Oh! Juena – Chapter 7

Author : Keyikarus

[Chapter 7]

Tidak mau semakin nelangsa, Banaspati mengalihkan perhatiannya pada Yumi yang tertidur diranjang. Dia mendekati gadis itu. Lalu menatap mas Kun dan sesaat kemudian menatap Yanzi.

“Kami pikir akan menyelesaikannya malam ini. Tapi sepertinya yang satu ini harus tuan yang datang sendiri.”

Yanzi mengerutkan keningnya mendengar Ucapan Banaspati.

“Maksudmu sebenarnya kalian bisa menyelesaikan teror dirumah ini dalam satu malam?”

“Ya.” Banaspati menyahut dengan nada bangga. Bahkan dagunya terangkat naik, membuat api di bagian kepalanya bergejolak menjilat udara.

Dalam diam Yanzi berharap api itu tidak menyambar sprei atau apapun. Lain kali mungkin dia harus mengatakan pada Juena agar mengirimkan tim yang lebih aman.

Jika Banaspati mengetahui pemikiran Yanzi, mungkin dia akan kecewa dan berguling-guling karena marah. Dia akan memprotes keras karna sampai sekarang dia tidak mengerti kenapa tipe dingin dan pendiam seperti mas Kun yang selalu disukai sedangkan dirinya yang lebih ceria, baik hati dan ramah selalu dihindari.

“Lalu kenapa Juena meminta waktu dua hari?”

“Oh, itu karna terkadang ada yang tidak bisa kami selesaikan. Seperti yang satu ini.” ย Banaspati menunjuk Yumi.

Sebelum Yanzi bertanya, dengan senang hati hantu api itu menjelaskan jika penebar teror yang terakhir adalah roh anak kecil yang mati terbunuh. Anak itu memiliki kemampuan menciptakan penghalang. Penghalang itulah yang membuat suara teriakan tidak bisa keluar atau masuk kecuali orang itu melewati penghalangnya.

Dan sekarang anak kecil itu merasuki Yumi, membuat penghalang dalam jiwanya hingga Yumi sulit untuk sadar kembali. Dia berniat mengambil alih tubuh Yumi.

Sebagai informasi, ada perbedaan antara roh dan hantu.

Roh adalah arwah seseorang yang mati namun tidak menerima kematiannya. Entah karena masih memiliki dendam atau alasan lain. Jenis ini tidak bisa mencelakakan manusia secara langsung namun bisa merasuki dan bersembunyi pada tubuh manusia. Bahkan berprilaku seperti tubuh yang ditempatinya. Dunia para roh bisa dibilang menumpang pada dunia manusia.

Sementara hantu adalah entitas yang berbeda dari roh. Mereka adalah makhluk dari jenisnya masing-masing. Berkembang biak layaknya makhluk hidup pada umumnya. Memiliki kemampuan dasar. Dan bisa berlatih atau mengkonsumsi sesuatu untuk menjadi lebih kuat. Yang paling penting adalah mereka memiliki dunia sendiri yang berbeda dengan dunia manusia maupun dunia roh. Yang lebih penting, mereka bisa melukai manusia secara langsung. Namun itu terbatas pada hantu yang sudah bisa mempertahankan wujud solidnya di dunia manusia.

“Jadi maksudmu Juena akan datang besok malam?” Meski nada bicara Yanzi masih datar. Tapi dia sendiri tahu jika ada rasa antusias karna akan bertemu dengan bocah dukun itu lagi.

“Seharusnya begitu. Karna seperti itu, kami akan pergi. Sampai jumpa lagi besok malam!”

Bersamaan dengan Banaspati yang selesai bicara, mas Kun melambaikan tangannya menciptakan lubang teleportasi yang menelan mereka berdua.

Yanzi tak percaya jika hantu itu mengucapkan sampai jumpa lagi. Ini benar-benar hal yang sulit diterima akal sehat. Siapa yang akan percaya jika dia menceritakan hal ini kecuali orang itu menyaksikannya sendiri.

Yanzi menatap Yumi yang tertidur dengan tenang. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya. Dia pikir lebih baik seperti ini. Sudah lama Yumi tidak mendapatkan tidur nyenyak.

“Semua ini akan segera berakhir. Jangan khawatir.”

Yanzi mengusap pipi adiknya dengan sayang. Setelah semua, dia hanya memiliki ibu dan adiknya.

Setelah memastikan posisi Yumi nyaman, Yanzi melihat jam dinakas. Sudah pukul sebelas malam. Biasanya di jam inilah teror dimulai. Namun sekarang semuanya justru sudah selesai.

Dia keluar dari kamar Yumi, menatap lorong menuju tangga yang remang-remang. Saat dia naik tadi, ada Banaspati yang seperti penerangan otomatis hingga Yanzi tidak terlalu memperdulikan lampu yang mati. Selain itu juga ada cahaya bulan yang menembus jendela dan membayang di lorong lantai dua.

Cahaya bulan itu mengukir bayangan abstrak dilantai. Bayangan itu bergoyang seiring suara gemerisik ranting dan daun yang tertiup angin diluar sana.

Yanzi melangkahkan kakinya. Berjalan perlahan menuju saklar yang berada di samping tangga. Semakin dekat dengan tangga, semakin sunyi suasana. Tidak ada lagi suara gemerisik.

Terlalu sunyi hingga suara langkahnya begitu bergema. Bahkan Yanzi seperti bisa mendengar suara nafasnya sendiri.

