Cheng Shi Qing Feng – Chapter 1

CHAPTER 1 – GURUN

Ao Cheng di dalam kehidupan ini, hanya mengingat tangan dua orang, yang pertama adalah Ibunya, yang satu lagi adalah Jiang Qing.

Ketika masih muda di Istana Dingin, Ao Cheng melihat seorang kasim kecil sedang makan buah, dia sangat lapar dan pergi menyambar buah itu untuk di makan. Ibunya mengetahui tentang hal itu, dengan berat Ibunya mengangkat tangannya untuk menampar mulutnya 20 kali, hingga mulutnya membengkak dan berdarah. Lalu Ibunya akan mengusap rambutnya dengan lembut, berkata kepadanya, “Kamu adalah seorang Tuan, Pangeran, di masa depan kamu akan menjadi Kaisar, bahkan jika kelaparan, kamu juga tidak di ijinkan melakukan itu.”

Ao Cheng teringat tangan Ibunya, sepasang tangan yang bisa memberinya rasa sakit, tapi juga menghilangkan rasa sakitnya.

Saat dia tumbuh untuk menperjuangkan takhta, Ao Cheng bertindak kejam, semua orang memanggilnya Serigala, Kaisar ingin membunuh Menteri yang menginginkan dia melawan saudaranya, dia membawa beban berat karena teringat kata-kata Ibunya, dia adalah Pangeran, jika dia tidak bisa menjadi Kaisar, lebih baik mati.

Ketika dia mengalami sakit kepala yang menyakitkan dalam mimpi buruk setiap malam, pria itu selalu mengusap rambutnya lembut dengan kedua tangannya, mengingatkannya pada Ibunya. Ao Cheng ingat tangan ini, tangan pria ini, Jiang Qing. Tangan ini menaruhnya untuk duduk di atas takhta, dan mengambil alih takhta, menjadi miliknya semua.

Jiang Qing pergi, tanpa jejak.

Ao Cheng naik takhta, mengubah Negeri Qing.

Para Menteri mengatakan, “Tidak cocok.”

Ao Cheng berkata, “Seret keluar, bunuh!”

**

Cheng Qing tahun kedua, awal musim gugur, di luar tembok besar ..

Terdengar suara poros roda yang sedikit berderit di jalan setapak, ada sebuah lonceng yang berbunyi di leher seekor unta. Kafilah menempuh jarak jauh datang dari pemerintahan yang baik, menyeberangi sungai dan padang pasir menuju ke kota Yan.

[1] Kafilah adalah rombongan (pedagang) di padang pasir yang terdiri dari iring-iringan unta. Nama lain adalah karavan.

Orang-orang yang sering ke padang pasir memakai lonceng untuk binatang, lonceng binatang ini juga memiliki beberapa tekanan, keledai memakai lonceng tembaga, karena keledai lebih cepat, tapi juga seperti getar, suara lonceng tembaga yang garing, sepanjang perjalanan terdengar ding ding dong dong, memecahkan kesunyian.

Untuk unta di pakaikan lonceng porselen, lonceng porselen itu terdengar frustasi, dan sedikit bodoh. Meski sulit disejajarkan, namun itu tetap tenang dan mendalam, sepanjang jalan menuju jalur, sesekali berdering, lebih banyak menambahkan kesunyian.

Di gerobak juga ada sejenis porselen, namun itu bukan lonceng, melainkan seperti labu, labu yang berlubang, bagian atas satu lubang, dikelilingi oleh empat lubang. Itu adalah alat musik Xun, lubang di atas bisa untuk meniup musik merdu, tampak kecil tergantung di atas gerobak, seperti mendengarkan angin, melayang jauh, menjadi musik yang tertangkap angin.

[2] Xun adalah alat musik tiup (alat musik tradisional Cina) – instrumen angin yang sangat kuno

Lonceng perak dipakaikan di leher kuda, itu adalah kereta kuda untuk seorang gadis muda, orang-orang kaya suka membawa putri mereka dengan kereta, didekorasi indah dengan dua ekor kuda yang menarik kereta. Suara lonceng perak terdengar halus ke orang yang lewat, duduk didalam kereta seorang gadis yang sangat cantik, membuat pria kuat untuk mengecamnya. Tentu saja, ada beberapa lonceng giok, itulah yang di pakai gadis muda untuk perhiasan.

Kelompok kafilah ini berjumlah besar, ditarik dari depan ke belakang setengah mil, berbagai lonceng di gurun pasir bertiup mengocok mengeluarkan suara yang berbeda, digabungkan bersama, disertai angin berhembus … perlahan hanyut, tersebar di gurun pasir yang sunyi itu. Sesekali beberapa tikus berjalan, akan berhenti untuk mendengarkan, bukan berarti musik yang berantakan ini bagaimana bergerak, tapi di dalam padang pasir, itu terlalu sepi.

Kafilah tersebut berkumpul di Gerbang Pemerintahan untuk bergegas ke Kota Yan bersama-sama. Ada total empat atau lima ratus orang, alasan pembentukan kelompok adalah bahwa Pejabat setempat mengirim belasan pengawalan bersenjata untuk menemani mereka. Akhir-akhir ini ada beberapa bandit di kawasan Gerbang Pemerintahan ke padang pasir di Kota Yan, bandit-bandit itu merampok kelompok Kafilah yang lewat, sangat tidak damai. Bandit Hu di sini tidak disebut pencuri gunung di pegunungan Timur Laut, karena sebagian besar bandit di padang pasir adalah bandit di Wilayah Barat, jadi orang-orang China semuanya memanggil mereka Bandit Hu.

