Oh! Juena – Chapter 9

Author : Keyikarus

[Chapter 9]

 

Yanzi berdecak jengkel. Lain kali dia harus memikirkan alasan yang bagus untuk menahan Juena. Lalu memikirkan cara menendang pergi para hantu disekitar bocah itu. Membuat ruang agar mereka bisa lebih dekat.

Tapi…

Bagaimana bisa manusia seperti dia menendang pergi para hantu?

Merasa menemui jalan buntu, Yanzi memilih memikirkan itu nanti. Dia kembali ke kamar Yumi. Memeriksa keadaan adiknya lalu merapikan selimutnya.

Memilih melewatkan makan malam, Yanzi masuk ke ruang kerjanya. Nyaris dua minggu dia tidak menggunakan ruangan ini karna teror yang terjadi. Dan sekarang, semuanya bisa kembali seperti semula.

Yanzi berkutat dengan pekerjaannya hingga pukul satu dini hari. Seperti yang dijanjikan Juena. Tidak ada lagi hal-hal aneh yang terjadi.

Dia dengan tenang melewati lorong menuju kamarnya. Sesaat sebelum dia masuk, Yanzi menoleh menatap lorong dibelakangnya yang remang-remang karna dia hanya menghidupkan lampu tidur disudut lorong.

Menghela nafas lega, Yanzi masuk dan menutup pintu.

Tanpa disadarinya, gumpalan kabut hitam tipis bergejolak. Merambat di lorong menuju kamarnya. Bisikan rendah tak jelas terdengar sepanjang lorong. Kabut itu menelusup dari bawah pintu kamar Yanzi. Gerakannya canggung namun cepat saat bergerak seperti api yang menjilati udara di kamar Yanzi.

Fenomena yang tak disadari pemilik kamar itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum kabut tipis itu memudar. Menghilang tanpa bekas.

Keesokan paginya Yanzi bangun dengan perasaan lebih baik. Selain karna masalah teror selesai, dia juga memimpikan bocah dukunnya. Meski sedikit merepotkan karna Yanzi harus melayani dirinya sendiri sebelum mandi.

Yanzi yang sudah rapi dengan setelan kerjanya mengetuk pintu kamar Yumi. Karna tidak mendapatkan respon setelah beberapa saat, dia mengulangi mengetuk pintu kamar adiknya itu.

Sayangnya tetap tidak ada respon setelah mengetuk beberapa kali lagi. Yanzi memutuskan langsung masuk.

Begitu pintu terbuka, dia mendengar Yumi berteriak dan menutupi dirinya dengan selimut.

“Yumi.” Panggil Yanzi dengan khawatir. Meski selimut itu tebal tetap tidak bisa menyembunyikan getaran yang berasal dari tubuh menggigil Yumi.

Yanzi menarik turun selimut Yumi perlahan hingga kepala gadis itu menyembul. Dengan lembut dia menepuk-nepuk kepalanya menenangkan.

Yumi tersentak pada sentuhan pertama, namun perlahan rileks pada sentuhan berikutnya.

“Ini aku. Jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja.”

Mendengar suara Yanzi, gadis itu menengadahkan wajahnya yang masih pucat seperti sebelumnya. Matanya yang bergetar memastikan jika yang dihadapannya adalah Yanzi yang sesungguhnya sebelum dia merangsek masuk ke pelukan abangnya.

“Di mana mereka abang? Ini terlalu tenang…. aku merasa aneh. Mungkinkah mereka sedang merencanakan menyiksaku dengan lebih buruk?” Bisik Yumi penuh kecurigaan.

Yanzi kembali menepuk-nepuk punggung Yumi menenangkan. Sepertinya meski badai sudah berlalu, kerusakannya masih butuh diperbaiki. Yanzi hanya bisa berharap ini tidak terlalu parah.

“Mereka sudah benar-benar pergi. Tak akan kembali lagi. Yakinlah.”

“Tapi…”

“Sssst. Jangan khawatir, oke. Tidurlah.”

Yanzi meyakinkan Yumi hingga gadis itu mau berbaring. Tangannya masih menggenggam erat selimutnya sementara matanya terus mengawasi Yanzi. Seperti orang yang takut jaminan hidupnya menghilang.

Yanzi meminta pelayan yang kondisinya paling baik untuk merawat Yumi. Meski enggan, dia masih memiliki banyak pekerjaan yang menunggu. Terlebih Ersa meyakinkannya jika dia bersama yang lain akan merawat Yumi dengan baik.

Seperti sebelumnya, demi ketenangan pikirannya, Yanzi menghubungi rumah setiap dua jam. Dia juga meghubungi perusahaan penyalur jasa sekuriti agar menempatkan beberapa orang dirumahnya. Untuk pelayan, beberapa pasangan yang ada di rumahnya sudah cukup. Lebih baik Yanzi menaikkan gaji mereka dari pada menemukan yang baru namun tidak dapat dipastikan kinerjanya.

Hari ini Yanzi menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dia langsung menuju hotel dimana ibunya berada.

Hanya butuh sedikit waktu bagi Yanzi untuk meyakinkan ibunya agar kembali ke rumah. Terlebih, Yumi sangat membutuhkan keberadaannya. Tentu saja wanita itu tidak bisa mengabaikan Putri malangnya.

Sesampainya dirumah, Yanzi melihat empat orang sekuriti sudah datang. Setelah menyelesaikan segala sesuatunya dengan mereka, dia menuju ke kamarnya.

