The Path Of Cannon Fodder’s Counterattack – Chapter 34

Chapter 34 – Kekuatan Yang Meledak-ledak

Editor : norkiaairy

Proofreader : Chin

Ling Xiao menggunakan tangannya yang bebas untuk mencoba mengambil belati, setelah mencoba berkali-kali gagal terus, dia merasa agak marah pada Lan Wei, “Ini tidak ada hubungannya denganmu!”

“Sebenarnya, Tuan Muda Lan Wei, bukankah kamu yang memiliki alasan untuk berada di sini?” Ling Xiao berkata dengan nada menuduh.

Wajah Lan Wei terasa dingin karena kata-katanya dan dengan tegas meraih pergelangan tangan Ling Xiao. Ling Xiao meringis kesakitan, alisnya berkerut.

“Tidak bisakah kamu melihat situasimu sekarang? kamu berada di tangan Tuan Muda ini!”

Ling Xiao berpura-pura tersenyum, “Jika aku bisa melarikan diri dari tanganmu sekali, aku bisa melakukannya lagi. Jadi aku bisa meminta Kaisar untuk menghukum Rumah Tangga Perdana Menteri sekali lagi, aku bisa meminta Kaisar untuk melakukannya lagi”

“Kau!” Mata Lan Wei terbakar amarah, menekan belati ke leher Ling Xiao.

“Berpikirlah dengan hati-hati. Aku adalah seseorang yang diperhatikan Kaisar, jika aku mati, Kaisar hanya perlu sedikit berpikir….” Ling Xiao mempertahankan posisi untuk berusaha tenang.

Tidak mengatakan itu lebih baik, seperti saat mendengarnya, Lan Wei ingat bagaimana rumah tangga Perdana Menteri terlibat karena dia. Itu karena pria di depannya telah mengungkapkannya kepada Kaisar.

Lan Wei melotot pada Ling Xiao, matanya menunjukkan kebencian, tapi selain itu juga sentimen, Ling Xiao tidak mengerti. Ini semua bercampur aduk dalam mata Lan Wei, menyebabkannya hitam gulita, padat seperti tinta, membuat mereka terlihat jauh lebih dalam dan misterius.

Ling Xiao mengira dia salah kemudian mengedipkan matanya sekali lagi. Lan Wei yang sederhana dan sombong juga bisa memiliki ekspresi yang rumit seperti itu.

Ketika Ling Xiao mendekat, Lan Wei melepaskannya kemudian memalingkan wajahnya.

Melihat dengan bingung, dia mendengar Lan Wei mendengus dan berkata, “Bahkan kamu tahu langkah itu”

Lan Wei memain-mainkan belati di tangannya, lalu melemparkannya kembali ke Ling Xiao, “Bahkan jika kamu tidak memberi tahuku, Tuan Muda ini masih bisa menebaknya. Kamu datang untuk membunuh Mo Qi”

Belati yang berkilau dengan cahaya dingin tiba-tiba terbang kembali ke arah Ling Xiao, menyebabkan hatinya melompat dua kali karena takut. Setelah memastikan dia tidak terluka oleh belati tajam itu, Ling Xiao mencengkeram pegangan gagang belati itu dengan sekuat tenaga, tampak tak berdaya.

Lan Wei menyeringai di tempat , “Kamu bahkan tidak bisa memegang belati dengan erat, bagaimana kamu ingin membunuh seseorang?”

Karena diejek, Ling Xiao mendongak dan melotot pada Lan Wei, “Selama Tuan Muda Lan Wei tidak melibatkan diri, maka aku masih bisa menusuk dia dengan belati ini”

Lan Wei mengejeknya, “Tuan Muda ini menyarankanmu untuk berpikir jernih. Kaisar membenci tindakan orang-orang di belakang punggungnya”

Wajah Ling Xiao berubah aneh saat mendengarnya, apakah Lan Wei mencoba membujuknya?

Tidak mungkin!!

Kebencian di antara keduanya sangat dalam, kenapa Lan Wei membujuknya?

Tujuan Lan Wei adalah untuk membuatnya menyerah dan tidak melukai Mo Qi?

Sudah seperti ini, namun Lan Wei masih belum mau melepaskan Mo Qi?

