Kodoku Na Inutachi – Chapter 2

Kodoku na Inutachi

(Lonely Dogs)

 Terjemahan indo oleh @norkiaairy dari www.kenzterjemahan.com


 

#Chapter 2

Ada perpustakaan di rumah sakit dengan komputer, dan pasien bisa dengan bebas menjelajah web. Ketika Kyosuke mulai bisa berjalan, dia ke perpustakaan dan meneliti tentang Okawa. Dia dengan cepat menemukan bahwa itu adalah organisasi yang lumayan besar. Melalui situs, Kyosuke menemukan banyak kejahatan yang dilakukan Okawa telah disembunyikan, karena baik polisi dan politisi memiliki hubungan dengan kelompok itu, jadi ini membuat Kyosuke mengurungkan niat untuk memberitahu polisi tentang Kanou. Polisi telah menutupi kejahatan, jadi sepertinya mereka tidak akan melakukan apa-apa bahkan jika dia memberi tahu mereka. Karena masalah ini, Kyosuke ingin menghindari orang-orang mengetahui bahwa kakak laki-lakinya telah terlibat dengan yakuza sampai dia sendiri mengkonfirmasi hubungan yang kakaknya miliki dengan Okawa.

Pertama, prioritas utamanya adalah untuk memulihkan kondisi kesehatannya. Kemudian, ketika dia bisa bergerak bebas, dia akan menuju ke arah Shinjuku. Dia belum memutuskan bagaimana dia akan melakukannya, tetapi dia akan menyelinap ke Okawa dan menyelidiki dari dalam tentang hubungan mereka dengan kakak laki-lakinya.

Kyosuke berdoa untuk melakukan ini sesegera mungkin. Dia mengertakkan giginya dan mengalami pusat rehabilitasi, tetapi sejak dia datang ke sini, rintangan yang tak terduga mendatanginya.

“Kyosuke-kun, kamu ingin menjadi seorang dokter, kan?” Sahashi, yang datang ke sini seperti biasa untuk melihatnya, tiba-tiba berkomentar. “Aku dengar dari dokter, semoga kamu cepat keluar dari rumah sakit. Aku harap tidak masalah karena aku mengambil dokumen untuk mendaftarkan dirimu kembali. Ini adalah sekolah asrama di Kansai, sekolah swasta dan berafiliasi dengan universitas yang memiliki Departemen Medis tingkat tinggi dan reputasi yang baik.”

“…… Umm ……….” Kyosuke ditinggalkan dalam kebingungan pada tawaran yang tiba-tiba ini.

“Berita tentang insiden tersebut belum mencapai Kansai, jadi aku pikir kamu bisa tenang disana. Kamu tertinggal kelas, tetapi tampaknya di sekolah ini, ada banyak siswa yang telah mengulang satu tahun di sekolah karena berbagai keadaan. Aku pikir lingkungan ini akan mudah bagimu untuk hidup.”

“……Aku minta maaf kamu harus melakukan semua ini untukku, tapi ……” Merasa bingung, Kyosuke telah mencoba memikirkan cara untuk menolak karena tidak mungkin dia pergi ke Kansai.

“Tidak ada yang perlu disesali. Kakakmu juga memimpikanmu menjadi dokter. Tentu saja jika kamu pergi ke Kansai, aku akan terus mendukungmu, jadi kamu bisa tenang.”

“……….” ‘Dukungan’ itu tidak diperlukan, Kyosuke telah menelan kata-kata yang telah berkumpul di tenggorokannya dan bertanya-tanya apakah ada cara untuk keluar dari ini. Tetapi dia tidak bisa memikirkan satu metode yang baik. Waktu telah berlalu dan hari baginya untuk keluar sudah dekat. Sahashi tidak hanya mengurus prosedur penerimaan, dia juga mengumpulkan semua informasi tentang jenis kelas yang Kyosuke akan ambil di sekolah. Tidak ada satu alasan pun untuk menolak sekarang. Jika dia akan dipaksa untuk melakukan ini, dia mengatakan bahwa setidaknya dia tidak akan meninggalkan Tokyo sampai pria yang telah membunuh kakaknya ditemukan, tetapi dia diberitahu bahwa dia tidak ada yang bisa dia lakukan di Tokyo.

