The Path Of Cannon Fodder’s Counterattack – Chapter 23

Chapter 23 – Di Puncak Kecil

Ling Xiao tertegun.

Beberapa adegan melintas dalam benaknya dengan cepat. Kembali ketika dia menangkap Lan Wei, Mo Qi menjadi panik dan meminta seseorang mengiriminya sebuah surat, memintanya untuk memberikan sebuah puisi akrostik [1] kepada Kaisar. Setelah melihatnya, Ling Xiao telah menyalin kata-kata-kata pertama dari setiap baris.

[1] Jenis puisi dimana huruf pertama, terakhir atau lainnya secara garis besar menguraikan kata atau frasa tertentu.

Lengkap :

https://kutukamus.wordpress.com/2015/05/02/akrostik/

Kata-kata tersebut adalah ‘Aku Menyukai Yang Mulia’

Mo Qi ingin mengakui perasaannya kepada Kaisar dan meminta agar Ling Xiao menyampaikan surat itu kepadanya.

Bagaimana mungkin Ling Xiao bersikap bodoh sampai dia harus membantunya?

Jadi dia langsung membakarnya. Namun, dia lupa tentang kertas yang dia tulis tersebut dan secara tidak sengaja mencampurnya dengan daftar di dalam kotak besi …

Ling Xiao akhirnya sadar, dan hatinya jatuh dalam kekacauan.

Kertas ini telah dilihat oleh Kaisar sekarang..

Dia sedikit mengangkat matanya, ingin melihat sekilas ekspresi Kaisar, hanya untuk mengetahui bahwa mata Kaisar yang tenang dan dalam telah mengamatinya sepanjang waktu.

Ling Xiao menegang, lalu dengan cepat menurunkan tatapannya dan berlutut di tanah.

Hanya satu pikiran yang tersisa dalam pikirannya.

Bagaimanapun, dia, sebagai seorang kasim, memiliki ketidaksopanan untuk ‘menyukai dan menginginkan’ sang Kaisar.

Kaisar memalingkan wajahnya, perlahan mengambil teh dari meja dan minum seteguk, “Berdirilah, tubuhmu belum sehat, jadi tidak perlu terlalu sopan”

Ling Xiao berdiri, tubuhnya gemetar karena ketakutan.

Kaisar melirik ke kursi lain di samping meja dan memberi isyarat pada Ling Xiao, “Ayo kemari, duduklah”

Karena terbebani oleh nikmat darinya, Ling Xiao dengan gelisah berkata, “Yang Mulia.. Yang Mulia.. kamu adalah Raja”

Mendengar perkataannya, Kaisar melirik Ling Xiao yang penuh otoritas.

Tanpa pilihan lain, Ling Xiao langsung duduk di samping Kaisar.

Di sebelahnya, tubuh Ling Xiao tampak halus dengan pakaian putihnya, tapi wajahnya terlihat sangat ketakutan. Dia benar-benar pucat dan bibirnya membentuk garis. Postur tubuhnya sangat lurus karena gugup, kedua tangannya gemetar.

Kaisar menerawang, teringat bahwa kasim kecil ini biasanya selalu menemuinya dengan sangat teliti. Jantungnya mulai berdenyut aneh sejenak, lalu perlahan mulai merasakan kelembutan ke arahnya.

“Zhen tidak bermaksud menyalahkan atau mencelamu. Kamu tidak perlu terlalu gugup. Bantu Zhen menuangkan teh” Kaisar meletakkan cangkir teh kosong di tangannya.

Ling Xiao terkejut.

Kasim ini ‘menyukai dan menginginkan’ Kaisar, namun Kaisar tidak menyalahkan atau  mencelanya. Hanya ada satu alasan untuk itu, Kaisar juga menaruh minat pada kasim itu.

Memikirkan itu, Ling Xiao menjadi semakin gugup.

Satu perintah, satu tindakan. Dengan menggunakan tangannya yang baik, dia mengambil ujung teko dan perlahan mencondongkan tubuh mendekati cangkir teh Kaisar, dengan gemetar menuang teh.

Kaisar tiba-tiba mengulurkan tangan untuk meraih tangannya, menyebabkan Ling Xiao melompat ketakutan.

