Secret Night In The Inner Palace – Chapter 4.2

English Translator : Himikochou
https://himikochou.wordpress.com/snitip-chapter-4-part-2/

*****

Seketika, wajah Selir Bu menjadi malu. Mungkin dia berpikir kata-katanya tidak berpengaruh terhadap sikap Sekka. Tepat ketika dia hendak membuka bibir merahnya untuk mengatakan sesuatu lagi, suara bahagia memaksa melewati jalannya.

“Ya ampun, pembicaraan rahasia macam apa dua gadis cantik seperti kalian yang berdiri di sini?”

Ketika Sekka mengangkat kepalanya, Pengurus Tertinggi [7] Ryuu Kouki muncul. Di belakang, ada Eishun yang mengejarnya dengan ekspresi yang tak terduga.

[7.御史大夫 – tidak ada terjemahan langsung, tetapi 大夫 dapat diterjemahkan sebagai High Steward jadi aku pergi dengan itu, dan dua Kanji pertama merujuk pada institusi yang disebutkan di bawah ini]

“Sudah lama ya, Kouki-sama.”

Bahkan berdiri di depan Pengurus Tertinggi yang membuat takut setiap pejabat pemerintah sebagai Kepala Pengawas [8] yang mematahkan ketidaksetiaan di Pengadilan Kekaisaran, Selir Terberkati Bu tidak terganggu. Mengayunkan kipas lipatnya dengan elegan, dia tersenyum anggun.

[8.御史台 – kamus mengatakan itu adalah lembaga pengawasan tingkat tinggi yang berkaitan dengan dinasti Han dan Song.]

“Sehubungan dengan Selir Terberkati Bu, selamat pagi. Hari ini juga kamu begitu cantik, kamu hanya bisa disalahartikan sebagai Nimfa Surgawi.”

[Note : Nimfa – Dalam mitologi Yunani, nimfa atau nimfe (bahasa Yunani: Νύμφες) adalah salah satu jenis makhluk legendaris yang berwujud wanita dan diasosiasikan dengan lokasi atau tempat tertentu. Mereka diidentikkan seperti peri, atau bidadari yang tinggal di alam bebas.]

Kouki juga memuji Selir Bu dengan ramah. Meskipun dia mengerti itu adalah pujian, yang disebut cantik oleh seorang pria yang tampan seperti Kouki tampaknya tidak merasa buruk, dan ekspresinya mengendur.

“Kamu sama terampilnya seperti biasanya. Kamu mungkin mengatakan hal yang sama kepada semua permaisuri / selir lainnya juga, yah kan?”

“Untuk yang membosankan seperti aku, mengapa aku akan menyanjungmu begitu? Karena perasaanku yang sebenarnya keluar dari mulutku.”

Di belakang Kouki yang menggelengkan kepalanya dalam mode yang dibuat-buat, Eishun memegang ekspresi masam. Meskipun dia telah menerima izin langsung dari Kishoh, dia tidak memikirkan Kouki akan memasuki Istana Dalam dengan senang hati. Dia mungkin menjaga pria yang tampan ini dengan pidato dan perilaku yang agak sembrono, yang mana membuat kesalahan dengan para selir, dan di atas itu mencampuri manajemen Istana Dalam.

Bagaimanapun, merasa lega bahwa beban serangan Selir Terberkati Bu menyimpang dari dirinya sendiri, Sekka memperhatikan kejadian itu dengan penuh perhatian.

“Mengatakan hal-hal seperti itu, kamu mungkin tidak datang ke sini untuk bertemu denganku?”

“Itu benar. Aku khawatir aku di sini untuk urusan bisnis.”

Ketika Kouki memberitahunya bahwa dia datang ke sini dalam kekuatan Pengurus Tertinggi, kecemasan menyelimuti wajah oval Selir Terberkati Bu. Namun, segera dia menyembunyikannya di bawah senyuman tanpa cela.