Kyosuke sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pergi ke sekolah menengah di Kansai sejak dia kehilangan mimpinya menjadi seorang dokter. Yang dia inginkan sekarang adalah membalas dendam pada orang yang telah mengambil nyawa kakak laki-lakinya yang tercinta. Dia juga ingin tahu apa yang kakaknya sembunyikan. Dia berpikir tentang menyarankan kepada Sahashi bahwa dia ingin pergi ke sekolah di Tokyo, bukan di Kansai, tetapi ketika dia mengusulkan ini, Sahashi berkata, “Aku pikir ini adalah yang terbaik untuk dirimu jika kamu meninggalkan Tokyo,” dan mulai membujuk. Sebagai gantinya, karena Sahashi berbicara atas perhatiannya, dia tidak punya pilihan selain setuju dengannya dalam hal ini.

Akhirnya, diputuskan bahwa dia akan akan keluar akhir pekan, tetapi Kyosuke mengingat satu strategi terakhir. Dia tidak tahu apakah kemungkinan keberhasilannya tinggi atau rendah, tetapi jika dia tidak melakukannya, dia akan menyesalinya.

Kyosuke mempersiapkan dirinya untuk yang terburuk dan berhubungan dengan Sahashi.

“Apakah aku akan menerima uang segera untuk biaya hidup?”

Sebelum dia dipulangkan, rencana Kyosuke adalah untuk menyelinap keluar dari rumah sakit dan bersembunyi di Shinjuku. Nama ‘Okawa’ tidak pernah muncul dalam penyelidikan menyeluruh yang dilakukan Sahashi, jadi Kyosuke menebak bahwa Sahashi tidak akan segera menemukan dirinya jika dia pergi ke Shinjuku untuk mendekati kelompok itu. Di rumah sakit, praktis tidak ada alasan untuk menggunakan uang, jadi Kyosuke hanya memiliki beberapa ribu yen. Dia tidak tahu berapa lama lagi sampai dia bisa menyelinap ke Okawa, jadi tentu saja, dia butuh uang untuk hidup sendiri. Itu sebabnya Kyosuke meminta uang tunai kepada Sahashi, dan Sahashi segera memenuhi dan memberinya seratus ribu yen pada hari yang sama. Kyosuke menginginkan dua hingga tiga ratus ribu yen, tetapi semua uangnya telah ditransfer ke sekolah untuk menutupi biaya hidup, dan selain itu, Sahashi sudah mengatakan bahwa tidak perlu memikirkan tentang biaya makan di asrama, jadi dirinya tidak bisa memikirkan untuk meminta uang lebih.

“Katakan padaku kalau ini tidak cukup. Kamu akan menerima seragammu besok. Dan juga, aku tidak terlalu yakin kamu akan menyukainya, tetapi aku juga menyiapkan beberapa pakaian tradisional untukmu. Ini hadiahku untuk penerimaanmu di sekolah.”

“…… Terima kasih, kamu tidak harus ……”

Meskipun dia tahu bahwa Sahashi baik dan keluarganya kaya, dia masih merasa tidak enak karena Sahashi memberinya pakaian, jadi dia awalnya menolak ini, tetapi akhirnya Sahashi menang.

“Ini adalah hadiah, jadi jangan khawatir tentang itu.”

Setelah Sahashi pergi, Kyosuke bertanya-tanya untuk sementara waktu apakah dia harus melarikan diri malam ini atau keesokan harinya. Dia membutuhkan pakaian biasa, tetapi Sahashi telah menyiapkannya pakaian tradisional, dan dia yakin dia akan menonjol di antara yakuza jika dia memakainya. Dia sekarang punya uang, jadi dia ingin keluar dari rumah sakit sesegera mungkin.

Bukannya aku sama sekali tidak punya pakaian, pikir Kyosuke, dan memutuskan untuk melarikan diri dari rumah sakit pada malam yang sama. Perawat malam melakukan pemeriksaan pada tengah malam, jam dua, dan jam empat. Setelah cek jam empat, dirinya diam-diam keluar dari kamarnya dan menuju ke stasiun kereta. Segera kereta pertama akan berjalan, dan dia akan menaikinya ke Shinjuku.