“Yang Mulia…”

Kaisar merasakan dingin dan tangan Ling Xiao gemetar, kamudian menatapnya sejenak, lalu dengan lembut menepuk-nepuk tangannya.

Ling Xiao dengan kaku menelan air liurnya, menarik beberapa napas dalam, untuk membantunya tenang sebisa mungkin.

Merasakan Ling Xiao melunak, Kaisar menarik tangannya kembali dan berseru, “Ling Xiao”

“Hambamu ada di sini” Ling Xiao menahan tatapannya dan mengangkat kedua telinganya.

Kaisar bersandar di kursi, berkata, “Tentang daftar ini, Zhen sangat puas”

Ling Xiao diam-diam mengeluarkan napas, lalu berdiri sambil tersenyum, memberi hormat, “Senang kalau Yang Mulia merasa puas. Pelayan ini tidak menganggap tidak hormat pada tugas itu”

Melihat ini, pandangan Kaisar melunak, dan dia bertanya, “Apa yang kamu inginkan sebagai hadiah?”

Dia tidak menunggu jawaban Ling Xiao sebelum dia berkata lagi, “Meskipun Zhen tidak menyukai homoseksualitas, karena kamu telah melakukan perbuatan baik dan sangat perhatian, Zhen akan mengabulkan satu permintaanmu”

Tubuh Ling Xiao yang tadi sedikit mengendur, akhirnya menegang lagi. Dia mendapatkan firasat buruk.

Dengan senyuman, dia meliriknya seketika dan berkata, “Keinginan ini, Zhen bisa membuatmu menjadi Permaisuri Pertama Zhen. Zhen juga bisa menjadikanmu Permaisuri Raja [2]”

[2] Permaisuri Raja adalah Huang Jun, versi regulernya adalah Permaisuri (Huang Hou) jadi hanya karakter terakhir yang dipakai, pada dasarnya itu seorang Permaisuri laki-laki.

“………” Hati Ling Xiao menjadi lemah dan dia terjatuh dengan suara ‘pluk’, berlutut di depan Kaisar.

Kaisar menarik alisnya dan melihat ke arah Ling Xiao.

Ling Xiao berlutut di tanah yang sedingin es, jantungnya berdegup kencang. Dia tentu saja tidak bisa menerima ‘pahala’ ini, tapi situasinya cukup merepotkan. Sejak Kaisar melihat kertas itu dan sudah percaya tanpa keraguan bahwa hal itu menggambarkan pikirannya, maka jika dia mengatakan bahwa itu adalah kesalahpahaman, Kaisar akan kehilangan muka. Jika dia mengatakan itu benar, maka seandainya Kaisar suatu saat  tahu itu tidak benar, akhir hayatnya akan tetap menyedihkan.

Namun, dibandingkan dengan kemungkinan di masa depan, Ling Xiao memilih untuk terlebih dahulu menyeberang situasi krisis di depan matanya.

Dengan pikiran ini, Ling Xiao mengumpulkan keberaniannya dan berkata dengan gigi terkatup, “Yang Mulia, tolong ambil kembali pahala itu”

Mendengar apa yang dia katakan, kehangatan di mata Kaisar lenyap dan dia tanpa ekspresi menatap Ling Xiao, “Beri Zhen alasan”

Ling Xiao mengepalkan tinjunya dan menekankan keberuntungannya, “Hambamu lebih suka menjadi Pelayan Kasim lebih banyak”

Kaisar mengangkat kepalanya saat mendengarnya. Matanya menatap tajam ke arah ling Xiao untuk waktu yang lama, seolah-olah dia ingin memahaminya dengan saksama, “Dibandingkan dengan menjadi seorang tuan, kamu lebih suka menjadi pelayan?”

Ling Xiao mengangguk dengan bibir terkatup.

Wajah Kaisar menjadi dingin.

Ling Xiao dengan cepat menunduk dan berkata, “Karena dengan cara ini, pelayan ini bisa berada di sisi Yang Mulia setiap hari”

Kaisar terkejut sejenak.

