Peran Pengganti – Chapter 7

Author : Keyikarus
Publish at Kenzterjemahan.com

[Chapter 7]

Alice memberikan sentuhan terakhir pada wajah Zino lalu berdecak puas.

“Oke~~ sudah selesai. Kau adalah bintang utama hari ini? Jangan lupa senyum~~”

Zino menatap wajah gadis manis di cermin lalu melirik Alice dengan cemberut.

Dia tak tahu harus bersyukur atau menangis karna terlihat begitu sempurna sebagai seorang gadis. Efek make up terlalu mengerikan!

Pesta pertunangan diadakan di salah satu villa Zigan yang berada dipegunungan. Karna jarak yang jauh dari kota dan lokasinya terbatas, Zigan hanya mengundang koneksi bisnis terdekatnya.

“Anak nakal ini, kenapa belum keluar juga…”

Zino dan Alice menoleh saat mendengar suara pintu terbuka dibarengi dengan suara lembut Loraine.

“Oh Alice… kau membuatnya sempurna.” Loraine menatap kagum putrinya.

“Tentu~~ sudah, bukankah kalian sudah ditunggu?” Alice mendorong Zino yang meringis ke arah Loraine. Sempurna bukanlah pujian yang dia harapkan saat ini.

“Sayang, Zinan akan menyukaimu.” Loraine menggandeng Zino keluar, tak menyadari wajah malas Zino yang segera digantikan senyum manis.

Zino melihat kerumunan orang dilantai bawah. Mereka semua memiliki bau yang sama. Menggunakan barang-barang yang menyilaukan mata Zino.

Zino sangat menahan diri agar matanya tidak berkeliaran kesana kemari. Dia seperti melihat puluhan dompet siap dipanen!

“Kau terlihat siap sayang.” Loraine tersenyum tenang melihat wajah bahagia Vivian.

Tadinya dia khawatir putrinya akan merasa tertekan. Tapi sepertinya kekhawatirannya sama sekali tidak perlu.

“Yah. Aku sangat siap mama.” Zino mengangguk semangat.

Benar, Zino siap memanen uang!

Dengungan suara obrolan para tamu berhenti saat melihat sepasang ibu dan anak yang turun dari lantai dua.

Ini pertama kalinya Putri Zigan muncul didepan publik. Tentu saja membuat beberapa orang penasaran.

Tak ketinggalan Sang calon tunangan, Zinan. Pria itu menatap gadis manis yang dengan hati-hati menuruni tangga dibantu ibunya.

Zinan memperhatikan bagaimana mata gadis itu berkeliaran penuh semangat sementara dengan hati-hati mengikuti langkah ibunya.

Dia pikir Vivian cukup lucu.

“Ayo sapa papamu.” Loraine membiarkan Zino maju lebih dulu mendekati pria paruh baya yang menatap mereka.

Siapa yang menyangka jika Vivian sudah hampir tiga bulan tak bertemu pria yang dipanggilnya papa ini. Zino mempertanyakan status kekeluargaan mereka.

Pemuda itu dengan senyum anggun menghampiri Jeremy. Meski nyaris lima puluh tahun, tapi wajahnya masih terlihat tampan. Posturnya tegak dengan aura menindas.

Zino merasa tertekan melihat wajah acuh tak acuhnya. Dia sudah menyiapkan mental sejak Jean memperingatkannya tentang temperamen ayah mereka. Tapi berhadapan langsung tetap membuatnya merasa tak nyaman.

“Papa.” Suara manis Zino hanya disahuti gumaman oleh Jeremy Zigan.

Pria itu meraih bahu putrinya dan membawanya ke depan keluarga Arkanda.

“Beri salam pada tuan dan nyonya Arkanda.”

Zino menelan ludah gugup. Tadinya dia pikir akan mudah, tapi ternyata setiap orang kaya memiliki aura menindasnya masing-masing. Perasaan inferior begitu kental membayanginya ditengah-tengah para orang kaya ini.

“Halo, namaku Vivian. Senang bertemu dengan kalian.”

“Kau terlihat menakjubkan.” Ellie Arkanda tersenyum sopan. Dia tidak seperti Loraine yang terlihat lembut dan baik hati. Cara bicara dan tatapan matanya jauh lebih angkuh dibanding Loraine.

“Tentu. Lihat saja orangtuanya.” Kali ini Diwan, kepala keluarga Arkanda yang tertawa ramah. Tertawa bisnis.

Zino tersenyum manis mengucapkan terima kasih. Sementara dalam hatinya menggerutu, betapa orang-orang ini tidak menutupi keacuhannya mereka dengan sungguh-sungguh.

“Kemarilah sayang, kau harus menyapa Zinan sebelum acara dimulai.” Ellie menarik lembut tangan Zino dan mengarahkannya pada Zinan.

Mata Zino berkilat-kilat senang melihat Zinan. Melupakan perasaan tertindasnya dalam sekejap. Dia teringat betapa mempesona banyak lembaran uang yang Zinan miliki didompetnya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah apakah dia akan langsung mengambil dompet baru Zinan lagi atau memilih mengambil dompet orang lain lebih dulu?

