Oh! Juena – Chapter 6

Author : Keyikarus

Publish at Kenzterjemahan.

[Chapter 6]

 

“Kau memeluk orang yang salah.”

Jantung Yanzi nyaris berhenti karena terlalu terkejut oleh suara yang berbicara dibelakangnya.

Tidak seperti kegelapan disekitarnya, sosok yang sekarang dengan santai berjalan ke depan Yanzi itu bersinar terang. Terlihat mencolok di kegelapan. Dia seperti obor berjalan karna api menyala di sekujur tubuhnya.

Karna cahaya itu, Yanzi bisa melihat jika yang dipeluknya adalah sosok wanita tak berpakaian yang pernah dilihatnya.

Refleks, Yanzi mendorong kuat sosok itu dan mundur hingga punggungnya menempel di tembok.

Matanya membeliak tak percaya melihat sosok yang didorongnya tidak lagi terlihat hanya dengan sekali berkedip. Padahal jelas Yanzi merasakan tekstur tubuhnya tadi. Nafas Yanzi putus-putus. Rasa dingin menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuh.

Dia yang terbiasa tenang dan terkontrol terpukul dengan kondisinya sendiri. Tapi dia tidak bisa memungkiri jika yang dialaminya begitu menyeramkan.

“Kau, tidak mau mengurus adikmu?” Sosok obor itu menunjuk Yumi yang sudah terkulai pingsan.

Yanzi bergegas meraih tubuh adiknya. Tidak terlihat ada benda lunak atau benda menjijikkan yang membuat Yumi histeris disekitar gadis itu.

Setelah merasa adiknya aman bersamanya, Yanzi baru menyadari sesuatu. Menenangkan degup jantungnya yang kacau, Yanzi menoleh pada makhluk penuh api yang masih memandangnya.

“Kau ini apa?”

Makhluk itu terkekeh melambai-lambaikan tangannya dengan ringan. Namun membuat Yanzi merasa ngeri karna khawatir api itu membakar rumahnya. Beruntung kakinya tidak menapak dilantai, atau itu akan memberikan jejak hangus.

“Panggil aku bang Ban, dari Banaspati. Tuan menyuruhku melenyapkan dia…”

Banaspati itu menunjuk suatu tempat yang satu detik kemudian hantu wanita yang tadi dipeluk Yanzi muncul.

Namun secepat hantu itu muncul, secepat itu juga dia menghilang. Menyisakan suara benturan keras dan garukan kuku dilantai atas. Seolah sesuatu dibanting dan diseret paksa.

“Apa yang terjadi?” Gumam Yanzi.

“Ah itu…” Belum selesai Banaspati itu bicara, suara teriakan nyaring datang bersama gedebuk kuat didekat mereka. Membuat Yanzi memeluk erat Yumi.

Kejadian ini sungguh gila dan tak masuk akal. Dia sudah mempercayainya sejak lebih dari seminggu yang lalu. Tapi kali ini bahkan terasa lebih nyata. Dan Yanzi yang manusia biasa merasakan jantungnya bergetar. Ketenangannya sungguh diuji.

Hantu wanita itu muncul lagi, namun sedetik kemudian menghilang lagi.

Yanzi hanya bisa mengerjapkan matanya tak percaya memandang keremangan.

Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teriakan para pelayan. Dari awal mereka mengalami teror, mereka terbiasa dengan keadaan sunyi. Seolah hanya sendirian dirumah ini. Sekencang apapun teriakan tidak akan mendatangkan penolong. Atau tidak akan mendengar teriakan histeris orang lain kecuali bersama orang itu.

Jadi kenapa sekarang dia bisa mendengar teriakan para pelayan yang diruangan berbeda?

“Bukankah mereka berisik sekali?” Dengan nada ringan Banaspati itu mengajak Yanzi mengobrol.

Yanzi yang merasa akal sehatnya terganggu menjadi sedikit linglung. Mimpi apa dia hingga bisa bicara santai dengan hantu?

Dia bahkan harus mengapresiasi dirinya yang tidak pingsan atau berlari ketakutan. Apa ini karna dia setidaknya sudah melihat hantu wanita itu juga hantu ditempat Juena?

Sebelum Yanzi bisa memutuskan akan menjawab atau tidak, sosok lain muncul diruangan itu.

Sosok dengan baju putih panjang yang bahkan menutupi kaki dan tangannya. Rambut diikat ekor kuda dan mata hanya berwarna putih.

Itu adalah mas kuntilanak yang dilihatnya ditempat Juena.

“Lakukan pekerjaanmu.” Nada bicara kuntilanak pria itu terlalu dingin. Matanya yang terlihat menyeramkan menatap Banaspati.

Yang ditatap hanya terkekeh santai seolah tak ada kejadian.

“Baiklah-baiklah. Satu kali lagi, teleport Wewe itu ke sini dan aku akan langsung membakarnya.”

Mendengar itu, sosok kuntilanak itu langsung raib.

Hanya berselang beberapa detik, suara bentrokan terdengar dari ruangan para pelayan. Satu dua jeritan terdengar, tapi kemungkinan sisa pelayan itu pingsan.