Ling Xiao sengaja membungkukkan kepalanya sangat rendah sehingga Kaisar tidak dapat melihat apakah ekspresinya asli atau palsu, “Yang Mulia, jika pelayan ini menjadi salah satu permaisuri di harem atau Permaisuri Raja, maka pelayan ini tidak akan dapat melayani Yang Mulia setiap saat. Pelayan ini juga tidak bisa tinggal di sisi Yang Mulia seharian. Untuk pelayan ini.. itu sangat menyakitkan”

Ling Xiao melanjutkan, “Daripada menjadi tuan dan menunggu setiap malam…… setiap malam bagi Kaisar untuk datang, pelayan ini lebih suka tetap sebagai pelayan, yang mampu melayani Kaisar. Selama pelayan ini bisa tinggal di sisi Yang Mulia, pelayan ini sudah merasa sangat puas”

Agar Kaisar tidak bisa mengambil petunjuk darinya, dia memberi hormat dan membuat tubuhnya tetap rendah. Sisi positifnya adalah agar Kaisar tidak dapat mengetahui apakah dia jujur atau tidak. Sisi negatifnya adalah dia juga tidak bisa melihat ekspresi Kaisar.

Pada saat ini, Ling Xiao terdiam. Dia tidak tahu apa-apa, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya tahu bahwa setelah kata-katanya, ruangan menjadi sepi. Begitu sunyi sehingga dia hanya bisa mendengar ‘gedebuk, gedebuk, gedebuk’ di hatinya.

Sedikit demi sedikit, secara bertahap semakin cepat.

Tiba-tiba, kursi berderit dan Kaisar berdiri.

Ling Xiao menatap pakaian di depannya dari posisi berlutut dan dengan cepat bergerak ke samping, membiarkan Kaisar mengatakan sesuatu.

“Jika itu yang kamu inginkan, maka Zhen akan memberikannya” Kaisar menyatakan saat menghadap Ling Xiao.

Ling Xiao diam-diam mendesah lega di hatinya, kepalanya menunduk untuk menekan lantai dengan terimakasih.

Kaisar pergi, dan Ling Xiao menjatuhkan diri ke tanah.

Dia akhirnya benar-benar mengerti idiom yang menyertai seseorang berdaulat bisa seperti menemani seekor harimau.

Tidak lama kemudian, Xiao Lizi berjalan membawa sebuah dekrit kekaisaran.

Itu untuk memberi penghargaan pada Ling Xiao.

Selain memberi hadiah pada Ling Xiao banyak perhiasan perak, emas, permata dan sutra, Kaisar bahkan memberinya kekuatan untuk mengenakan pakaian kasual di istana. Dia juga telah menganugerahkan kepadanya sebuah istana, menggunakan tempat tinggal lamanya yang terbakar sebagai alasannya.

Kemampuan untuk memiliki istana adalah hak istimewa yang dimiliki oleh seorang tuan.

Tapi kali ini, Kaisar pergi sejauh ini untuk memberi hadiah kepada Pengurus Kasim Ling Xiao.

Tidak hanya itu, tapi istana yang diberikan kepadanya adalah istana yang paling dekat dengan Istana Qin ‘Kaisar’, Istana Ning Xuan.

Kaisar awalnya sangat menyukai Ling Xiao, ini adalah sesuatu yang bisa dilihat oleh setiap orang dengan mata mereka.

Kaisar sangat menyukai Pengurus Kasim Ling Xiao karena saat dia terluka dan kediamannya terbakar, dia mengizinkan Ling Xiao tinggal di istananya. Bahkan jika itu hanya tempat tidur di Istana Qin, orang masih bisa mengatakan betapa pentingnya Kaisar melekat padanya. Harus diketahui, bahkan ketiga selir kaisar harem tidak diberi kehormatan langka seperti ini.

Terlebih lagi, kali ini dia bahkan secara langsung memberi hadiah atas kekuatan Ling Xiao sebagai Tuan, tinggal sendirian di istana dan mengenakan pakaian polos. Selain menjadi pelayan dalam nama, dengan cara apa penampilannya?

Dia jelas sudah naik menjadi Tuan.

Orang-orang di istana sekarang melihat Ling Xiao dengan cara yang berbeda, dan bahkan Xiao Lizi mulai memperlakukan Ling Xiao dengan sikap yang lebih hormat.

