Peran Pengganti – Chapter 1

Author : Keyikarus
Publish at Kenzterjemahan.com

***

[Chapter 1]

Hiruk pikuk pasar tradisional kota U baru saja dimulai beberapa jam lalu. Keramaiannya tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Yang paling penting, kantor polisi lumayan jauh jaraknya dari sini. Membuat Zino menyeringai senang.

Meski terlihat duduk tenang dengan tampang anak manis, nyatanya matanya berkeliaran mengamati orang-orang. Terutama yang berpenampilan aduhai ber-uang dan tanpa kewaspadaan.

Setelah menemukan target, Zino berbaur dengan kerumunan. Berdesakan tak dapat dihindari. Tangannya yang terampil pun tak dapat dihindari.

Satu, dua, tiga…. tiga dompet Zino dapatkan dalam kurun waktu dua menit. Menyelipkan hasil copetannya dibalik kemeja, Zino dengan santai berjalan menjauh.

Saat berada di gang yang sedikit sepi, Zino membuka dompet pertama tanpa menghentikan langkahnya. Menguras isinya dan menjatuhkan dompetnya diselokan begitu saja.

Itu juga berlaku untuk dompet kedua dan ketiga.

Lima belas menit kemudian, Zino yang berjalan berputar sudah duduk manis lagi ditempat semula dengan pakaian berbeda.

Membuat Mei yang berdagang didekatnya menghela nafas. Dia bahkan baru mengenal Zino beberapa minggu, tapi sudah hapal bagaimana tampang manisnya sangat menipu!

“Apa? Kau mau tahu hari ini aku dapat berapa?”

“Tidak, terima kasih.” Dengus Mei.

Pertama kali dia melihat kenakalan Zino sebagai pencopet, dia dengan keras menegurnya. Bahkan mengancamnya akan melaporkannya ke polisi. Tapi dengan tampang bak anak kucing tercebur got, Zino menceritakan alasannya mencari uang dengan cara tidak baik.

Mei yang bimbang akhirnya hanya bisa cemberut.

Sebenarnya, Zino hanya mengarang cerita drama tragedi untuk Mei. Seperti orang tuanya meninggal karna kecelakaan, lalu dia diasuh neneknya yang jahat dan suka memukulinya, lalu dia melarikan diri dan berakhir bertahan hidup dengan mencopet. Karna mudah jadi keterusan.

Sepertinya Zino akan dikutuk neneknya yang sudah meninggal, karna memfitnah!

Kenyataannya, orang tua Zino meninggal tanpa drama berlebihan, sementara ayahnya keracunan makanan, ibunya meninggal setelah melahirkan Zino dan kembarannya.

Karna neneknya sangat miskin, neneknya tidak menolak saat ada seorang kaya yang ingin mengadopsi kembarannya. Benar, kembarannya yang berjenis kelamin perempuan sangat beruntung karna orang kaya itu menginginkan bayi perempuan.

Zino hidup dari kerja keras neneknya dan sumbangan orang kaya itu selama beberapa tahun. Lalu saat dia hampir lulus sekolah dasar, sumbangan orang kaya itu berhenti datang. Neneknya sudah terlalu tua untuk menghasilkan uang.

Otak kecil Zino hanya bisa memikirkan satu hal, bekerja. Namun siapa yang mau menerima anak sepuluh tahun bekerja? Sangat jarang.

Setelah kadang makan kadang tidak hingga lulus sekolah dasar, otak Zino akhirnya berpikir lebih ekstrim. Mencuri.

Hasilnya, dia babak belur di usahanya yang pertama.

Zino kapok.

Tapi tetap berpikir bagaimana caranya mendapatkan sesuatu untuk mengisi perutnya dan perut neneknya yang sudah sakit-sakitan.

Tak lama, dia bertemu dengan Doni yang mengajarinya teknik mencopet.

Percobaan pertama, Zino hampir mati di massa jika saja kakinya tidak membawanya berlari kesetanan. Namun Zino bisa makan kenyang dan tidur nyenyak malam itu. Membuatnya sangat ketagihan.

Pekerjaannya itu dilakukan baik sendiri maupun berkelompok. Dari situ Zino belajar berkelahi, menjadi pelari cepat, bahkan mem-bully.

Zino sama sekali tak berpikir melanjutkan sekolahnya. Dia bertekad akan mengumpulkan banyak uang dan hidup nyaman saat tua.

Bukan sekali dua kali Zino babak belur. Namun dia lebih banyak membuat orang babak belur. Kehidupan kalangan sangat bawah sepertinya lebih menyerupai hukum rimba.

Beberapa minggu yang lalu neneknya akhirnya meninggal. Zino setengah lega dan setengah sedih.

Lega karna beban hidupnya berkurang dan neneknya terbebas dari penyakit menahun. Sedih karna neneknya adalah satu-satunya keluarganya.

Tolong jangan sebut Zino durhaka! Karna dia sudah menyadari itu namun tak bisa memungkiri pikirannya.

Zino memutuskan meninggalkan kampung halaman setelah neneknya meninggal. Toh neneknya tak memiliki peninggalan apapun. Rumah saja masih ngontrak.