Dia tidak tahan dan dengan dingin tertawa, “Wanita tercintamu telah berhubungan dengan orang lain, tapi Tuan Muda Lan Wei masih melindunginya. Haruskah aku mengatakan bahwa cintamu itu hebat dan tanpa pamrih, atau haruskah kukatakan hatimu sangat besar?”

Lan Wei mendengarnya dan melotot pada Ling Xiao karena benci.

Ling Xiao terus mengejeknya, “Oh, benar, Mo Qi tidak pernah menganggapmu serius sejak awal. Tuan Muda Lan Wei hanya mengalami kesulitan karena kilauannya. Tsk tsk, putra Perdana Menteri yang hebat sedang dimanfaatkan seperti ini, kamu benar-benar hebat!”

“Apa yang kamu tahu!” Lan Wei menggeram, memegang pedang di tangannya dan menjebak Ling Xiao di antara dia dan dinding, “Aku, pernah percaya bahwa dia menyelamatkanku”

Berbicara seperti itu, Lan Wei tiba-tiba berhenti, tatapan yang rumit mengarah pada  Ling Xiao.

Ling Xiao melihat titik pedang yang hampir menjangkau lehernya, kamudian mengusap lehernya karena takut. Dia lega karena lehernya jauh dari titik pedang.

Pergerakan kecil Ling Xiao terlihat oleh Lan Wei. Melihat Ling Xiao seperti ini, kemarahannya terputus dan napasnya tenang kembali. Dia merasa agak lucu, apakah orang ini benar-benar takut akan kematian? Lalu mengapa dia, saat itu, terlepas dari kehidupan atau kematian?

Lan Wei sepertinya telah memikirkan sesuatu dan dia mengerutkan keningnya, suasana hatinya yang baru saja marah mereda turun lagi, seseorang muncul dalam pikirannya. Orang ini membantunya mempelajari kebenaran, tapi juga meninggalkan luka-luka di sekujur tubuhnya.

**

“Lan Wei, kau tahu kenapa aku baik padamu? Itu hanya karena kamu adalah putra Perdana Menteri dan bisa membantuku masuk istana!” (Mo Qi dalam ingatan Lan Wei)

Dalam ingatannya, wajah Mo Qi melengkung membesar. Lan Wei mengepalkan tinjunya.

Dua hari yang lalu, Lan Wei harus meninggalkan ibukota, tapi dia tidak dapat membiarkan Mo Qi sendiri. Berharap agar dia ikut bersamanya, tapi ternyata dia hanya mendapatkan jawaban seperti itu…

“Tapi apa yang kamu punya sekarang? Kamu sekarang adalah orang biasa. Dan kamu telah dikeluarkan dari ibukota. Dengan kamu seperti ini, kemampuan apa yang kamu miliki untuk membawaku bersamamu? Dan kenapa aku harus pergi bersamamu? Apa yang bisa kamu berikan padaku? Aku ingin posisi tinggi dan kekayaan besar! Puluhan dan ribuan orang dalam genggamanku, apa yang bisa kamu berikan padaku?” (Mo Qi dalam ingatan Lan Wei)

Penampilan indah Mo Qi terlihat sangat jelek dalam ingatannya, Lan Wei tidak berani mempercayai apa yang dia dengar saat itu. Ini adalah wanita tercintanya, dengan taruhan nyawa untuk membantunya sampai sejauh ini bahkan tidak tahan membiarkannya sendiri saat dia akan pergi.

“Qi Qi, apa yang kamu katakan?” Lan Wei ingat bagaimana suaranya gemetar saat itu, gemetar begitu banyak hingga nyaris tidak bisa membentuk kata-kata.

“Kamu mendekatiku … karena aku adalah putra Perdana Menteri?”

“Tidak mungkin!” Lan Wei tidak dapat mempercayainya, “Ketika kita pertama kali bertemu satu sama lain, kamu sama sekali tidak mengenali identitasku, namun kamu tetap menyelamatkanku dan merawat orang yang terluka sepertiku siang dan malam. Orang sepertimu, ini ….tidak mungkin…”

Mo Qi memotong ucapannya, nadanya penuh penghinaan, “Kamu masih percaya itu aku?”