Dengan perasaan yang rumit di hatinya, Ling Xiao menerima dekrit kekaisaran ini dan penghargaannya karena Xiao Lizi dengan cepat memberi hormat dan memberi selamat kepadanya.

Ling Xiao dengan bingung membuka mulutnya.

Xiao Lizi melambaikan tangan kepada semua orang dan melangkah maju, berkata, “Steward, Kaisar sangat memikirkanmu”

“Yang Mulia baru saja memberi tahu pelayan ini untuk mengantarkan semangkuk sarang burung walet setiap hari, jadi kamu bisa menjaga tubuhmu”

Ling Xiao menatap kosong saat Xiao Lizi dengan sigap mendekatinya dan berkata, “Steward, akhir-akhir ini kau tidak berbeda dari seorang tuan”

“Bagaimana kurang ajar!” Ling Xiao mendengarnya dan memarahi, “Lidah yang longgar bisa menyebabkan banyak masalah, tidakkah kamu mengerti?”

Xiao Lizi menjadi tenang dan tidak berani mengucapkan sepatah katapun saat kepalanya menunduk, tapi wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak yakin.

Ling Xiao meliriknya dan tersenyum ringan, “Apa? Masih belum yakin? Apa lagi yang ingin kamu katakan?”

Xiao Lizi mengangkat kepalanya, seolah-olah dia sedang menentukan apakah Ling Xiao akan marah atau tidak, dia berkata, “Steward, meski  dirimu mengatakan lidah yang longgar dapat menyebabkan banyak masalah, kamu juga tahu bahwa ini adalah kehormatan istimewa yang sangat disadari setiap orang. Kamu telah lama berhenti menjadi seorang Steward sederhana. Semua orang melihatmu karena kamu telah menjadi Tuan, apakah kita membicarakannya atau tidak, tidak ada bedanya”

Ling Xiao mengangkat sebelah alisnya, “Apa yang menurutmu sangat masuk akal”

Xiao Lizi menundukkan kepala dengan tidak sopan, “Semuanya diajarkan oleh Steward”

Ling Xiao memutar matanya.

“Tapi…..” Xiao Lizi tiba-tiba berbelok dengan topik itu dan Ling Xiao menatapnya sementara dia berkata dengan cemas, “Steward, ketiga Imperial Highness [3] tahu tentang hadiah yang diberikan Kaisar.

[2] Imperial Highness : Niang Niang. Ini cara untuk dengan hormat memanggil selir dan wanita yang sudah menikah dengan keluarga tinggi.

Ling Xiao mengangkat alisnya saat Xiao Lizi melanjutkan, “Steward, majelis pengadilan memang memiliki konvensi untuk selir laki-laki. Kaisar memiliki kecenderungan khusus terhadapmu di mata tiga Imperial Highness. Karena kamu belum memiliki gelar, kamu harus berhati-hati”

Ling Xiao agak gelisah saat mendengarnya, tatapannya gelap saat dia menatap Xiao Lizi dan berkata, “Xiao Lizi, apakah menurutmu ini masalah yang bisa kamu bicarakan?”

Terkejut, Xiao Lizi dengan cepat berlutut di depan Ling Xiao. Namun, Ling Xiao sekarang bingung dengan kecemasan dan tidak memiliki energi untuk menghadapi Xiao Lizi, jadi dia hanya melambaikan tangannya dan membiarkannya mundur.

Dia sedikit mengatur diri dan segera pindah dari Istana Qin.

Pakaian Steward-nya benar-benar terbakar, dan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Akibatnya, dia hanya bisa mengenakan pakaian informal yang diberikan Kaisar kepadanya dan pergi ke istana baru.

Istana baru itu sepi, terpencil dan elegan. Bahkan ada sebuah tempat yang disusun di sana bersama dengan seruling dan alat musik lainnya di dinding. Di dekat jendela juga ada sebuah meja yang mencakup empat khasiat penelitian (sikat tinta, batang tinta, kertas dan batu tinta).

Selanjutnya sampai di kamar tidur.

