Secret of The Sastra Jendra – Chapter 1

Author : Keyikarus
Publish at Kenzterjemahan.

[Chapter 1]

Badai salju datang lagi melanda Kezz, kota kecil yang memiliki julukan sebagai kota termiskin di benua Utara.

Realf menuangkan air ke dalam panci yang digantung di atas api. Lalu dia memasukkan segenggam beras ke dalamnya. Menambahkan selembar sawi putih beku simpanannya sejak beberapa hari lalu.

Seperti julukannya, Kezz selalu memiliki salju sepanjang tahun. Tidak mudah bagi penduduknya untuk mencari makan. Berburu sangat sulit, namun menanam sayur lebih sulit lagi.

Realf mendapatkan sawi putih dari kota tetangga seminggu yang lalu. Dia membekukannya agar awet. Menggunakannya selembar demi selembar untuk menambahkan varian rasa pada bubur yang selalu mereka makan.

Dia dan kedua adiknya tidak memiliki orang tua apalagi status bagus. Itu membuat segalanya kian sulit.

Di kota miskin ini, yang kuat akan selalu menindas yang lemah. Karna itulah Realf memilih tinggal dipinggiran kota yang jarang didatangi orang.

Semakin jarang bertemu orang maka semakin jarang masalah yang mereka miliki.

Bukannya seperti dia tidak mau pergi ke kota dengan kehidupan lebih baik. Namun dia memiliki alasannya sendiri. Terlebih dua adiknya sama sekali tidak memiliki keluhan.

Setelah bubur matang, Realf memanggil adiknya, Celian dan An Fier untuk makan.

An Fier yang lebih muda sembilan tahun dari Realf dan lima tahun dari Celian adalah anak yang bersemangat. Sedikit bicara, banyak bekerja. Matanya selalu hidup seolah setiap harinya dia mengalami petualangan terbaik.

Sebagai satu-satunya anak lelaki, dia memiliki perasaan harus bekerja lebih keras dari pada kedua kakaknya.

Jadi, setelah menghabiskan bubur dalam tiga tegukan besar, dia berpamitan pada kedua kakaknya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan di luar sana.

“Jangan pergi terlalu jauh. Badai salju bisa terjadi kapan saja.” Pesan Realf.

“Dia tak akan mendengarkan yang seperti itu.” Ucap Celian pada Realf. Lalu dia beralih pada An Fier. “Pulanglah hidup-hidup.”

An Fier nyengir lebar dan mengangguk penuh semangat.

Realf menghela nafas melihat cara Celian memberi pesan. Dengan kesal dia menjitak gadis berusia tiga belas tahun itu.

“Apa?!” Kesal Celian yang tersedak. Matanya melotot ganas menatap Realf.

“Padahal kau kakaknya, kenapa tidak bisa memberinya kata-kata yang sedikit baik.” Gerutu Realf sembari mencuci mangkuk.

Keterbatasan ruangan membuat mereka mengatur satu tempat untuk segalanya.

Satu sudut untuk peralatan makan yang sedikit dan ember air, dan sudut lainnya adalah hamparan jerami untuk mereka tidur. Di bagian tengah adalah tungku untuk memasak sekaligus menghangatkan ruangan.

“Karna aku kakaknya maka aku yang paling tahu bagaimana memberinya pesan yang mudah dimengerti.” Acuh Celian. Dia melemparkan mangkuknya pada Realf agar sekalian dicuci.

Di antara mereka Celian dan An Fier adalah saudara kandung, sementara Realf adalah penyelamat mereka.

Itu cerita enam tahun lalu yang tak perlu lagi di ungkit. Karna sejak saat itu, Realf adalah kakak tertua mereka.

Di tempat lain, An Fier sedang berjalan menyusuri salju yang menenggelamkan kakinya hingga betis. Untunglah sepatu dan pakaian jerami dari Realf bisa menahan dirinya dari membeku.

Bukan sekali An Fier menanyakan dari mana kakaknya itu bisa mendapatkan benda hagat seperti ini. Namun Realf tidak menjawab dengan jelas.