Melihat mata gadis didepannya yang semakin hidup, Zinan tak bisa tidak mengangkat sudut bibirnya. Betapa mata yang menarik. Bukan mata yang angkuh, acuh tak acuh atau penuh perhitungan seperti mata setiap orang yang ditemuinya.

“Senang melihatmu lagi.”

Zino nyaris mengernyit jijik mendengar nada ramah Zinan. Dia tak akan lupa, keramahan orang ini hanya tipuan.

Tapi tentu saja Zino menahan diri dan memamerkan senyum manisnya.

“Maafkan aku sebelumnya karna merepotkanmu.” Saat ini dia adalah Vivian dengan sopan santun tak bercela.

“Tidak. Itu bukan masalah.”

Cara dua orang itu bicara seolah sedang melakukan ajang pamer senyum.

Tak membiarkan menunggu lama, pembawa acara segera memulai memandu. Rentetan sambutan membosankan membuat Zino berkedip-kedip malas. Tapi raut wajahnya masih penuh senyum dibawah pelototan Jean.

Zino baru tahu jika Jean adalah seorang duda. Mantan istrinya datang bersama anaknya yang berumur empat tahun menyapa Zino.

Tidak tahu apa alasan Jean dan istrinya, Kamilla bercerai. Hanya saja menurut Zino, sayang sekali menceraikan istri secantik Kamilla. Terlebih Mio adalah putri kecil yang menggemaskan. Sayangnya Vivian selalu tidak nyaman bersama Mio, jadi bibi dan keponakan itu sama sekali tidak akrab. Ini dia ketahui dari Jean.

Zino juga bertemu abang Zinan. Namanya Leihan, dan istrinya yang tidak secantik Kamilla namun lebih seksi dari Kamilla bernama Rua. Gaunnya panjang hingga berekor namun belahannya nyaris mencapai pinggul. Bahkan belahan dadanya pun rendah.

Zino tak bisa berpaling dari dua gundukan yang menarik mata milik Rua. Itu berbeda dengan barang palsu didadanya!

“Jika kau tidak akan bertunangan dengan Zinan, aku akan berpikir jika kau menyukaiku.” Tawa seksi Rua mengalun. Membuat Zino tersipu malu.

“Aku memang menyukaimu.” Jawab Zino jujur. Siapa yang tidak menyukai wanita seksi?

“Vivian, kau terlalu jujur.” Jean tersenyum penuh ancaman. Duda beranak satu ini menjaga jarak aman dengan Zino. Tidak terlalu jauh ataupun dekat.

Zino merasa Jean sengaja membuatnya mati rasa dengan berkali-kali memelototinya. Ayolah, itu tidak akan mempan untuk Zino. Justru membuatnya terbiasa.

Namun dia tetap meralat ucapannya sebelum Jean hilang kendali dan mencekiknya. Dengan polos dia berkata: “Bagaimana mungkin aku tidak menyukaimu? Kau akan menjadi kakakku.”

Mendengar itu tawa Rua semakin semarak. Mengabaikan tuan Zigan yang sedang memberikan pidato didepan sana.

Rua adalah satu hal. Tapi Leihan adalah hal lain. Dia adalah pria yang Zino pandangi di salon Alice kemarin. Dan sekarang pria itu sedang balas memandangnya dengan tatapan intens. Membuat sekujur tubuh Zino merinding.

“Sepertinya kita pernah bertemu.” Itu bahkan bukan pertanyaan.

“Benarkah?” Zino memasang wajah polos yang sedikit bingung. Dia tak akan dengan mudah mengatakan apa yang ingin didengar orang lain.

Ekspresinya itu membuat yang melihatnya gemas. Tentu saja kecuali Jean. Dia tidak merasa ada kesalahan dalam prilaku Zino sebagai Vivian. Hanya saja menyadari Zino adalah pria, tentu aneh melihatnya memasang wajah semanis itu.

Jean tak menyadari jika dia semakin mentolerir sedikit demi sedikit kesalahan Zino saat memerankan Vivian. Atau mungkin sebenarnya Jean mulai terbiasa dengan Zino, dan mulai kabur antara prilaku Vivian dan Zino.

Saat suara Jeremy memanggil Zino dan Zinan untuk segera maju untuk bertukar cincin. Zino tak luput mendengar ucapan Leihan, “Aku bisa membantumu mengingatku nanti.”

Wajah Leihan masih acuh tak acuh, tapi ucapannya membuat Zino bingung.

Jean yang juga mendengar ucapan Leihan menarik tangan Zino. Cengkeramannya membuat Zino mengerucutkan bibir karna sakit.

“Dengar. Tunanganmu Zinan. Tolong hanya fokus padanya. Jauhi Leihan.” Bisik Jean penuh tekanan.

Jean sangat khawatir. Reputasi Leihan sebagai pecinta kecantikan bukanlah omong kosong. Leihan selalu mendapatkan kecantikan yang diinginkannya. Bahkan pernikahan tidak membuatnya terbatasi mendapatkan berbagai kecantikan.