Dengan rencana itu, Kyosuke menghabiskan sisa hari berusaha setenang mungkin. Dia tidak bisa membangkitkan kecurigaan apa pun. Dia akan kesulitan jika mereka salah mengira bahwa dirinya sakit dan meningkatkan jumlah pemeriksaan pada dirinya. Untuk sesaat, dia berpikir tentang meninggalkan surat permintaan maaf untuk Sahashi, yang telah banyak membantunya, tetapi hanya bisa memikirkan menulis hal-hal yang berulang seperti, ‘Terima kasih’ dan ‘aku minta maaf’, jadi dia memutuskan untuk tidak melakukannya.

Dia bertanya-tanya apakah Sahashi akan mencari dirinya. Sahashi mungkin akan, tapi tetap saja, tidak peduli bagaimana dia melihatnya, mereka adalah orang asing.

Sahashi hanya membantunya karena kebaikan, dan bukan tugasnya untuk melindunginya. Dia akan melarikan diri, jadi dia ingin Sahashi membiarkannya. Dia berpikir untuk memasukkan itu ke dalam surat, tetapi kesulitan memilih kata yang tepat, jadi pada akhirnya, menyerah.

Ketika cek jam empat berakhir, Kyosuke diam-diam turun dari tempat tidur, dengan cepat mengganti celana jins dan jaket bulu dan menyelinap keluar dari rumah sakit dengan sepatu di tangannya. Alasan dia tidak memakai sepatu adalah untuk menghindari langkah kakinya terdengar.

Tentu saja, dia tidak bisa berjalan sama seperti sebelum kejadian, tetapi dia bisa berjalan dengan langkah yang sama seperti orang yang sehat dan dapat dengan mudah menaiki tangga. Kyosuke menemukan di mana pintu keluar darurat, keluar, dan memakai sepatunya. Dia ingin berlari, tetapi dia pikir itu akan membuatnya menonjol, jadi dia berjalan dengan pelan di sekitar rumah sakit dan keluar dari gerbang belakang.

Sejak Kyosuke pindah ke rumah sakit ini, dia tidak pernah keluar. Dia mencari cara untuk sampai ke stasiun kereta api di Internet, tetapi meskipun dia telah mengebor rute di kepalanya, dia sekarang kehilangan hampir semua arah, karena jalan yang dia lewati lebar dan merasa seperti tidak sesuai dengan apa yang dia lihat di peta. Tapi tetap saja, dia mulai berjalan, menebak bahwa inilah jalannya.

Meskipun bulan April, udara terbuka sebelum fajar dingin dan seluruh tubuh Kyosuke segera menjadi dingin. Tubuhnya menjadi kaku dan berjalan perlahan menjadi sulit. Di pusat rehabilitasi dan di dalam rumah sakit, dia bisa berjalan seperti biasa, tetapi di luar dan di jalan yang kebetulan tidak rata, dia tidak bisa terbiasa berjalan dan tersandung berkali-kali. Jarak ke stasiun kereta dengan berjalan kaki hampir tiga puluh menit. Sayangnya, bahkan jika dia ingin naik taksi, tidak ada satu pun mobil yang lewat, dan bahkan jika dia cukup beruntung untuk menemukan taksi kosong, adalah bijaksana untuk tidak naik di dalamnya, karena dia bisa dilacak dengan cara itu.

Memutuskan ini, Kyosuke menyerah dan terus putus asa berjalan ke depan. Jika dia berjalan, dia akan mencapai stasiun akhirnya. Dia tidak punya pilihan selain terus maju. Saat dia mengulangi ini untuk dirinya sendiri, Kyosuke tiba-tiba menyadari bahwa dia mendapat kekuatan dan tersenyum masam. Setelah kejadian itu, ketika dia kehilangan keinginan untuk hidup; dia tidak peduli jika dia mati atau tidak bisa berjalan. Dia merasa tak berdaya. Rasa kaget karena kehilangan kakak lelakinya sangat besar, terutama karena dia memiliki kepribadian yang tergantung dan selalu bergantung pada kakak laki-lakinya.