Bahkan saat Celian marah, Realf hanya mengatakan dia bekerja untuk membeli benda-benda ini.

Sejujurnya Celian dan An Fier khawatir Realf melakukan hal berbahaya demi mendapatkan pakaian dan tempat tidur hangat untuk mereka. Seperti mencuri contohnya. Itu tidak bahaya jika tidak ketahuan. Namun jika tertangkap oleh para bangsawan, bukan tidak mungkin mereka mendapatkan pemenggalan secara langsung.

Tapi karna Realf bersikeras meyakinkan mereka jika dia mendapatkannya bukan dengan mencuri, mereka hanya bisa tenang.

Karna itulah, An Fier berusaha bekerja keras mencari makanan agar kedua kakaknya tidak melakukan tindakan berbahaya karna kekurangan makanan.

An Fier menghentikan langkahnya saat mendengar suara gemuruh. Itu longsoran salju. Dia berlari-lari berusaha mencapai tempat perlindungan terdekat.

Nafasnya tersengal-sengal saat matanya melihat batu besar. Dia menoleh, matanya menyipit melihat longsoran salju itu membawa sesuatu seperti kereta kuda.

Itu cukup aneh mengingat tempat ini nyaris tidak bisa dilewati dengan berjalan kaki, jadi orang keras kepala mana yang membawa kereta kuda?

Tapi ini bukan saatnya dia memikirkan itu, An Fier berlari menjangkau batu besar itu dan berlindung dibaliknya.

Longsoran salju melompatinya melalui batu besar tempatnya berlindung. Namun tetap saja meninggalkan sisanya menimbun An Fier hingga setengah tubuhnya.

Setelah beberapa saat, longsoran itu akhirnya berhenti. An Fier sekarang terkubur nyaris mencapai lehernya. Dia merangkak naik lalu mengamati sekelilingnya.

Matanya menyala saat melihat sudut kereta yang muncul di tumpukan salju.

Dengan cepat dia melangkah mendekati kereta itu. Pikirannya membayangkan harta apa yang bisa didapatkannya.

Jangan berpikir dia jahat. Menjarah barang yang pemiliknya sudah mati seperti ini bukan masalah. Bagaimana dia yakin? Terseret longsoran dari atas sana, bahkan kudanya pun akan mati.

Dugaan An Fier benar. Dua kuda yang menarik kereta itu mati karena patah leher akibat benturan. Kusirnya terlempar entah kemana sebelum terkubur didalam longsoran.

Namun, penumpang kereta yang merupakan seorang wanita belum mati. Dia sedang sekarat akibat luka dan nyaris kehabisan nafas.

Wanita itu dengan sayang mencium dahi putranya. Kereta mulai berkeriut seolah tidak lagi kuat menahan beban di atasnya. Wanita itu meringkuk karna kereta berhenti dengan posisi terguling.

Dia melepas kalungnya dan memasangkannya pada putranya. Dengan hati-hati dia mengusap liontin giok berbentuk kelopak bunga. Sebuah perisai udara muncul dan melingkupi putranya. Itu transparan dan elastis, namun bisa menahan bayinya tetap bernafas selama beberapa jam.

Sekali lagi dia mengecup pipi putranya dan dinding kereta roboh menimpanya. Membawa serta salju tumpukan dingin. Memutuskan nafas terakhirnya.

“Aaah!!” Teriak An Fier terkejut saat pijakannya roboh. Dia terjerembab ke dalam puing-puing badan kereta didalam salju.

Sebelum An Fier bisa mengeluh, dia mendengar tangisan bayi. Dengan gugup bocah itu menggali tumpukan salju di mana suara itu berasal.

“Uh, apa dia mati?” An Fier berusaha membalikkan tubuh wanita dengan pakaian bagus ala bangsawan.

Wajah cantik itu pucat pasi tanpa menyisakan jejak darah yang mengalirinya. Sementara bayi dipelukannya yang diselimuti perisai transparan terus menangis.