Bersamaan dengan bayangan yang bergerak, tangannya terulur menyentuh saklar.

Tak.

Seketika lorong lantai dua menjadi terang benderang. Yanzi menyipitkan matanya menyesuaikan dengan cahaya.

Tatapannya jatuh ke lantai satu.

Menarik nafas, Yanzi melangkah menuju saklar. Ruangan menjadi terang dalam sekejap ketika Yanzi menekannya.

Dia merasa ini aneh. Pelayan tidak akan lalai melupakan menghidupkan lampu sebelumnya. Dia juga dengan jelas melihat lampu yang berkedip-kedip dan mati. Namun sekarang bisa hidup hanya dengan menekan saklar lagi.

Dua jejak gosong dilantai seolah memberi bukti jika hal aneh itu tidak selalu tidak mungkin.

Yanzi memeriksa ruang pelayan. Beberapa orang terlihat masih pingsan dan beberapa lagi membungkuk hormat saat melihatnya. Mereka tampak pucat dan gemetar.

“Kalian bisa tenang mulai sekarang. Karna ini sudah berakhir.” Ucap Yanzi.

Wajah-wajah terkejut dan sangsi tidak membuat Yanzi ingin menjelaskan lebih jauh. Dia hanya pergi dan membiarkan para pelayan berkumpul diruangan itu malam ini alih-alih kembali ke rumah khusus pelayan yang berada di bagian samping halaman.

Keesokan harinya Yanzi memanggil tukang untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak juga bagian yang hangus selagi Yanzi pergi bekerja.

Dia yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya menghubungi pelayan tiap dua jam sekali untuk memastikan kondisi Yumi.

Saat jam makan siang, Yanzi pergi menuju hotel tempat Ibunya tinggal selama rumahnya dalam teror.

“Bagaimana kabar Yumi? Aku menelepon rumah. Ersa yang menjawab. Dia bilang putriku semakin kurus. Yanzi, bisakah membujuknya agar tinggal disini bersama ibu?”

Yanzi menggenggam tangan ibunya menenangkan. Lalu dia berkata: “Tenanglah ibu, semuanya akan baik-baik saja.”

Marina balas menggenggam tangan putranya penuh harap. Yanzi selalu menepati ucapannya. Jika dia bilang semuanya akan baik-baik saja maka itu akan.

“Apakah makhluk-makhluk itu sudah pergi?” Bisiknya.

Marina adalah pribadi lemah yang mudah ditindas. Dia bahkan seperti sampah saat berada di keluarga Harisson. Keluarga besar ayahnya.

Jadi saat dia mengalami teror dari makhluk astral itu, mentalnya segera jatuh. Tanpa pikir panjang dia ingin meninggalkan rumahnya, bahkan meninggalkan putrinya yang dengan keras kepala bertahan.

“Ya. Segera. Mulai besok, ibu akan bisa kembali ke rumah.”

Mendengar itu, Marina merasa sangat senang. Namun jejak keraguan jelas membayang di wajahnya. Dengan hati-hati dia bertanya,

“Kau yakin? Mereka makhluk halus, dengan apa kau mengusirnya? Bagaimana jika mereka kembali?”

Yanzi menatap ibunya yang mulai panik. Sepertinya satu malam penuh teror yang dialaminya masih sangat jelas membekas. Meski begitu, Yanzi tidak bisa menjanjikan apapun. Kenyataannya dia sama sekali tidak tahu apakah pekerjaan Juena permanen atau hanya sementara.

“Yakinlah ibu, aku selalu melakukan yang terbaik untukmu dan Yumi.”

Marina mengangguk mendengar ucapan putra kebanggaannya.

“Ibu mempercayaimu. Ibu selalu mempercayaimu.”

Yanzi mengecup pipi ibunya dan berpamitan. Jam makan siang sudah habis dan dia harus kembali ke kantor.

Suasana hati Yanzi tidak menentu selama bekerja. Dia sangat antusias dengan kedatangan Juena nanti malam namun dia juga mengkhawatirkan kondisi adiknya.

Yanzi mengerutkan keningnya saat berpikir akan menggunakan apa Juena datang nanti. Kelihatanya bocah itu tidak memiliki satu pun kendaraan.

Namun mengingat kemampuan Kuntilanak yang bersamanya, Yanzi merasa pertanyaannya sangat tidak diperlukan.

Seperti apa yang dipikirkan Yanzi, Juena datang memang menggunakan kemampuan teleportasi mas Kuntilanak. Namun yang tidak Yanzi sangka adalah mas Kuntilanak itu menteleport Juena yang sedang tidur sekaligus dengan kursi malasnya.

Tentu saja mas Kun memilih ruang kosong dirumah Yanzi sebagai pendaratan. Yang sayangnya sedikit kurang tepat. Karna ruangan itu tidak benar-benar kosong.

Yanzi keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk kecil yang bertengger di pinggangnya. Satu tangannya sibuk mengusap kepalanya dengan handuk lain.

Namun dia langsung terpaku melihat bocah yang membuatnya tertarik pada pandangan pertama itu mengucek matanya dan menatap Yanzi.

“Ah itu kamu…” Gumam Juena dengan suara malas yang menggelitik indera pendengaran Yanzi.

******

<< Juena 6

Iklan

5 tanggapan untuk “Oh! Juena – Chapter 7

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s