Selain itu, Zino ingin keluar dari lingkaran kacau tempatnya dulu. Babak belur, balas dendam, babak belur, balas dendam lagi, tanpa henti seperti lingkaran setan.

Di antara semua temannya, yang masih berhubungan dengan Zino hanya Doni. Karena menurutnya Doni adalah guru copetnya.

“Mei~~ ayo kita kencan.”

Zino dengan manis menopang dagunya dihadapan Mei.

Satu hal lagi yang perlu diketahui. Zino itu sangat suka berkencan sejak tiba di kota ini. Jalan-jalan, bergandengan tangan, dan kalau beruntung bisa berciuman.

Setidaknya dengan begitu dia merasa bahwa dia tidak sendirian.

Sayangnya, bahkan hingga ke dua puluh empat kalinya dia mengajak Mei berkencan, gadis itu tidak pernah menerima ajakannya.

Alasannya…. “Cari uang dengan cara yang benar dulu, maka aku akan berkencan denganmu!”

Lihat! Betapa sombongnya!

Padahal, Imas yang anak ketua Rt saja sudah dua kali berkencan dengannya. Bahkan si Dea, si Ana, dan beberapa anak gadis lainnya sudah pernah berkencan dengannya.

“Mei, kau akan menyesal jika tidak pernah berkencan denganku. Asal kau tahu, aku ini limited edition.”

Zino mendengus bangga sebelum memamerkan senyum manisnya.

Mei menatap Zino.

Seperti yang dikatakan Zino, pemuda itu bisa dibilang langka. Lihat saja rambutnya yang mengkilap dan terlihat halus, bibirnya yang berwarna merah muda terang, ditambah kulitnya yang putih cenderung pucat. Terlebih matanya yang berwarna coklat terang dan selalu terlihat hidup.

Apalagi Zino ini tipe yang memakai apapun akan terlihat bagus. Terlihat langsing, lembut dan menggoda, kesimpulannya….

“Ku rasa kau lebih akan menjadi istri daripada suami.”

Itu kesimpulan Mei setelah membaca novel BL selama empat tahun. Dia bahkan tak tahu bagaimana perkembangan percintaan straight!

Zino melotot.

“Kau… kau kebanyakan makan novel tak berguna! Lain kali akan ku masukkan ponselmu ke toilet!”

Zino tahu Mei keranjingan membaca pria dan pria bergulat diranjang. Dia bahkan meragukan kewarasan Mei. Apa menariknya membayangkan dua tubuh rata seperti papan bergulat!

Di kotanya yang dulu, tidak ada gadis tak normal seperti Mei!

Zino tak sadar kalau dia hanya belum bertemu. Bukannya tak ada.

“Kalau begitu kau benar-benar akan menjadi istri~~~” Inilah salah satu kesenangan Mei. Mencuci otak Zino.

Dia ingin membalas dendam untuk semua ibu yang sudah dicopet Zino, mendoakan setulus hati agar Zino menjadi istri!

Betapa menyenangkan melihat si orang yang suka kencan dengan banyak gadis menjadi istri!

“Kau…. kau…” Zino berkedip bingung ingin mengatakan apa. Entah seberapa parah kerusakan otak Mei, karna akhir-akhir ini terlalu sering menyumpahinya jadi istri. “Huh. Kita lihat saja. Pada akhirnya aku akan menindihmu.”

Plak.

Zino mengerang memegangi kepalanya yang kena pukul. Dia dengan galak menoleh, berniat memarahi orang yang memukulnya.

“Otakmu sudah jatuh ke lututmu? Sejak kapan aku mengijinkanmu melakukan sesuatu pada adikku.”

Nah. Ini dia perawan tua yang kelewat galak melebihi Mei. Mayu.

Zino dengan cepat merubah wajah galaknya menjadi manis. Tangannya meraih tangan Mayu dengan lembut.

“Jangan marah, oke. Aku hanya main-main dengan Mei. Sebenarnya aku lebih tertarik menyelamatkanmu dari menjadi perawan tua. Ayo kita menikah.”

Plak.

Sekali lagi Mayu memukul kepala Zino. Dan membuat pemuda itu mengerang lagi.

“Otakmu benar-benar jatuh ke lutut! Wajah seorang gadis seperti ini mau menikahiku? Aku bahkan ragu benda di bawah sana bisa berdiri! Pergilah! Kau menakuti orang yang ingin membeli dagangan kami!”

Mayu melambaikan tangannya mengusir sementara Mei acuh tak acuh.

Mulut Zino terbuka tertutup tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia benar-benar tak tahu bagaimana bisa dua kakak beradik itu memiliki kerusakan otak.

Merasa tak bisa melakukan apapun, Zino pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya.

Dia bersumpah suatu saat akan menindih dua orang itu sekaligus!

Meski kesal, nyatanya keesokkan harinya Zino masih nongkrong cantik di dekat lapak Mei. Tanpa bosan mengajak gadis itu pergi kencan.

*****

Iklan

5 respons untuk ‘Peran Pengganti – Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s