Peran Pengganti – Chapter 19

Author : Keyikarus

[Chapter 19]

 

“Bagaimana mungkin aku menyukai orang pelit dan kurang ajar itu!” Jawaban cepat Zino membuat Rua terbahak.

“Kau memiliki banyak julukan untuknya. Itu bagus.”

Zino mendengus. Mengingat Zinan akan membuatnya jengkel sekaligus senang. Jengkel karna prilaku pria itu, dan senang tentu saja karna uangnya. Zino matre.

“Bagus apanya. Ini melelahkan. Tapi aku tak bisa tidak kesal jika mengingatnya.”

“Tidak. Tidak. Aku serius. Hubungan kalian lebih baik dariku dan Leihan.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Kau bisa bersantai, biarkan aku menyusun ini dilemari, oke.”

Zino mengangguk.

Setelah Rua sibuk dengan urusannya, Zino melihat ke sekelilingnya. Berbeda dengan kamar Zinan yang kosong dan monoton, disini banyak benda bagus.

Zino mendekati benda berbentuk bulat dengan garis pemisah seperti pada simbol yin dan yang. Satu bagian berwarna putih gading dengan tanaman seperti rumput di atasnya, satu bagian lainnya terbuat dari kaca transparan dan berfungsi sebagai akuarium dengan sepasang ikan kecil cantik didalamnya.

Zino sangat kagum dengan desain akuarium seperti ini. Begitu minimalis dan mewah. Tapi tatapannya lebih kagum saat melihat kunci mobil yang tergeletak disampingnya.

Bukan kunci mobilnya, tapi gantungannya yang adalah emas berbentuk bunga dengan lima kelopak dan satu berlian ditengahnya.

Tangan Zino sangat gatal untuk mengambilnya. Namun dia teringat jika dia adalah copet, bukan pencuri.

“Itu neon Tetra.”

Zino menoleh saat mendengar suara seseorang.

Dia melihat Leihan dengan sangat anggun berjalan ke arahnya. Bagaimana pria itu bisa ada disini?

“Ikan yang kau lihat adalah neon Tetra. Rua menyukai hal cantik seperti ini, bagaimana denganmu?” Leihan meletakkan tangannya dimeja tempat akuarium vas itu berada. Gestur tubuhnya yang terlalu dekat seolah-olah mengurung Zino.

“Kenapa kau disini?” Tanya Zino.

Leihan mengangkat alisnya dan tersenyum tampan. Jenis senyum yang bisa menaklukan gadis dan sama sekali tidak bisa Zino tiru. Sungguh membuat iri.

“Aku suami Rua, kau lupa?”

“Sepertinya kau yang lupa. Tolong jangan mengincar tamu istrimu.”

Leihan dan Zino serempak menoleh, melihat Rua yang bersidekap memasang wajah tak senang.

Melihat itu, Zino langsung panik.

“Jangan salah paham. Aku dan Leihan tidak ada apa-apa. Aku bukan tipenya, jadi jangan salah paham, oke.” Pemuda itu buru-buru menjelaskan. Dia tidak bisa menanggung kecemburuan seorang istri.

Bagaimana jika dia mendapat julukan pelakor? Bukan saja dia tidak lagi bisa keluar rumah, tapi juga akan mati dua kali oleh Jean dan Vivian.

Lagi pula otak kecil Zino berpikir jika dia tak se sexy Rua, jadi tentu saja dia bukan tipe yang Leihan sukai.

“Aha ha ha… kau sungguh lucu.” Rua tertawa riang. Mengabaikan wajah tanpa ekspresi Leihan. “Baiklah. Vivian makan malam disini ya, aku sudah memesan makanan.”

Zino mengangguk. Dia tidak khawatir dengan Jean. Alice pasti memberitahunya jika dia bersama Rua. Wanita jejadian itu kan komplotannya.

Beberapa saat kemudian bel pintu berdering. Rua meninggalkan Zino dan Leihan untuk membuka pintu.

Tak sampai satu menit, Rua sudah kembali dengan menenteng kantong berisi kotak makanan. Dibelakangnya ada Zinan yang juga menenteng kantong makanan.

“Kau memesan makanan pada Zinan?” Leihan mengangkat sebelah alisnya.

Rua mengangguk lalu sibuk mengatur makanan dimeja makan.

“Apa kau keberatan?” Zinan memamerkan senyum andalannya.

“Tidak. Hanya tidak biasa.”

“Kalau begitu kau perlu membiasakannya, selama itu ada tunanganku.”

Leihan menatap Zinan lama. Zinan memamerkan senyum terbaiknya pada abangnya itu.

Di antara mereka Zino bersikap cuek dan memilih membantu Rua. Sepertinya dia sudah biasa dengan ketidaknormalan kaum kaya.

Lagipula Zino ingin menghindari Zinan. Dia tidak akan lupa bahwa Zinan adalah penggila ganti rugi. Saat dia merusakkan ponselnya, Zinan dengan santai meminta ganti rugi. Lalu apa kabar saat Zino merusakkan wajahnya kemarin?

Biarpun saat ini wajah pria itu baik-baik saja, tapi itu pernah membiru karna tinju kurang ajar Zino.

Selama makan malam, hanya suara Rua yang dengan antusias mengajak Zino mengobrol banyak hal. Sementara Zino menjawab dengan tak fokus. Mata Zinan yang selalu menatapnya membuatnya gelisah.

