Peran Pengganti – Chapter 11

Author : Keyikarus
Publish at Kenzterjemahan.com

[Chapter 11]

Zino mengusir para pelayan keluar kamarnya. Dia hanya mabuk kendaraan, bukan mabuk minuman. Tentu saja sekarang kondisinya lebih baik karna sudah tidak dalam kendaraan.

Duduk di ranjang, Zino dengan semangat meletakkan tasnya. Lalu dia mengeluarkan benda berbahaya kedua. Apalagi kalau bukan dompet si pria pelit bernama Zinan.

Pria itu telah membuat Zino memiliki dendam kesumat tanpa ujung. Tentu saja itu artinya Zino akan mengambil kompensasinya tanpa ujung karna kelelahan membenci.

Membenci itu butuh energi! Energi itu berasal dari makanan dan makanan dibeli dari uang. Jadi Zino butuh uang Zinan, oke.

Zino mendesah puas melihat lembaran uang yang sama banyaknya dengan yang dia ambil beberapa waktu lalu. Uang Zinan tak pernah mengecewakannya.

Mendengar suara langkah mendekat, Zino dengan cepat memasukkan uangnya ke dalam tasnya. Lalu dia mengambil dompet Zinan yang berada di tasnya dan menyelipkan dua dompet ditangannya itu dilaci terbawah meja nakas. Menutupinya dengan berbagai barang milik Vivian yang dia singkirkan dari meja rias.

Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka, Zino sudah duduk manis diranjang. Menutupi tas penuh uangnya dengan selimut.

“Apa kau tak bisa menahan muntahanmu? Kenapa kau tidak meminta kantong plastik? Kenapa otakmu begitu kecil hingga membuat masalah berulang kali? Berapa kali lagi aku harus memberi ganti rugi pada bajingan Arkanda itu?”

Jean memuntahkan kekesalannya pada Zino. Sedangkan pemuda itu dengan manis mendengarkan seolah Jean sedang menceritakan sebuah dongeng.

“Kenapa memarahiku? Dengar, mabuk kendaraan itu tidak bisa ditahan, oke. Lagian Vivian juga banyak kelemahan, bertambah satu lagi bukan masalah kan? Kenapa Vivian boleh sakit dan aku tidak?”

“Diam! Kau dibayar untuk ini. Jadi kau tak berhak protes.” Jean tidak terima Zino menyalahkan Vivian.

Hanya dia yang tahu saat Vivian menatap keluar jendela mobil tak berdaya melihat teman-temannya bermain. Hanya dia yang tahu saat Vivian merayakan ulang tahunnya tanpa pelukan orangtuanya. Hanya dia yang tahu bagaimana sesungguhnya Vivian adalah gadis kecil yang kesepian. Terkekang dengan peraturan keluarga. Terkekang dengan perhatian orangtuanya tanpa kehadiran nyata orangtuanya. Tersiksa dengan kelemahannya. Hanya dia yang tahu seorang Vivian yang merindukan kebebasan dan kasih sayang sesungguhnya.

Tidak ada satupun yang berhak menghakimi Vivian dimatanya!

Zino mengedikkan bahunya. Dimatanya Jean adalah abang yang baik. Selalu berdedikasi memenuhi keinginan adiknya. Sesungguhnya Zino tidak mengerti perasaan Jean pada Vivian atau sebaliknya. Karna dia tidak pernah mengalaminya.

Meski begitu Zino bisa menerima dengan mudah kemarahan Jean. Dibandingkan dengan dia yang hanya menemui Vivian sekali, tentu saja Jean yang mengenal Vivian sejak kecil akan lebih menyayangi gadis itu.

Darah tidak sekental itu hingga bisa memunculkan perasaan sentimentil dalam sekejap.

“Kalau begitu kau harus memberiku uang tambahan. Kau tahu, orang pelit itu membuatku membayar bensin mobilnya yang mahal. Belum lagi dia menyakitiku secara mental. Aku butuh biaya refreshing.”

Jean kehabisan kata-kata mendengar ucapan bernada polos dan memelas Zino. Dia mungkin dikutuk saat lahir hingga bisa bertemu dengan orang-orang berkelakuan tidak masuk akal.

“Jika kau bisa membayar bensinnya berarti kau memiliki uang. Untuk apalagi meminta uang tambahan padaku? Lalu dengan siapa aku meminta ganti atas semua kerugianku?” Jean merasa tenaganya habis.

Zino dengan nada meyakinkan dan mendesak berkata. “Tidak ada uang tambahan berarti tidak ada akting.”

Jean menatap Zino yang cemberut dengan tak berdaya. Ini rumahnya, bukankah seharusnya dia yang menindas, tapi kenapa dia merasa ditindas?

Menghembuskan nafas kalah, Jean mengangguk. “Aku akan mentransfer ke rekeningmu. Berprilakulah baik. Setidaknya biarkan aku tidak sakit kepala sehari saja.”

“Tentu. Abang, aku tidak akan menyusahkanmu.” Zino berseru riang.

Jean menatapnya malas dan keluar dari kamar Zino.

Zino yang sudah sendirian dikamar bersiul-siul riang. Dia mendapatkan banyak uang dalam dua hari. Tiba-tiba dia teringat Mei.

Karna terlalu banyak yang terjadi, Zino bahkan lupa menghubungi gadis itu. Ini sudah hampir dua Minggu sejak terakhir kali pertemuan mereka. Dia pikir tak ada salahnya menemui gadis itu nanti.