“Kalau begitu, aku seharusnya tidak menghalangi pekerjaanmu. Jika kamu persilakan, aku akan pergi.”

“Beberapa waktu kemudian. Aku akan menantikan untuk bertemu denganmu lagi.”

Kouki juga mengembalikan kata-katanya dengan senyuman ceria, dan diam-diam meninggalkan untuk Selir Bu melewatinya.

Setelah kelompok itu benar-benar hilang, sikap langsung berubah sepenuhnya. “Wanita itu,” Kouki menggelengkan kepalanya, dan bergumam keheranan.

“Seperti biasa make-up-nya sangat tebal. Seleranya dalam parfum juga kurang.”

“Kouki-sama.”

Eishun menemukan kesalahan dengan kata-katanya yang tajam, tetapi Kouki sama sekali tidak malu dan menjawab dengan “Itu benar”. Dia menyeringai nakal pada Sekka yang berdiri diam tanpa melakukan apa-apa.

“Apakah Yang Mulia Permaisuri tidak berpikir begitu?”

Meskipun dia berpikir begitu, dia tidak bisa setuju, jadi Sekka menundukkan matanya karena kebingungan.

Seperti yang bisa ditebak dari nama Ryuu Kouki, dia adalah bagian dari Keluarga Kerajaan Ryuu, yang tampaknya sepupu Kishoh. Keluarga Kerajaan itu besar, tetapi hanya pria ini yang menyebut nama Kishoh tanpa menggunakan kehormatan. Terlepas dari kenyataan bahwa dia juga menentang Kishoh, dia telah lolos dari maut.

Karena dia menerima perlakuan yang luar biasa seperti yang dibuktikan dengan memegang jabatan Pengurus Tertinggi dan diizinkan masuk di Istana Dalam, kepercayaan Kishoh kepadanya tampak baik, tetapi sebaliknya, beberapa tahun yang lalu ketika ada pertengkaran atas takhta yang mereka miliki ke pihak yang bertikai dan sering berperang.

Dalam pertempuran terakhir yang menentukan, dia memimpin pasukannya sendiri sebagai komandan, tetapi kalah dari Kishoh dan bertekuk lutut. Selama waktu itu dia telah melukai mata kanannya, dan menjadi satu mata seperti yang dikatakan Kouki sendiri.

“Itu adalah niatnya untuk membuatku bekerja keras dan berlutut di kakinya dengan membiarkan aku bertahan dengan hanya kehilangan mataku. Sungguh pria itu, bagaimana memutar kepribadiannya?”

Ketika Sekka berbicara dengannya tentang keadaan dia menjadi pengikut Kishoh, dia mengutuk meskipun dia tidak menunjukkan kebencian, tapi Sekka tidak tahu bagaimana perasaan itu sebenarnya.

Dia setahun lebih tua dari Kishoh, dan fisiknya mirip dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang kerabat sedarah. Fitur, mata, dan hidung mereka mirip satu sama lain, tetapi keduanya memberi kesan yang berlawanan.

Dibandingkan dengan Kishoh yang membuat orang lain kewalahan, Kouki memberikan perasaan positif yang ceria. Sementara rambut dan mata Kishoh memberi kesan kegelapan hitam pekat, Kouki terlihat lebih ungu kebiruan, warna yang lebih cerah.

Dia memiliki perilaku yang ramah, jadi dia juga berbicara dengan Sekka terus terang. Itu menyakitkan untuk melihat penutup mata yang menutupi mata kanannya, tetapi di sisi lain itu memberikan fitur yang anggun sebuah daya tarik yang kasar.

“Apakah itu mungkin, tidakkah Selir Terberkati Bu memberitahumu sesuatu?”

“… Dia tidak mengatakan apa pun yang layak disebut.”