Ketika Kyosuke mengandalkan kakaknya yang baik, kakak laki-lakinya selalu segera mengulurkan tangan dan melindungi Kyosuke dari semua kesulitan, dan setelah orang tua mereka meninggal, kekhawatirannya terhadap Kyosuke semakin bertambah. Meskipun mereka memiliki perbedaan usia lima tahun, pada saat itu, kakak laki-lakinya bahkan belum berusia dua puluh tahun.

Ketika Kyosuke mengingat masa lalunya yang buruk, dia tiba-tiba menyadari bahwa langit mulai terang dan memandang sekelilingnya. Masih ada waktu sebelum fajar, tetapi lambat laun menjadi sangat terang. Ketika dia melihat ke langit, dia melihat, di kegelapan, sebuah bintang berkelip samar.

“Kakak…., lihat.”

Langit yang terang membuat kegelisahan Kyosuke menghilang. Saat dia menuju ke arah bintang yang memudar, kata-kata yang dia gumamkan mulai mendorongnya. Entah bagaimana, dia sekarang merasa ringan di kakinya, jadi mengangguk dengan cepat, Kyosuke memutuskan dia harus menjaga apa yang terjadi tahun lalu ini sebagai rahasia dan membalas dendam untuk kakaknya. Dengan itu, dia terus berjalan menuju stasiun kereta.

*          *         *

Untungnya, kereta itu sudah ada di sana, jadi Kyosuke tidak perlu menunggu dan bisa naik dengan aman. Dia berganti kereta dan berkendaraan selama sekitar satu jam ke Shinjuku. Tapi begitu dia sampai di sana, bagaimana dirinya akan menyelinap ke Okawa? Dia tidak bisa memikirkan satu metode yang baik. Dia curiga bahwa daerah yakuza adalah Kabukicho, tapi Kabukicho besar, jadi tidak hanya ada yakuza di sana. Apakah ada cara untuk membedakan anggota yakuza dari Okawa? Jika dia bertanya, dia mungkin akan tahu, tetapi apakah dia cukup berani untuk berbicara dengan penjahat? Kyosuke tidak terlalu yakin. Dia siap untuk bertarung dengan wakagashira yang dia benci – Kanou – tetapi untuk melakukan itu, dia harus mendapatkannya dalam keadaan utuh. Dari informasi yang dia cari di internet, dia menemukan bahwa ‘wakagashira’ adalah yang kedua dalam kelompok dan dijanjikan posisi untuk menjadi pemimpin keluarga berikutnya. The Okawa adalah organisasi yang cukup besar dan memiliki beberapa ratus anggota. Ketika kelompok kedua dan ketiga ditambahkan, itu menjadi beberapa ribu. Bagaimana dia bisa mencapai pembalasannya terhadap orang kedua yang memimpin organisasi sebesar itu? Tidak ada ide bagus yang terlintas dalam pikirannya. Untuk saat ini, dia akan menemukan cara untuk menyelinap ke dalam kelompok dan kemudian menunggu kesempatannya. Percaya bahwa ini adalah satu-satunya jalannya, Kyosuke berpikir bahwa akan sulit untuk ‘menyelinap ke dalam’ dan menghela nafas.

Dia tiba di Shinjuku dan menuju Kabukicho. Karena masih pagi, seluruh kota agak sepi. Ada sekelompok orang yang tampak seperti mereka minum sepanjang malam, dan hostes yang mencoba mengundang pelanggan ke toko mereka, tetapi tidak ada orang yang tampak seperti penjahat. Tidak punya pilihan lain, Kyosuke memasuki kedai kopi 24 jam dan memutuskan dia akan menghabiskan waktu di sana sementara dia merencanakan langkah selanjutnya. Sebenarnya, ada satu hal tentang Kabukicho yang membebani pikirannya. Bar tempat kakaknya bekerja di masa lalu juga di Kabukicho. Daripada mencari di sekitar Kabukicho tanpa ragu untuk anggota Okawa, dia harus mulai dengan mengumpulkan informasi tentang kakaknya dulu. Polisi telah mencari ke mana-mana untuk mengetahui apakah ada seseorang yang memiliki motif untuk membunuh kakak laki-lakinya, tetapi tidak menemukan apa pun tentang pekerjaan yang dilakukan kakak lelakinya setelah ia meninggalkan pekerjaan bartender di Kabukicho. Jika bahkan polisi mencari dan tidak menemukan apa pun, Kyosuke tidak berpikir bahwa seorang amatir seperti dirinya, yang masih anak-anak dan bahkan belum berusia dua puluh, akan mendapatkan hasil apa pun.