Yanzi menggeser  lukisan yang terpajang di dinding. Lalu menekan kombinasi angka pada tombol yang tertanam di dinding yang tadinya tertutup lukisan.

Perlahan rak disampingnya bergeser, menampakkan ruangan lain dibaliknya. Dia masuk dan mengembalikan lemari ke tempat semula.

Ini adalah ruang tempat menyimpan beberapa hal penting, termasuk sebagian batangan emas yang dimilikinya. Di rumah ini hanya dia yang mengetahui keberadaan ruangan ini.

Karna itulah Yanzi bertanggung jawab sendiri untuk kebersihannya. Biasanya dia hanya melakukannya sebulan sekali.

Yanzi membuka lemari tempatnya menyimpan emas batangan. Setelah memasukkan dua diantaranya ke dalam koper, Yanzi baru sadar jika Juena tidak menyebutkan jumlah pastinya.

Berpikir ingin menyenangkan bocah dukun itu, Yanzi memutuskan memberi jumlah yang tepat.

Dia ingin menemui bocah itu secepatnya, namun kesepakatannya adalah dia akan menyerahkan emasnya dalam tiga bulan. Sekarang Yanzi menyesal dan ingin mempercepat menyerahkan emasnya hingga dia bisa menemui Juena.

Tapi, jika dia menyerahkan emasnya sekarang, lalu alasan apa lagi yang akan digunakan saat ingin menemuinya dimasa depan?

Baru kali ini Yanzi merasa harus mempertimbangkan banyak hal untuk menemui seseorang. Biasanya jika dia tertarik, satu dua kata akan membuat dia berguling diranjang dengan mudah.

Namun Juena berbeda. Dia begitu acuh tak acuh melihatnya. Selagi semua orang menganggapnya menarik, entah kenapa reaksi Juena padanya begitu datar. Ini membuatnya kecewa.

Saat Yanzi turun untuk makan malam. Dia melihat ibu dan adiknya sudah menunggu. Yanzi pun menarik kursinya dan mengajak mereka memulai makan malam.

“Siapa yang kau mintai tolong menghilangkan ‘mereka’?” Marina sedikit berbisik saat mengucapkan kata ‘mereka’ yang merujuk pada hantu-hantu dirumahnya.

“Namanya Juena. Dia terlihat muda, namun kemampuannya sangat bagus.”

Yanzi tidak menyadari saat menyebut Juena mulutnya terasa berkedut. Nama ini memberinya perasaan gatal yang semakin hari semakin tak tertahankan.

“Bukankah dia dukun? Bagaimana dia masih muda?” Marina terlihat semakin penasaran. Sementara Yumi hanya diam fokus menghabiskan isi piring dihadapannya.

Namun, jika seseorang mau sedikit lebih teliti, tentu akan melihat bola mata Yuni yang bergerak gelisah. Melirik ke sana kemari seolah sedang mewaspadai sesuatu.

“Mungkin mewarisi kekuatan kakeknya atau sesuatu yang seperti itu.” Gumam Yanzi.

Dia tiba-tiba tidak lagi berselera dengan makanannya. Dahinya berkerut.

Jika dia tidak salah ingat, Alan menanyakan ‘mbah Juena’ saat itu. Namun Juena tidak menjelaskan apapun dan hanya berkata dialah Juena.

Yanzi memiliki beberapa dugaan. Pertama, setiap pewaris kekuatan dukun itu atau semacamnya selalu menggunakan nama Juena. Kedua, Juena adalah orang yang sama dengan Juena yang dimaksud teman Kakek Alan.

Yanzi berharap opsi pertama yang terjadi.

Jika itu opsi kedua yang terjadi, maka…  Juena itu sebenarnya manusia atau bukan?

Seberapa lama dia hidup jika menurut Kakek Alan dia hanya beberapa tahun lebih muda darinya?

Atau mungkin bahkan Juena sudah ada lebih lama dari yang diperkirakannya?

Yanzi merenung. Jadi, pada akhirnya makhluk apa Juena itu?

Pemikiran seperti ini terlalu tidak masuk akal. Yanzi berusaha meyakinkan dirinya jika yang sesungguhnya adalah opsi pertama.

Namun, akhir-akhir ini dia tidak kurang mengalami hal yang sulit diterima akal sehat. Masihkah dia meragukan hal-hal semacam itu ada?

“Yanzi…” Panggilan Marina menarik kembali kesadaran pria itu. “Bagaimana cara ibu menemui Juena? Ibu harus berterima kasih padanya.”

Yanzi mengangguk. Mempertimbangkan hal ini bisakah dijadikan alasan untuk menemui bocah dukun itu lagi. Namun dia juga mempertimbangkan apakah ibunya tidak akan apa-apa melihat hantu-hantu disekitar Juena.

Meski mungkin Juena tidak membuat mereka muncul seperti saat dia ke sana, namun sesuatu yang dilakukan mahkluk tidak terlihat akan terasa berkali-kali lebih menyeramkan. Ibunya mungkin tidak akan bertahan.

“Aku akan memilih waktu yang tepat.” Ucap Yanzi pada akhirnya.

Ibunya bukan orang yang keinginannya bisa ditolak dengan mudah. Menjanjikan sesuatu yang tidak pasti akan lebih baik karna selalu akan ada alasan jika ibunya menanyakan hal ini lagi.

******

<< Juena 8

Iklan

3 respons untuk ‘Oh! Juena – Chapter 9

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s