Sekka secara samar menjawab pertanyaan Kouki. Tingkat permusuhan seperti itu biasa, dan dia juga merasa canggung untuk mengadu pada seseorang. Dia lebih terganggu oleh Kouki yang muncul di saat yang sangat beruntung. Sebelumnya, ketika dia bertemu dengan Selir Bu, Kouki juga kebetulan lewat dan menawarkan bantuan tepat waktu.

Bagaimanapun, Baigyoku yang kesabarannya tampak diuji dan kebencian yang menumpuk, berbicara atas nama Sekka.

“Seperti biasanya dia tidak menyenangkan. Dia mengatakan hal-hal seperti seratus tahun akan berlalu sebelum Shungetsu-sama berhenti berduka untuk Keluarga Kerajaan Li, atau sampai kapan dia berencana untuk mengenakan pakaian gaya Ka.”

Saat Baigyoku terus meniru gaya bicara Selir Bu, Shohen juga membuka mulutnya.

“Mengesampingkan itu, saat Yang Mulia Permaisuri berada di Menara Istana, tampaknya seseorang telah meletakkan kepala ayam di jalur.”

“Kamu bilang kepala ayam?”

Kulit Eishun tiba-tiba berubah. Ketika kasim muda yang mengikuti Sekka dan pembantunya melaporkan keadaan dari kejadian itu, ekspresinya berangsur-angsur menjadi lebih parah.

“Kepala ayam, lagi-lagi mereka sampai ke gangguan yang bodoh seperti itu.”

Kouki menghela nafas keheranan begitu dia mendengar kisah itu. Dari pidato dan tingkah lakunya sampai sekarang, orang bisa menganggap Kouki tidak memiliki keterikatan dengan kekuasaan dan status. Hal-hal seperti perebutan kekuasaan, dia pikir sebagai waktu yang dihabiskan untuk kebodohan belaka. Itu adalah keajaiban bahwa dia dilahirkan di keluarga kerajaan dan bertempur dengan Kishoh untuk mendapatkan tahta.

“Kedatangan diseberang Selir Terberkati Bu setelah kepala ayam, itu sungguh malang.”

Setelah dia kembali meninggalkan Sekka karena kehilangan balasan dengan kata-katanya, Kouki berbalik untuk menghadapi Eishun dengan tatapan suram.

“Ini semua karena kamu tidak menangkap pelakunya lebih awal.”

“Dimengerti.”

Eishun dengan erat menggigit bibirnya. Bagi Eishun yang mengabdikan diri pada tugas profesionalnya, tanpa Kouki bahkan mengatakannya, dia mungkin merasakan tanggung jawabnya dengan tajam.

Setelah dia ditangkap oleh Kishoh, Eishun yang telah ditunjuk untuk bertugas menjaga Sekka dan kelompoknya telah merawat mereka dengan berbagai cara. Sekka pikir kekhawatirannya melebihi batas tugas. Itu saja membuat Sekka yang menonton Kouki berbicara pada Eishun merasakan perasaan kasihan.

“Kepala ayam, itu bukanlah sebuah masalah besar.”

“Oh, mengherankan Yang Mulia Permaisuri punya nyali.”

Dia telah mencoba untuk melindungi Eishun, tetapi ketika dia melihat Kouki mengangkat alisnya karena terkejut, dia menyesali tingkah lakunya yang tidak beralasan. Mungkin karena itu adalah sesuatu yang tidak pantas untuk dikatakan seorang putri.

Jelas, dia telah ditipu oleh pidato dan perilaku ringan serta mudah dari Kouki, karena persepsi pria itu tidak kalah dengan Kishoh. Sekka harus memperhatikan perilakunya, sehingga tidak ada yang menganggapnya mencurigakan.

“Yang Mulia Permaisuri,” Eishun mengangkat kepalanya dan tiba-tiba menatap Sekka.

“Aku minta maaf karena membiarkan kamu melihat hal yang tidak menyenangkan seperti itu. Kami pasti akan menemukan pelakunya, jadi tolong maafkan kami pada kesempatan ini.”