Bukan hanya Zinan. Leihan juga memberi pandangan yang membuat Zino merasa tak enak. Jika ini anime, Zino yakin mata Zinan dan Leihan akan mengeluarkan listrik. Lalu Zino yang akan terbakar.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Zinan meraih bahu Zino dan mendorongnya ke arah pintu.

“Kau terlalu pelit.” Rua tertawa kecil.

“Tidak jika tidak ada Leihan.” Zinan menjawab tanpa menghentikan langkahnya.

“Itu hanya karna kau tak percaya diri.”

Ucapan Leihan membuat langkah Zinan mendorong Zino terhenti. Pria itu menarik nafas dan menatap abangnya.

“Aku memang tidak percaya diri. Tapi aku percaya kali ini kau tak akan mendapatkan yang kau mau.”

Setelah mengatakan itu, Zinan segera mendorong Zino keluar. Mengabaikan tawa terhibur Rua.

Sedangkan si topik utama justru tak memikirkan perdebatan mereka. Dia justru khawatir Zinan akan menuntut ganti rugi darinya. Jika itu Zinan, Zino percaya dia akan langsung bangkrut.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau tidak rela berpisah dengan perampok kecantikan itu?” Zinan memasukkan Zino ke dalam mobil. Lalu berputar dan duduk di kursi pengemudi. Kali ini dia tidak menggunakan supir

Zino tidak mengerti maksud ucapan Zinan. Jadi dia hanya menanyakan hal yang membuatnya ingin tahu.

“Kenapa kau dan abangmu seperti tidak akur?”

“Kami akur. Jika tidak, mungkin kami akan saling bunuh.” Zinan menyahut dengan ringan.

Zino mengernyit. Jika dia tidak bisa memahami persaudaraan Jean dan Vivian, dia bahkan lebih tidak mengerti jenis persaudaraan Zinan dan Leihan.

“Itu terdengar sedikit menyedihkan. Kau tahu, tidak punya saudara itu bukan hal bagus.”

Zinan tertawa. Dia baru tahu jika gadisnya bisa menasehati.

“Kami memang bukan saudara kandung. Kami satu ayah lain ibu.”

Itu mengejutkan Zino. Leihan dan Zinan memiliki banyak kemiripan. Sulit dibayangkan jika ternyata mereka hanya saudara tiri.

“Ellie itu ibu Leihan?”

“Bukan.”

“Jadi ibumu?”

“Bukan juga.

Zino mendengus. Dia merasa dipermainkan oleh Zinan.

Melihat gadisnya mulai kesal, Zinan dengan baik hati menjelaskan jika baik dia dan Leihan bukanlah putra Ellie.

Leihan adalah putra istri pertama Diwan yang meninggal saat Leihan berusia sepuluh tahun.

Sementara Zinan adalah putra Diwan dari wanita simpanannya.

Karna sebagai istri kedua Ellie tidak memiliki anak, maka Zinan yang baru lahir di atur sebagai anaknya secara resmi.

Sedangkan ibu kandung Zinan diungsikan ke negara F. Tempat Zinan berada sebelum akhirnya pertunangannya dengan Vivian diadakan.

Zino yang mendengar hal besar seperti itu hanya mengangguk-angguk. Dia tidak mengerti. Di matanya yang namanya keluarga itu selayaknya rukun dan saling memiliki. Namun dia tak bisa melihat itu baik dari keluarga Zigan maupun keluarga Arkanda.

“Aku tidak mengerti.” Gumam Zino yang membuat Zinan tertawa.

“Tidak masalah. Yang perlu kau mengerti adalah bahwa kau harus mulai mencicil untuk kerugian ku.”

Mobil Zinan sudah berhenti didepan rumah Arkanda. Karna mereka adalah tunangan, tentu saja Zinan memiliki akses keluar masuk rumah ini dengan mudah.

“Mencicil apa?” Zino dengan ngeri berusaha membuka pintu mobil yang ternyata terkunci.

Zino panik. Dia tidak mau kehilangan uang sepeserpun untuk pria ini.

“Jangan pura-pura lupa, oke. Biaya rumah sakit dan perawatan wajahku sangat mahal.”

Zino semakin panik. Dia yakin mahal versi dia dan Zinan berbeda. Jika itu mahal versi Zinan pasti akan membuatnya tinggal tulang dan kulit saja.

“Aku tidak punya uang. Kau bisa minta pada abang.”

Zinan tersenyum menggoda. Dengan agresif dia bergerak ke arah Zino.

“Kau yang membuatku rugi kenapa harus Jean yang membayar? Tolong tenang, kau hanya harus mencicil, sedikit demi sedikit.”

Zinan dengan lembut memiringkan kepalanya, mencium pipi lembut Zino. Sementara tangannya langsung membuka kunci pintu sekaligus pintunya.

Dia menghabiskan beberapa detik bertahan mencium pipi gadis yang membuatnya gemas.

Memanfaatkan kebekuan Zino, Zinan dengan lembut mendorong Zino keluar mobil dan menutup pintu. Dia tidak ingin kena tinju lagi, oke.

Zino yang tersadar langsung berteriak histeris menendang-nendang badan mobil Zinan.

Terhibur dengan prilaku Zino, Zinan hanya tertawa dan menjalankannya mobilnya. Meninggalkan gadis yang berteriak-teriak dan menghentak-hentakkan kakinya.

*****

<< Peran Pengganti 18

9 tanggapan untuk “Peran Pengganti – Chapter 19

Tinggalkan Balasan ke shaoqi Batalkan balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s