Oh! Juena – Chapter 13

Author : Keyikarus

[Chapter 13]

Yanzi memalingkan wajahnya saat Juena naik menyudahi mandinya. Dia menimbang-nimbang akan melihat dengan resiko mengeras lagi atau mengalihkan wajah seperti ini dengan resiko membayangkan seperti apa tubuh bagian depan Juena. Terutama bagian diantara kedua kakinya.

Tapi, dia pikir akan menyesal jika tidak menikmati pemandangan yang tersaji hanya karna takut mengeras. Jadi Yanzi menguatkan hatinya untuk menatap Juena.

Sayangnya dia harus kecewa karna Juena sudah memakai jubah handuk. Sedangkan pakaian yang tadi dilepasnya sudah raib entah kemana.

Seharusnya dia tidak perlu terlalu lama berpikir jika akhirnya menyesal seperti ini. Yanzi menggerutu dalam hati. Namun dia masih dengan teguh mempertahankan ekspresi tenangnya.

“Kau tidak harus menungguiku.” Komentar Juena ketika dia melewati Yanzi saat akan kembali ke gubuknya.

Bagaimana bisa begitu? Yanzi khawatir melihat Juena berjalan sendirian didalam hutan dan sekarang dia semakin khawatir melihat Juena bisa dengan enteng telanjang ditengah hutan. Siapa yang tahu kapan ada penjahat gila yang melakukan sesuatu karna melihat Juena terlalu cantik.

“Tidak baik sendirian di dalam hutan untuk anak sepertimu.” Ini sahutan paling wajar dan modus yang bisa dipikirkan Yanzi. Dia sama sekali tidak bisa mengatakan kekhawatirannya dengan gamblang.

Juena memiringkan wajah bulatnya menatap Yanzi. Matanya berkedip beberapa kali seolah sedang mencerna ucapan Yanzi. Gerakan itu begitu imut, memamerkan bulu mata lentiknya yang berkibar. Membuat Yanzi merasa pusing.

“Aku tidak pernah sendiri. Hanya mereka tidak selalu bisa mempertahankan wujud solidnya. Kali ini Jin botol yang menemaniku. Mau melihat?”

Yanzi menggelengkan kepalanya menolak. Baiklah, lain kali dia harus selalu mengingat ini.

Tapi… betapa mengesalkannya jika memikirkan yang melihat tubuh telanjang Juena bukan cuma dia. Yanzi ingin menemukan satu saja mantra yang bisa melenyapkan para hantu hingga hanya dia yang telah melihat Juena telanjang.

“Menurutmu sebelumnya, para hantu memakan energimu, apa yang terjadi padamu?” Yanzi berusaha mengalihkan topik sekaligus mengalihkan pikirannya dari fakta mengesalkan.

Juena tersenyum, dia mengangkat tangannya hingga salah satu peri yang memiliki sinar kuning pucat hinggap di jemarinya.

“Tidak ada. Hanya kelelahan.”

“Bukankah itu merugikanmu?” Yanzi tiba-tiba merasa tak terima. Dia menghubungkan informasi Juena dengan kondisi bocah itu yang selalu mengantuk dan lesu.

“Bagaimana bisa. Mereka merawatku sejak aku dilahirkan sampai sekarang ini. Sama sekali tidak ada yang dirugikan dari hubungan kami.” Nada cemberut Juena membuat peri ditangannya tersentak dan terbang menjauh.

Yanzi terdiam. Dia masih memiliki beberapa ketidakpuasan atas kondisi ini. Tapi saat ini dia bukanlah siapa-siapa Juena. Ucapannya tidak akan berpengaruh pada bocah itu. Lagipula jika yang Juena katakan tentang merawat sejak lahir itu benar, maka akan semakin sulit memberi pengertian jika Juena adalah pihak yang dirugikan.

Ketika pikiran Yanzi mengingat bukan hanya satu hantu yang berada disekitar Juena, Yanzi semakin tidak puas. Bagaimana bisa Juena bertahan hidup jika energinya dimakan oleh banyak hantu seperti ini?