Meski begitu, aku tidak bisa menyerah, pikir Kyosuke dan mengepalkan tinjunya.

Kyosuke berkeliaran di kedai kopi sampai sekitar jam 10 pagi, setelah itu dia menebak bahwa orang-orang akan berkerumun di jalan, jadi dia pergi mencari bar tempat kakaknya bekerja. Dia memiliki peta yang dihafal, tetapi ketika dia tiba di alamat toko, dia melihat bahwa nama toko telah berubah.

“……….”

Sepertinya toko itu masih bar, tetapi karena itu, sebelum tengah hari itu tidak terbuka. Jika nama toko telah berubah maka itu adalah kasus biasa bahwa karyawan dan manajer juga berubah. Tentu saja, para pelanggan juga telah berubah. Dia menyerah untuk saat ini. Sebagai gantinya, dia berencana menunggu sampai malam untuk mengunjungi toko ini lagi, tetapi sepertinya dia masih akan membuang-buang waktu di sini. Namun demikian, dia tidak memiliki cara lain untuk mencari petunjuk tentang kakaknya.

Kyosuke berdiri di depan toko dengan linglung. Dia tidak ingin pergi. Ketika dia mengintip ke dalam toko, sebuah suara memanggilnya dari belakang, “Hei, apa yang kamu lakukan !?”

Kyosuke berbalik, kaget.

“……….”

Dia kehilangan suaranya saat melihat seseorang di depan matanya. Sebelum dia tahu itu, Kyosuke dikelilingi oleh penjahat.

“Katakan sesuatu! Hei!” Seorang preman muda memanggilnya. Sepertinya itu harus mudah untuk berbicara dengan orang yang mengenakan jaket satin sukajan yang mencolok, yang sepertinya seusia dengan Kyosuke, tetapi untuk Kyosuke, yang tidak pernah memiliki pengalaman dengan orang seperti ini sampai sekarang, dia tampak sangat mengancam, jadi Kyosuke berdiri di sana tercengang.

“Aku bertanya apa yang kamu lakukan? Kenapa menyelinap ke sini!”

Preman muda bukanlah hal yang tidak biasa, tetapi ketika mereka melihat bahwa yang mereka bentak terlihat takut, mereka memakai keberanian palsu dan mengintimidasi lebih jauh. Preman terus bertindak sadis, itu adalah hobi mereka.

“Kami tidak akan tahu jika kamu tetap diam!”

Mereka mendorong Kyosuke yang berwajah pucat dan membuatnya tidak bisa berbicara lebih banyak lagi, tetapi ketika salah satu preman mengancamnya, Kyosuke secara tidak sengaja berseru.

“Apakah ini wilayah Okawa?”

“Okawa !!”

Kebetulan sekali! Ini adalah anugerah Tuhan! Tidak mungkin dia melewatkan kesempatan ini. Seolah-olah dia hanya akan menyia-nyiakan berkah surga ini! Saat dia memikirkan ini, beberapa perubahan terjadi pada Kyosuke.

“Apa-apaan ini?” Si preman mengerutkan kening dan menanyainya, karena sepertinya dia menjadi curiga terhadap Kyosuke ketika dia tiba-tiba berseru. Tapi tanpa ragu, Kyosuke berlutut di depan pria itu dan membungkukkan kepalanya.

“Tolong! Tolong biarkan aku bergabung dengan Okawa!”

“Huuuh ?!” Penjahat itu berseru liar dan terdiam. Sepertinya dia cukup terkejut melihat Kyosuke berlutut dan memohon seperti ini.