Tentu saja, manusia mana yang bisa dengan mudah bertahan melihat hantu? Manusia selalu takut pada hal yang berbeda dengan mereka. Terlebih jika itu kuat dan terlihat menyeramkan.

Selagi Yanzi terdiam mendengarkan segala keributan, suara Banaspati didekatnya menarik perhatiannya.

“Hei kalau kau mau tahu, temanmu itu ada bersama mas Kun.”

Yanzi menatap sosok Banaspati didepannya dengan curiga.

“Kenapa kau memberitahuku tentang ini?”

Yanzi yang merasa sudah bisa menerima semua hal aneh melangkah membawa Yumi ke kamarnya. Dia pikir karna keributan itu berada dilantai satu, maka kamar Yumi yang berada dilantai dua akan aman.

“Hummm tidak ada. Aku hanya bicara saja. Kau tahu duniaku sangat membosankan. Terlebih aku ditempatkan di tim yang sama dengan mas Kun yang pelit bicara, Mbah Gen yang terlalu kaku dan mas Po yang bahkan tidak pernah mengeluarkan satu katapun. Itu sangat membosankan. Lagipula itu bukan rahasia. Ayo mengobrol.” Ajak Banaspati dengan suara ceria.

Yanzi melirik Banaspati yang mengikutinya, tangan pria api itu berada dibelakang kepalanya. Dia seperti anak yang kekurangan teman bermain.

Jika yang meneror rumahnya seperti ini, mungkin Yumi justru suka karna memiliki teman dari dunia lain.

Yanzi menghela nafas. Sebagai manusia modern dia merasa aneh mempercayai hal seperti makhluk astral. Tapi kenyataannya dia melihat dan bahkan diajak mengobrol oleh salah satunya.

Brak.

Yanzi dan Banaspati yang sudah sampai di anak tangga teratas menoleh ke arah benturan dilantai bawah. Yanzi bisa melihat sesuatu dibawah sana melalui cahaya samar dari Banaspati.

Suara jeritan serak memenuhi ruangan saat Mas Kun menginjak punggung Wewe gombel hingga hantu itu menempel ke lantai.

Mata putih yang memancarkan aura lebih dingin dari es menatap Banaspati. Yang ditatap hanya meringis menggaruk tengkuknya.

“Lihat dia begitu mengerikan kan?” Bisiknya pada Yanzi sebelum melompat turun ke lantai satu.

“Aku datang. Aku datang. Jangan menatapku seperti itu. Nanti apiku padam.” Dengan nada riang Banaspati mendarat diatas Wewe gombel tepat saat Mas Kun menarik kakinya.

Bunyi desisan sesuatu yang gosong dan raungan keras membuat Yanzi memalingkan kepalanya.

Dia bukan orang suci, tapi dia tidak pernah melihat pembantaian sesungguhnya. Meskipun ini terjadi pada sesama hantu, tetap saja namanya pembantaian.

Tidak seperti ruang makan di bawah yang gelap gulita tanpa Banaspati, lorong ini memiliki banyak jendela hingga cahaya dari luar mengurangi kegelapan.

Yanzi memilih segera masuk ke kamar Yumi. Tapi dia tercengang melihat sesuatu yang meluncur deras ke arahnya tepat ketika dia membuka pintu kamar Yumi.

Itu terlalu cepat hingga Yanzi yang menggendong Yumi lupa untuk bereaksi. Lagipula jika dia tidak menggendong Yumi pun, dia tidak yakin bisa bereaksi dengan cepat. Musuhnya adalah makhluk astral yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa Yanzi dibandingkan dengannya.

Namun sedetik sebelum makhluk itu berhasil menyentuh Yanzi dan Yumi, mas Kun muncul didepannya. Tangannya melambai dengan anggun memunculkan lingkaran teleportasi yang menelan makhluk itu.

Berselang satu detik kemudian, suara gedebuk dan gemeretak sesuatu yang terbakar terdengar dari lantai bawah. Tentu saja juga terdengar raungan dengan suara yang lebih kasar dan melengking tinggi.

Yanzi memejamkan mata menahan dengingan ditelinganya sementara tangannya masih memegang Yumi.

Beberapa saat kemudian, suara-suara menyeramkan itu berakhir.

Yanzi menghela nafas dan membuka matanya. Dia menatap mas Kun yang memperhatikannya dari tepi.

Mengabaikan perasaan tak nyaman diperhatikan oleh hantu, Yanzi meletakkan Yumi di kasur dengan hati-hati.

“Apakah sudah selesai?”

Banaspati masuk ke kamar itu dengan ceria. Sama sekali tidak mencerminkan prilaku hantu yang cenderung menyeramkan.

Yanzi dan mas Kun menatapnya tanpa ekspresi. Melihat itu, Banaspati merasa frustasi. Mengapa dia harus menemui tipe seperti ini dua sekaligus?

*****

<< Oh! Juena Chapter 5

 

Iklan

7 respons untuk β€˜Oh! Juena – Chapter 6’

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s