Karena pelakunya tidak terbatas pada satu orang, bahkan jika seseorang tertangkap, itu tidak berarti gangguan juga akan berhenti. “Terima kasih …” Sekka, bagaimanapun, berterima kasih padanya dengan suara kecil, saat dia merasakan ketulusan Eishun, meskipun dia berpikir gangguan itu akan tetap ada tanpa akhir.

“Bagaimanapun, kami juga harus mengundurkan diri kami sekarang.”

Dia memberitahu mereka sambil menyembunyikan mulutnya di lengan bajunya, bertujuan untuk gerakan seperti seorang perempuan.

Sekka merasakan tatapan Kouki saat dia melangkah pergi, diikuti oleh Shohen dan yang lainnya.

……………..

“Aku dengar kamu bertemu Kouki.”

Malam itu, itu adalah hal pertama yang keluar dari mulut Kishoh ketika mereka bertemu.

Itu adalah kamar tidur kediaman Kaisar – Istana Shibi. Sebuah layar yang menyekat ditempatkan di sekitar tempat tidur, menyembunyikannya dari pandangan.

Di awal, tampaknya itu adalah kebiasaan bagi para kasim untuk menjadi saksi dari permainan cinta (making-love) Kaisar, dan menawarkan bantuan selama proses tersebut. Namun, ketika Kishoh memanggil Sekka, dia melarang kasim masuk tanpa kecuali.

Tentu saja, itu supaya tidak ada yang mengetahui kalau dia bukan wanita. Tetapi para kasim bisa menafsirkan dia memanggil Sekka setiap hari dan melanggar kebiasaan yang sama seolah-olah dia tidak ingin membiarkan mata kasim bahkan menyentuh ‘Yang Mulia Permaisuri Li’ untuk sang Kaisar memegang kasih sayang yang mendalam, seperti desas-desus di Istana Dalam terjadi.

“Aku bertemu dengannya ketika aku sedang berjalan-jalan.”

Sekka diam-diam menempatkan dirinya sebagai penjaga, karena dia merasakan dari nada suara Kishoh bahwa dia menemukan kesalahan dengan dia.

Tidak peduli apa, dia merasa gugup ketika berhadapan dengan Kishoh, yang telah bangkit dari tempat tidur hanya mengenakan pakaian tidur. Meskipun tidak ada apa-apa selain jijik, secara menyebalkan, bagian tengah dari tubuhnya secara bertahap menghasilkan sensasi terbakar. Sejauh Sekka gelisah mengambil tindakan itu tidak menyenangkan, tetapi tubuhnya penuh dengan penantian untuk kesenangan yang ditawarkan.

“Kamu tidak senang.”

“…um”

Tiba-tiba dagunya ditangkap saat dia berpikir apakah gumamannya yang rendah terdengar. Dia ditembus oleh kedekatan sepasang mata bergejolak yang bersinar dalam cahaya lilin. Saat dia merasakan detak jantungnya semakin cepat, Sekka berusaha untuk tidak membiarkan ekspresinya berubah.

“Apa itu? Apakah kamu mendengar bahwa kita secara pribadi mengizinkan Lord [9] Kouki untuk masuk dan keluar dari Istana Dalam?”

[9]. 公子 – bangsawan muda, tapi itu kata benda, bukan sebuah akhira,n jadi hanya pergi dengan Lord.

“Aku mengizinkannya karena dalam tugas profesionalnya sebagai Pengurus Tertinggi, penting baginya untuk memasuki Istana Dalam.”

Jari-jari yang mengelus di pipinya menyakiti. Tindakan itu mungkin meredakan kekesalan Kishoh. Jarang sekali seorang pria yang selalu tenang dan dapat menguasai diri untuk membiarkan sebagian emosinya mengintip.

Bagaimanapun, dia tidak mengerti apa penyebab kekesalan Kishoh. Sejak awal dia adalah seorang pria di luar pemahaman Sekka.

“Apakah tidak ada hal yang ingin kau beritahukan kepada Aku?”