An Fier menatap wanita itu. Padahal dia bangsawan namun sama sekali tidak menggunakan perhiasan. Tidak ada yang bisa di ambil selain selimut alas duduknya. Dan pakaiannya. Tapi bukankah sangat tidak sopan menelanjangi orang mati?

Berpikir seperti itu, An Fier mengalihkan perhatiannya pada bayi yang masih menangis. Dia dengan ragu meraihnya.

Dua kakaknya pasti marah jika dia membawa bayi ini pulang. Tempat mereka terlalu kecil untuk menampung satu orang lagi. Namun jika dia tidak membawanya pulang, bayi ini pasti mati.

Membiarkan yang mati terbengkalai bukan masalah bagi An Fier, namun membiarkan yang hidup menjemput kematian… rasanya terlalu jahat.

Dengan tekad seperti itu, An Fier mengambil selimut dan kain lainnya yang bisa di ambil. Lalu dia membawa bayi itu memanjat keluar dari lubang.

“Diam, oke.” An Fier menepuk pantat bayi itu dua kali lalu menggulungnya dengan selimut dan meletakkan di salju.

Dia mendorong tumpukkan salju untuk mengubur ibu si bayi. Setelah selesai, dia membongkar gulungan selimut. Memasukkan si bayi ke dalam bajunya dan menenteng selimut di satu tangan.

An Fier berjalan pulang. Berharap tidak bertemu dengan binatang buas atau dia akan kesulitan berlari.

Setelah beberapa saat dia sampai dirumah. Dengan gugup dan hati-hati dia masuk. Realf sedang menganyam jerami menjadi selimut, sedangkan di sampingnya Celian sedang berlatih memunculkan air dari salju dikakinya.

“Kau pulang.” Realf tersenyum. Namun tidak menghentikan kegiatannya.

“Apa yang kau dapat?” Kali ini Celian yang bertanya tanpa memandang yang ditanya.

Namun sebelum An Fier menjawab, Celian sudah bersorak karna berhasil menarik air dari salju di bawah kakinya. Pusara air yang diciptakannya hanya sebesar jari kelingking dan bisa bertahan kurang dari sepuluh detik. Namun itu kemajuan yang bagus setelah Celian berlatih seminggu penuh.

Realf pernah mengatakan, dia adalah anak yang berbakat sebagai pengguna kekuatan air.

Sialnya saat Celian berjingkrak, dia menyenggol An Fier hingga hilang keseimbangan. Dalam sekejap tangan yang memegangi bayi di dalam pakaiannya terlepas, membuat bayi itu terjatuh dan menangis.

Tiga orang itu membeku menatap bayi yang menangis keras dilantai.

An Fier dengan gugup menatap Realf. Tadinya dia ingin mengatakannya secara perlahan sebelum mengeluarkan si bayi.

Realf menutup wajahnya saat tersadar. Lalu dia mengeluh, “Kenapa kau membawa pulang yang seperti ini? Apa kau pikir tempat ini penampungan bayi?”

An Fier cemberut. “Dia hanya bayi. Ibunya sudah mati saat keretanya terkena longsoran salju.”

“Dan dia akan mati kelaparan jika bersama kita.” Ini Celian yang menyahuti.

An Fier semakin cemberut mendengarnya. “Aku akan membagi jatahku. Tidak perlu khawatir.”

Realf mendesah. An Fier adalah anak keras kepala. Dia berharap ini adalah pertama dan terakhir kalinya dia memungut bayi. Mereka tidak akan mampu memberi yang seperti itu makan.

“Dimana kau menemukannya? Seharusnya ada orang lain kan?” Tanya Realf pada akhirnya.

Tiga orang muda itu bicara dengan latar belakang tangisan bayi. Tidak ada yang berinisiatif mendiamkan bayi terlebih dulu sebelum berdebat.

“Orang yang bersamanya sudah mati. Longsoran salju itu sangat besar, aku yakin jika ada yang lain pasti juga sudah mati.”