Dengan pikiran yang terengah-engah karena khawatir, Ling Xiao melambaikan tangannya agar orang lain pergi dan membiarkan dirinya jatuh ke tempat tidur.

Dia merasa bahwa masalahnya menjadi semakin rumit sekarang.

Itu tidak boleh terjadi, dia harus segera membunuh Mo Qi dan membalas dendamnya sendiri, lalu pergi.

Dia tidak bisa menjadi kasim seumur hidupnya, apalagi menjadi Permaisuri Raja untuk digulung dengan seprei.

Ling Xiao menoleh ke tempat tidur, menatap para kasim dan pelayan di depan yang berjaga-jaga, sebelum dia diam-diam merangkak keluar jendela.

Bersembunyi di sebelah kiri dan kanan, Ling Xiao tiba di Imperial Garden dimana dia menyembunyikan Lan Wei sebelumnya.

Dia tidak sadarkan diri selama siang dan malam, bahkan tidak mengetahui bagaimana keadaan Lan Wei.

Namun, saat dia tiba, tidak ada jejak Lan Wei disana.

Ling Xiao merasa bingung, tapi bahkan setelah melihat sekeliling daerah itu, dia masih belum melihat Lan Wei.

Dia berpikir bahwa Kaisar sangat tenang dan sepertinya dia tidak menangkap Lan Wei.

Lalu, jika Lan Wei tidak berada di tangan Kaisar, kemana dia?

Ling Xiao mengatupkan bibirnya. Lan Wei telah hilang selama dua hari terakhir ini, istana tetap tenang seperti sebelumnya tanpa ada yang keluar dan menyebabkan masalah. Jadi itu berarti masalah tentang Lan Wei yang memasuki istana Kaisar tidak boleh diketahui, dan seseorang telah menyelamatkannya.

Jika tidak, mereka tidak bisa menyelamatkan Lan Wei, mereka seharusnya sangat khawatir sekarang.

Apa yang menyebabkan Ling Xiao curiga sepanjang waktu bagaimana situasi sangat tenang bahkan di luar istana. Karena satu-satunya anak laki-laki Perdana Menteri telah hilang selama dua hari, pasti ada sedikit kebisingan, jika bukan bantuan dari Perdana Menteri dengan mengirim orang keluar untuk menemukannya.

Seharusnya ada beberapa rumor di dalam istana.

Tapi dua hari itu sangat tenang.

Hanya ada satu jenis penjelasan untuk situasi ini. Lan Wei telah memberi tahu Perdana Menteri sebuah ‘alasan’ sebelum pergi, mengatakan bahwa dia akan pergi untuk jangka waktu tertentu. Dengan demikian, Perdana Menteri tidak tahu Lan Wei hilang.

Hanya ini yang akan menjelaskan ketenangan dua hari itu dengan jelas.

Namun, tidak ada orang yang bisa membantu di istana, juga tidak ada orang yang mencari Lan Wei. Namun, dia menghilang di dalam istana …

Selain dirinya sendiri, Ling Xiao tidak dapat memikirkan hal lain.

Jika dia benar-benar melarikan diri, mengingat betapa lemahnya dia, dia hanya bisa kembali ke satu tempat – Rumah Tangga Perdana Menteri.

Ling Xiao merasa perlu untuk mengkonfirmasi, jadi dia berjalan menuju Istana Chu Xiu.

Ketika sampai di Istana Chu Xiu, dia segera menemui Penatua Lin.

Ketika Penatua Lin melihat Ling Xiao dengan pakaian informalnya, dia sedikit tertegun sebelum menundukkan kepalanya saat memberi salam. Ungkapan yang dulu ada di wajahnya menjadi sedikit menunda.

Ling Xiao terkejut sejenak sebelum tersenyum. Ini benar-benar daya tarik kekuasaan.

Mereka biasa memandangnya dengan sombong, tapi sekarang setelah diberi kekuasaan, mereka tidak punya pilihan selain bersikap rendah hati seperti ini di depannya.

Ling Xiao tertawa terbahak-bahak saat melihat Penatua Lin yang kini sedikit lebih rendah dari pada dirinya.

“Penatua Lin, bagaimana kabarmu beberapa hari ini?”