“Hanya saja orang pertama yang kamu lihat saat kamu terbangun adalah aku, itu saja. Kamu percaya bahwa aku adalah penolongmu, dan aku merasa ini sangat lucu, kemudian aku bilang begitu. Sebenarnya, kamu lupa, saat itu di pedesaan, tidak hanya ada kamu dan aku…. ada juga….”

Ling Xiao!

Saat terbangun yang di lihatnya pertama kali adalah Mo Qi, Lan Wei diam-diam mengambil kata-kata itu.

Wajahnya sangat terkejut!

Saat itu, dia pergi ke pedesaan untuk bermain-main, karena tidak hati-hati saat mengendarai kudanya, kemudian dia jatuh ke lereng dan mengalami luka parah, tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Dia selalu percaya bahwa Mo Qi menyelamatkannya karena orang pertama yang dia lihat adalah Mo Qi. Namun, dia lupa tentang Ling Xiao yang membawanya kembali, membantuya dan Mo Qi di sebelahnya.

“Itu.. Ling Xiao.. Tapi dia tidak memberitahuku?” Bibir Lan Wei bergetar, wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan.

“Dia hanya mendengarkanku. Jadi tentu saja tidak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa dia adalah orang yang menyelamatkanmu” Mo Qi dengan bangga menyela Lan Wei.

“Oh, benar, aku akan menceritakan satu hal lagi. Setelah kamu kembali ke Rumah Tangga Perdana Menteri, semua hal yang kamu lihat adalah aktingku. Ling Xiao mengatakan bahwa kamu menyukai wanita yang lembut, jadi aku  bersikap lembut. Karena aku bisa menunjukkan penampilan yang lembut, maka tentu saja setiap kata-kata manis yang kukatakan itu palsu. Aku hanya memanfaatkanmu, itu saja..” (Mo Qi)

Lan Wei tidak bisa mempercayainya, kejutan yang dia terima menyebabkannya mundur dua langkah. Duka dan kemarahan memenuhi hatinya, dan dia memuntahkan seteguk darah.

“Haha, ini benar-benar menarik” Saat itu, seseorang muncul dari kegelapan. Orang itu memakai serban putih dengan potongan emas tergantung dari pakaiannya, gaya pakaian yang benar-benar asing.

Lan Wei menatapnya, tertegun, “Fu Yujun, bagaimana kamu bisa berada di sini?”

“Lalu bagaimana Tuan Muda Lan Wei yang diusir dari ibu kota bisa ada di sini?”

Melihat wajah Lan Wei yang tampak seperti  tercekik, Fu Yujun tertawa dan menggelengkan kepalanya, “Aku sangat bersimpati dengan Kaisar di negerimu, untuk memiliki Perdana Menteri yang tidak kompeten dan putra Perdana Menteri yang bermasalah”

“Kamu …” Lan Wei ingin membalas, tapi kata-katanya mendadak berhenti. Fu Yujun benar, dia hanya bisa menimbulkan masalah.

Lan Wei mengencangkan bibirnya dalam diam dan melihat Fu Yujun secara otomatis berjalan ke sisi Mo Qi dan memegang pinggang Mo Qi. Lan Wei akhirnya merasakan ada yang tidak beres, “Kalian berdua …”

“Seperti yang kamu lihat” Fu Yujun tertawa dengan kejam, memeluk Mo Qi lebih erat pada tubuhnya, “Segera, aku akan meminta Kaisar Negeri Mu untuk membawa orang ini bersamaku. Sebaiknya kau berhenti mencoba membawanya bersamamu, tinggalkan saja dia”

“Benar, itu benar! Aku hebat sekarang, jadi cepat pergi, cepat pergi! kamu menyebalkan” Ini adalah kata-kata terakhir Mo Qi kepadanya dalam ingatannya.

**

Dengan tinju terkepal erat, Lan Wei menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan ingatan buruk itu. Dua hari terakhir ini, dia tidak meninggalkan istana. Dia bersembunyi di Istana Dingin untuk mengawasi Mo Qi, melihat setiap gerakannya, akhirnya dia melihat banyak hal dengan jelas, dan juga memahaminya.

Mo Qi yang sebelumnya benar-benar terlalu naif!

