Oh! Juena – Chapter 12

Author : Keyikarus

[Chapter 12]

 

Seperti sebelumnya, Juena berjalan ke halaman. Tangannya sedikit melambai dan pohon anggur yang yang merambati pondoknya melengkung ke arahnya. Membiarkan Juena memetik beberapa buahnya dan membuat beberapa kunang-kunang berterbangan sebelum sulur itu kembali ke posisinya semula.

Juena mengulurkan sebagian anggur ditangannya pada Yanzi. Membuat yang menerima pemberiannya berpikir jika mungkin sebenarnya Juena adalah seorang pemurah. Kecuali bagian imbalan dari pekerjaannya yang lebih daripada dukun lain.

Selain itu, fokus Yanzi pada jemari ramping Juena yang terulur memberikan beberapa buah anggur padanya. Dengan sengaja, Yanzi membuat tangan mereka bersentuhan. Hanya sekejap, namun membuat Yanzi cukup puas mengingat ini adalah sentuhan pertama mereka sejak pertama bertemu.

Tidak menyadari pemikiran Yanzi, Juena justru menatap keributan yang dibuat Banaspati dan dua orang asing.

Dia menduga, mereka adalah orang yang bersama Yanzi. Jadi dengan baik hati dia mengingatkan Banaspati.

“Kau harus memetik beberapa buah untuk camilan selagi kalian mengobrol.”

Banaspati yang sedang sibuk mengatakan sesuatu pada Devon yang terus berteriak dan menyerangnya menoleh saat mendengar suara jernih Juena.

“Buah itu akan terpanggang sebelum menjadi camilan. Tuan harus memikirkan sesuatu pada apiku, ini membuatku sulit memiliki teman mengobrol.”

Juena tertawa riang mendengar keluhan Banaspati. Dengan ringan dia mengangguk-angguk berjanji.

Ekspresi Juena melelehkan perasaan Yanzi. Dia terpesona pada tawa riang bocah dukun didepannya. Ini membuatnya penasaran dengan ekspresi lain Juena saat dia melakukan sesuatu. Benar-benar mengabaikan kekacauan yang terjadi pada bodyguardnya karna keberadaan Banaspati.

Juena yang tidak menyadari pikiran cabul Yanzi dengan tenang berjalan menyusuri hutan. Tidak perlu khawatir, selalu ada cahaya yang berkumpul demi menerangi jalannya. Bukan kunang-kunang, melainkan peri-peri kecil dengan cahaya yang lebih tajam menembus kegelapan.

“Mereka ini apa?” Gumam Yanzi memperhatikan makhluk seperti manusia namun hanya setinggi ibu jarinya. Itu berpakaian sesuai warna cahaya yang dikeluarkannya dan memiliki sayap transparan. Yanzi tidak bisa melihat jelas struktur wajahnya namun dia bisa mengenali aksara sars yang terukir di dahi setiap peri.

“Mereka hantu. Sama seperti mas Kun dan mbah Gen, tapi berbeda ras. Ini hantu dari daerah barat, ras peri.”

Yanzi merenungkan ucapan Juena. Setahu dia, peri adalah makhluk mitos atau makhluk dongeng. Dia tidak menyangka jika peri termasuk ke dalam jenis hantu.

“Mereka memiliki aksara sars.”

Juena tersenyum riang mendengar ucapan Yanzi. Dia selalu senang jika membahas teman-temannya.

Ya, Juena menganggap para hantu adalah temannya meski seyogyanya mereka adalah pelayannya. Bukan karna Juena baik hati atau seperti tuan muda murah hati dibanyak cerita, melainkan sejak bayi hingga seusia ini dia hanya berinteraksi dengan mereka. Sesekali dengan para manusia yang membutuhkan bantuannya.