“Lalu bagaimana dengan Alan?”

Wajah Yanzi berubah menjadi suram. Masalah Juena dia tak bisa memikirkan apapun lagi saat ini. Tapi jika Alan mengalami apa yang disebut dimakan energinya oleh hantu, bagaimana Yanzi menjelaskannya pada Louis?

“Aku tidak tahu. Mas Kun….” Kalimat pertama jelas ditujukan padanya. Namun Yanzi tidak yakin Juena memutuskan kalimatnya atau memanggil mas Kuntilanak.

Dan jawabannya segera terlihat kurang dari satu menit kemudian.

Sosok mengesankan Kuntilanak pria itu muncul didepan mereka.

“Berikan aku ingatanmu tentang Alan. Dia menanyakannya.” Itu bukan permintaan, namun juga tidak memberikan nada tegas perintah. Itu hanya seperti Juena hanya mengatakannya yang bisa ditolak mas Kun jika ingin.

Semakin ke sini Yanzi semakin merasa jika Juena bukanlah orang yang sulit dan keras. Bocah ini cenderung murah hati. Tidak mudah tersinggung, kecuali saat tidurnya diganggu.

Terlebih lagi para hantu miliknya juga tidak pernah mengeluarkan bantahan. Seolah mereka hidup memang untuk memenuhi segala keinginan Juena.

Lihat saja, mas Kun dengan patuh menurunkan kepalanya agar Juena yang lebih pendek bisa menyentuh tanpa kesulitan.

Padahal jika dilihat betapa arogannya penampilan dan udara disekeliling mas Kun, dia bukanlah hantu yang mudah didominasi.

Tangan Juena seperti mengambil manik mutiara kecil dengan sinar perak dari tempat diantara kedua alis mas Kun.

Kemudian saat Juena menatap Yanzi dan mengulurkan tangannya, entah mendapat dorongan dari mana yang membuat Yanzi sedikit menundukkan kepalanya. Mempermudah Juena menyentuh bagian diantara alisnya dan mendorong mutiara ditangannya masuk.

Yanzi mengernyit merasakan kepalanya seperti menerima benda asing. Tidak terasa menyakitkan, hanya tidak nyaman saja.

“Mmn sudah boleh pergi.” Juena melambaikan tangannya dengan ringan dan mas Kun menghilang dari hadapan mereka.

Sementara itu Yanzi merasakan kepalanya semakin tidak nyaman. Pandangannya mengabur. Kelebatan gambar tak jelas terus berputar didepannya. Beberapa saat kemudian, gambar itu semakin jelas.

Itu sejak Juena mengatakan agar mas Kun mengusir dia dan Rory keluar gubuk dan membawa Alan pergi.

Mas Kun membawa Alan melewati lubang teleport-nya dan sampai disebuah bangunan yang besar dan luas. Setiap bagian dindingnya terbuat dari emas yang memiliki ukiran dengan sentuhan platinum dan hiasan mutiara.

Kau akan bisa melihat kilau warna-warni dari Berlian, Rubi, zamrud, Safir dan lainnya yang ditata sedemikian rupa dari kejauhan. Itu seperti sinar kuning terang yang memiliki titik warna-warni di dalamnya.

Mas Kun membawa Alan memasuki bangunan megah itu. Selama perjalanannya menyusuri lorong penuh lampu kristal, mereka hanya bertemu dua hantu. Satu jenis seperti Mbah Genderuwo dan satu berwujud pria tampan dengan pakaian berbulu tebal yang modis, pria itu juga selalu memamerkan senyuman menawannya. Terlihat sangat Flamboyan.

“Siapa yang kau bawa?”

Mas Kun hanya melirik pria itu tanpa menghentikan langkahnya.

“Apa mungkin itu pria mu yang baru? Bagaimana bisa kau cepat mendapatkan gantinya sementara baru sepuluh bulan lalu kau melepaskan yang terakhir?”

Untuk manusia rentang waktu itu mungkin cukup lama, namun untuk para hantu itu hanya seperti baru kemarin.