Karena dia tahu kalau Sekka telah bertemu Kouki, tentu saja, dia juga diberitahu tentang kasus dengan kepala ayam. Dia tidak punya alasan untuk percaya bahwa Eishun telah melalaikan hal itu.

“Aku pikir kamu sudah diberi tahu.” (Sekka)

“Hmm,” Kishoh mendengus dengan geli, dan melepaskan tangannya dari Sekka.

“Aku mendengar bahwa seseorang telah meletakkan kepala ayam di jalan saat kamu berada di Menara Istana.” (Kishoh)

“Itu mungkin terjatuh.”

Meskipun dia berpikir itu mungkin disengaja, tetapi bagaimanapun juga itu tidak berarti dia menjadi saksi di TKP. Sekka memberanikan diri untuk menghindari membuat kesimpulan.

“Bagaimana naif. Kamu benar-benar berpikir itu tidak lebih dari gangguan?”

“Jika itu bukan gangguan, apa yang kamu katakan tentang itu?”

Sekka secara tidak sengaja membalas, menentang nada suara Kishoh yang tampaknya menyiratkan kekaguman pria itu pada ketidaktahuan Sekka tentang cara-cara dunia. Sekka bertanya-tanya siapa yang tercela sehingga dia akhirnya mengumpulkan perhatian di Istana Dalam dan mengaduk kecemburuan selir lainnya.

“Aku baru, jadi aku mungkin sesuatu yang ganjil. Pada akhirnya kamu akan kehilangan minat.”

Itu ironis bagi Kishoh sendiri, tetapi Sekka sepertinya tidak bisa dipahami olehnya. Sebaliknya, dia membalas dengan senyum yang berani.

“Karena kamu mungkin tidak bisa melahirkan anak, maksudmu begitu?”

Pipi Sekka menjadi panas di sentuhnya. Bukankah lebih baik baginya untuk membuat selir lain melayani dia jika dia ingin punya anak? Lebih cepat dari Sekka bisa membuka mulut marahnya, Kishoh melanjutkan.

“Aku sudah memiliki tiga pangeran, itu sudah cukup. Terlalu banyak hanya akan menimbulkan masalah di masa depan.”

Tidak seperti kelaparan, tingkat kekuasaan tidak bisa lepas dari penyakit yang lazim. Begitu penyakit menjalar menyebar, yang pertama mati adalah anak-anak kecil tanpa perlawanan terhadapnya. Jika kamu berpikir seperti itu, menurut pendapat Sekka, tiga pangeran sama sekali tidak terlalu banyak, tetapi Kishoh tampaknya berpikir bahwa lebih dari tiga tidak perlu.

Melihat dari garis penglihatan, minat Kishoh pada anak-anaknya tampak jarang. Karena pria inilah, tampaknya meragukan apakah dia memiliki kasih sayang seorang ayah, perasaan yang umum pada kebanyakan orang.

“Bagaimanapun, jika kamu menganggap enteng sebagai gangguan belaka, tidak mungkin situasi akan meningkat ke titik yang tidak dapat dipulihkan. Di belakang punggung selir, spekulasi dari keluarga mereka memusingkan. Itu bukan hanya kecemburuan dari wanita yang kita bicarakan. Paviliun Kekaisaran dan Istana Dalam adalah dua sisi mata uang yang sama. Itu sebabnya Aku mengizinkan Kouki memasuki Istana Dalam.”

Untuk Sekka yang dibesarkan di negara tanpa harem, betapapun sengitnya persaingan antara selir untuk kepentingan Kaisar adalah, itu diluar imajinasi Sekka. Di Kerajaan Ka, para Menteri di bawah Yougetsu juga bersaing satu sama lain, tetapi tidak pernah ada perebutan kekuasaan yang serius.

Meskipun demikian, karena banyaknya gangguan yang dilakukan oleh para selir yang diarahkan kepadanya dan sikap mereka, dia telah menduga bahwa penindasan oleh para wanita di Istana Dalam itu berbahaya. Di balik kecerahan Istana Dalam ada kebencian hitam dan cemburu yang mendalam.