Juena selalu merasa dia berbeda dengan manusia karna bisa mengendalikan hantu, juga memiliki pupil vertikal yang tidak dimiliki manusia pada umunya, namun juga berbeda dengan hantu karna dia bisa bertahan didunia manusia. Tidak seperti para hantu yang membutuhkan energinya untuk mempertahankan wujud solidnya didunia manusia.

“Ya. Hantu milikku selalu memilikinya sebagai tanda. Namun tempatnya berbeda tergantung keinginan mereka.”

“Kau tuan mereka? Bagaimana kau bisa menjinakkan mereka?”

Juena cemberut mendengar istilah ‘menjinakkan’ yang digunakan Yanzi. Dengan lirih dia berkata, “Aku lebih senang menganggap mereka semua teman.”

Menyadari kesalahannya, Yanzi dengan cepat meminta maaf. Dia sama sekali tak ingin memiliki imej buruk dimata Juena. Itu akan membuang sedikit kesempatan berguling diranjang yang dia punya.

Mendengar permintaan maaf tulus Yanzi, ekspresi Juena kembali normal.

“Aku tidak menjinakkan mereka atau sejenisnya. Kau tahu, dunia para hantu itu monoton dan membosankan. Mereka kuat namun mereka tidak bisa semaju manusia. Dari awal mereka tercipta hingga sekarang, mereka masih sama. Itu yang dikatakan mas Kun padaku…”

Yanzi mengangguk. Dia memang belum pernah mendengar ada film yang menceritakan hantu, vampir dan sejenisnya yang bisa semaju manusia dalam menciptakan berbagai hal baru.

“… karna itu mereka ingin hidup di dunia manusia. Jika bisa, menjadi seperti manusia. Untuk itu dibutuhkan wujud yang solid. Sayangnya hantu tidak memiliki kemampuan itu didunia manusia. Rata-rata mereka hanya bisa mempertahankan wujud solid hanya sebentar saja. Kebanyakan hanya beberapa detik saja…”

Yanzi menatap Juena takjub. Bukan karna ceritanya melainkan karna Juena berbicara banyak padanya. Bukankah ini sebuah kemajuan yang bagus?

“Jadi, bagaimana Banaspati dan yang lainnya mempertahankan wujudnya cukup lama?” Seingat Yanzi hantu-hantu Juena mempertahankan wujudnya selama beberapa jam.

“Ah itu karna mereka secara rutin memakan energiku.”

“Memakan energi?” Yanzi seharusnya tidak terkejut mendengar hal aneh lainnya. Di sekeliling Juena sudah cukup aneh hingga bisa membuat seseorang pingsan. Mendapat satu tambahan keanehan lagi bukanlah hal besar.

“Ya. Bagi hantu dibutuhkan memakan energi untuk bisa mempertahankan wujud solid mereka di dunia manusia. Semakin murni semakin baik. Namun cara ini sangat lambat memberikan hasil. Beberapa hantu yang tak sabaran biasanya menggunakan cara kedua, yaitu memakan jiwa manusia. Itu lebih cepat. Namun cara ini memiliki kelemahan. Jika jiwa manusia itu kuat dan teguh, bisa-bisa hantu yang menelannya lenyap. Selain itu juga ada tokoh-tokoh agama yang bisa menolong manusia dan melenyapkan hantu yang akan menelan jiwanya. Sungguh berbahaya.”

Yanzi tercengang mendengar penjelasan Juena. Ada juga yang seperti itu didunia? Jadi sementara manusia tidak sadar, siapa yang menyangka para hantu sedang berusaha menggerogoti memakan energi mereka atau bahkan jiwa mereka.

Kenapa dunia terasa semakin berbahaya? Seharusnya Yanzi tidak mendengar hal ini sehingga dia masih bisa dengan tenang berbisnis dengan para kliennya. Sekarang dia akan mudah curiga jika ada hantu yang diam-diam memakan energinya atau bahkan berusaha menelan jiwanya.

“Apa itu seperti yang terjadi pada Yumi?” Tanya Yanzi.