An Fier membentangkan selimut yang dibawanya diatas tempat tidur jerami miliknya. Karna bayi kecil mungkin tidak akan bisa tidur dengan baik diatas jerami. Setelah itu dia mengambil bayi yang menangis dan meletakkannya di atas selimut.

Bayi itu bergerak terisak-isak berusaha tengkurap. Lalu An Fier menepuk-nepuk pantatnya berusaha mendiamkannya.

Sementara itu, mata Realf menangkap sesuatu yang dikenalnya menggantung dileher si bayi. Dia mendekat dan meraih liontin berbentuk kelopak bunga itu. Mengusapnya pelan untuk membuktikan sesuatu.

Realf tertegun, dia berkedip beberapa kali untuk meyakinkan penglihatannya. Dia tidak salah lihat. Sebuah gelembung yang berfungsi sebagai perisai pelindung muncul melingkupi si bayi.

Realf, lihat. Ini hadiah dari Keelan. Tidak hanya cantik tapi juga bisa mengeluarkan perisai udara untuk melindungi ku. Keelan membuatkannya khusus untukku.

“An Fier…” Panggil Realf dengan suara bergetar.

Mendengar nada lain dari Realf, An Fier menghentikan tepukannya dipantat bayi dan menatap Realf.

“Dimana tepatnya kau menemukan bayi ini?” Tanya Realf.

Wajahnya kaku, pandangan matanya bergetar. Itu bukan Realf yang seperti biasanya.

“Tidak jauh dari sungai.” Gumam An Fier bingung.

Meski dia bilang dekat sungai, sebenarnya itu hanyalah lekukan dalam di antara dua bukit salju kecil. Tidak ada air selayaknya sungai disana.

Realf menatap wajah bayi yang bergumam. Matanya yang bulat dan hitam pekat mengingatkannya pada seseorang. Keyakinan yang muncul tiba-tiba membuat Realf langsung berlari keluar rumah.

An Fier yang bingung ingin mengikutinya namun dihentikan oleh Celian.

“Biarkan saja.” Ucap Celian acuh. Seolah tidak peduli pada perubahan prilaku Realf.

“Kenapa?” Gumam An Fier menatap punggung Realf yang semakin menjauh sebelum menghilang tertutup hujan salju.

Badai mungkin saja akan terjadi. Itu membuat An Fier khawatir.

Dia tahu Celian melarangnya mengikuti Realf bukan karna tidak khawatir. Namun An Fier tidak terlalu pintar membaca maksudnya.

“Dia akan menceritakan apapun itu pada kita jika mau. Namun jika tidak, kita tidak harus menempatkannya ke dalam posisi canggung.” Celian melirik bayi yang memasukkan jempol ke mulutnya.

An Fier juga tahu, meski Realf telah mengangkat mereka sebagai adik dan bersikap baik. Kenyataannya mereka berdua sama sekali tidak tahu siapa Realf, dari mana dia berasal dan lainnya. Realf hanya merawat mereka, berusaha memahami mereka tanpa mau membuka diri.

An Fier menutup pintu lalu melihat Celian menambahkan kayu bakar pada perapian.

“Kenapa menambahkan kayu bakar? Itu akan cepat habis jika api terlalu besar.” Protes An Fier.

Kayu bakar bukan barang langka. Tapi tetap saja sulit didapat. Jika mereka hanya ingin membelinya maka harus mengeluarkan uang banyak.

“Bayi itu terus merengek dan mengisap jempolnya. Dia pasti butuh sesuatu untuk mengisi perutnya.”

Celian dengan acuh memasukkan air dan beras ke panci.

“Bagaimana kau tahu?”

“Jika bayi menangis itu hanya berarti lapar atau haus. Atau jika tetap berisik meski sudah dilakukan tiga hal itu maka dia sakit.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Saat kau kecil seperti itu.” Celian melirik An Fier penuh ejekan.

“Saat aku kecil maka kau juga kecil. Kau tidak mungkin menjadi orang yang merawatku.” Protes An Fier.

Celian menghela nafas melihat adik yang membosankan seperti ini.