“Please…! Aku… Aku mendengar Okawa luar biasa dan aku benar-benar ingin bergabung. Itu sebabnya aku datang ke sini, ke Shinjuku!”

Biasanya, Kyosuke menyebut dirinya menggunakan ‘boku’, tetapi dia berpikir bahwa yakuza menyukai orang yang menyebut diri mereka sebagai ‘ore’, jadi dia langsung mengubah caranya berbicara.

“Benarkah?”

Preman itu menatap Kyosuke dengan kecurigaan. Preman muda lainnya di sekitarnya juga dengan waspada menatap Kyosuke.

“Ya! Ketika aku datang ke Shinjuku sebelumnya, kalian punya konflik, kan? Aku melihat kalian menembak dan langsung berpikir luar biasa! Kalian terlihat sangat keren! Itu sebabnya aku mengagumi, dan…..!”

“Menembak di Shinjuku? Ah, maksudmu Oktober lalu?”

“Ya!”

Kyosuke segera mengangguk dengan antusias pada kata-kata preman itu. Tahun lalu di bulan Oktober, dia melihat di televisi berita bahwa Okawa mengalami baku tembak yang intens dengan kelompok oposisi di Kabukicho. Ada sepuluh atau lebih korban dan dua puluh orang telah ditangkap. Namun, hanya orang-orang dari kelompok kedua dan ketiga yang ditangkap, dan kelompok oposisi telah menangkap semua anggotanya termasuk pemimpin. The Okawa, di sisi lain, telah dibiarkan tanpa cedera.

Dengan gemetar, Kyosuke telah menyaksikan pemandangan pagi hari di jalan-jalan Kabukicho yang berlumuran darah, tetapi sekarang, dia pikir dia harus memanfaatkan informasi itu di sini dan menggerakkan suaranya lebih lagi.

“Aku mengagumi betapa kerennya kalian! Aku ingin bergabung dengan Okawa, juga! Bagaimana cara aku bergabung? Tolong, tolong katakan padaku!”

“Kamu idiot, itu tidak seperti siapa pun bisa bergabung,” kata preman muda itu, tapi Kyosuke dapat mengetahui dari ekspresi senang di wajahnya bahwa dia dalam suasana hati yang sangat baik sekarang karena kelompok yang dimilikinya telah dipuji. “Itu saja yang harus aku katakan, tapi setidaknya aku akan mendengarmu. Ada beberapa hal yang harus dilakukan terlebih dahulu. Aku akan memperkenalkanmu kepada anikiku agar kamu bisa mendapatkan pekerjaan. Jadi bagaimana dengan itu? Mau mencobanya?”

“Ya! Terima kasih!”

Ini berkah! Apakah ini perintah surga atau bimbingan kakaknya? Karena bertemu para penjahat ini terjadi ketika datang ke sini ke toko tempat kakaknya bekerja, pastilah kakak laki-lakinya membantunya dari surga. Kyosuke tidak mengira dia akan bisa sampai ke Okawa dengan sangat cepat. Aku sangat beruntung, pikirnya dan diam-diam mengepalkan tinjunya.

“Lalu mari kita pergi sarapan dan mengumpulkan sejumlah uang.”

“…… Ah, baiklah!”

“Ikuti kami”, preman menyentak, dan Kyosuke mulai berjalan mengikuti.
“Siapa namamu?”

Ditanyakan tentang namanya, Kyosuke hendak mengatakan kepadanya nama aslinya, tetapi berpikir bahwa nama palsu pasti digunakan di sini, jadi dia dengan cepat memutuskan nama.

“Mihara.”

“Nama depanmu.” Sulit untuk memanggil satu sama lain dengan nama belakang, bukan? Penjahat itu berkata, yang tidak sepenuhnya masuk akal untuk Kyosuke dan dia menatapnya.

“Ka-Kaoru,” dia berpikir tentang membuat nama yang benar-benar berbeda dari nama aslinya, tetapi memutuskan untuk mencampurkan beberapa ‘kebenaran’ di sini karena dia khawatir bahwa dia akan ceroboh dan bereaksi terlalu lambat ketika mereka memanggilnya dengan nama yang benar-benar berbeda.