Juena menggeleng sebagai jawabannya. “Tidak seperti itu. Meski sama-sama menelan jiwa, roh tidak bisa membunuh jiwa manusia, dan mereka hanya bisa menempati tubuh manusia itu untuk hidup kembali. Tapi hantu, setelah ditelan jiwanya, maka manusia itu mati dan hantu memiliki wujud solidnya sendiri. Namun hantu membutuhkan lebih banyak jiwa untuk ditelan.”

Yanzi semakin meragukan beberapa hal. “Maksudmu orang-orang yang meninggal itu jiwanya ditelan oleh hantu?”

Jika iya, Yanzi menduga pasti sudah banyak hantu yang memiliki wujud solid didunia manusia. Bersikap layaknya manusia dan berbaur  dengan manusia.

“Bagaimana bisa semua? Menelan jiwa bukan pekerjaan mudah. Kematian manusia kebanyakan tidak berhubungan dengan hantu. Dan hantu tidak bisa menelan jiwa yang sudah terlepas dari raganya karna itu pasti akan pudar dengan sangat cepat. Tapi kemungkinan sudah ada hantu yang memiliki wujud solid dan berbaur dengan manusia itu bisa saja terjadi.”

Yanzi terdiam. Dia menduga-duga adakah disekitarnya yang memiliki penampilan buruk selayaknya wujud solid hantu? Tapi itu tidak akan bekerja jika melihat mas Kun, wujudnya terlalu tampan dan bisa menjadi seorang model jika dia adalah manusia.

Lalu bagaimana cara mengenali wujud solid hantu yang berbaur dengan manusia?

Yanzi baru akan bertanya hal ini pada Juena namun membeku saat dia melihat Juena yang berdiri dua meter didepannya melepaskan pakaiannya.

Bocah itu melepaskan kemeja dan celana panjangnya lalu benar-benar telanjang. Dia tidak memakai pakaian dalam!

Yanzi memperhatikan bokong bulatnya yang bergoyang saat Juena melangkahkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Itu terlihat ramping dan jenjang. Begitu menggoda saat Yanzi membayangkannya melilit pinggangnya.

Dengan lapar Yanzi menatap kulit punggung yang terlihat lembut lalu turun ke bokong menggoda dan kaki rampingnya. Tatapannya terus naik turun hingga tubuh cantik itu hilang tenggelam di air sungai, hanya menampakkan kepala dengan rambut lembutnya yang bergoyang tertiup angin.

Nafas Yanzi menjadi berat, dia dengan jelas merasakan celananya penuh sesak. Bagaimana bisa Juena menggodanya tanpa memberi peringatan padanya?

Saat ini dia memiliki keinginan ikut masuk ke dalam air, meraba dan menyentuh setiap inci kulit Juena. Bahkan dia ingin menelusurinya dengan mulutnya. Menggodanya dan merasakannya lalu memasukinya.

Namun Yanzi menahan keinginannya itu saat mengingat mungkin nyawanya terbang sebelum dia melakukan apapun.

Jadi dengan berat hati, Yanzi menyembunyikan dirinya dari pandangan Juena dibalik pohon.

Membuka resleting celananya, Yanzi melayani dirinya sendiri sembari menatap Juena dengan hasrat yang berkobar.

Dia terengah-engah membayangkan tangannya adalah tangan Juena, mulut Juena dan lorong diantara bokong Juena.

Beberapa saat kemudian Yanzi menggeram rendah melepaskan hasratnya. Dia mengelapkan tangannya yang basah ke Batang pohon didepannya.

Sungguh menyedihkan. Dia menggerutu dalam hati. Lain kali dia tak akan hanya melihat tubuh lezat bocah itu. Lain kali dia akan memakannya dari luar hingga ke dalam.

******

<< Juena 11

Iklan

3 respons untuk ‘Oh! Juena – Chapter 12

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s