“Baiklah. Baiklah. Aku hanya menebak.”

Sementara itu ditengah salju, Realf mengedarkan pandangannya lalu berlari menghampiri sudut kereta yang menyembul dari salju.

Dengan panik dia menggali, berusaha memastikan siapa yang terkubur dibawahnya. Jantungnya berdegup kencang seperti hampir meledak.

Realf tertegun melihat wajah cantik yang membeku. Dia seperti patung porselen yang mengagumkan. Wajah yang selalu tersenyum dalam ingatannya itu, kini telah kaku. Mata penuh binar harapan yang dulu selalu dipujanya itu tidak akan pernah terbuka lagi.

Perlahan, air mata mengalir di pipinya. Ini adalah pertama kalinya dia menangis sejak tujuh tahun lalu.

Suara angin ribut mulai bergemuruh. Pertanda badai salju akan datang. Namun Realf bahkan tidak mengernyitkan dahinya sedikitpun.

Dia menatap sosok beku itu dengan hati hancur.

Mulai sekarang namamu Realf.

Kau bisa pergi dengan bebas. Tidak ada satupun yang akan bisa menghentikanmu.

Berkeliling dunia itu bagus Realf, kau bisa melihat berbagai macam orang.

Pergilah. Aku akan baik-baik saja selama Keelan menjagaku.

Dengar. Kau harus pergi sekarang. Jangan pasang wajah seperti itu. Jika waktunya tiba, aku akan pergi menemuimu.

“Kenapa kau disini? Kenapa kau tidak baik-baik saja? Apa Keelan tidak menjagamu dengan baik? Kenapa kau tidak mau pergi bersamaku? Padahal kau berjanji akan menemuiku lagi.”

Realf menangis terisak-isak. Mengabaikan badai salju diatasnya. Toh itu tak akan bisa menyentuhnya.

Pusara angin besar melingkupi Realf dan sosok beku itu. Mereka sama sekali tak tersentuh amukan alam yang ganas.

Dengan hati-hati Realf memeluk tubuh kaku yang dirindukannya selama tujuh tahun ini.

Perlahan tubuh itu menyusut, semakin menghilang dan hanya menyisakan satu mutiara dengan cahaya perak sebesar butiran jagung.

Realf menggenggam mutiara itu dan melangkah kembali pulang.

Biasanya orang tidak akan mampu bertahan di dalam badai. Bahkan pemilik kekuatan tingkat dua pun masih membutuhkan bantuan alat sihir.

Namun Realf dengan tatapan kosong menembus badai yang sama sekali tak bisa menyentuhnya sedikitpun. Perjalanannya pulang hanya seperti perjalanan biasa dihari yang cerah.

Dia baru memperbaiki ekspresinya saat tiba didepan pintu rumah.

Jika Celian dan An Fier mau melihat keluar rumah saat badai, mereka akan melihat perisai angin yang melingkupi bangunan yang terbuat dari kayu dan jerami.

Jika tidak, siapa yang akan berfikir bangunan rapuh itu bisa bertahan ditengah badai.

Bahkan jika Realf tidak melarang, mereka juga tidak mau mempertaruhkan nyawa keluar rumah dalam kondisi badai. Itu memperingan pekerjaan Realf untuk mencari alasan saat melarang mereka melihat ke luar saat badai. Atau keanehan itu akan diketahui dengan cepat.

“Realf. Kenapa jalan saat badai?! Beruntung kau masih hidup.” Gerutu Celian.

Mulut gadis itu memang tidak bisa diandalkan, namun dia jelas khawatir. Dengan cekatan dia menuangkan air hangat ke dalam gelas dan memberikannya pada Realf.

An Fier mengulurkan jerami yang tadinya di anyam oleh Realf sendiri, setidaknya Realf harus mengganti pakaiannya yang basah.

Agar tidak membuat dua anak itu khawatir, Realf mengganti pakaian jeraminya dan meminum air hangat dari Celian.

Dia melirik bayi yang tergeletak diam. Hanya matanya saja yang berkedip-kedip menandakan dia masih hidup.