“Kaoru, ya? Kamu terlihat seperti perempuan dan memiliki nama girly juga.”

Preman itu tersenyum dan dengan lembut mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Kyosuke.

“……!”

Terkejut dengan gerakan tiba-tiba ini, Kyosuke melompat, dan melihat ini, orang-orang lain berjalan bersama dengan si preman tertawa terbahak-bahak.

“Apa, Kouta, tidak tahan, hah?”

“Diam.”

Sepertinya nama preman itu adalah Kouta. Melihat bahwa yang lain telah mengolok-oloknya, sepertinya dia adalah yang termuda dari lima penjahat.

“Sudah kubilang aku lebih suka cewek daripada cowok!” Kouta membalas dan menatap Kyosuke yang tidak sengaja menatapnya.

“Kamu juga! Jangan bereaksi dengan aneh!”

“Aku minta maaf.”

Dia berpikir bahwa itu mungkin tidak benar untuk meminta maaf, karena dirinya harus disukai. Dia dengan cepat menundukkan kepalanya. Namun, tampaknya Kouta adalah pria yang cukup sederhana. Suasana hatinya telah membaik hanya dari itu. Pada saat yang sama, sepertinya dia menyukai Kyosuke.

“Dia bawahanku, jadi jangan menyesatkan dia,” katanya kepada gengnya dan membalas tatapannya ke Kyosuke. “Aku Kouta. Kamu bisa memanggilku aniki.”

“Aku mengerti, aniki.”

Ketika dia menjawab dengan segera, suasana hati Kouta membaik bahkan lebih, dan dia memberikan senyuman tipis dan dengan kasar mengelus kepala Kyosuke.

“Baik! Kamu sangat patuh! Senang bertemu denganmu, Kaoru!”

“Senang bertemu denganmu juga.”

Kouta telah mengelusnya dengan begitu kuat hingga Kyosuke hampir terjungkal. Meskipun Kyosuke pasti tidak ingin berterima kasih padanya, dia berpikir bahwa dia harus menunjukkan lebih banyak tentang bagaimana ‘patuh’ dirinya, jadi dia memaksakan senyum dan berterima kasih kepada Kouta. Setelah itu, Kouta berpisah dengan gengnya dan membawa Kyosuke bersamanya ke sebuah toko kecil.

“Selamat datang.”

“Sarapan, Mama. Dia juga.”

Tidak ada pelanggan di dalam toko. Di seberang meja bar berdiri seorang wanita yang lebih tua, cantik, tapi suram.

“Aku selalu makan di sini. Bawahanku tidak perlu membayar. Aku akan memperkenalkanmu kepada Mama,” kata Kouta bangga setelah mereka duduk berhadapan di meja untuk empat orang, lalu dia berbalik ke Mama, yang membawa air.

“Mama, ini Kaoru, anak buahku hari ini. Kaoru, ini Mama Yukiko, jelek, tapi hebat dalam memasak.”

“Yah, kamu dalam suasana hati yang baik? Karena kamu punya bawahan pertama?”

Dia mendengar Mama tertawa, tetapi ketika dia sudah cukup dekat, Kyosuke mendapat sedikit perasaan aneh dan menatapnya dengan keras. Dia cukup tinggi untuk seorang wanita.

“Ups! Aku lupa sesuatu yang penting!” Sepertinya Kouta telah memperhatikan Kyosuke menatap dan menambahkan dengan senyuman, “Kami memanggilnya Mama tapi dia sebenarnya seorang pria.”

“Hah !?” Seorang pria? Pikir Kyosuke dan berteriak keras karena terkejut.

“Aku tidak punya bola atau penis lagi. Ada lubang sekarang. Jika kamu mau, aku akan bercinta denganmu,” Mama Yukiko menyipitkan matanya dengan senyum, dan Kyosuke kehilangan kata-kata, tetapi yang mengejutkan, Kouta baik-baik saja dengan ini.

“Dia tidak berpengalaman. Kamu masih perawan, kan?”