Lan Wei memejamkan mata, lalu membukanya sekali lagi. Penglihatannya menyapu ke tempat Ling Xiao yang dia tekan, dia merasa ketakutan dan dengan tangkas mengambil pedangnya.

Melihat pedang yang memancarkan cahaya dingin itu menjauh darinya, Ling Xiao tercengang.

Lan Wei yang marah akan tiba-tiba melepaskannku begitu mudah?

Ling Xiao yakin sekarang. Dia tahu Lan Wei menoleransinya, tapi kenapa?

Lan Wei meletakkan pedang itu kembali ke sarungnya dan berdiri di depan Ling Xiao, ekspresinya sepi. Ling Xiao mengerutkan kening, dia hanya bisa merasakan bahwa Lan Wei di depannya sangat aneh.

“Jangan melakukan sesuatu yang bodoh. Kaisar tidak pernah mentolerir keberadaan yang menipunya, bahkan jika keberadaan itu sangat penting di dalam hatinya. Rumah Tangga Perdana Menteri adalah salah satu contohnya”

“……….” Menghadapi Lan Wei yang tiba-tiba berubah tulus dan sungguh-sungguh, Ling Xiao benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

“Di dalam istana, selain Perdana Menteri, Pejabat Tinggi dari Kementerian Resmi  memiliki kekuatan paling besar. Sebagian besar pejabat mematuhinya, dan Rumah Tangga Perdana Menteri digunakan untuk menyeimbangkan keberadaannya. Jika Perdana Menteri meninggal, Pejabat Tinggi Kementerian Resmi akan dengan mudah memperluas kekuasaannya…”

Berbicara sampai kalimat ini, Lan Wei berhenti. Ling Xiao tiba-tiba sadar, Perdana Menteri yang menjaga keseimbangan kekuatan istana tidak ada di sini lagi, jadi kekuatan di pengadilan tidak akan seimbang. Mencabut Perdana Menteri bukanlah sesuatu yang baik, Kaisar juga tahu hal ini. Karena itulah Ling Xiao selalu merasa bahwa Kaisar melindungi Rumah Tangga Perdana Menteri.

Jadi begitu… jadi Kaisar memikirkan hal itu!

Namun, bahkan jika hal-hal seperti ini, pada akhirnya situasi ini masih disebabkan oleh Lan Wei dan kebohongan Perdana Menteri berturut-turut.

Lan Wei mengejek dirinya sendiri, “Kamu sudah melihat bagaimana akhir dari Rumah Tangga Perdana Menteri. Jika kamu terus melakukan ini, pada akhirnya keadaanmu  tidak akan jauh lebih baik daripada Rumah Tangga Perdana Menteri”

Ling Xiao merasa aneh di hatinya. Apakah Lan Wei di masa sebelumnya pernah mengatakan hal-hal ini? Atau lebih tepatnya, apakah Lan Wei di masa sebelumnya mengerti begitu banyak hal? Yang paling penting adalah, apakah Lan Wei sebelumnya akan membujuknya dengan sabar?

Ling Xiao sangat curiga, tapi itu tidak terlihat di wajahnya. Lan Wei mencengkeram erat pedangnya, bayangan seorang wanita tertentu muncul dalam pikirannya. Suaranya kering dan keras saat dia berkata, “Mo Qi… dia akan cepat atau lambat menuai apa yang telah dia tabur. Kaisar tahu jelas dalam segala hal dan tentu saja akan mengambil keputusan. Kamu tidak perlu terlibat secara pribadi”

Berbicara tentang itu, Lan Wei menunjuk belati Ling Xiao, lalu melirik kertas yang terpapar di pinggangnya. Dia mengerutkan kening. Dengan sedikit ragu, tangannya maju.

Ling Xiao hanya merasa bahwa gambar di depan matanya berkelebat, dan surat yang sudah disiapkannya diambil dari pinggangnya.

Terkejut dan bingung, Ling Xiao dengan terburu-buru mencoba mengambilnya, tapi Lan Wei menghindarinya. Dengan satu tangan, dia membatasi kedua tangannya dan menekannya ke dinding, tangannya yang satu lagi membuka surat itu.

Setelah selesai membaca surat itu, wajah Lan Wei berwarna biru kehijauan.

Satu tanggapan untuk “The Path Of Cannon Fodder’s Counterattack – Chapter 34

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s