“Akan kalian beri nama siapa bayi ini?” Tanya Realf.

Dia mendekati bayi itu dan tanpa kentara menekan mutiara sebesar biji jagung ke keningnya. Itu langsung melesak masuk dalam satu kedipan mata sehingga baik An Fier maupun Celian tidak menyadarinya.

An Fier mendesah lega dengan wajah kegirangan. Akhirnya Realf menerima bayi ini sebagai anggota keluarga baru.

“Lihat, aku menemukan ini saat membuka pakaian basahnya.” An Fier menarik lengan gemuk bayi itu.

Realf dan Celian mengulurkan kepalanya menatap tato di punggung tangan si bayi.

Reeka.

Realf mengangguk. “Baiklah, maka namanya adalah Reeka.”

Dengan riang, An Fier menatap bayi di sampingnya. “Kau dengar, namamu adalah Reeka mulai sekarang.”

Celian memutar bola matanya malas. Adiknya ini seperti menemukan mainan baru.

Sementara Realf menatap bayi mungil itu dengan rumit. Apa yang harus dilakukannya pada bayi ini?

Semenjak ada Reeka, kehidupan mereka sedikit berubah. Realf beeikir haruslebih rajin pergi. Saat dia pulang, tidak bisa lagi sekedar membawa seikat jerami untuk dianyam namun juga membawa lembar kain.

Dia akan berusaha agar mereka memiliki pakaian dari kain yang layak. Bukan lagi dari jerami. Realf merasa dia tidak bisa lagi terus berdiam disini. Dia harus mencari tahu penyebab orang itu datang ke sini bahkan membawa Reeka. Dan tanpa Keelan.

Ini bukan saja demi dirinya, tapi juga demi Reeka. Bayi itu harus tahu asal usulnya saat dia besar.

Bukan hanya Realf, Celian juga berpikir jika dia perlu mencari makanan lebih. Bayi itu bisa mati kapan saja jika mengikuti gaya hidup mereka.

Karnanya dia membuat kesepakatan dengan An Fier untuk bergantian mencari makan dan menjaga Reeka. Tapi tentu saja tanpa sadar selalu An Fier yang lebih banyak menjaga Reeka pada akhirnya.

Celian terlalu tidak sabaran menjaga bayi. Satu-satunya ingatannya tentang menjaga bayi adalah saat ibunya meletakkan dia dan An Fier yang berusia dua tahun didepan pondok Realf. Ibunya memberinya secarik kertas yang harus diberikan pada pemilik pondok ketika keluar.

Itu adalah hal memalukan. Apalagi jika Celian ingat bagaimana shocknya Realf saat membaca kertas bertuliskan ‘Tolong rawat kedua anakku yang malang ini’.

Saat itu dia belum bisa membaca, jadi hanya mengetahuinya setahun setelah Realf mengajarkan cara membaca padanya.

Pada akhirnya, Realf adalah guru, kakak, orang tua, dermawan dan panutan bagi Celian dan An Fier.

Intinya, An Fier yang saat itu berusia dua tahun sudah mengerti bagaimana melakukan hal-hal hanya dengan contoh yang Realf dan Celian berikan. Tidak seperti bayi ini yang masih harus dilayani.

Keesokannya hanya An Fier yang menjaga Reeka di rumah. Dia menyuapi bayi itu dengan bubur yang sangat cair. Memperhatikan ketika si bayi dengan senang hati berusaha tengkurap. Saat dia berhasil, maka An Fier akan membuatnya telentang lagi dan mengamatinya dengan senang saat berusaha tengkurap. Itu dilakukan beberapa kali hingga si bayi yang kelelahan menjadi malas dan berakhir tertidur.

An Fier mengulurkan jarinya menusuk lembut pipi gembul bayi, lalu ke bibir mungilnya yang terbuka. Siapa yang tahu jika bayi itu dengan senang menghisap jarinya. Bahkan tangan kecilnya memegangi jari An Fier yang dihisapnya.