“Oh, kalau begitu, bagaimana kalau aku menjadi yang pertama?” Yukiko menghibur dirinya, tapi Kyosuke tercengang, tidak tahu bagaimana dia harus menjawab, dan melihat ragu-ragu pada Kouta.

“Ketika ini terjadi, kamu mengatakan ‘itu sakit’.”

“Tidak sakit, rasanya enak! Aku harap kamu akan mencobanya juga, Kouta.”

“Jangan mengatakan hal-hal aneh seperti itu!”

Yukiko dan Kouta terus bercanda, mengubah topik pembicaraan.

Aku diselamatkan, Kyosuke diam-diam mendesah.

“Tentu saja pagi, oke? Benar?”

“Ya.”

Yukiko mengambil pesanan mereka, melihat ke arah Kouta, yang menjawab dengan riang, dan mengangkat bahu.

“Baru saja kamu mengatakan sesuatu seperti, ‘Bawahanku tidak perlu membayar’, tetapi yang membayar adalah anikimu, bukan?”

“Diam … kamu brengsek!” Teriak Kouta dengan marah. Sepertinya Yukiko telah mencapai titik lemah.

Tapi mungkin Yukiko terbiasa dengan ini, karena dia menyeringai, sengaja menjatuhkan suaranya dan memberi tahu Kyosuke, “Anak ini bukan apa-apa, tapi aniki anak ini sensasional, yah, karena dia adalah wakagashira Okawa.”

“Wakagashira !?” Sekali lagi, Kyouske berteriak keras karena terkejut, tapi sepertinya ini bukan situasi yang tepat untuk menjadi sangat terkejut, jadi dia menerima tatapan bingung dari Yukiko dan Kouta.

“Apa itu? Apa yang salah? Kenapa kamu begitu bersemangat?”

“Apa, kamu kenal bos?”

“Ti…tidak …… apa bos itu yang kedua dalam komando? Aku hanya berpikir itu luar biasa bahwa orang hebat seperti itu adalah anikimu, Kouta-san.” Ketika Kyosuke dengan putus asa mencoba untuk menenangkan keadaan, dia berusaha sangat keras untuk menghentikan dirinya dari gemetar.

“Oh iya, orang ini adalah penggemar yakuza.” Untungnya, sepertinya Kouta yang berpikiran sederhana percaya pada tindakan Kyosuke dan mulai menjelaskan pada Yukiko dengan pandangan yang bangga dan berpengetahuan.

“Penggemar yakuza? Apa itu?”

“Dia mengatakan dia melihat pertarungan dengan Aoshima tahun lalu, itu sebabnya dia ingin bergabung dengan kami. Dan dia mungkin melakukan banyak penelitian. Tentang wakagashira dan semacamnya. Bukankah itu lucu?” Kouta tertawa di depannya, dan Kyouske diam-diam menghela nafas lega.

“Benarkah? Itu menarik. Penggemar yakuza?”

Untungnya, sepertinya Yukiko juga mempercayai Kouta.

“Itu benar – jadi bawalah sarapan untuk dua orang sekarang.”

“Baiklah baiklah. Aku meletakkan ini di tab Kanou-san.”

“……!”

Kyosuke sadar bahwa hanya ada satu orang yang memegang posisi wakagashira – Kanou – tapi begitu dia mendengar nama lelaki yang sangat dibencinya, jantungnya berdegup kencang sehingga dia tidak bisa menahannya dan hampir  terkesiap. Bagaimanapun juga, Ini adalah bimbingan kakak lelakinya yang sudah meninggal. Dia tidak berpikir bahwa dia akan mendapatkan Kanou dengan cepat! Orang bisa mengatakan bahwa dia sekarang gemetar karena kegirangan.

Kyosuke sedikit gemetar, dan dia sadar bahwa makanan tidak akan jatuh ke tenggorokannya sekarang, tapi dia tidak bisa membangkitkan kecurigaan, jadi mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia harus berusaha untuk tetap setenang mungkin, Kyosuke mulai dengan putus asa memikirkan bagaimana dia akan membalas dendam setelah dirinya bertemu Kanou.


 

<< Kodoku Chapter 1

Iklan

2 tanggapan untuk “Kodoku Na Inutachi – Chapter 2

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s