Dia tak terlalu menyukai menggunakan ponsel. Mei pasti akan mengatainya gaptek karna ponselnya tidak menyediakan apa yang Mei sebut emot. Bahkan ponselnya yang berlayar tiga inci akan tersendat-sendat jika membuka browser.

Zino mendesah lega saat tubuhnya diguyur air dari shower. Mengusap tubuhnya dengan sabun, Zino harus mengerang jengkel melihat bekas memerah dibagikan bawah ketiaknya.

Dia ingin membuang semua benda menyiksa yang digunakan untuk menahan dada palsunya itu.

Selesai mandi, Zino mengenakan kemeja longgar. Tidak ada orangtuanya, tidak ada Jean, tidak ada pelayan. Dia hanya sendirian dikamar, itu berarti dia tidak perlu memasang dada palsunya.

Sangat menyenangkan bisa tidur dengan leluasa.

Zino mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Sembari bersenandung dia menyisir rambut panjangnya menggunakan jari.

“Eh?” Zino terkesima melihat satu gumpal kecil rambut tersangkut ditangannya.

Rambut sambungnya terlepas!

Zino berkedip beberapa kali lalu tersenyum lebar. Dia dengan semangat melepaskan rambut sambungnya dan melemparnya begitu saja.

“Selamat datang tidur nyaman.” Desah Zino membenamkan dirinya di kasur.

Keesokan paginya kediaman Zigan dikejutkan dengan teriakan histeris seorang pelayan. Jean yang tidur hanya menggunakan celana santai tersentak dan langsung berlari ke arah suara.

Dia terpaku didepan pintu kamar Zino. Melihat pelayan yang gemetaran menatap ceceran rambut dan Zino bolak balik.

Sementara biang masalahnya dengan wajah tanpa dosa mengucek matanya. “Kenapa berteriak?” Tanya Zino dengan suara serak khas bangun tidur.

“Nona… nona…” Pelayan disamping Zino tergagap.

Sementara Jean menutup pintu setelah mengusir beberapa pelayan yang datang karna mendengar teriakan.

“Jika kau pintar, kau akan menutup mulutmu.” Jean menatap pelayan itu penuh ancaman.

“Ya tuan. Saya berjanji. Saya hanya terkejut karna melihat tikus.” Pelayan malang itu mengangguk-angguk memelas.

Sesungguhnya dia tidak tahu kenapa tuannya mengancamnya. Apakah rambut Vivian yang berceceran adalah masalah besar? Dia hanya terkejut melihat kepala berambut pendek menyembul dari selimut. Tidak menyangka bahwa itu adalah nonanya yang berambut pendek.

Jean dengan kejam menarik selimut yang membungkus Zino. Membiarkan pemuda itu jatuh kelantai dan mengerang.

“Baru tadi malam kau bilang tidak akan menyusahkanku. Dan sekarang kau sangat menyusahkanku!”

Zino menatap wajah memerah Jean. Beralih ke pelayan yang meringkuk ketakutan. Beralih lagi ke ceceran rambut. Lalu terdiam beberapa saat mengumpulkan kesadarannya sebelum kembali menatap Jean.

“Ehe he he.”

“Apanya yang ehe he?! Cepat bereskan dirimu! Aku akan memanggil Alice.” Raung Jean.

“Abang… tenang sedikit, oke. Tidak ada mama atau papa di sini. Aman.”

Jean ingin membelah kepala Zino, memeriksa apakah memiliki otak atau tidak didalamnya.

“Tidak ada mama papa bukan berarti tidak ada pelayan! Kau cepat bereskan dirimu!”

Pelayan yang melihat kemarahan Jean menjadi bingung. Dengan terbata-bata dia bertanya, “Tuan… apa yang terjadi dengan nona? Rambut nona…”

Ini pertama kalinya pelayan itu melihat Jean sangat kasar menghadapi Vivian. Untuk suara, pelayan itu mengira nonanya hanya sedang bangun tidur.

Jean dan Zino terdiam menatap pelayan itu.

“Kau masih memanggilnya nona?”

Pelayan itu semakin kebingungan mendengar pertanyaan Jean. “Tentu. Bu… bukankah seharusnya saya memanggil nona begitu?”

Jean mengusap kasar wajahnya. Bahkan meski suaranya lebih berat dan rambutnya pendek, pelayannya tidak akan berpikir jika Zino bukanlah Vivian.

Sementara itu Zino tertawa.

“Pergilah. Jangan katakan apapun.” Jean mengusir pelayan itu.

Tadinya dia berniat menjadikan pelayan itu khusus merawat Zino. Atau jika terpaksa membuatnya pergi ke negri tetangga agar penyamaran Zino tidak terbongkar. Siapa sangka kekhawatirannya hanya berlebihan.

“Kau! Mulai sekarang kunci pintu kamarmu dengan baik. Aku akan melarang pelayan masuk ke kamarmu jika kau tidak memanggil.”

“Apa itu berarti di kamar aku boleh melepaskan dada palsu dan teman-temannya?” Tanya Zino antusias.

Jean menatap tajam Zino. Lalu pria itu keluar kamar tanpa menjawab. Dia menyadari jika dia semakin longgar memperlakukan Zino.

“Terima kasih abang!” Teriak Zino riang sebelum Jean menutup pintu kamarnya.

*****


 

<< Peran Pengganti 10

Iklan

6 tanggapan untuk “Peran Pengganti – Chapter 11

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s