Saat kebetulan Celian dan Realf pulang bersamaan, An Fier berteriak namun berbisik memanggil mereka.

Dengan ceria dia menunjukkan jarinya yang digenggam Reeka dan dihisap bayi yang tidur itu.

“Lihat. Dia begitu lucu kan?”

Celian berdecak memilih memotong-motong kelinci salju yang dia dapat. Karna keterampilan airnya yang sudah sedikit berkembang, sekarang dia bisa menangkap kelinci.

Kelinci salju bergerak sangat cepat. Nyaris tidak mungkin manusia tanpa kekuatan menangkapnya.

Jadi, meski kekuatannya hanya bisa memunculkan pusara air kecil, itu sangat membantu. Setidaknya dia bisa menakuti kelinci itu hingga kelelahan.

Dia belum bisa menggunakan airnya untuk menyerang dan melukai sesuatu saat ini. Namun perburuannya bisa juga disebut latihan, jadi dia optimis dengan kemampuannya yang akan berkembang.

Dengan begini dia pikir mereka akan bisa memakan daging setidaknya beberapa hari sekali. Bukan seperti sebelumnya yang nyaris hanya sebulan sekali Realf membawa pulang daging.

“An Fier, kau tidak bisa membiarkan tanganmu masuk ke mulut bayi. Itu akan membuatnya sakit.”

Realf mengingatkan. Kali ini dia membawa sekantong biji jagung dan dua lembar kain. Mereka bisa bertahan dua atau tiga hari dengan ini. Lagi pula sekarang Celian bisa menyediakan tambahan daging.

Untuk si bayi, dia membawakan daun-daunan yang bisa dijadikan campuran bubur biji jagung.

Mungkin di masa depan, dua adiknya itu akan marah mengetahui Realf hanya memberi makan mereka daging sebulan sekali meski kenyataannya dia bisa mendapatkannya lebih sering.

Tapi dia akan mendapatkan alasan untuk itu nanti.

“Baiklah.” Gumam An Fier kecewa.

Padahal dia menyukai tingkah Reeka yang begitu imut dan bergantung padanya. Itu seperti kau adalah kakak yang bisa diandalkan.

An Fier tidak bisa mendapatkan perasaan seperti itu dari Realf dan Celian, makanya dia begitu senang mendapatkan makhluk kecil yang bergantung padanya.

“Jangan kecewa. Kau bisa melakukan hal lain dengannya.”

Realf memasukkan air dan biji jagung kedalam panci. Lalu membuat api lain disamping tungku untuk memanggang daging kelinci yang didapatkan Celian.

Dia mengeluarkan bumbu halus dari kotak penyimpanan dan menaburkannya diatas daging. Menambahkan aroma harum yang membuat perut mereka semua kelaparan.

“Uh… uwa…waaa…”

Tiga orang itu terkejut melihat bayi yang tertidur tiba-tiba menangis.

An Fier yang posisinya paling dekat mengangkat tubuh mungil itu bermaksud menimangnya. Namun dia membeku saat tubuh bayi di angkat benda lunak berceceran di bokong juga selimutnya. Itu berwarna kuning dan bau.

“Aaaa dia i’e’. I’e’! Bersihkan!” Jerit Celian.

Realf sudah menutup hidungnya dan mundur sampai jarak aman.

Hanya An Fier yang tidak tahu harus melakukan apa pada bayi yang diangkatnya. Wajahnya pucat. Matanya memelas menatap Realf. Kepalanya mulai pusing karna bau yang menyebar.

“Celian, pakai kekuatan airmu membersihkan bokong bayi itu.” Perintah Realf dengan suara sumbang karna hidungnya ditutup.

Karna Realf belum menjahitkan pakaian untuk bayi, hari ini dia hanya digulung diselimut saat pakaiannya sedang dikeringkan. Jadi selimutnya berlumuran kotoran si bayi.

“Bagaimana bisa aku?” Protes Celian.

“Lalu menurutmu harus aku? Yang memiliki kekuatan air itu kamu.” Tandas Realf memaksa.