“Sebenarnya, Aku bertanya-tanya apakah saat ini seseorang telah terbunuh?”

Terkejut, Sekka mengangkat kepalanya dan mata Kishoh menatapnya.

“Ada pelayan yang telah meninggal sebelum investigasi Eishun. Secara resmi itu ditangani sebagai bunuh diri, tetapi sebenarnya itu cukup mencurigakan.”

“Lalu, apakah kamu mengatakan dia dibunuh?”

Pembantu Ou yang telah bunuh diri termasuk dari Departemen Busana [10] yang bertanggung jawab atas manajemen pakaian dan aksesoris, dan salah satu dari Enam Departemen [10] yang mengarahkan pengelolaan Istana Dalam.

[10. 六 尚 – liu shang dalam bahasa Cina, itu adalah istilah untuk enam jabatan pekerjaan dalam tingkat manajemen Istana Dalam dan 尚 服 adalah layanan yang terkait dengan pakaian.]

“Dia telah mengakumulasi hutang perjudian senilai tiga tahun dari gajinya dengan kehilangan kartu kepada rekan-rekannya, tetapi Aku telah mendengar bahwa dia telah membayar kembali seluruhnya sebelum kasus ini. Selain itu, dia juga mengirim uang kepada keluarganya untuk berdagang. Sumber dari uang ini tidak jelas.”

Itu adalah pertama kalinya Sekka mendengar tentang hal ini. Eishun mungkin telah menyelidiki ini sementara Sekka tidak menyadarinya. Gaji tiga tahun, meningkatkan jumlah uang itu tidak mudah bagi seorang pembantu belaka.

“Sepertinya, ada seseorang yang menarik tali di belakang pembantu yang mati itu. Tidak aneh kalau orang-orang itu mencoba membunuhmu.”

Nada Kishoh telah menjadi tegas seolah dia sedang mengintimidasi Sekka.

Meskipun dia mendengar seseorang yang paling mungkin ingin membunuhnya, hati Sekka anehnya tenang. Mungkin karena sejak penghancuran Kerajaan Ka, dia berpikir wajar kalau dia akan mati juga. Sebaliknya, pikiran yang agak putus asa terlintas di pikirannya.

Jika dia tidak bunuh diri, tetapi dibunuh oleh seseorang, Kishoh tidak akan mencampuri Shohen dan Baigyoku, serta tentara yang dipenjara. Dia juga tidak akan mengekspos jenazahnya. Jika fakta bahwa Kishoh telah membuat seseorang seperti Sekka itu permaisuri menjadi publik, itu hanya akan membuat malu untuk Kishoh sendiri.

Ironisnya, kematian oleh tangan orang lain adalah satu-satunya cara dia bisa dibebaskan dari lingkungannya saat ini. Sekka tidak sadar, tetapi dia sudah lelah oleh pikiran gangguan dan kejahatan yang berturut-turut yang ditujukan padanya dari sumber yang tidak diketahui.

“Jika itu adalah takdirku, itu tidak bisa dihindari.”

“Bahkan jika kamu tidak akan bisa melakukan pembalasanmu terhadap Aku?”

Apakah dia sudah melihatnya?

Ditusuk di dada oleh pikiran itu, Sekka mengatupkan tangannya yang tersusun rapi di atas pangkuannya. Tatapan Kishoh menusuk ke sisi wajahnya yang tertutup.

“Sejak waktu itu kamu melukai Aku, ada kebencian dan kemarahan di matamu. Perasaan seperti itu tidak dapat dibuang begitu mudah.”

“Dalam hal itu meskipun kemungkinan besar akan membunuhmu dalam tidurmu, kau menempatkanku di samping dirimu sendiri. Sungguh sinting.”

