiarkan dirinya tidak memakai celana.

Yanzi menelan ludahnya. Terlebih saat Juena menguap dan mengusap matanya yang berair. Itu membuat Yanzi mengeras. Dia seperti digoda dipagi hari.

Bagaimanpun dia suka saat Juena memakai semua jenis pakaian longgarnya. Bocah itu terlihat seksi sekaligus imut.

“Hei, selamat pagi.” Gumam Yanzi dengan suara serak.

“Mmn pagi.” Suara malas khas bangun tidur mengalun memasuki indera pendengaran Yanzi. Membuatnya merasa bisa orgasme kapan saja. “Aku belum menanyakan kenapa kau kemari…” lanjut Juena.

Meski Yanzi bisa mempertahankan ekspresi tenangnya, kenyataannya benda dibawahnya terlalu jujur. Membuatnya harus dengan hati-hati menutupinya dengan Coat yang dikenakannya tanpa kentara.

“Hanya ingin menanyakan kondisi Alan, dan kau sudah memberiku ingatan Kuntilanak itu. Jangan khawatir. Dan sejujurnya aku berniat membawakan emasmu, tapi aku tanpa sengaja melupakannya.”

Yanzi melupakan sesuatu? Sungguh sangat sulit dipercaya, kecuali dia menganggap hal itu remeh. Kemarin dia mengurungkan niatnya membayar lunas jasa Juena karna khawatir tidak memiliki alasan untuk datang lagi.

Juena mengangguk, menggaruk pipinya dengan satu jarinya yang menyembul dari lengan bajunya. Tersenyum kecil dia berkata, “Aku tidak buru-buru. Itu hanya untuk melapisi dinding. Jadi, tidak perlu memikirkannya.”

Jawaban Juena membuat Yanzi tercengang. Apa yang dilapisi dengan emas? Dia tahu interior gubuk Juena penuh dengan warna emas. Tapi tidak ada bagian dinding yang berwarna emas. Lagipula sangat sia-sia melapisi dinding bambu dengan emas.

Tunggu, apa mungkin yang dimaksud adalah bangunan megah tempat Alan berada?

Yanzi menatap Juena, mungkin sebenarnya bocah ini bahkan lebih kaya dari dirinya.

*****

<< Juena 13

Iklan

11 respons untuk β€˜Oh! Juena – Chapter 15’

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s