Celian terdiam dengan wajah jelek.

Sedangkan An Fier masih menahan diri memegangi si bayi yang sekarang menepuk-nepuk lengannya dengan riang tanpa tahu kepanikan tiga orang lainnya. Betapa mudah bagi si bayi untuk menangis lalu tertawa dalam sekejap.

“A… aku akan membawa Reeka keluar. Kita bisa membersihkannya diluar.” Gugup An Fier. Dia tidak mau seluruh ruangan berbau kotoran bayi.

Jadi, Realf membukakan pintu, An Fier dengan kecepatan kilat membawa bayi keluar dan Celian menyeret selimut yang terkena kotoran itu keluar.

“Jadi bagaimana ini?” Tanya Celian.

Dia dan Realf berjongkok dengan jarak tiga meter dari An Fier yang masih menjunjung bayi.

“Lemparkan saja airmu ke bokongnya sampai itu bersih.” Celetuk Realf tanpa tanggung jawab.

Dalam hati dia meminta maaf pada orang tua Reeka karna dia tidak bisa mengurus Reeka dengan baik.

Bayi itu bergidik merasakan udara dingin. Saat ujung ibu jari kakinya menyentuh salju, dia berusaha mengangkat kakinya lebih tinggi. Membuat An Fier yang tangannya sudah capek menjadi kewalahan.

“Cepat lakukan sesuatu. Tanganku akan patah jika lebih lama menahan Reeka.” Rengek An Fier. Bayi Reeka tidak gemuk. Tapi tetap saja berat untuk anak seusianya.

Menghela nafas, Celian menciptakan pusara airnya lalu melemparkannya ke bokong bayi.

Karna dia belum bisa mengontrol kekuatannya dengan sempurna, lemparannya itu disertai kekuatan yang cukup membuat bokong bayi memerah.

Tentu saja bayi mungil itu tersentak kaget lalu menangis keras merasakan sakit dan dingin di bokongnya.

“Celian, kau terlalu kasar. Reeka kesakitan.” Protes An Fier.

“Bukan salahku jika aku belum bisa mengontrol kekuatanku. Kalau mau berhenti tidak apa-apa. Seret saja bokong bayi itu disalju.” Gerutu Celian.

An Fier melotot tak terima mendengar saran kejam kakaknya itu. Bayi kecil harus mendapat perlakuan lembut.

“Teruskan saja sampai bokongnya bersih. Jika tidak bersih maka dia tidak boleh masuk ke rumah.” Realf berusaha menguatkan hatinya.

Setidaknya ini lebih baik daripada harus menyeret bokong Reeka di salju. Mendengar ucapan Realf, Celian pun melakukannya tiga kali lagi sampai bokong bayi itu bersih.

An Fier menggeretakkan giginya menahan kesal dan marah mendengar tangisan memilukan Reeka. Tapi dia tidak tahu bagaimana lagi membersihkan bokong bayi. Dia juga merasa kotoran bayi menjijikkan.

“Pastikan saat dia besar dia tidak akan mengetahui ini. Atau kita semua akan dibunuh.” Ucap Celian lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Realf menatap Reeka yang terisak-isak tak berdaya. Betapa buruk nasib bayi itu jatuh ke tangan tiga orang tak berpengalaman dan idiot. Setelah mendesah dia juga masuk ke dalam rumah.

Tinggalah An Fier yang memeluk Reeka penuh permohonannya maaf. Dia mengusap punggung si bayi dengan rasa bersalah. Bagaimana jika Reeka mengalami ini setiap mengeluarkan kotoran?

Reeka bisa mati bahkan sebelum dia besar.

******

<< Daftar Isi

Iklan

5 tanggapan untuk “Secret of The Sastra Jendra – Chapter 1

  1. Setelah baca ulang, Realf rupanya cewek .. bahkan ia ditunjukkan persis seperti tingkah seorang pria dewasa di chapter-chapter selanjutnya .. ahaahhh, betapa naifnya diriku T_T

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s