Penatua Lin menurunkan tatapannya, “Terima kasih, Steward Ling, atas perhatianmu, pelayan ini sangat sehat”

“Sebenarnya, alasan mengapa aku datang adalah karena aku mendengar desas-desus dan ingin bertanya kepada Penatua Lin tentang hal itu. Rumornya bahwa putra Perdana Menteri  Lan Wei menghilang?” Ling Xiao dengan ringan membelai tangannya yang diperban dan dengan curiga bertanya.

Mendengar apa yang dia katakan, tubuh Penatua Lin terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan cepat, “Tuan Muda Lan Wei  berada di rumah tangga sepanjang waktu”

Ling Xiao mengangkat alis pada apa yang dia katakan dan mengatakan beberapa omong kosong, “Tapi ada juga yang membicarakan bagaimana Tuan Muda Lan Wei ingin melarikan diri dengan Mo Qi…”

“Omong kosong!” Penatua Lin tampak sangat gugup saat dia memotongnya, “Tentu saja itu omong kosong. Tuan Muda Lan Wei kami tidak bersalah, dia ada di rumah sekarang. Hanya saja dia sedikit sakit dan kehilangan kesadaran, jadi dia beristirahat di tempat tidur. Jika Steward Ling tidak mempercayainya, Steward bisa memastikan sendiri”

Ling Xiao mengangkat sebelah alisnya. Lan Wei benar-benar telah kembali, kecuali dia masih pingsan.

Mungkin karena dia tidak sadarkan diri, Perdana Menteri tidak tahu bahwa Lan Wei telah disiksa olehnya, yang akan menjelaskan mengapa dia tidak datang mencari masalah dengan Ling Xiao dan mengapa Penatua Lin memiliki penampilan yang taat tanpa ada kebencian atau marah.

Ling Xiao melangkah jauh ke dalam pikirannya, sebelum membuka mulutnya untuk bertanya kepada Penatua Lin lagi.

Namun Penatua Lin berinisiatif untuk berbicara, “Steward  Ling, pelayan ini masih memiliki urusan lain untuk diperhatikan, jadi aku akan pergi dulu. Masih banyak hal yang perlu diatur pelayan ini di Istana Chu Xiu ini”

Dengan kata-kata itu, Penatua Lin cepat meleset dari Ling Xiao dan pergi. Kecepatannya cepat, dan Ling Xiao mencibir saat melihat punggungnya.

Masalah yang ingin dia konfirmasikan sudah dikonfirmasi, jadi dia tidak repot-repot memanggil Penatua Lin kembali.

Ling Xiao berpikir dan berbalik untuk pergi. Dia perlu merencanakan bagaimana menangani Rumah Tangga Perdana Menteri setelah Lan Wei terbangun.

Tapi, saat dia berbalik, Ling Xiao melihat pemandangan yang menarik.

Mo Qi, mengenakan pakaian merah muda yang agak usang sedang dikeroyok dan dipukuli oleh sekelompok pelayan. Seluruh wajahnya ungu, ditutupi bekas luka, bekas luka itu lama dan baru. Tubuhnya babak belur dan kelelahan, tapi pelayan utama masih mencemoohnya dengan kejam.

Mo Qi memiliki wajah yang penuh dengan air mata dan terlihat sangat menyedihkan, tapi tidak ada yang peduli atau menyayanginya.

Ling Xiao sangat senang dan tidak bisa menahan diri untuk duduk di samping koridor, menikmati pemandangan itu.

Melihat musuhnya Mo Qi menerima pukulan, dia merasa sangat segar.

Setelah mengamati sebentar, Ling Xiao menemukan bahwa jumlah pelayan yang mengepalai Mo Qi terus berkurang. Saat pelayan itu pergi, dia melihat satu orang di dalam halaman.

Dengan rambut disisir, riasan lembut, dan memakai jepit rambut emas, ternyata Gadis Xiu He di belakangnya, yang sekarang bernama He Baolin (semacam gelar yang diberikan Kaisar, yang berarti wanita yang bisa menghibur orang banyak)

Satu tanggapan untuk “The Path Of Cannon Fodder’s Counterattack – Chapter 23

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s