Menyembunyikan keterkejutannya saat menebak dengan benar, dia berbicara pada Kishoh dengan sinis. Dia mengira itu bukan kekhawatiran di hati pria ini karena pria ini sama sekali tidak sepenuhnya sembrono.

“Aku telah mengatakan bahwa hal-hal yang Aku inginkan, Aku akan dapatkan. Baik itu benda atau pun seseorang.”

Dalam cahaya tenggelamnya lilin, sepasang mata Kishoh bersinar dengan cahaya gelap.

Menginginkan sesuatu tidak selalu berarti menyukainya. Bagi pria ini, Sekka adalah hal yang langka, tidak berbeda dengan merak putih, rusa, atau salah satu unta yang asli dari Barat. Dia adalah seorang pria dan seorang wanita pada saat yang sama, itu adalah tubuhnya yang hanya merupakan hal yang langka.

“Hasilnya adalah kandang burung ini? Namun, tidak seperti apa yang kamu katakan tidak ada keamanan di dalam kandang ini.”

Dia tidak tahan untuk menetap tanpa setidaknya satu sentuhan pada pria itu. Bahkan jika dia menerima pembalasan setelah itu untuk menyakiti ketertarikan pria itu.

“Meski begitu itu memberi Aku lebih banyak ketenangan pikiran daripada membiarkan kamu keluar di alam liar.”

Kishoh menyingkir dengan tatapan serius.

“Aku sepenuhnya bisa melarangmu untuk keluar …, tapi mencekik seekor burung penyanyi yang kamu dapatkan dengan susah payah hanya akan menjadi sia-sia.”

Membandingkannya dengan burung penyanyi, Kishoh mungkin ingin mengatakan bahwa keberadaan Sekka saat ini benar-benar tidak berdaya. Itu menjengkelkan, tapi benar. Jika dia tidak memiliki izin dari Kishoh, dia bahkan tidak bisa melangkah ke luar dari Istana Seika.

“Bagaimanapun, berhati-hatilah dengan lingkunganmu.”

Ada sedikit kekhawatiran yang bercampur dalam nada suara Kishoh. Seakan dia benar-benar khawatir tentang Sekka. Sekka mencoba untuk menentukan niat sebenarnya, tetapi dalam cahaya yang tenggelam ada bayangan rumit yang jatuh pada sosok pria yang anggun itu, dan ekspresinya sulit dimengerti.

“Jika kamu tidak ingin dibunuh seperti ibu Akui.” (Kishoh)

“… eh …?” (Seika)

Mencapai titik di mana dia bisa berhenti, Kishoh berbicara dengan suara lirih. Sementara Sekka bingung dengan kata-kata Kishoh yang diucapkan seperti dia berbicara pada dirinya sendiri, lengannya ditarik ke arah Kishoh dan rahangnya disita.

Ibu Kishoh terbunuh …?

Lebih cepat daripada dia bisa meminta penjelasan, pertanyaannya diblokir oleh sebuah ciuman. Bibirnya dipisahkan oleh dorongan yang sama seperti biasa dan lidah mereka terjalin. Lidahnya sangat tersedot sampai akar, mulai terasa sakit, dan dia bahkan tidak bisa bernapas normal.

Dia didorong ke tempat tidur, dan sebelum dia bisa menolak, Kishoh telah membungkuk di atasnya. Berbeda dengan pemikirannya tentang penolakan, bagian tengah dari dirinya yang dilanda dalam penantian.

“…uh…”

Seketika tubuhnya meleleh saat dia dicumbu dengan pengetahuan penuh tentang titik lemahnya. Tanpa keraguan malam ini juga dia akan bermain sampai dia kehilangan kesadaran. Sementara dia ditarik ke kedalaman kenikmatan, kata-kata yang Kishoh katakan ditikam di dada Sekka seperti duri.

~ ^. ^ ~


<< SNITIP 4.1

Iklan

2 tanggapan untuk “Secret Night In The Inner Palace – Chapter 4.2

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s