[3] Bandit Hu adalah nama umum untuk bandit di timur laut China selama invasi Republik China dan pemusnahan keluarga tunawisma.

Sebagian besar perampok ini tidak bisa berbahasa China, bertahun-tahun menunggang kuda telah menciptakan kepribadian liar. Mereka memegang pisau-panjang (semacam pedang) di tangan mereka dan masuk ke jajaran pedagang, membunuh semua pria dan wanita serta anak-anak, dan semua barang dari kereta kuda dan kuda juga di ambil. Dalam enam bulan terakhir, ada beberapa kasus besar di mana membuat banyak orang panik, Pejabat harus mengirim orang untuk melindungi perjalanan bisnis mereka.

Kelompok itu memulai perjalanan tadi malam, dan semua orang masih sangat gugup saat mereka di jalan. Namun, perjalanan untuk satu malam itu terasa aman dan sehat. Sekarang adalah siang hari, lebih dari setengah jam dan kemudian keluar dari padang pasir, dengan perpanjangan jalan resmi, semua orang merasa lega.

Menghadapi bahaya, rasa takut itu hanya untuk orang dewasa, anak-anak dalam kelompok masih riang. Di tengah-tengah ada sebuah kereta kuda berwarna merah yang di tarik oleh dua ekor kuda dengan semangat, tirai kereta terangkat terbuka, di mana seorang gadis kecil berusia 13 tahun terbaring di jendela dan melihat ke luar. Sebagian besar orang yang berjalan di padang pasir kebanyakan tertekan, dan hanya gadis itu, jaket kecil berwarna merah terang, disulam dengan motif bunga emas, rambut hitam tebal diikat dengan tali merah menjadi dua gulungan (bun), lehernya memakai perhiasan perak yang bagus.

Gadis berusia 13 tahun telah mencapai usia yang diminati para pria. Gadis kecil dengan kedua tangan memegang dagunya yang runcing, mengedipkan sepasang mata besar seperti aprikot, melihat ke sekeliling.

Yang membawa kereta kuda adalah seorang anak laki-laki muda berusia 15 tahun. Gadis itu berkata kepadanya dari waktu ke waktu, “San XiaoZi, lebih cepat, mari kita pergi ke depan dan melihat.”

[4] (Pelayan), diucapkan sebagai San XiaoZi, – DEFINSI ‘pelayan atau budak yang dikirim oleh pelayan tua’ (mungkin anak pelayan tua yang ketiga)

Anak laki-laki yang dipanggil ‘San XiaoZi’ dengan tidak berdaya mengikutinya, dengan lembut dia mengisap beberapa cambuk ke kuda dan melaju ke depan. San XiaoZi bertanya dengan rasa ingin tahu, “Nona, apa yang kamu cari?”

Gadis itu berkata dengan tidak sabar, “Oh, jangan bilang bahwa pria di Dataran Tengah terlihat baik, aku pikir mereka tidak sebaik kita.” Suara gadis itu tidak kecil, beberapa pria China di samping langsung bisa mendengarnya, berbalik untuk melihat wajahnya, hanya melihat hidung kecil, mata yang dalam, bisa diketahui gadis ini adalah orang dari Wilayah Barat.

“Xiao Nizi.” Seorang China menggodanya, “Kenapa, mau menikah ah?”

Gadis cantik itu tidak begitu menanggapinya, dengan berani, gesit dan anggun, berkata, “Aku katakan pada ayah, aku akan menikah saat usia 15 tahun, masih ada 2 tahun lagi tersisa, aku masih ingin menemukan orang seperti keinginanku.”

“Seperti apa yang kamu inginkan?” Tanya semua orang di luar padanya.

“Um .. matanya harus cantik, tidak boleh gemuk, kulitnya juga tidak boleh hitam …”

Kata-katanya belum selesai, gadis kecil itu tiba-tiba terbelalak, dan matanya menatap ke depan, berulang kali mengulurkan tangan untuk menangkap San XiaoZi itu, “Cepat! Pergi ke depan!”

San XiaoZi tidak mengerti jelas, dengan segera dia memompa beberapa cambuk ke kuda dan berlari ke depan untuk sementara waktu, gadis itu menarik San XiaoZi, “Berhenti!”

San XiaoZi melambat, menoleh ke belakang, “Nona, apa yang kamu lihat?”

“Lihatlah ke depan.” Gadis kecil itu mengulurkan tangan dan menunjuk yang ada di depannya, berkata, “Orang itu!”

San XiaoZi melihat ke arah yang di tunjuk gadis kecil itu, hanya melihat seseorang mengendarai seekor kuda hitam di depan orang-orang. Dari sudut pandangnya, hanya bisa melihat punggung, meski bertubuh kurus tapi tinggi, jelas ini adalah seorang pria. Pria itu mengenakan pakaian berwarna nila dengan mantel kasa hitam, melihat dari belakang untuk melihat sutra putih di lehernya, menutupi hampir separuh wajahnya, rambut hitam panjang jatuh di punggungnya, dengan lembut mengguncang angin sepoi-sepoi.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Cheng Shi Qing Feng – Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s