Peran Pengganti – Chapter 20

Author : Keyikarus

[Chapter 20]

 

Zino bangun tidur dengan lingkaran hitam dimatanya. Semalaman dia tidak bisa meredakan kejengkelannya.

Dia sudah mencuci pipinya sampai memerah tapi sensasi saat Zinan menciumnya masih ada. Pria itu menjadi mimpi buruk yang membuat Zino terbangun dari tidurnya tiap beberapa menit.

Tidak bisakah si pelit itu menahan hasrat sialannya sampai Vivian kembali?

Apa dia tidak tahu jika ciumannya membuat Zino insomnia?

Pria mana yang bisa tetap tenang mendapatkan ciuman dari seorang pria lainnya?

Bahkan Zino memiliki keyakinan jika Zinan akan menguburnya hidup-hidup saat dia tahu jika Zino pria. Itu sangat amat membuatnya gemetar.

“Bibi…”

Zino tersadar saat mendengar ketukan pintu dan panggilan Mio.

Gadis kecil ini tadi malam merengek ingin tidur dengannya. Tapi Zino sama sekali tidak membukakan pintu. Dia tidak bisa bersama Mio selagi emosinya sama sekali tidak stabil. Salah-salah akan termuntahkan pada gadis kecil itu.

Memikirkan itu, Zino bahkan menerima saat Jean mencaci makinya dari luar kamar karna membuat putrinya hampir menangis.

Untung saja Mio masih seorang yang penurut pada Jean.

“Bibi….”

Panggil Mio lagi. Suaranya lebih sedih seolah hampir menangis.

Zino tak akan tega membiarkan gadis itu terus merengek. Dengan lesu dia turun dari ranjang dan membuka pintu kamar.

Melihat bibinya, Mio langsung menghambur memeluk kaki Zino.

“Apa bibi marah? Apa bibi tidak menyukaiku lagi? Aku akan jadi anak baik bibi. Jadi biarkan aku bersamamu.”

Zino menarik nafas dan mengukir senyuman manis demi menenangkan rengekan Mio. Dia meraih Mio dalam gendongannya seperti biasa hingga gadis mungil itu tersenyum lebar.

“Mata bibi seperti panda! Apa bibi tadi malam memimpikan panda?”

Mio cekikikan menyentuh mata mengenaskan Zino.

“Aku bermimpi menghajar monster.”

Mereka berdua kembali menjadi bibi dan keponakan yang harmonis.

Selanjutnya hari-hari berlalu dengan tenang. Zino khawatir Mio akan merindukan mamanya. Namun Mio tak sekalipun mengatakan tentang mamanya.

Gadis kecil itu justru sibuk mengajak Zino memberi makan kelinci. Bermain dengan mawar hingga bunga-bunga itu setengah rusak. Memberi makan ikan koi. Dan hal-hal sejenis di halaman luas Zigan.

Entah bagaimana Zino justru merasa sedih. Dia pikir Mio terlalu acuh. Hanya fokus pada apa yang disukainya saja dan mengabaikan yang lain. Bukankah itu bukti ada yang berbeda dengan psikologisnya?

Menurut Zino, anak seusianya biasanya selalu merindukan mama dan papanya, selalu bermanja dan menuntut banyak hal dari orangtuanya.

Mio terlalu tenang sebagai anak kecil.

Tapi Zino sungguh berharap, ke depannya gadis kecil itu akan mendapatkan yang terbaik.

Saat hari minggu tiba, Jean dengan semangat mengajak Mio bersepeda ke taman.

Karna Mio ngotot ingin bersama Zino, Jean dengan berat hati memerintahkan asistennya untuk membawakan sepeda tandem tiga orang.

Hasilnya, mereka seperti keluarga bahagia mengayuh sepeda. Mio dengan manis duduk ditengah.

Karna kakinya pendek, Jean membuat pengaman darurat berupa besi pegangan di samping kanan dan kiri putrinya.

“Seperti ini seru juga.” Zino dengan ceria mengangkat tangannya ke atas. Merasakan angin pagi. Dengan nakal dia tidak mengayuh sepeda, membebankan semuanya pada Jean yang duduk paling depan.

“Ya. Bibi, bibi, lihat bunganya mekar. Bagaimana kalau kita main masak-masakan?” Seru Mio menunjuk rumpun bunga.

Zino hanya menggeleng. Dia tidak bisa membiarkan Mio membantai bunga taman kota, atau mereka akan didenda. Cukup bunga mawar di rumah Zigan saja yang menjadi korban.

Mio cemberut. Tapi hanya sedetik karna detik berikutnya dia sudah kembali mengoceh menceritakan hal-hal lain yang dilihatnya pada bibinya.

Didepan dua orang itu, Jean hanya bisa menghela nafas lesu. Fokus Mio hanya pada Zino, gadis kecil itu nyaris menganggap papanya sebagai tukang kayuh sepeda yang tak perlu diajak bicara.

Jean sedikit tersentak saat merasakan getaran ponsel disaku celananya.

Dia melihat si pemanggil dan semakin lesu. Itu si sialan Zinan. Jean mengabaikan panggilan Zinan dan memasukkan ponselnya ke saku lagi.