Zino tidak tahu ini. Dan Jean tak punya waktu untuk menjelaskannya saat ini.

Salahkan jangka waktu sempit yang dia miliki untuk membuat Zino berperan sebagai Vivian.

“Maaf saja ya. Ini hanya pura-pura. Bukan tunangan sungguhan. Aku tak akan fokus pada Zinan.” Kecuali dompetnya.

Zino akan mati dicekik Jean jika mengatakan dua kata terakhir. Karna itu dia menyimpannya.

Mendengar jawaban sembrono Zino, Jean langsung sakit kepala. Jika mereka hanya berdua, dia sudah pasti akan memukul kepala berotak kecil pemuda ini. Dia sama sekali tak mendengarkan!

Selain Jean, Zinan juga mendengar ucapan Leihan. Dia bahkan melihat mata Leihan yang tertarik pada tunangannya.

Dimana harga dirinya jika tak mampu menjaga tunangannya dari kerakusan abangnya sendiri?

“Vivian, mereka menunggu kita.” Zinan dengan jantan mengulurkan tangannya pada Zino.

Zino dan Jean yang sedang saling berbisik menoleh ke arah Zinan. Melihat Zinan, Jean dengan cepat mendorong Zino pada pria itu.

Sementara Zino dengan cepat menyesuaikan ekspresinya. Lalu dengan malu-malu meletakkan tangannya pada tangan Zinan.

Sekarang dia sedang muntah darah didalam pikirannya. Dia dengan sukarela memberikan tangannya untuk digandeng pria. Dia akan meminta bonus untuk ini pada Jean nanti.

Mereka berdua berdiri disamping Jeremy dengan penuh senyum. Seolah sedang sangat berbahagia dengan pertunangan ini.

Zino tidak fokus dengan ucapan Jeremy. Yang dia tahu dia saling memasangkan cincin dengan Zinan lalu tepuk tangan bergemuruh.

Bibirnya sampai kaku karna terlalu lama tersenyum!

Untunglah Jeremy tidak menahannya dan Zinan terlalu lama. Pria itu sibuk menerima ucapan selamat dan berbincang dengan sesama orang tua.

Loraine memeluk Zino dengan senang. “Putri Mama sudah besar. Sebentar lagi akan menjadi seorang istri.”

Zino menjadi gelisah mendengar kata ‘istri’. Ini bukan berarti kutukan Mei akan jadi kenyataan kan?

“Kami tidak akan menikah terlalu cepat, bibi.” Zinan menyahut dengan lembut.

Dia tak mau terlalu cepat terikat dalam pernikahan. Bisa dikatakan sesungguhnya Zinan bahkan tak memandang penting masalah menikah. Contoh disekitarnya tentang pernikahan sama sekali tidak bisa membuatnya menghargai pernikahan.

Loraine tertawa kecil. “Aku tahu. Kalian masih harus sering bertemu agar kenal lebih jauh dulu.”

Zino menggerutu dalam hati. Bukankah urutannya terbalik? Seharusnya mengenal lebih jauh dulu baru bertunangan kan?

Beberapa saat kemudian pesta berakhir.

Karna tidak ada bangunan lain disekitar sini, sebagian tamu pulang saat menjelang malam. Sementara orang yang memiliki hubungan lebih akrab dengan Zigan memilih menginap. Seperti keluarga Arkanda contohnya.

Ah, Kamilla dan Mio juga menginap. Juga ada beberapa orang seumuran Jeremy dan Diwan yang tidak Zino kenal.

Setelah berganti pakaian dengan pakaian tidur yang nyaman, Zino duduk manis diatas ranjang.

Dia mengeluarkan enam buah dompet yang didapatnya dari tamu undangan. Dia sama sekali tidak memiliki niat, oke. Hanya saja orang-orang itu berjalan terlalu dekat dengannya. Membuat tangannya tanpa sadar terulur.

Zino hanya mengambil lembaran uang dan memasukkan sisanya ke dalam kotak kardus.

Dia dengan riang menghitung pendapatannya. Setelah berhari-hari tersiksa oleh peraturan menyebalkan Jean, akhirnya dia terhibur oleh lembaran-lembaran uang yang mengagumkan ini.

Pemuda itu tak sadar akan dapat balasannya segera dari Jean saat desas-desus banyaknya tamu kehilangan dompet beredar nanti.

Setelah menyimpan uangnya dengan aman di dalam tasnya, Zino bersiap keluar untuk melenyapkan barang bukti.

Gerakan Zino terhenti saat matanya menangkap dompet yang bercampur dengan uang-uangnya. Ini dompet Zinan yang belum sempat dia buang.

Entah kenapa dia harus berpikir bolak-balik dari kemarin antara membuang dompet itu atau tidak. Sejujurnya Zino bukanlah orang yang akan menyimpan barang berbahaya.

Dia dengan ragu memandang dompet itu dan menimbang-nimbang.

Beberapa detik kemudian dia menutup tas lalu meraih kotak kardus. Zino pergi tanpa membawa barang berbahaya itu dengan alsan yang tak jelas.

*****

Iklan

4 respons untuk ‘Peran Pengganti – Chapter 7

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s