Lagi-lagi mas Kun mengabaikan ucapan pria yang sekarang mengikuti langkahnya itu. Seolah tidak menganggap penting ke-diam-an mas Kun pria itu melontarkan ucapannya lagi.

“Kali ini lebih cantik dari yang dulu. Tuan terlalu memanjakanmu.”

Mas Kun meletakkan Alan ditempat tidur lembut. Hingga saat mas Kun melepaskan tangannya yang menahan tubuhnya, Alan terlihat akan tenggelam ke dalam kasur.

Setelah menyelimuti Alan, akhirnya mas Kun melirik pria itu.

“Keluar.”

Pria itu mencibir ketika hanya mendapatkan satu balasan dingin setelah cukup lama dia bicara.

“Kenapa harus mengusirku? Apa kau akan memakannya sekarang?”

Melihat tatapan dingin mas Kun, pria itu semakin bersemangat.

“Apakah aku benar? Maka biarkan aku menonton dan berlatih. Terakhir kali aku mencoba yang seperti kamu lakukan, manusia itu mati. Jadi biarkan aku….”

Belum selesai pria itu bicara, mas Kun sudah memunculkan lubang teleport dan melempar pria itu entah kemana.

Setelah tenang, mas Kun duduk di kursi yang ada di sisi ranjang. Dia memperhatikan Alan yang masih terlelap. Dengan sabar dia menunggu hingga beberapa jam.

Sampai Akhirnya Alan menggeliat dan mengerjapkan matanya.

Mas Kun hanya duduk diam mengamati Alan yang sedang mengumpulkan kesadarannya. Dia menatap langit-langit lalu mengedarkan pandangannya. Saat matanya menatap wajah dingin mas Kun, Alan berteriak histeris.

“Kau… kau hantu… bagaimana aku… bagaimana kau…” Alan terdiam. Dia menarik telunjuknya yang dengan garang menunjuk mas Kun yang masih diam ditempatnya.

Setelah beberapa saat berkomat-kamit, Alan akhirnya menatap mas Kun lagi. Dia menelusuri penampilan mas Kun dengan baik, lalu berkomentar,

“Kenapa kau tidak menyeramkan? Lalu untuk apa aku pingsan saat pertama kali kau muncul?” Ucap Alan tidak terima.

Mas Kun masih diam saja memperhatikan Alan yang menatapnya lekat-lekat.

“Benar, matamu hanya berwarna putih. Kau hantu. Kenapa penampilanmu begitu baik? Bukankah seharusnya kau memakai pakaian lusuh? Rambut digerai acak-acakan? Bagaimana bisa kau begitu bersih dan rapi? Kau tidak memiliki jiwa seorang hantu! Pingsanku sangat sia-sia!” Protes Alan.

“Kau tidak takut padaku?” Akhirnya mas Kun mengeluarkan kata-kata.

Alan mendengus remeh. “Bagaimana bisa takut jika penampilanmu seperti ini. Lain kali berusahalah lebih seram agar menakutiku.”

Mas Kun mendekati Alan. Dengan suara datar dia mengatakan, “Karna kau tidak takut, maka aku akan langsung melakukannya.”

Alan yang tidak mengerti menatap bingung pada mas Kun sebelum akhirnya tersentak karna mas Kun meremas Alan kecil-nya.

“Apa… apa yang kau lakukan?!” Jerit Alan.

Namun mas Kun tidak memperdulikannya. Hantu itu justru merendahkan kepalanya dan menjilat leher Alan. Membuat seluruh tubuh Alan meremang.

“Kau… kau…” Alan kehabisan kata-kata dan hanya bisa merintih saat Mas Kun memasukkan tangannya ke dalam celananya dan langsung meremas dedek kecilnya.

Di dalam hati Alan meradang. Apa dia sedang diperkosa hantu? Betapapun konyolnya Alan, dia tidak pernah bermimpi akan diperkosa oleh hantu. Dia bahkan belum pernah menindih siapapun. Jadi kenapa sekarang dia harus ditindih?!

*******

<< Juena 12

Iklan

4 respons untuk ‘Oh! Juena – Chapter 13

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s