Tak lama kemudian ponselnya berhenti bergetar. Tapi lalu ada getaran tanda pesan singkat masuk.

Dengan malas Jean membacanya. Dan merasakan pembuluh darahnya menonjol. Zinan ini hanya untuk membuatnya mengangkat panggilannya mengancam akan membatalkan kerja sama proyek MFS.

Dia gila.

Jika kalian ingin tahu, Zinan itu selain memegang salah satu cabang perusahaan Arkanda di negara F, dia juga pemilik perusahaan IT. Perusahaan yang benar-benar miliknya tanpa satu kaitanpun dengan Arkanda.

Dan baru-baru ini Zigan menandatangani kerja sama dengan perusaan IT milik Zinan. Meski kerja sama ini bukan di bawah tanggung jawab Jean, tapi tetap saja Jean akan digilas ayahnya jika tahu menyebabkan Zinan memutuskan kontrak hanya karna tak menjawab panggilan orang menyusahkan itu.

Zinan ini terlalu semena-mena dan gila.

Ah sebagai informasi, alat pengubah suara Zino juga adalah karya perusahaan Zinan.

Maka saat ponselnya berdering lagi, Jean mengangkatnya.

“Dimana kalian?”

“Di taman. Tapi tolong jangan kemari.”

“Aku akan ke sana.”

Lihat. Betapa Zinan itu semena-mena.

Jean menarik nafas, hembuskan, tarik nafas, hembuskan, sampai perasaannya sedikit membaik.

Dia masih bisa mendengar celotehan Mio dan tanggapan Zino yang sedikit sepi jika dibandingkan.

“Zinan akan datang.”

Ucapan Jean membuat Zino tersentak. Pemuda itu melotot ganas menatap punggung Jean.

“Kenapa membiarkannya datang?! Dia itu perusuh!”

Jean hanya mendengus sebagai jawaban. Memangnya dia yang ingin Zinan datang? Jika bisa Jean ingin mengubur Zinan disuatu tempat terisolasi. Membiarkannya membusuk dengan segala prilaku gilanya.

“Sudah seminggu kalian tak bertemu. Mungkin dia rindu.”

Wajah Zino langsung pias mendengar ucapan acuh Jean. Dia sama sekali tak berharap dirindukan oleh pria.

“Suruh Vivian cepat pulang. Aku berhenti!”

“Memangnya apa yang dilakukan Zinan padamu? Dia terlihat lebih baik. Bahkan membawakanmu gitar. Sejujurnya ini sudah melenceng dari sosok Vivian.”

Zino mengabaikan gerutuannya Jean. Dia dengan lantang berteriak: “Maka cepatlah bawa Vivian kembali, sebelum Zinan memaksaku berguling di kasur! Harga diriku sedang dipertaruhkan! Kebohonganmu sedang dipertaruhkan!”

Jean terkejut. Pria itu menghentikan sepeda dan menoleh pada Zino.

Tapi sebelum dia sempat bicara, putrinya dengan polos dan penuh harap bertanya. “Bibi, bibi akan kembali kemana? Boleh aku ikut?”

Jean dan Zino menahan nafas. Sepertinya mereka harus bersyukur karna fokus Mio hanya pada kata ‘Vivian kembali’.

“Kita bicarakan ini nanti.” Jean kembali melanjutkan mengayuh sepedanya.

“Bibi, bibi akan kembali kemana? Boleh aku ikut?” Mio mengulang pertanyaannya.

“Tentu saja. Nanti setelah papamu lelah kita akan kembali ke rumah.”

Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing selama beberapa saat sebelum melihat Zinan dengan tenang duduk disalah satu kursi taman yang berada disisi rute sepeda.

Melihat mereka, Zinan dengan kalem berdiri dan menghentikan Jean.

Tanpa banyak kata, dia menurunkan Mio dari sepeda, juga menurunkan arah besi pegangan Mio yang ternyata bisa diputar, Β lalu mengangkat Zino dan memindahkannya ke tempat duduk Mio, selanjutnya mendudukkan Mio dipangkuan Zino, terakhir dia duduk manis ditempat Zino semula berada.

Zinan melakukan itu tidak sampai satu menit. Membuat Zino shock dan tersadar saat tempatnya telah berubah.

“Ayo jalan-jalan.” Ucap Zinan dengan ceria. Namun membuat kepala Jean dan Zino terkulai.

Zino tidak tahu jika Zinan bisa melakukan hal brengsek seperti menggendongnya. Dia cukup kuat.

Zinan tertawa riang melihat reaksi Abang dan adik itu.

Mereka melakukan putaran baru dirute sepeda, kali ini Zinan dan Jean sebagai pengayuh. Sedangkan Mio dan Zino duduk manis dan berceloteh.

Siapapun yang melihat pasti akan berpikir jika mereka adalah keluarga yang rukun.

Tapi itu hanya sampai Zino melihat sepasang anak manusia joging dirute sebelah.

Bukan karna mereka pasangan atau prianya tampan. Tapi karna gadisnya adalah Mei!

*****

<< PP 19

Iklan

8 tanggapan untuk “Peran Pengganti – Chapter 20

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s